On the way 5

Kemarin, dalam perjalanan pulang dari sebuah meeting, rekan-rekan kerja saya memperbincangkan pemilu legislastif yang telah usai. Seorang rekan bercerita bahwa setiap anggota DPR, setelah pensiun akan mendapatkan uang pensiun yang jumlahnya cukup fantastis, tidak kalah fantastis dengan gaji mereka selama menyandang jabatan wakil rakyat. Dan hal yang menarik di sini, menurut rekan saya, dia bercerita bahwa dia pernah bekerja di kalangan Keluarga Cendana sehingga dia mengerti sistem keuangan negara dan berani bercerita, uang pensiunan mantan anggota DPR itu jumlahnya dapat berkali-kali lipat, sesuai dengan jumlah mereka menduduki kursi di Senayan, sederhananya jika A terpilih menjadi anggota DPR selama 5 kali periode maka di akhir masa jabatannya A akan menerima 5 kali uang pensiunan dengan jumlah yang fantastis tentunya. Anda tentunya bisa mencoba menghitung betapa kayanya mereka yang berkali-kali bertengger di Senayan.

Rekan saya itu mencontohkan seorang tokoh yang berkali-kali menjadi anggota DPR, kemudian menjadi wakil presiden lalu menjadi presiden. Tentunya saat ini beliau menerima uang pensiun sebagai anggota DPR sejumlah periode beliau menjabat, uang pensiun sebagai wakil presiden, meskipun tidak sampai 5 tahun jabatan tersebut disandangnya karena beliau naik level menjadi presiden, dan tentunya uang pensiun presiden setelah beliau pensiun sebagai presiden.

Ternyata selain gaji anggota DPR yang besar, uang pensiunnya juga tak kalah menjanjikan. Pantas saja banyak orang yang berlomba-berlomba menuju Senayan. Saya ingat berita di TV tentang seorang caleg yang gagal mencapai Senayan dan kemudian dia harus membayar hutang yang jumlahnya sangat besar, karena dana kampanye yang dikeluarkannya mencapai ratusan juta rupiah, hingga diberitakan dia sampai menjual rumahnya bahkan dia berniat menjual ginjalnya. Cek tihs link http://masshar2000.com/2014/05/17/kisah-caleg-gagal-jual-ginjal-untuk-melunasi-hutang/ Luar biasa bukan. Saya tak bisa mengerti banyak sekali orang yang rela mengorbankan uang ratusan juta, bahkan dalam kasus caleg gagal tersebut dia sampai mempertaruhkan hidupnya demi mendapatkan jabatan sebagai wakil rakyat yang dipandang prestius, bergelimangan harta dan mungkin dianggap dapat menjamin kehidupannya. Memang sih jika dilihat dari gaji dan uang pensiunan tentunya anggota DPR dan mantan anggota DPR sampai sekarang sih saya tidak mendapati ada yang hidup miskin dan berkekurangan. Tapi tetap saja saya tidak bisa memahami pola pikir mereka dan cara mereka mempertaruhkan segalanya demi sesuatu yang menurut saya apa ya, tidak sebanding dengan pengorbanan yang dikeluarkan dan tidak ada jaminan pasti tentang keberhasilan yang akan diraih di ujung jalan. Jika dilihat dari probabilitasnya sangat kecil peluang seseorang untuk menjadi anggota DPR jika dia tidak memiliki faktor-faktor yang mendukung, dan tentunya uang hanya sebagian kecil dari faktor-faktor tersebut. Maka tak heran jika banyak berita mengenai para caleg yang tidak berakhir di Senayan, namun justru berakhir di RSJ, karena tak sanggup menerima beban mental dan pahitnya kenyataan, atau di liang kubur, karena mengambil jalan pintas.

Menilik kembali kisah caleg gagal tersebut, mungkin saja untuk menutupi biaya kampanye yang jumlahnya tidak sedikit itulah, mereka yang pada akhirnya mendapat tempat di Senayan tak menunggu lebih lama lagi untuk memanfaatkan kesempatan dan jabatan yang sedang dimilikinya dalam rangka balik modal, menutupi hutang dan biaya yang dikeluarkan di awal dalam tempo dan waktu yang sesingkat-singkatnya. Sampai di sini saya juga tidak bisa memahami mereka yang melakukan korupsi, padahal jika dilihat dari gaji anggota DPR dan uang pensiunan yang akan mereka dapatkan seharusnya mereka bisa berpuas diri. Tapi yah, saya belum pernah menjadi caleg sehingga tidak bisa memahami pola pikir mereka. Namun hal yang menarik adalah setelah para caleg berlomba-lomba mencapai Senayan, mereka yang berhasil melintasi garis akhir kembali menempuh perlombaan lain, perlombaan korupsi, dan tak sedikit anggota DPR yang terbukti melakukan korupsi dan berakhir di bui.

Ketika memikirkan tentang hal ini, saya bertanya apakah yang dikejar oleh mereka ini. Jika memang mereka benar-benar mengejar kesejahteraan rakyat maka tentunya mereka tidak akan menggunakan cara-cara yang menurut saya tidak masuk akal dan ketika mereka mengusahakan apa yang benar, saya yakin mereka tidak akan berakhir mengenaskan. Tapi ketika mereka hanya mengejar uang, kekayaan dan harta duniawi maka realita membuktikan apa yang mereka dapatkan. Namun herannya, meskipun demikian, masih saja orang tetap mengejar harta duniawi yang fana dengan mengerahkan segala usaha, materi bahkan sampai mempertaruhkan nyawa. Well, apa sih yang sebenarnya dicari dalam hidup ini? Setidaknya itulah sedikit apa yang berkecamuk dalam pikiran saya pada musim caleg ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s