Kebebasan finansial???

Kali ini saya ingin menuliskan kembali mengenai ‘kebebasan finansial’. Saya tergelitik untuk membagikan sebuah konsep pola pikir tentang ‘kebebasan finansial’ yang saya baca dari tulisan seorang teman. Sedikit mengutip pendapatnya, jika yang disebut ‘kebebasan finansial’ itu berarti – logikanya – setelah memiliki banyak uang maka orang tersebut merasa tenang dan damai karena segala kebutuhan hidupnya terjamin, maka pada kenyataannya ada orang yang justru mengalami hal yang sebaliknya. Orang tersebut justru tidak mendapatkan ketenangan dalam hidupnya, dan malah semakin terpacu untuk terus menimbun kekayaan. Dan pada kenyataannya tidak sedikit orang yang mengalami kejadian tersebut dalam hidupnya.

Bercermin dari kenyataan tersebut, maka teman saya itu merumuskan sebuah konsep tentang ‘kebebasan finansial’ sebagai sebuah kondisi di mana kita ‘tidak diperhamba oleh uang’. Nice concept, I think and I’m totally agree. Saya sependapat dengan konsep tersebut karena menurut saya, pertama tak peduli seberapa banyaknya uang yang dimiliki seseorang, dia tetap membutuhkan uang itu untuk membiayai kebutuhan hidupnya sehari-hari, sehingga salah jika hal itu dikatakan sebagai kebebasan, karena realitanya kita tetap saja terikat dengan uangdan tidak bias membebaskan diri dari keterikatan tersebut, hanya saja kita lebih bebas menggunakan uang kita untuk memenuhi kebutuhan hidup kita, mulai dari kebutuhan hidup primer sampai yang sama sekali tidak penting, jika memang kebebasan seperti inilah yang disebut sebagai ‘kebebasan finansial’.

Yang kedua, ‘tidak diperhamba oleh uang’ menurut saya tidak berarti bahwa kita harus memiliki uang yang banyak. Tak masalah jika hanya ada beberapa lembar rupiah dalam dompet kita, namun kita tidak mendapati perasaan takut dan gelisah akan hari esok. Bahwa dengan sejumlah uang tersebut kita masih tetap dapat tersenyum dan tertawa, menikmati indahnya hidup ini. Menurut saya seperti itulah seharusnya ‘kebebasan finansial’ itu. Tidak lagi merasa terikat oleh uang, dan merasa senantiasa bahagia meskipun tidak memiliki banyak uang.

Semoga setidaknya beberapa kalimat saya ini bisa merubah pandangan anda yang terjebak oleh pesona uang…

Hidup ini indah…

Ternyata hidup ini sangat indah…

Ketika kita selalu BERSYUKUR kepada TUHAN…

Bukan karena hari ini INDAH maka kita BAHAGIA…

Tapi kerena kita BAHAGIA maka hari ini menjadi INDAH…

Bukan karena tidak ada RINTANGAN kita menjadi OPTIMIS…

Tapi karena kita OPTIMIS maka RINTANGAN menjadi tidak terasa…

Bukan karena KEMUDAHAN kita YAKIN BISA…

Tapi karena kita YAKIN BISA semuanya menjadi MUDAH…

Bukan karena semua BAIK kita TERSENYUM…

Tapi karena kita TERSENYUM maka semua menjadi BAIK…

Tak ada hari yang MENYULITKAN kita, kecuali kita SENDIRI yang membuat SULIT…

Bila kita tidak dapat menjadi jalan besar…

Cukuplah menjadi jalan setapak yang dapat dilalui orang…

Bila kita tidak dapat menjadi matahari…

Cukuplah menjadi lilin yang dapat menerangi sekitar kita…

Adakalanya yang TERINDAH bukanlah yang TERBAIK…

Yang SEMPURNA tidak menjanjikan KEBAHAGIAAN…

Tetapi kita mampudan mau MENERIMA semua KEKURANGAN dan KELEBIHAN…

Itulah KEBAHAGIAAN

Ayo memilih (jangan golput)

ketika anda berlimpah dengan kesibukan

barangkali juga telah kehilangan kepercayaan

sehingga memilih tak lagi diprioritaskan

akhirnya golput pun tak terhindarkan

ketika anda menetapkan pilihan

setidaknya ingatlah rakyat kecil yang hidupnya tertekan

nyobloslah demi mereka yang senantiasa hidup dalam harapan

mereka yang tak peduli akan pencitraan

hanya inginkan kesejahteraan di masa depan

tapi tetap saja harus kembali menelan pahitnya kenyataan

tatkala hari esok tak seperti yang dijanjikan

satu suara sekecil apa pun tetap akan memberikan perubahan

In the face of …

In the face of the challenges and opportunities that Timothy faced, the apostle Paul was not asking him to be a hero or miracle worker but merely to remain true to his vocation.
The same applies to us. We may see the tremendous needs of our world, and we may be tempted to be heroes, charging off to save the world. But we are called back to vocational clarity and commitment–to fulfilling what we have been called to do in the service of truth. – Courage and Calling

Ketika Timotius berhadapan dengan berbagai tantangan dan kesempatan yang ada di depan mata, rasul Paulus tidak menyuruhnya untuk menjadi pahlawan atau pembuat mujizat melainkan tetap setia mengerjakan tugas dan panggilannya.
Demikian juga halnya dengan kita. Kita mungkin saja merasa ada kebutuhan yang luar biasa di dunia ini dan harus dipenuhi, dan karenanya kita merasa tertantang untuk menjadi pahlawan, bertanggung jawab untuk menyelamatkan dunia ini. Akan tetapi kita dipanggil untuk kembali kepada tugas dan panggilan kita sesungguhnya dan komitmen kita terhadap hal tersebut–untuk menyelesaikan hal yang oleh karenanya kita telah dipanggil dalam pelayanan. – Courage and Calling

Sekelumit kata tentang Raeni

Abis nonton Hitam Putih dengan bintang tamunya Raeni, seorang anak tukang becak yang berhasil menjadi wisudawan dengan IPK tertinggi dari Unes. Wow, personally, aku kagum sama dia, dengan segala keterbatasannya, dia tidak menyerah, tetapi justru berusaha keras meraih apa yang diinginkannya. Dan kini, kelulusannya membuktikan buah dari kerja kerasnya.

Raeni berasal dari keluarga yang ekonominya tidak bagus. Bahkan kuliahnya pun didanai oleh beasiswa. Ketika mengetahui hal itu, aku berpikir bahwa anak ini tahu betul keterbatasannya, tetapi di sisi lain dia juga tahu betul kemampuannya. Dia yakin pada dirinya dan percaya bahwa dengan usaha dan kerja keras akan membuahkan kesuksesan. Aku mencoba membayangkan bagaimana rasanya mencoba untuk kuliah sementara dana yang kita miliki pas-pas an, bahkan tidak ada jaminan kita akan mampu menyelesaikan kuliah itu. Dalam kasus Raeni, memang biaya kuliahnya sudah dijamin, tapi bagaimana dengan biaya-biaya lainnya, kebutuhan hidupnya sehari-hari, lalu kebutuhan biaya untuk mengerjakan tugas, dan masih banyak lagi pengeluaran-pengeluaran yang tentunya tidak sedikit. Butuh keberanian, tekad yang gigih, dan kenekatan untuk mengambil langkah tersebut, nekat dalam hal ini bukan berarti asal maju, tapi aku yakin Raeni nekat karena dia percaya bahwa Tuhan akan membantunya.

Hal yang menyentuh adalah ketika sang ayah, demi membelikan laptop untuk putrinya sampai rela mengambil pension dini, guna mendapatkan pesangon yang nantinya akan digunakan untuk membayar hutang akibat membeli laptop. Pasti tidak mudah melepaskan pekerjaan, yang dapat kukatakan telah menjadi pendamping hidup selama puluhan tahun, bukankah pekerjaan juga dapat diibaratkan pasangan hidup kita. Ketika kehilangan pekerjaan berarti beliau juga otomatis kehilangan sumber penghidupan. Bagaimana dengan kehidupan sehari-hari keluarga mereka? Lha wong secara masih kerja saja susah apalagi sekarang sudah tidak bekerja lagi. Gimana coba? Aku yakin butuh iman yang besar untuk dapat menghadapai hal tersebut, kenyataan tersebut dengan senyuman. Tapi itulah cinta orangtua pada anaknya, yang memampukan mereka untuk mengorbankan apapun demi sang anak. Aku tidak tahu bagaimana perasaan orang tua Raeni pada anak mereka, tapi aku yakin pasti mereka percaya dan meletakkan harapan yang tinggi pada anak mereka.

Di sisi lain, Raeni cukup mengerti dan memahami kesulitan orang tuanya. Dia kuliah sambil melakukan usaha apapun yang dapat dikerjakannya untuk memenuhi kebutuhannya, bahkan dia sampai menyisihkan uang minimal 50.000 per bulannya, jumlah yang bagi kita mungkin tidak seberapa. Tapi hal itu menunjukkan keuletan dan kegigihannya dalam berjuang menghadapi kesulitan hidup. Raeni juga tidak malu terhadap pekerjaan orang tuanya, yang kemudian menjadi tukang becak. Sungguh suatu sikap yang patut diteladani, tatkala banyak anak-anak yang merasa minder dengan kondisi orang tuanya dan bersikap seperti Malin Kundang.

Belajar dari kisah Raeni, menurutku yang istimewa bukanlah IPK nya yang mencapi 3,96 atau beasiswa presidensil yang diterimanya, melainkan perjuangannya untuk meraih itu semua, bagaimana dia tidak mudah menyerah menghadapi kenyataan hidup dan terus berjuang untuk meraih apa yang diyakininya, bagaimana orang tuanya mendukung Raeni, dan aku percaya bahwa doa dan dukungan orang tua itulah yang akan melapangkan jalan putera puteri mereka. Mungkin banyak orang terpukau pada hasil yang diraih Raeni, tapi di balik itu semua ada sebuah gunung es besar perjuangan yang dibayar dengan kerja keras dan keringat, mungkin juga air mata tatkala dia melihat perjuangan orang tuanya namun tak bisa melakukan apa pun untuk meringankan hal itu selain dengan mempersembahkan kesuksesan. Semoga sedikit apa yang aku tuliskan ini bisa menjadi sarana untuk mendorong kita dalam menghadapi hidup ini.