Sekelumit kata tentang Raeni

Abis nonton Hitam Putih dengan bintang tamunya Raeni, seorang anak tukang becak yang berhasil menjadi wisudawan dengan IPK tertinggi dari Unes. Wow, personally, aku kagum sama dia, dengan segala keterbatasannya, dia tidak menyerah, tetapi justru berusaha keras meraih apa yang diinginkannya. Dan kini, kelulusannya membuktikan buah dari kerja kerasnya.

Raeni berasal dari keluarga yang ekonominya tidak bagus. Bahkan kuliahnya pun didanai oleh beasiswa. Ketika mengetahui hal itu, aku berpikir bahwa anak ini tahu betul keterbatasannya, tetapi di sisi lain dia juga tahu betul kemampuannya. Dia yakin pada dirinya dan percaya bahwa dengan usaha dan kerja keras akan membuahkan kesuksesan. Aku mencoba membayangkan bagaimana rasanya mencoba untuk kuliah sementara dana yang kita miliki pas-pas an, bahkan tidak ada jaminan kita akan mampu menyelesaikan kuliah itu. Dalam kasus Raeni, memang biaya kuliahnya sudah dijamin, tapi bagaimana dengan biaya-biaya lainnya, kebutuhan hidupnya sehari-hari, lalu kebutuhan biaya untuk mengerjakan tugas, dan masih banyak lagi pengeluaran-pengeluaran yang tentunya tidak sedikit. Butuh keberanian, tekad yang gigih, dan kenekatan untuk mengambil langkah tersebut, nekat dalam hal ini bukan berarti asal maju, tapi aku yakin Raeni nekat karena dia percaya bahwa Tuhan akan membantunya.

Hal yang menyentuh adalah ketika sang ayah, demi membelikan laptop untuk putrinya sampai rela mengambil pension dini, guna mendapatkan pesangon yang nantinya akan digunakan untuk membayar hutang akibat membeli laptop. Pasti tidak mudah melepaskan pekerjaan, yang dapat kukatakan telah menjadi pendamping hidup selama puluhan tahun, bukankah pekerjaan juga dapat diibaratkan pasangan hidup kita. Ketika kehilangan pekerjaan berarti beliau juga otomatis kehilangan sumber penghidupan. Bagaimana dengan kehidupan sehari-hari keluarga mereka? Lha wong secara masih kerja saja susah apalagi sekarang sudah tidak bekerja lagi. Gimana coba? Aku yakin butuh iman yang besar untuk dapat menghadapai hal tersebut, kenyataan tersebut dengan senyuman. Tapi itulah cinta orangtua pada anaknya, yang memampukan mereka untuk mengorbankan apapun demi sang anak. Aku tidak tahu bagaimana perasaan orang tua Raeni pada anak mereka, tapi aku yakin pasti mereka percaya dan meletakkan harapan yang tinggi pada anak mereka.

Di sisi lain, Raeni cukup mengerti dan memahami kesulitan orang tuanya. Dia kuliah sambil melakukan usaha apapun yang dapat dikerjakannya untuk memenuhi kebutuhannya, bahkan dia sampai menyisihkan uang minimal 50.000 per bulannya, jumlah yang bagi kita mungkin tidak seberapa. Tapi hal itu menunjukkan keuletan dan kegigihannya dalam berjuang menghadapi kesulitan hidup. Raeni juga tidak malu terhadap pekerjaan orang tuanya, yang kemudian menjadi tukang becak. Sungguh suatu sikap yang patut diteladani, tatkala banyak anak-anak yang merasa minder dengan kondisi orang tuanya dan bersikap seperti Malin Kundang.

Belajar dari kisah Raeni, menurutku yang istimewa bukanlah IPK nya yang mencapi 3,96 atau beasiswa presidensil yang diterimanya, melainkan perjuangannya untuk meraih itu semua, bagaimana dia tidak mudah menyerah menghadapi kenyataan hidup dan terus berjuang untuk meraih apa yang diyakininya, bagaimana orang tuanya mendukung Raeni, dan aku percaya bahwa doa dan dukungan orang tua itulah yang akan melapangkan jalan putera puteri mereka. Mungkin banyak orang terpukau pada hasil yang diraih Raeni, tapi di balik itu semua ada sebuah gunung es besar perjuangan yang dibayar dengan kerja keras dan keringat, mungkin juga air mata tatkala dia melihat perjuangan orang tuanya namun tak bisa melakukan apa pun untuk meringankan hal itu selain dengan mempersembahkan kesuksesan. Semoga sedikit apa yang aku tuliskan ini bisa menjadi sarana untuk mendorong kita dalam menghadapi hidup ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s