A dream comes true…

Untitled-11

Berkaca dari orang ini, saya belajar bahwa tidak ada hal yang mustahil. Memang mimpinya terdengar konyol, untuk orang dewasa seusia kita. Tapi setidaknya dia berhasil mewujudkan mimpi anak-anak di Indonesia, dunia mungkin. Saya ingat ketika kecil saya sering bermain menjadi Power Ranger, menciptakan monster-monster imajiner, lalu bermain berlari kesana kemari, meloncat kesana kemari sambil membawa pedang-pedangan plastik hahahaha…

Untuk orang ini saya salut, bahwa mimpi soerang bocah yang mungkin konyol telah berhasil diwujudkan olehnya…

Postingan yang annoying

It’s been annoying enough to see someone status about their personal relationship with God, but it became harder to accept when they really annoyed you in real life…

Sudah sering saya membaca status seperti itu, bukan hanya satu dua kali. Hal ini cukup menarik untuk ditelaah lebih mendalam, tentunya tanpa bermaksud menunjuk si A atau si B.

Kebiasaan memasang atribut-atribut rohani atapun menggunakan bahasa yang berbau rohani sudah menjadi hal yang umum. Namun, yang menjadi permasalahan adalah ketika apa yang diucapkan tidak sejalan dengan prilakunya sehari-hari.

Pertama, motivasi para pelaku tindakan tersebut. Saya tidak tahu mengapa si A melakukan tindakan tersebut. Bisa jadi dia sedang mencari perhatian, agar dipandang lebih baik oleh orang lain, atau agar lebih dihargai. Jika memang hal seperti itulah yang menjadi motivasinya, maka si A hanya menggunakan topeng dan sudah pasti dapat dilihat bahwa prilakunya dalam kehidupan sehari-hari bertolak belakang dengan kedok yang digunakannya. Mereka seperti makam yang dilabur putih tapi tetap saja di dalamnya penuh tulang belulang dan bangkai.

Tapi apakah benar semua orang seperti si A?  Saya rasa ada juga jenis orang seperti si B yang berusaha untuk memotivasi diri agar menjadi semakin baik. Dan salah satu caranya adalah dengan terus menerus mengingatkan dirinya. Bisa jadi atribut-atribut itu merupakan salah satu cara baginya untuk mengingatkan dirinya. Perlu diingat bahwa kita menghadapi sesama manusia yang tentunya juga tidak sempurna. Saya rasa tidak benar juga jika saya menuntut si B untuk menjadi seperti tuhan yang selalu mendapat nilai 100 dalam segala aspek. Karena itulah setiap minggu diadakan pengakuan dosa secara berkala, dan saya memandang baik umat Muslim yang setiap tahun merayakan Idul Fitri, saling meminta maaf atas kesalahan mereka. Bukan orang sehat yang membutuhkan dokter dan ada di rumah sakit, melainkan mereka yang sakit dan merasa butuh diobati.

Kedua, bagaimana penilaian kita kepada orang seperti itu. Saya pernah mendengar ungkapan ‘setan lebih baik dari pada manusia, setidaknya dia konsisten untuk berkelakuan buruk’ atau ‘lebih baik saya dari pada si A, saya tidak pernah berdoa dan berprofesi sebagai koruptor’. Menurut saya ungkapan-ungkapan seperti itu ada benarnya juga. Lebih baik jika orang konsisten dalam perbuatannya. Jika memang dia adalah seorang penjahat maka sepantasnya dia berbuat jahat. Tapi apakah hal itu lantas menjadikannya seorang penjahat sejati, apakah tidak ada kesempatan baginya untuk berubah haluan? Apakah jika seseorang melakukan suatu kesalahan lantas dia harus terus hidup dalam kesalahannya itu dan tidak ada kesempatan baginya untuk memperbaiki diri?

Secara tidak disadari sebenarnya faktor lingkungan memiliki peranan penting dalam membentuk pribadi seseorang. Penghakiman massal dapat mengarahkan seseorang menjadi benar-benar seperti apa yang dituduhkan kepadanya. Seorang mantan penjahat yang sudah dicap jahat akan diperlakukan sebagai penjahat oleh masyarakat, dan karena tidak diberi kesempatan untuk melakukan hal baik (karena apa yang dilakukannya selalu dipandang negatif) pada akhirnya akan kembali melakukan kejahatan.

Menikmati perkembangan yang terjadi akhir-akhir ini, saya rasa faktor kepentingan juga memegang peranan terhadap reaksi kita. Tentunya reaksi saya akan berbeda ketika menghadapi orang yang saya kenal dibandingkan dengan orang yang tidak saya kenal, meskipun mereka melakukan tindakan yang sama. Saya tidak memiliki kepentingan terhadap orang yang tidak saya kenal sehingga tindakan apa pun yang dilakukannya tidak akan berdampak pada saya, dan saya juga tidak ambil pusing selama apa yang dilakukan orang itu tidak merugikan saya. Tapi lain hal nya dengan orang yang saya sudah saya kenal. Ketika dia melakukan hal yang di luar dugaan, bisa jadi saya kecewa kepada orang itu karena dia tidak melakukan seperti apa yang saya harapkan dan saya bayangkan. Hal ini lah yang membuat seseorang melakukan penilaian kepada orang lain. Karena mereka merasa sudah mengenal orang itu.

Bisa jadi anda memiliki kepentingan terhadap orang itu, setidaknya anda memiliki hubungan dengannya dan anda merasa sudah cukup mengenalnya. Sehingga ketika orang itu tidak melakukan atau tidak menjadi seperti yang anda harapkan dalam bayangan anda, anda merasa berhak menilainya negatif. Sebaliknya ketika dia melakukan sesuatu yang anda pandang menguntungkan anda, maka anda akan menganggap orang itu adalah orang baik.

Ketiga, terima kasih atas sebuah teguran yang manis. Ketika saya menilai seseorang, tentunya ada orang lain juga yang sedang menilai saya. Jujur saya sering melakukan tindakan yang berlawanan juga. Dengan menyadari hal itu saya akan lebih berhati-hati dalam menjaga tindak tanduk agar jangan sampai merugikan atau menyakiti orang lain.

Don’t say ‘don’t’

10603662_10203940513371783_4835557773113652856_n

Ketika saya SMA ada yang pernah bilang untuk tidak menggunakan kalimat negatif karena yang akan diterima oleh otak justru apa yang ada di belakang kata ‘jangan’ itu… 

Ketika saya kuliah ada yang mencontohkan: ketika saya bilang ‘jangan pikirkan beruang kutub’ maka hampir seisi kelas menjadikan beruang kutub sebagai objek yang pertama terlintas di kepala

MAZE

 

 

Bt33RsfIIAE_avn

So life is a huge never ending maze to be overcome…

 

FEAR

F-E-A-R can be defined by two ways:

1. Forget Everything And Run.

2. Face Everything And Rise.

Now the choice is yours

1078872_44288931