Mau jadi warga negara yang baik aja susah

Begitulah update status seorang teman. Setelah saya telisik dan selidiki secara saksama, teman saya itu mengeluhkan tentang kendala yang dialaminya saat mengajukan permohonan untuk pembuatan SIM A. Berdasarkan keterangannya saat berusaha menempuh jalur yang legal dan resmi, persyaratan yang diajukan oleh pihak kepolisian cukup rumit. Harus fotokopi ini itu, kemudian tes ini itu. Memang seharusnya ada prosedur-prosedur yang harus diikuti dalam rangka mendapatkan SIM, seperti yang tercantum pada web berikut, http://www.polri.go.id/banner/berita/91 dan http://ntmc-korlantaspolri.blogspot.com/2013/05/cara-mengurus-pembuatan-sim-dan-sim-c.html .

Namun hal yang memberatkan teman saya itu adalah biaya yang diajukan. Menurutnya biaya untuk membuat SIM A mencapai Rp 500.000,- perlu dicatat bahwa dia sedang berusaha mengikuti prosedur yang benar. ‘Kmrn aku ke samsat 500, disuruh tes mata dulu.. Trus aku tanya ma tempat kursusan 460 cuma tinggal foto aja… Ya aku pilih 460 ae.’ ujarnya. Padahal menurut kedua web di atas, biayanya hanya Rp 120.000,-. Selain itu tidak ada jaminan bahwa setelah mengeluarkan uang sebesar itu SIM A akan berhasil didapat.

Nek ikut tes ini itu tapi dibuat-buat ben ga lulus lak ya sami mawon’ – Kalau ikut tes ini itu tapi dibuat-buat supaya tidak lulus kan sama saja,red – ujar teman saya ketika kami menyinggung soal tes sebagai prosedur dan persyaratan yang seharusnya diikuti.

Miris memang menyikapi keadaan tersebut. ‘Kan yo haruse lebih gampang tho ris..’ alasannya ketika mencoba mengikuti prosedur yang resmi.  Di satu sisi teman saya itu mencoba berusaha mengikuti prosedur yang benar tapi kenyataan yang dihadapi malah tidak berpihak kepadanya. Saya tidak tahu salah siapa ini sehingga budaya percaloan kini sudah menjadi mata pencaharian dan profesi tetap bagi sebagian orang yang berkecimpung di dalamnya. Kalo nggak ada yang make kan para calo-calo itu akan hilang dengan sendirinya. Jika dibilang ini salah orang yang menggunakan jasa calo, menurut saya tidak begitu, karena ada juga orang yang sudah berusaha menempuh jalur yang benar tetapi bukan kemudahan yang menanti justru kesulitan demi kesulitan yang dihadapi sehingga dirasa dengan menggunakan jasa calo lebih praktis dan murah.

Iya kalo polisinya bener trus langsung dilulusin, tapi kalau sengaja nggak dilulusin biar nyoba lagi kan harus bayar lagi. Mereka kan juga butuh uang. Malah kita yang rugi, bayar terus tapi nggak dapet-dapet. Kita yang diperas. Itulah alas an klasik yang sering dikemukakan untuk melegalkan jasa percaloan. Memang sih sekarang ini kredibilitas aparat dan pemerintah tidak bisa lagi digunakan sebagai jaminan. Banyaknya kasus yang membuktikan ketidakberpihakan mereka pada masyarakat membuat masyarakat tidak lagi percaya pada orang-orang berseragam itu.

Lalu bagaimana solusinya? Hahaha kalau ditanya seperti itu saya sendiri tidak tahu bagaimana menjawabnya. Lha wong orang-orang yang duduk di parlemen, yang namanya panjang karena gelarnya berderet-deret seperti kereta api saja tidak berhasil menghapuskan budaya ini. Jadi ya mungkin semua orang harus dilengkapi dengan detektor kebohongan dengan efek sengatan listrik yang mematikan jika orang itu tidak berkata jujur. Tapi kalau hal itu diterapkan, bisa jadi manusia akan punah mengikuti jejak dinosaurus. Yah, saya doakan saja semoga revolusi mental yang sedang hot didengung-dengungkan bisa membuat semuanya lebih baik, anyway kembali lagi sih semuanya itu tergantung manusianya…

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s