Postingan yang annoying

It’s been annoying enough to see someone status about their personal relationship with God, but it became harder to accept when they really annoyed you in real life…

Sudah sering saya membaca status seperti itu, bukan hanya satu dua kali. Hal ini cukup menarik untuk ditelaah lebih mendalam, tentunya tanpa bermaksud menunjuk si A atau si B.

Kebiasaan memasang atribut-atribut rohani atapun menggunakan bahasa yang berbau rohani sudah menjadi hal yang umum. Namun, yang menjadi permasalahan adalah ketika apa yang diucapkan tidak sejalan dengan prilakunya sehari-hari.

Pertama, motivasi para pelaku tindakan tersebut. Saya tidak tahu mengapa si A melakukan tindakan tersebut. Bisa jadi dia sedang mencari perhatian, agar dipandang lebih baik oleh orang lain, atau agar lebih dihargai. Jika memang hal seperti itulah yang menjadi motivasinya, maka si A hanya menggunakan topeng dan sudah pasti dapat dilihat bahwa prilakunya dalam kehidupan sehari-hari bertolak belakang dengan kedok yang digunakannya. Mereka seperti makam yang dilabur putih tapi tetap saja di dalamnya penuh tulang belulang dan bangkai.

Tapi apakah benar semua orang seperti si A?  Saya rasa ada juga jenis orang seperti si B yang berusaha untuk memotivasi diri agar menjadi semakin baik. Dan salah satu caranya adalah dengan terus menerus mengingatkan dirinya. Bisa jadi atribut-atribut itu merupakan salah satu cara baginya untuk mengingatkan dirinya. Perlu diingat bahwa kita menghadapi sesama manusia yang tentunya juga tidak sempurna. Saya rasa tidak benar juga jika saya menuntut si B untuk menjadi seperti tuhan yang selalu mendapat nilai 100 dalam segala aspek. Karena itulah setiap minggu diadakan pengakuan dosa secara berkala, dan saya memandang baik umat Muslim yang setiap tahun merayakan Idul Fitri, saling meminta maaf atas kesalahan mereka. Bukan orang sehat yang membutuhkan dokter dan ada di rumah sakit, melainkan mereka yang sakit dan merasa butuh diobati.

Kedua, bagaimana penilaian kita kepada orang seperti itu. Saya pernah mendengar ungkapan ‘setan lebih baik dari pada manusia, setidaknya dia konsisten untuk berkelakuan buruk’ atau ‘lebih baik saya dari pada si A, saya tidak pernah berdoa dan berprofesi sebagai koruptor’. Menurut saya ungkapan-ungkapan seperti itu ada benarnya juga. Lebih baik jika orang konsisten dalam perbuatannya. Jika memang dia adalah seorang penjahat maka sepantasnya dia berbuat jahat. Tapi apakah hal itu lantas menjadikannya seorang penjahat sejati, apakah tidak ada kesempatan baginya untuk berubah haluan? Apakah jika seseorang melakukan suatu kesalahan lantas dia harus terus hidup dalam kesalahannya itu dan tidak ada kesempatan baginya untuk memperbaiki diri?

Secara tidak disadari sebenarnya faktor lingkungan memiliki peranan penting dalam membentuk pribadi seseorang. Penghakiman massal dapat mengarahkan seseorang menjadi benar-benar seperti apa yang dituduhkan kepadanya. Seorang mantan penjahat yang sudah dicap jahat akan diperlakukan sebagai penjahat oleh masyarakat, dan karena tidak diberi kesempatan untuk melakukan hal baik (karena apa yang dilakukannya selalu dipandang negatif) pada akhirnya akan kembali melakukan kejahatan.

Menikmati perkembangan yang terjadi akhir-akhir ini, saya rasa faktor kepentingan juga memegang peranan terhadap reaksi kita. Tentunya reaksi saya akan berbeda ketika menghadapi orang yang saya kenal dibandingkan dengan orang yang tidak saya kenal, meskipun mereka melakukan tindakan yang sama. Saya tidak memiliki kepentingan terhadap orang yang tidak saya kenal sehingga tindakan apa pun yang dilakukannya tidak akan berdampak pada saya, dan saya juga tidak ambil pusing selama apa yang dilakukan orang itu tidak merugikan saya. Tapi lain hal nya dengan orang yang saya sudah saya kenal. Ketika dia melakukan hal yang di luar dugaan, bisa jadi saya kecewa kepada orang itu karena dia tidak melakukan seperti apa yang saya harapkan dan saya bayangkan. Hal ini lah yang membuat seseorang melakukan penilaian kepada orang lain. Karena mereka merasa sudah mengenal orang itu.

Bisa jadi anda memiliki kepentingan terhadap orang itu, setidaknya anda memiliki hubungan dengannya dan anda merasa sudah cukup mengenalnya. Sehingga ketika orang itu tidak melakukan atau tidak menjadi seperti yang anda harapkan dalam bayangan anda, anda merasa berhak menilainya negatif. Sebaliknya ketika dia melakukan sesuatu yang anda pandang menguntungkan anda, maka anda akan menganggap orang itu adalah orang baik.

Ketiga, terima kasih atas sebuah teguran yang manis. Ketika saya menilai seseorang, tentunya ada orang lain juga yang sedang menilai saya. Jujur saya sering melakukan tindakan yang berlawanan juga. Dengan menyadari hal itu saya akan lebih berhati-hati dalam menjaga tindak tanduk agar jangan sampai merugikan atau menyakiti orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s