Architect and sin…

Someone asked me this question:
If God is the creator of all, then sin was created by God, too

As an architect, to understand sin is somewhat easy for me. The first thing that we ought to know is, what is “sin”? Sin is actually when we are living our life not accordingly to Gods’ plan. Gods plan is perfect, we made it imperfect by misusing our life.

Architecturally speaking, when we design a building, we would consider not only the functionality of that building but also the loads that the building might receive, and we would even design “the look” and “the form” of the building so that it will work in someway with the surrounding environment. When the planning and design is done, it should be a perfect design, but, sometimes the builder build it the wrong way, or the owner want to change it because they think they know better. Let’s say, the main window was designed to face southward to catch more sunshine, but the owner move it east because he like the view better. What happened afterwards, the space inside the reception room doesn’t get enough light and heat, so when it is occupied, the dwellers must turn on the light and heater most of the time. The builder had committed a sin against the architect and the building has become an imperfect creation, a product of sin.
One sin leads to another, because the building was not planned to consume that much of electricity and heat, the architect didn’t plan a sufficient space for the needed utility, so the builders just added the needed utilities that would ruined the aesthetic of the building and might make it prone to danger.

See, the effort that the builders do to fix the sin is not sufficient to make the building work perfectly again. What the builders must do is call the architect to modify the design, make it into a new creation. Thus the building would be reborn again.

Does that make sense? The architect did not created all the errors, no architect in their right mind would design a building to collapse. The building was perfectly designed. It’s the violation to that design that ruined that perfection.

Copied from my amazing lecturer’s note https://www.facebook.com/rosje?fref=ufi

Advertisements

Pelajaran dari sebuah paper

Pagi tadi saya mengumpulkan tugas paper saya. Hal yang membuat saya merasa tidak tenang ketika teman saya mengatakan bahwa format paper saya. Seketika itu saya membuka catatan dan–saya benci-karena dia benar. Runtuh sudah kepercayaan diri saya. Tapi apa mau dikata. Apa yang telah terjadi biarlah terjadi. Saya toh tidak bisa mengubah keadaan. Dan saya juga tidak bisa memohon agar ada dispensasi. Semuanya sudah tertulis di catatan saya, saya yang kurang memperhatikannya.

Kejadian ini membuat saya berpikir bukankah demikian juga dengan hidup ini. Banyak orang tidak mau membaca manual book dan lebih mengandalkan pemahamannya sendiri, menganggap dirinya sudah paham dan tahu sehingga memilih tidak mengindahkan manual book yang Tuhan sudah Tuhan berikan. Lalu akibatnya, ketika banyak menghadapi kesulitan, kegagalan, rintangan dan kenyataan yang tak sperti bayangan, orang mulai meminta dispensasi, kemudahan atau pemutihan, bahkan ada juga yang sampai menyalahkan Tuhan. Sebenarnya semua yang terjadi dalam hidup ini bukankah semuanya itu akibat pilihan dan tindakan manusia itu sendiri. Lalu mengapa malah seringkali yang terjadi mereka menyalahkan orang lain atas akibat dari perbuatannya?

Kembali pada manual book tadi, Tuhan telah menerbitkan manual book, memberikan kitab-kitab suci sebagai pedoman manusia berkehidupan. Namun apakah manual book tersebut benar-benar dibaca dan dipergunakan sebagai mana mestinya? Jangan salah siapapun selain diri anda sendiri jika hidup anda tidak berjalan sebagai mana mestinya kalau anda tidak mempergunakan manual book tersebut…

Indonesia dalam penjajahan BBM

211032_antrian-bbm-di-spbu-menjelang-kenaikan-harga_663_382

Mungkin kalimat saya tersebut terdengar lebai, alay, atau terlalu puitis malah, tapi sesungguhnya saya hanya mengutip pernyataan Bapak Dahlan Iskan dalam kuliah beliau di kampus saya. Mencermati kondisi kelangkaan BBM akhir-akhir ini, dan sesungguhnya tidak hanya akhir-akhir ini tapi menurut saya kelangkaan BBM telah menjadi masalah klasik yang terus menerus terulang, mau tak mau saya menyetujui pernyataan tersebut. Kelangkaan BBM yang terus terjadi, saya tidak tahu bagaimana persisnya hal itu bisa terjadi. Ada yang mengatakan konsumsi BBM bersubsidi terlalu tinggi, ada juga yang mengatakan harga minyak internasional melambung tinggi sehingga membuat subsidi membengkak, sampai ada pula yang mengatakan sebagai ulah mafia migas.

Konsumsi BBM bersubsidi terlalu tinggi, ya saya menyetujuinya. Dalam jangka waktu selama sepuluh tahun ini, perkembangan pengguna kendaraan bermotor naik luar biasa banyaknya. Jumlah motor dan mobil berkembang pesat. Saya masih ingat ketika saya sekolah dulu, setiap hari bus kota dipenuhi oleh para penumpang, sehingga tak jarang saya harus menunggu dua tiga bus lagi untuk dapat naik bus. Tapi kini, orang-orang yang dulunya ada di dalam bus itu telah berpindah turun ke jalan dengan menaiki bebek roda dua maupun kendaraan roda empat. Hal ini tentunya tidak dapat lepas dari perkembangan industri otomotif, apalagi teman-teman saya yang bekerja sebagai marketing baik motor maupun mobil mengaku dikejar target penjualan. Masalahnya seiring dengan perkembangan kendaraan bermotor, apakah jumlah BBM dan luas jalan ikut meningkat, tentu jawabannya tidak bukan. Saya rasa pelaku industri otomotif tidak memperhitungkan hal tersebut, yang penting target penjualan mereka tercukupi dan kebutuhan perut mereka terpenuhi. Apakah salah? Saya tidak bisa mengatakan hal itu sebagai suatu kesalahan karena mereka juga berjuang untuk hidupnya, meskipun menimbulkan masalah sosial baru. Lalu, bagaimana cara mengatasinya? Apakah lantas menutup industri otomotif? Mungkin bisa saja hal itu dilakukan sebagai salah satu opsi untuk menghemat konsumsi BBM, tapi hal itu tidak menyelesaikan masalah jumlah BBM yang memang semakin lama semakin menyusut. Lagipula, apakah kita semua siap dengan kehidupan tanpa transportasi?

Terkait dengankonsumsi BBM pula, ketika saya tinggal di Jakarta, kondisi jalan yang macet tentunya ikut andil dalam membakar bensin kita. Kemacetan mengakibatkan mobil-mobil berhenti namun mesin tetap menyala sehingga pembakaran terus terjadi. Meskipun belum ada survey yang jelas, saya yakin bahwa peringkat konsumsi BBM paling tinggi ditempati oleh Jakarta. Sama halnya ketika saya tinggal di Bali, kemacetan yang terjadi juga berperan dalam memakan bensin kita. Hal yang uni di Bali adalah masyarakat local menyediakan persewaan motor dan mobil, dan tentu saja para penyewanya mayoritas adalah turis-turis asing. Oleh karena itu saya menyimpulkan bahwa BBM di Indonesia turut menjadi konsumsi orang asing.

Kenaikan harga minyak internasional tentunya berpengaruh pada besarnya subsidi BBM. Ketika biaya yang dikeluarkan untuk subsidi BBM tetap maka kuota BBM akan menjadi lebih sedikit daripada sebelumnya. Saya pernah menengar pembicaraan tukang ojek dan orang-orang yang dapat dikategorikan sebagai masyarakat lapisan bawah. Mereka berpendapat bahwa lebih baik harga BBM dinaikkan saja daripada mereka harus antri seperti itu. Mendengarkan pendapat mereka, saya rasa semua orang sudah tahu bahwa memang kenyataannya kenaikan harga BBM tidak dapat terhindarkan, tapi mereka memilih untuk tidak mau tahu, mereka hanya ingin agar kebutuhan hidup mereka terpenuhi. Kembali lagi apakah hal ini salah? Tidak juga, karena saya yakin anda dan saya juga demikian. Menolak kenyataan. Parahnya lagi, kondisi tersebut ditumpangi oleh kepentingan politis yang mengatas namakan kesejahteraan rakyat tapi sesungguhnya hanya mengutamakan kepentingan segelintir elit politik tertentu.

Berkaca dari pengalaman selama ini, pada kenyataannya memang kita harus mengurangi konsumsi BBM, tapi masalahnya apakah kita bersedia. Telah banyak wacana untuk mengubah konsumsi BBM ke BBG, tapi banyak juga kendala untuk mewujudkan hal itu. Sebenarnya masalahnya bukan kepada kebersediaan kita atau tidak, tapi mau tidak mau toh suatu ketika BBM akan habis karena BBM bukanlah sumber daya alam terbarukan. Masalahnya mau sampai kapan kita menutup mata terhadap kenyataan tersebut. Kelangkaan BBM, konsumsi bahan bakar, masalah kendaraan bermotor hanyalah percikan-percikan yang timbul atas suatu masalah pokok, yaitu keterbatasan BBM sebagai SDA tidak terbarukan. Satu-satunya jawaban dari masalah ini memang mau tak mau harus dicari bahan bakar lain untuk menggantikan BBM.

Pertanyaan selanjutnya, apakah kita semua bersedia memerdekakan diri dari jeratan konsumsi BBM???

Kebaikan Tuhan dalam tragedi 9/11

Hari ini tanggal 11 September 2014, tepat 13 tahun sejak kejadian 9/11 yang mengguncang dunia. Perisitwa pembajakan pesawat terbang yang berujung pada terorisme internasional dan menggoreskan luka yang mendalam bagi sejarah umat manusia.

Mengenai peristiwa 9/11 saya ingat seorang adik Maba di kelompok tutorial pernah bertanya ‘jika Tuhan baik mangapa Dia membiarkan peristiwa mengenaskan itu terjadi’. Pertanyaan yang bagus sih sampai saya mikir juga jawabnya, maklum saat itu masih tergolong mahasiswa muda. Saat itu saya menjawab bahwa rencana Tuhan tidak dapat dimengerti oleh manusia. Manusia bisa saja hanya memandang satu sisi dari sebuah kejadian, sehingga dia mengasumsikan opininya terkait dengan sisi yang dipandangnya itu, tapi Tuhan sebagai Sang Pencipta tentu memandang berbagai aspek, termasuk sisi-sisi yang tidak dapat dipandang oleh kacamata manusia, sehingga dengan otoritasNya Dia tetap mengijinkan hal itu terjadi demi kebaikan manusia. Dan dengan iman, saya percaya bahwa peristiwa apa pun itu meskipun dipandang tidak baik oleh manusia, jika diijinkan terjadi oleh Tuhan pasti mendatangkan kebaikan.

Terkait dengan pertanyaan adik Maba tersebut, pemahaman tentang ‘kebaikan Tuhan’ lah yang sering kali menjadi tolok ukura kita dalam memandang sesuatu. Seringkali Tuhan dipandang baik jika Dia berada di pihak kita dan bila Dia berseberangan dengan kita maka Dia menjadi Tuhan yang jahat. Masalahnya apakah kita berdiri di atas kebenaran dan pemahaman kita tentang apa yang baik itu sejalan dengan pemahaman Tuhan?

Saya mencoba memandang kebaikan Tuhan dari sudut pandang yang lain. Ketika ada seseorang yang merancangkan kejahatan dan ada orang lain yang berusaha menggagalkan rancangan kejahatan tersebut meskipun pada akhirnya dia gagal, bukankah orang tersebut tetap bisa dikatakan sebagai orang baik. Seringkali yang menjadi sudut pandang kita adalah orang baik yang dianggap membiarkan kejahatan merajalela, tetapi sebenarnya yang menjadi masalah bukanlah orang baik itu tidak melakukan kebaikan, tetapi orang jahatlah yang terus menerus melakukan kejahatan.

Kembali kepada tragedy 9/11 tersebut, dengan menggunakan sudut pandang yang saya kemukan di atas, maka saya berani mengatakan Tuhan tetap baik karena di kemudian hari saya mengetahui bahwa sebenarnya Tuhan telah menggagalkan rancangan terorisme tersebut. Pesawat ketiga, yang seharusnya ditergetkan menghancurkan White House dan Washington gagal melaksanakan tugasnya karena para penumpang pesawat melakukan perlawanan. Menurut saya White House memiliki arti yang jauh lebih penting daripada Pentagon baik dari sisi politik maupun sosial ekonomi. Apa jadinya jika White House dan Washington sebagai pusat pemerintahan Amerika benar-benar hancur? Bisa jadi Amerika tumbang dan dunia akan bergejolak. Jika tanpa campur tangan Tuhan, saya percaya hal itu tidak akan terjadi. Rencana matang yang telah disusun oleh manusia brilliant (mereka berhasil membajak tiga pesawat secara bersamaan dan sukses menerbangkannya, bahkan dua diantaranya berhasil mewujudkan misinya) berhasil digagalkan oleh sekelompok orang yang tidak terorganisir dan berpengalaman militer.

Saya tetap tidak tahu mengapa Tuhan mengijinkan peristiwa itu terjadi dan Tuhan membiarkan kedua pesawat pertama menyelesaikan misinya, biarlah itu menjadi misteri otoritas Tuhan, tapi sekali lagi dengan kacamata iman saya tetap memandang bahwa dalam tragedy 9/11 ada kebaikan dan belas kasih Tuhan yang peduli terhadap manusia.

Ketika saat ini anda menghadapi saat-saat sulit cobalah untuk memandang dari sisi yang berbeda. Bisa jadi ketika anda memandang dari sisi yang berbeda maka anda akan mendapati hal-hal yang tidak anda temukan sebelumnya.

Sebuah pelajaran dari Florence Sihombing

Beberapa hari terakhir ini Florence Sihombing sibuk menghiasi media sosial maupun layar kaca akibat ulahnya yang mengungkapkan kekesalan sehingga menyinggung warga Yogya dan berbuntut panjang. Mengenai tindakannya, biarlah masyarakat sendiri yang menilai. Hal yang menarik bagi saya adalah sebuah tindakan kecil yang barangkali dilakukan tanpa disadari akibatnya dapat berbuntut hal yang tidak diinginkan. Memang waktu itu Flo kesal, dan saya rasa hal itu dapat dimaklumi, secara saya juga pernah merasakan antri di bawah teriknya panas matahari selama satu setengah jam lebih, dan saya juga mengungkapkan kekesalan saya (namun tidak berbuntut panjang).

Pengendalian diri, dalam kasus ini merupakan hal yang sangat penting. Hal itu jugalah yang seringkali membuat saya berpikir dulu sebelum mempost kan sesuatu, biasanya sih kalau lagi nggak emosi aja, kalau lagi emosi ya sudah, lepas juga hahaha… Saya pernah membaca ‘orang pintar tahu apa yang harus diucapkannya, tapi orang bijak tahu kapan harus mengucapkan dan kapan harus diam’ dan saya pribadi setuju akan hal tersebut.

Hal yang lain, saya yakin jika tidak ada orang yang memiliki kepentingan terhadap Flo, maka hal ini tidak akan terjadi. Oleh karena itu saya rasa penting juga untuk memeriksa dengan seksama lingkup pergaulan kita. Hal yang baik saja bisa dipelintir dan dijadikan fitnah, apalagi keburukan yang jelas-jelas gamblang dikemukakan. Saya melihat banyak status teman-teman yang isinya bisa menimbulkan polemik juga. Bagi saya pribadi, hal itu merupakan hak setiap orang untuk berpendapat. Tapi perlu diingat juga konsekuensinya. Jika ada yang ingin menjatuhkan kita, maka bisa saja niat baik kita menjadi senjata makan tuan.

Perlu diingat bahwa kebebasan berpendapat tersebut juga diatur dalam undang-undang dan secara khusus ada UU IT yang bisa menjadi payung hukum sekaligus jerat. Saya sendiri belum sempat mempelajari UU tersebut, dan saya sarankan akan lebih baik jika UU tersebut dipelajari dulu sebagai salah satu pedoman dalam berselancar di media social.

Selain kasus Florence Sihombing, pernah juga ada kasus Prita yang harus berhadapan dengan RS Omni akibat dia mengungkapkan kekesalannya juga. Semoga dengan adanya kasus ini bisa menjadi sedikit pelajaran dan teguran bagi kita dalam beretika di media sosial dan tidak akan muncul Prita atau Florence lain.