Sebuah pelajaran dari Florence Sihombing

Beberapa hari terakhir ini Florence Sihombing sibuk menghiasi media sosial maupun layar kaca akibat ulahnya yang mengungkapkan kekesalan sehingga menyinggung warga Yogya dan berbuntut panjang. Mengenai tindakannya, biarlah masyarakat sendiri yang menilai. Hal yang menarik bagi saya adalah sebuah tindakan kecil yang barangkali dilakukan tanpa disadari akibatnya dapat berbuntut hal yang tidak diinginkan. Memang waktu itu Flo kesal, dan saya rasa hal itu dapat dimaklumi, secara saya juga pernah merasakan antri di bawah teriknya panas matahari selama satu setengah jam lebih, dan saya juga mengungkapkan kekesalan saya (namun tidak berbuntut panjang).

Pengendalian diri, dalam kasus ini merupakan hal yang sangat penting. Hal itu jugalah yang seringkali membuat saya berpikir dulu sebelum mempost kan sesuatu, biasanya sih kalau lagi nggak emosi aja, kalau lagi emosi ya sudah, lepas juga hahaha… Saya pernah membaca ‘orang pintar tahu apa yang harus diucapkannya, tapi orang bijak tahu kapan harus mengucapkan dan kapan harus diam’ dan saya pribadi setuju akan hal tersebut.

Hal yang lain, saya yakin jika tidak ada orang yang memiliki kepentingan terhadap Flo, maka hal ini tidak akan terjadi. Oleh karena itu saya rasa penting juga untuk memeriksa dengan seksama lingkup pergaulan kita. Hal yang baik saja bisa dipelintir dan dijadikan fitnah, apalagi keburukan yang jelas-jelas gamblang dikemukakan. Saya melihat banyak status teman-teman yang isinya bisa menimbulkan polemik juga. Bagi saya pribadi, hal itu merupakan hak setiap orang untuk berpendapat. Tapi perlu diingat juga konsekuensinya. Jika ada yang ingin menjatuhkan kita, maka bisa saja niat baik kita menjadi senjata makan tuan.

Perlu diingat bahwa kebebasan berpendapat tersebut juga diatur dalam undang-undang dan secara khusus ada UU IT yang bisa menjadi payung hukum sekaligus jerat. Saya sendiri belum sempat mempelajari UU tersebut, dan saya sarankan akan lebih baik jika UU tersebut dipelajari dulu sebagai salah satu pedoman dalam berselancar di media social.

Selain kasus Florence Sihombing, pernah juga ada kasus Prita yang harus berhadapan dengan RS Omni akibat dia mengungkapkan kekesalannya juga. Semoga dengan adanya kasus ini bisa menjadi sedikit pelajaran dan teguran bagi kita dalam beretika di media sosial dan tidak akan muncul Prita atau Florence lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s