Pelajaran dari sebuah paper

Pagi tadi saya mengumpulkan tugas paper saya. Hal yang membuat saya merasa tidak tenang ketika teman saya mengatakan bahwa format paper saya. Seketika itu saya membuka catatan dan–saya benci-karena dia benar. Runtuh sudah kepercayaan diri saya. Tapi apa mau dikata. Apa yang telah terjadi biarlah terjadi. Saya toh tidak bisa mengubah keadaan. Dan saya juga tidak bisa memohon agar ada dispensasi. Semuanya sudah tertulis di catatan saya, saya yang kurang memperhatikannya.

Kejadian ini membuat saya berpikir bukankah demikian juga dengan hidup ini. Banyak orang tidak mau membaca manual book dan lebih mengandalkan pemahamannya sendiri, menganggap dirinya sudah paham dan tahu sehingga memilih tidak mengindahkan manual book yang Tuhan sudah Tuhan berikan. Lalu akibatnya, ketika banyak menghadapi kesulitan, kegagalan, rintangan dan kenyataan yang tak sperti bayangan, orang mulai meminta dispensasi, kemudahan atau pemutihan, bahkan ada juga yang sampai menyalahkan Tuhan. Sebenarnya semua yang terjadi dalam hidup ini bukankah semuanya itu akibat pilihan dan tindakan manusia itu sendiri. Lalu mengapa malah seringkali yang terjadi mereka menyalahkan orang lain atas akibat dari perbuatannya?

Kembali pada manual book tadi, Tuhan telah menerbitkan manual book, memberikan kitab-kitab suci sebagai pedoman manusia berkehidupan. Namun apakah manual book tersebut benar-benar dibaca dan dipergunakan sebagai mana mestinya? Jangan salah siapapun selain diri anda sendiri jika hidup anda tidak berjalan sebagai mana mestinya kalau anda tidak mempergunakan manual book tersebut…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s