energi – negara – orang baik…

Kemarin saya mengikuti seminar tentang energi. Dalam seminar itu, pembicara – orang luar negeri – menceritakan bahwa di negaranya – luar negeri – mereka membayar tarif listrik dan bahan bakar sangat mahal. Oleh karena itu mereka berusaha menciptakan sumber energi alternatif guna mencukupi kebutuhan energi mereka. Sangat berbeda dengan kondisi di Indonesia di mana semua-semua disubsidi oleh pemerintah. Memang sih dalam undang-undang diatur bahwa sumber energi dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk kemakmuran rakyat.

Berkaca dari cerita tentang warga negara tetangga yang harus merogoh kocek sangat mahal untuk membeli energi, saya rasa sudah sepantasnya kita merasa bersyukur bahwa di Indonesia energi berlimpah dan masih sangat murah jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Namun seringkali hal itu tidak disadari. Yang ada justru masyarakat memakai dan memboroskan listrik, bensin sesuka hati karena merasa telah membayar. Lalu ketika jumlah energi mulai sedikit sehingga tingginya permintaan sedangkan penawaran menyusut menyebabkan kelangkaan pasokan, masyarakat mulai mengeluhkan naiknya tarif dasar listrik, dan harga BBM. Coba saja anda pikir, harga segitu itu sudah disubsidi oleh negara, coba kalau nggak ada subsidi, gimana coba?

Terlepas dari adanya mafia-mafia dalam birokrasi, harus diakui bahwa negara telah berusaha sebaik mungkin untuk mensejahterakan rakyatnya. Saya percaya masih ada banyak orang-orang baik di negara ini, salah satunya anda =). Ironis dan dilematis sekali jika melihat situasi kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini di mana negara dihina, dicaci oleh rakyatnya. Di satu sisi memang semua bentuk ekspresi tersebut ada benarnya tapi di sisi lain, realitanya memang demikian. Hitam putih abu-abu tidak dapat lagi dipilah-pilah. Saya yakin bahwa semua pihak telah berusaha melakukan yang terbaik semampu mereka sesuai dengan hati nurani yang ada pada masing-masing orang. Barangkali kita sebagai salah satu elemen bangsa dan masyarakat juga harus berkaca dan berusaha melihat sisi positif yang ada, sekecil apapun itu.

Dan bagi diri sendiri, ambillah cermin dan pandangi sosok yang ada di hadapan anda. Sosok itu juga ikut bertanggung jawab terhadap apa yang telah terjadi saat ini. Tanyakan kepada sosok dalam cermin di depan anda, di mana dia dan apa yang telah dia lakukan untuk kebaikan bersama? Apa yang telah dia lakukan bagi anda dan kita semua? Di mana dia berada saat kita menghadapi momen-momen penting untuk mengambil keputusan? Dan apa yang dilakukannya saat harus berhadapan dengan situasi yang mengharuskannya memilih, apakah dia memilih untuk mencuci tangan dan walk out ataukah dia terus maju menghadapi segala tantangan, pedang dan tembok tebal di depannya? Ya, tanyakan semua itu kepada diri anda sendiri…

Jika mungkin saat ini anda sedang bertanya dan mungkin juga merasa mengapa bangsa ini menghadapi nasib seperti ini, di mana situasi tidak seperti yang kita semua inginkan, jangan hanya menyalahkan pihak-pihak tertentu. Tapi saya rasa semua dari kita turut andil di dalamnya. Berkaca dari kitab nabi-nabi besar saat Israel dan Yehuda dibuang Tuhan, kebatilan bangsa itu tidak hanya ditimpakan kepada raja saja tetapi semua rakyat pun juga melakukan dan hidup dalam kebatilan. Bagaimana dengan kondisi kita saat ini? Memang mudah melihat semut di seberang lautan tetapi sangat sulit melihat gajah di pelupuk mata.

Mari, sebagai sesama orang baik kita belajar untuk hidup dalam kebaikan, membagikan kebaikan bagi sesama, dan belajar melihat kebaikan dalam diri orang lain…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s