Second chance???

This morning, I heard the news about the death sentence for the drugs convicts in Indonesia. It was told that the convicts asked for re-observation about their conviction. The reason was they got a life change since they had their punishment. There was a convict that became more religious and help to healed the others, and the other one became a painter and taught the others. Unfortunately, it couldn’t cancel their death sentence. I won’t comment about their death sentence, but I think if they bring a good effect to the others, it will be a great lose.

I try to watch from another view. I see when they wee trying to construct their life again, there was no chance. And for us, beware my friends, second chance is not always provided. It is better to maximize our potential, what is already be with us, and what can we do right now in order to not regretting in the future days.

On the way 8

Deras hujan yang turun mengingatkanku pada dirimu…

Jalan yang kita seberangi berlimpah air tergenang bak sungai…

Mengerikan jika melihat kondisi jalan di tengah hujan deras. Air mengalir deras ke jalan karena rumah di kanan kirinya tidak lagi memiliki tanah. Semua ditutup beton. Bahkan jalan-jalan setapak pun kini semua sudah dilapisi beton. Bagaimana air bisa meresap ke tanah kalau tidak ada tanah untuk meresap?

Di tengah kota sangat penting memiliki ruang terbuka hijau (RTH) yaitu tanah yang ditanami pohon untuk air dapat meresap. Di rumah-rumah yang ada sekarang semua lahannya sudah tertutup baik oleh paving maupun beton.  Ketika air tidak bisa meresap ke tanah maka dia akan mencari jalan untuk terus mengalir. Alhasil jalan menjadi tergenang. Air yang seharusnya masuk ke tanah dan mengalir ke sungai kini malah membanjiri jalanan dan membuat jalan menjadi sungai.

Sungguh ironis di musim hujan ketika saya melewati sungai Bengawan Solo, kaline malah asat (sungainya kering) sementara di jalanan banyak sekali genangan-genangan air. Seumur hidup sungai Bengawan Solo selalu mbludak (meluap) kalau musim hujan. Lha tapi ini??? Ke mana larinya semua air yang seharusnya masuk ke sungai? Makanya wajar saja jika rumah-rumah di pinggir jalan kebanjiran, bukan hanya yang di bantaran sungai saja. Kalau membaca, mendengar atau melihat banyaknya daerah yang kebanjiran, bisa-bisa kota-kota di Indonesia nanti seperti di Venice, Itali. Kalau ke mana-mana naik perahu soalnya semua sudah kelelep (tenggelam). Tidak ada lagi istilah menyeberang jalan, yang ada berenang nyeberang sungai. Bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan hal itu bisa terjadi, kalau semua permukaan bumi diplester.

Di lain kisah, saya jadi ingat pernah numpang mandi, bukan karena ada sumur di ladang tapi karena sumur di rumah kering saat musim kemarau. Menyedihkan. Musim kemarau kering tapi musim hujan banjir.

IMG20150116144909

Senyuman TKW…

Mengapa TKW kita banyak yang diperkosa di luar negeri?

Prof. Heddy Ahimsa, dosen saya menjelaskan berdasarkan penelitian yang dilakukan salah seorang rekan beliau, ternyata ditemukan bahwa orang Indonesia terlalu ramah dan sering tersenyum. Berbeda dengan di Indonesia, di luar negeri mereka memiliki kebudayaan sendiri yang maknanya bisa jadi berbeda dengan masyarakat Indonesia. Menjadi masalah ketika tindakan kita diterjemahkan berbeda oleh mereka.

Demikian hal nya dengan senyuman. Senyuman menurut hasil penelitian itu diterjemahkan oleh orang luar negeri, khususnya daerah Arab sebagai ajakan untuk berhubungan. Maka wajar saja jika TKW kita yang sangat ramah itu berakhir menjadi korban perkosaan. Melalui tulisan ini saya berharap bisa membagikan sedikit.

IMG_20141225_153658

Jalandar, sebuah potret manusa (dalam serial Mahadewa)

Malam itu aku sedang berkutat di depan TV ketika serial Mahadewa mulai. Aku bukan penggila serial India sih, tetapi berhubung nggak ada tayangan bagus di channel Indo apa boleh buat.

Episode malam itu adalah ketika Jalandar, Raja Iblis yang merupakan esensi Mahadewa mati. Dikisahkan Jalandar adalah esensi Mahadewa yang dibesarkan oleh putri duyung. Ibu Jalandar mati dibunuh oleh dewa Indra. Singkat cerita, Jalandar merasa selama hidupnya dia mendapat perlakuan yang tidak adil, sehingga dia menggugat Mahadewa. Jika dia adalah esensi Mahadewa, mengapa Mahadewa tidak memperhatikannya, sehingga dia mengalami hidup yang berat?

Ketika menonton serial itu, jujur aku setuju dengan Jalandar. Pertanyaan yang sama sering juga kuajukan. Di mana Tuhan saat terjadi ketidakadilan? Mengapa Tuhan membiarkan hal buruk terjadi? Kalau Tuhan mencintaiku, mengapa Tuhan diam saja dan tidak menolong? Kuakui pertanyaan-pertanyaan itu sering kulontarkan dalam hatiku. Dan, mengikuti kisah perjalanan hidup Jalandar aku menjadi penasaran, jawaban macam apa yang diberikan penulis skenario film tersebut.

Dikisahkan bahwa Mahadewa hadir melalui orang-orang yang ada di sekitar Jalandar. Melalui ibunya, sang putrid duyung yang mencurahkan kasih sayang, melalui gurunya yang membimbing Jalandar hingga menjadi Raja Iblis dan melalui istrinya yang begitu mengasihinya. Namun, ketidakpuasan Jalandar lah yang menyeretnya menuju kehancuran.

Merefleksikan kisah itu, mungkin memang benar ketidakadilan, kajahatan dan hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi di dalam dunia ini. Di manakah Tuhan? Tuhan bukannya diam saja, tetapi Tuhan juga hadir melalui orang-ornag di sekitar kita. Orang-orang yang menyayangi dan mendukung kita. Keluarga, sahabat, teman-teman. Semua orang yang ada di sekitar kita. Kegagalan kita menemukan Tuhan ketika kita menolak semua bentuk kehadiran Tuhan tersebut. Kita menutup diri dan tidak mau berusaha melihat kasihNya. Ketika manusia memandang hanya ke dalam dirinya sendiri dan tidak menghiraukan orang-orang di sekitarnya maka dia gagal merasakan kehadiran orang lain. Demikian halnya dengan yang aku alami. Aku mempertanyakan ini dan itu karena aku terus berkutat dengan diriku sendiri. Aku menganggap masalahku sangat besar sehingga menutupi kehadiran Tuhan dalam hidupku. Terlalu memfokuskan diri pada suatu hal membuat hal yang lain menjadi tidak kelihatan. Manusia, sama halnya seperti Jalandar memiliki pilihan untuk menerima kenyataan dan menjalankan hidupnya dengan sebaik mungkin, atau sebaliknya menolak kenyataan dan berusaha menggugat Sang Pencipta. Jalandar memilih pilihan terakhir, sehingga selama hidupnya dia tidak mendapatkan kedamaian dan berakhir mengenaskan.

Sulit memang berusaha menerima hal yang tidak kita pahami dan tidak kita ingini. Tapi aku berusaha percaya dan menerima apa pun yang terjadi dalam hidup ini semuanya tidak terlepas dari rencana Tuhan. It’s called faith. Selamat meneruskan hidup…

Hukuman mati bagi pengedar narkoba…

kontras-hukuman-mati-harus-dihapuskan-dari-peradilan

Beberapa hari ini gencar diberitakan hukuman eksekusi mati untuk para terpidana kasus narkoba.  Well, saya juga sempat menonton Mata Najwa yang membahas tentang hukuman eksekusi mati. Cukup kontroversial memang hukuman tersebut. Ada yang mendukung tapi ada juga yang menentang. Mereka yang mendukung beralasan bahwa hukuman tersebut pantas diberikan karena para pelaku kejahatan telah menghilangkan nyawa orang lain juga sehingga tak ada hukuman yang lebih pantas daripada hukuman mati. Dengan melenyapkan orang-orang yang tersebut sama artinya dengan melindungi orang lain dari kejahatan mereka. Namun mereka yang menetang beranggapan bahwa para pelaku bukanlah pelaku tunggal, melainkan terbentuk dari adanya sistem sehingga kesalahan tidak bisa ditimpakan kepada mereka semata. Karena ada kesempatan dari sistem hukam yang lemah dan keterpaksaan dari segi ekonomi dan kesejahteraan hidup sehingga mereka melakukan tindakan tersebut. Seluruh aspek turut menyumbang peran dan harus diperbaiki.

Personally, saya setuju bahwa pelaku kejahatan tersebut harus dihukum seberat-beratnya, tetapi apakah harus dengan hukuman mati? Dilematis memang mengenai hukuman tersebut. Honestly, I think sampah masyarakat memang harus dilenyapkan. Meskipun demikian, saya tetap tidak bisa mendukung hukuman mati sebagai putusan yang adil. I have my own reasons. Pertama, jika dikatakan bahwa hukuman mati memberikan efek jera, I don’t think so. Buktinya jumlah kejahatan narkoba semakin meningkat bukan menurun. Demikian juga melenyapkan beberapa orang tidak lantas membuat kejahatan tersebut musnah dari muka bumi. Yang ada malah menimbulkan suksesi dan regenerasi. Hukuman mati tidak menyelesaikan masalah sampai tuntas, hanya menyelesaikan satu bagian episode saja.

Kedua, saya setuju bahwa kejahatan narkoba adalah kejahatan jaringan, kejahatan yang sistematis, terstruktur dan masif. Seseorang menjadi penjahat, pengedar atau pemakai tentunya tidak berdiri sendiri, melainkan ada backingan dari pihak-pihak lain. Selama ini hanya para pemain depan lah yang selalu menjadi tumbal, tetapi sutradara, penulis skenario dan produsernya sama sekali tidak tersentuh. Jika memang memberantas kejahatan tersebtu maka harus diberantas sampai ke akar-akarnya. Percuma memotong ranting, toh nanti juga akan tetap tumuh. Jika dikatakan bahwa sistem hukum Indo lemah, memang harus diakui hal tersebut ada benarnya juga, but I won’t comment about it. Demikian juga dengan tuntutan hidup yang mendorong orang menjadi bagian dari jaringan tersebut. Pemerintah memang turut memegang andil secara tidak langsung. Jika pemerintah mampu mensejahterakan rakyat maka tentunya tidak ada rakyat mau terjerat dalam kejahatan itu. Meskipun sebenarnya orang-orang tersebut juga bersalah karena mereka sebenarnya memiliki pilihan untuk menolak ambil bagian dalam kejahatan tersebut, tetapi tidak memilih dengan bijak.

Ketiga, dari segi moral, saya tidak setuju untuk melenyapkan nyawa orang lain, seberapa jahatnya orang tersebut. Jika Sang Pemberi Kehidupan tidak mengambil hidup yang diberikannya, masakan kita manusia berhak menentukan siapa yang layak hidup dan siapa yang tidak. Memutuskan nyawa seseorang sama halnya dengan menghilangkan kesempatannya. Memang saya tidak tahu mau jadi apa mereka ke depan. Akan tetapi jika ada orang yang benar-benar bertobat dan di kemudian hari orang tersebut menjadi seorang yang benar-benar baik, dunia ini akan kehilangan kesempatan untuk menjadi lebih baik karena orang tersebut telah dimusnahkan sebelumnya. Memang hal ini belum pasti, tapi saya rasa setiap orang memiliki kesempatan selama dia hidup, masalahnya adalah ketika dia kehilangan hidupnya maka orang tersebut juga kehilangan kesempatannya.

Memang sih, topik ini cukup kontroversial dan setiap orang memiliki pandangannya masing-masing. Menutup tulisan saya, saya ingin mengutip kata-kata kakak Fransisca Yopie di Mata Najwa. memang tidak berhubungan dengan kasus narkoba, tetapi masih terkait dengan hukuman mati. Sebagai orang yang kehilangan anggota keluarganya dengan cara yang sadis, perempuan itu seingat saya berkata kurang lebih nya begini: soal hukuman mati itu (untuk eksekutor adiknya) adalah keputusan pengadilan. Keluarga menginginkan keadilan. Otak kejahatan belum tersentuh hanya pelakunya saja. Orang itu (pelaku) memiliki pilihan untuk bicara atau bungkam, tapi dia memilih bungkam…

Belakang Hotel…

Belakang Hotel

ketika  kaum marginal

melawan kata adil

Kemarin saya mengikuti acara pemutaran film ‘Belakang Hotel’ sebuah kampanye terselubung untuk memperhatikan lingkungan hidup, khususnya air sebagai komponen abiotik. Film itu mendokumentasikan warga kampung yang sumurnya kering dan warga menuduh hotel yang ada di dekat kampung mereka sebagai pencuri air yang seharusnya ada di sumur mereka. Menurut warga sebelum ada pembangunan hotel-hotel dulu air sumur mereka tidak pernah kering. Penjelasan singkatnya terjadi perebutan air tanah antara sumur warga yang berteknologi sederhana dengan sumur bor hotel yang berteknologi mutakhir, dan sudah bisa diduga hasilnya bahwa warga kalah. Oleh karena itu wajar jika banyak warga yang menentang pembangunan hotel, apartemen maupun bangunan-bangunan komersil yang dianggap tidak ramah lingkungan. Yah sudah rahasia umum kalau IMB bangunan semacam itu banyak yang pake ilmu sulap, meskipun ada juga yang menempuh prosedur yang benar.

Jika ditinjau ulang, sebenarnya menuduh hotel sebagai satu-satunya penyebab masalah keringnya sumur warga rasanya kurang bijak. Dalam pembangunan infrastruktur banyak pihak yang bermain di sana. Ada owner, pengguna/ konsumen, perencana dan pelaksana, yang tentunya terdiri dari  orang-orang yang ahli di bidangnya, dan pengambil kebijakan, dalam hal ini mereka yang memiliki wewenang untuk menandatangi ijin pembangunan tersebut. Bisa dikatakan semua orang memiliki sumbangsih dalam permasalahan tersebut. Dari kacamata seorang mantan buruh proyek, ketika mendesain sebuah proyek entah apa pun itu, hotel, apartemen, mall seharusnya memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan. Orang yang mengaku sebagai arsitek harus bisa membuat bangunannya ramah lingkungan, kalau nggak ngapain pake arsitek, kalau cuma asal bikin semua orang juga bisa, suruh tukang aja juga bisa kok. Nilai plus seorang arsitek adalah ketika bisa menciptakan desain yang menguntungkan semua orang dan lingkungan, bukan cuma owner aja tapi mencekik leher orang lain secara tidak langsung. Personally, saya percaya ketika kita membuat sesuatu yang baik dan benar akan mendatangkan kebaikan bagi sesama, mereka akan mendoakan kita juga, demikian juga sebaliknya perbuatan yang egois akan mendatangkan kutukan dari orang lain.

Lalu sebagai orang awam, tentu juga memiliki andil. Kan sudah saya tulis semua orang memiliki andil. Tindakan siapa pun kita memiliki dampak. Orang sudah mati aja juga masih bisa berdampak buat lingkungan dan orang lain. Buktinya, meskipun orang nya sudah tidak ada tapi keluarga masih tetap harus mengurusi jasadnya, istilah kasarnya masih ngrepotin orang lain, dan jasad orang itu ketika dikuburkan akan terurai dan menjadi komponen-komponen organik yang selanjutnya diterima oleh tanah. Ok kembali ke topik, ketika kita memanen air, maksudnya menggambil dan menggunakan air untuk kepentingan kita, apakah kita sudah menanam air sebelumnya? Kalau ada yang dipanen seharusnya ada yang ditanam. Kalau semua orang tidak mau menanam dan hanya mau memanen wajar saja jika air kita habis. Memang ada siklus hidrologi yang mengatakan bahwa jumlah air di muka bumi akan kekal. Masalahnya apakah komponen yang berwujud air bersih itu juga selamanya kekal? Dulu orang bisa minum air dari kran, sekarang kalau mau minum beli aqua. Dulu orang bisa mandi di pinggir kali (sungai). Sekarang jadi seperti apa sungai kita?

Salah satu hal yang bisa dilakukan oleh semua orang adalah menanam air, yaitu dengan membuat sumur resapan di masing-masing rumah. Dengan membuat sumur resapan maka kita mengembalikan air yang kita pakai kembali ke bumi. Masalahnya apakah selama ini kita melakukan hal itu, menanam air atau hanya membuang air ke selokan? Hal lain yang bisa dilakukan adalah mencuci air. Apa itu mencuci air? Mencuci air dalam hal ini adalah mengembalikan air yang dibuang ke bumi dalam keadaan bersih. Hal ini terkait erat dengan pengolahan limbah, baik limbah domestik maupun limbah industri. Apakah kita membuang air bekas cucian yang masih mengandung deterjen langsung saja ke selokan atau ke tanah? Bukankah air bekas cucian itu berbahaya, kalau tidak percaya coba diminum itu airnya, masih hidup nggak. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mencuci air salah satunya adalah dengan menggunakan bak penampungan air untuk menyaring dan mengendapkan kotoran sehingga kualitas air yang keluar bisa lebih baik. Satu cara lagi yang saya yakin pasti bisa dilakukan oleh semua orang adalah mengehemat air, mematikan kran yang tidak terpakai, tidak mandi berlama-lama dan tidak membuang-buang air.

Ketika anda memperlakukan lingkungan dengan baik, maka lingkungan juga akan memperlakukan anda dengan baik. Selamat bersahabat dengan lingkungan.

On the way 7

I was in the train heading back to home when suddenly the train stopped for a while. I wait and wait. It felt so long. I hated waiting. I think it was wasting time.  While waiting, I wanted to complain to the train’s driver. I wanted to go to his room and asked him to run the train as soon as possible. I didn’t want to wait any longer. But suddenly I thought, the driver must know what happened outside and he has told that another train would pass or there must be something else that only known by him. If I asked him and forced him to run the train, maybe something terrible would be happened.

It was similar with our life. There was a time when I lost my patience and wanted to hurry up achieve something I wanted. But it did not happen as my wish. In my misunderstanding, I complained God. I was angry with Him. I knew He had His own reason. I knew He did it for my sake. Even though, I couldn’t understand it.  Maybe it was called faith, even I didn’t know but I keep believed.

IMG20150121191937