Hukuman mati bagi pengedar narkoba…

kontras-hukuman-mati-harus-dihapuskan-dari-peradilan

Beberapa hari ini gencar diberitakan hukuman eksekusi mati untuk para terpidana kasus narkoba.  Well, saya juga sempat menonton Mata Najwa yang membahas tentang hukuman eksekusi mati. Cukup kontroversial memang hukuman tersebut. Ada yang mendukung tapi ada juga yang menentang. Mereka yang mendukung beralasan bahwa hukuman tersebut pantas diberikan karena para pelaku kejahatan telah menghilangkan nyawa orang lain juga sehingga tak ada hukuman yang lebih pantas daripada hukuman mati. Dengan melenyapkan orang-orang yang tersebut sama artinya dengan melindungi orang lain dari kejahatan mereka. Namun mereka yang menetang beranggapan bahwa para pelaku bukanlah pelaku tunggal, melainkan terbentuk dari adanya sistem sehingga kesalahan tidak bisa ditimpakan kepada mereka semata. Karena ada kesempatan dari sistem hukam yang lemah dan keterpaksaan dari segi ekonomi dan kesejahteraan hidup sehingga mereka melakukan tindakan tersebut. Seluruh aspek turut menyumbang peran dan harus diperbaiki.

Personally, saya setuju bahwa pelaku kejahatan tersebut harus dihukum seberat-beratnya, tetapi apakah harus dengan hukuman mati? Dilematis memang mengenai hukuman tersebut. Honestly, I think sampah masyarakat memang harus dilenyapkan. Meskipun demikian, saya tetap tidak bisa mendukung hukuman mati sebagai putusan yang adil. I have my own reasons. Pertama, jika dikatakan bahwa hukuman mati memberikan efek jera, I don’t think so. Buktinya jumlah kejahatan narkoba semakin meningkat bukan menurun. Demikian juga melenyapkan beberapa orang tidak lantas membuat kejahatan tersebut musnah dari muka bumi. Yang ada malah menimbulkan suksesi dan regenerasi. Hukuman mati tidak menyelesaikan masalah sampai tuntas, hanya menyelesaikan satu bagian episode saja.

Kedua, saya setuju bahwa kejahatan narkoba adalah kejahatan jaringan, kejahatan yang sistematis, terstruktur dan masif. Seseorang menjadi penjahat, pengedar atau pemakai tentunya tidak berdiri sendiri, melainkan ada backingan dari pihak-pihak lain. Selama ini hanya para pemain depan lah yang selalu menjadi tumbal, tetapi sutradara, penulis skenario dan produsernya sama sekali tidak tersentuh. Jika memang memberantas kejahatan tersebtu maka harus diberantas sampai ke akar-akarnya. Percuma memotong ranting, toh nanti juga akan tetap tumuh. Jika dikatakan bahwa sistem hukum Indo lemah, memang harus diakui hal tersebut ada benarnya juga, but I won’t comment about it. Demikian juga dengan tuntutan hidup yang mendorong orang menjadi bagian dari jaringan tersebut. Pemerintah memang turut memegang andil secara tidak langsung. Jika pemerintah mampu mensejahterakan rakyat maka tentunya tidak ada rakyat mau terjerat dalam kejahatan itu. Meskipun sebenarnya orang-orang tersebut juga bersalah karena mereka sebenarnya memiliki pilihan untuk menolak ambil bagian dalam kejahatan tersebut, tetapi tidak memilih dengan bijak.

Ketiga, dari segi moral, saya tidak setuju untuk melenyapkan nyawa orang lain, seberapa jahatnya orang tersebut. Jika Sang Pemberi Kehidupan tidak mengambil hidup yang diberikannya, masakan kita manusia berhak menentukan siapa yang layak hidup dan siapa yang tidak. Memutuskan nyawa seseorang sama halnya dengan menghilangkan kesempatannya. Memang saya tidak tahu mau jadi apa mereka ke depan. Akan tetapi jika ada orang yang benar-benar bertobat dan di kemudian hari orang tersebut menjadi seorang yang benar-benar baik, dunia ini akan kehilangan kesempatan untuk menjadi lebih baik karena orang tersebut telah dimusnahkan sebelumnya. Memang hal ini belum pasti, tapi saya rasa setiap orang memiliki kesempatan selama dia hidup, masalahnya adalah ketika dia kehilangan hidupnya maka orang tersebut juga kehilangan kesempatannya.

Memang sih, topik ini cukup kontroversial dan setiap orang memiliki pandangannya masing-masing. Menutup tulisan saya, saya ingin mengutip kata-kata kakak Fransisca Yopie di Mata Najwa. memang tidak berhubungan dengan kasus narkoba, tetapi masih terkait dengan hukuman mati. Sebagai orang yang kehilangan anggota keluarganya dengan cara yang sadis, perempuan itu seingat saya berkata kurang lebih nya begini: soal hukuman mati itu (untuk eksekutor adiknya) adalah keputusan pengadilan. Keluarga menginginkan keadilan. Otak kejahatan belum tersentuh hanya pelakunya saja. Orang itu (pelaku) memiliki pilihan untuk bicara atau bungkam, tapi dia memilih bungkam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s