Jalandar, sebuah potret manusa (dalam serial Mahadewa)

Malam itu aku sedang berkutat di depan TV ketika serial Mahadewa mulai. Aku bukan penggila serial India sih, tetapi berhubung nggak ada tayangan bagus di channel Indo apa boleh buat.

Episode malam itu adalah ketika Jalandar, Raja Iblis yang merupakan esensi Mahadewa mati. Dikisahkan Jalandar adalah esensi Mahadewa yang dibesarkan oleh putri duyung. Ibu Jalandar mati dibunuh oleh dewa Indra. Singkat cerita, Jalandar merasa selama hidupnya dia mendapat perlakuan yang tidak adil, sehingga dia menggugat Mahadewa. Jika dia adalah esensi Mahadewa, mengapa Mahadewa tidak memperhatikannya, sehingga dia mengalami hidup yang berat?

Ketika menonton serial itu, jujur aku setuju dengan Jalandar. Pertanyaan yang sama sering juga kuajukan. Di mana Tuhan saat terjadi ketidakadilan? Mengapa Tuhan membiarkan hal buruk terjadi? Kalau Tuhan mencintaiku, mengapa Tuhan diam saja dan tidak menolong? Kuakui pertanyaan-pertanyaan itu sering kulontarkan dalam hatiku. Dan, mengikuti kisah perjalanan hidup Jalandar aku menjadi penasaran, jawaban macam apa yang diberikan penulis skenario film tersebut.

Dikisahkan bahwa Mahadewa hadir melalui orang-orang yang ada di sekitar Jalandar. Melalui ibunya, sang putrid duyung yang mencurahkan kasih sayang, melalui gurunya yang membimbing Jalandar hingga menjadi Raja Iblis dan melalui istrinya yang begitu mengasihinya. Namun, ketidakpuasan Jalandar lah yang menyeretnya menuju kehancuran.

Merefleksikan kisah itu, mungkin memang benar ketidakadilan, kajahatan dan hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi di dalam dunia ini. Di manakah Tuhan? Tuhan bukannya diam saja, tetapi Tuhan juga hadir melalui orang-ornag di sekitar kita. Orang-orang yang menyayangi dan mendukung kita. Keluarga, sahabat, teman-teman. Semua orang yang ada di sekitar kita. Kegagalan kita menemukan Tuhan ketika kita menolak semua bentuk kehadiran Tuhan tersebut. Kita menutup diri dan tidak mau berusaha melihat kasihNya. Ketika manusia memandang hanya ke dalam dirinya sendiri dan tidak menghiraukan orang-orang di sekitarnya maka dia gagal merasakan kehadiran orang lain. Demikian halnya dengan yang aku alami. Aku mempertanyakan ini dan itu karena aku terus berkutat dengan diriku sendiri. Aku menganggap masalahku sangat besar sehingga menutupi kehadiran Tuhan dalam hidupku. Terlalu memfokuskan diri pada suatu hal membuat hal yang lain menjadi tidak kelihatan. Manusia, sama halnya seperti Jalandar memiliki pilihan untuk menerima kenyataan dan menjalankan hidupnya dengan sebaik mungkin, atau sebaliknya menolak kenyataan dan berusaha menggugat Sang Pencipta. Jalandar memilih pilihan terakhir, sehingga selama hidupnya dia tidak mendapatkan kedamaian dan berakhir mengenaskan.

Sulit memang berusaha menerima hal yang tidak kita pahami dan tidak kita ingini. Tapi aku berusaha percaya dan menerima apa pun yang terjadi dalam hidup ini semuanya tidak terlepas dari rencana Tuhan. It’s called faith. Selamat meneruskan hidup…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s