One day – suatu hari

Siska meremas kertas yang ada di depannya lalu melemparkan kertas tak bersalah itu yang kini telah menjadi sebuah bola tak beraturan ke keranjang sampah di samping mejanya, menambah satu lagi bola kertas yang menghuni keranjang itu. Gadis berkamata itu menyembunyikan wajahnya di atas meja. “Kenapa sulit sekali…” ujarnya lirih.

“Sedang apa kamu Sis?” seorang gadis lain berambut pendek muncul dari balik pintu kamar kos Siska yang memang dibiarkan terbuka.

“Stress…” jawab Siska asal tanpa mengangkat kepalanya. Dia malah sengaja menarik ikat rambutnya sehingga rambutnya yang panjang terurai berantakan di atas meja.

“Oh, lagi nulis?” tebak gadis yang baru saja muncul itu setelah melirik keranjang sampah yang dipenuhi bola-bola kertas. “Siska Siska, aku heran deh jaman sekarang orang kalau nulis sudah pakai laptop, sedangkan kamu masih nulis di atas kertas pakai bolpoin lagi…” sindir gadis berambut pendek itu beranjak duduk di atas kasur Siska.

“Kamu diam aja San!” ujar Siska tegas. “Kalau nggak ada yang mau diomongin keluar sana!”

Sandra, gadis berambut pendek itu seperti tidak menghiraukan kata-kata Siska. Dia malah asyik berbaring di atas kasur Siska sambil membuka beberapa bola-bola kertas yang diambilnya dari keranjang sampah Siska. Mereka berdua, Siska dan Sandra adalah sepasang sahabat karib. Persahabatan mereka telah terjalin sejak mereka masih duduk di bangku SMP.

“Kenapa? Cerpen kamu ditolak lagi?” tanya Sandra setelah matanya menelusuri isi kertas-kertas korban kekejaman Siska. Sandra terlalu mengenal Siska hingga dia merasa perlu untuk tak mendengarkan kata-kata yang baru saja terlontar dari mulut pedas Siska.

“Ini sudah yang ke 20 kalinya cerpenku ditolak!” teriak Siska frustasi saat membalikkan badannya. Mata bulat di balik kacamata berbingkai merah itu menampilkan tatapan penuh kebencian kepada Sandra seakan-akan dialah satu-satunya orang yang harus bertanggung jawab atas kegagalan yang dideritanya. “Kamu tahu gimana rasanya? Gagal dan gagal lagi!”

“Ceileh baru 20 kali, belum 2000 kali juga. Santai saja. Tinggal nulis lagi kan…” jawab Sandra santai. Dia kembali meremas kertas yang barusaja dibacanya lalu melemparkannya ke keranjang sampah. Sekali lempar, bola kertas itu segera mendarat cantik di dalam keranjang bersama bola-bola kertas lainnya. “Lagipula kan kamu sendiri yang mutusin kuliah sastra, nggak mau ikut aku masuk ekonomi…”

“Kamu itu temen aku bukan sih? Temennya lagi susah, nggak ngasih semangat…” nada suara Siska sedikit melunak.

“Hahaha… besok aku mau ke SMA, kamu mau ikut nggak?” bukannya menjawab pertanyaan Siska, Sandra malah balik bertanya.

“Ngapain?” tanya Siska.

“Biasa, Tania bikin masalah lagi di sekolah. Aku dipanggil Pak Budi…” ujar Sandra sambil beralih posisi dari telentang menjadi tengkurap, masih di atas kasur Siska.

“Wali kelasnya Tania Pak Budi?” tanya Siska. Mata bulatnya berputar saat menyebutkan nama mantan guru mereka. Pak Budi bukanlah guru yang menyenangkan, meskipun murid-murid juga tidak membenci guru matematika yang satu itu.

“Kalau mau ikut jam sembilan kita berangkat. Kamu nggak ada kuliah kan besok. Kalau telat aku tinggal,” ujar Sandra tegas lalu bangkit berdiri dan berjalan dengan cantik keluar dari kamar Siska, tanpa maju mundur tentunya.

“O… ke…” jawab Siska meskipun dia yakin Sandra sama sekali tidak mendengarkan satu-satunya kata yang keluar dari mulutnya itu. Harus diakui, dibandingkan dengan Siska, Sandra memang lebih kejam dalam memperlakukan segala sesuatu yang ada di sekitarnya.

Jam sembilan lebih tiga puluh menit Siska dan Sandra telah berdiri di depan gedung bercat putih yang pernah menjadi saksi perjuangan mereka selama tiga tahun menuntut ilmu dalam balutan seragam putih abu-abu.

“Aku ke ruangannya Pak Budi dulu ya, kamu terserah mau ngapain. Nanti kalau sudah selesai aku calling kamu.” Tanpa menunggu jawaban dari Siska, Sandra melangkahkan kakinya menuju ke kantor guru diiringi bunyi medu sepatu high heels warna hitamnya yang beradu dengan lantai. Siska hanya bisa menatap punggung Sandra yang mulai menjauh. Apakah dia mengajakku ke sini hanya untuk ditelantarkan, batin Siska.

Berjalan tanpa tujuan, Siska mulai menelusuri koridor menuju ke kantin. Namun, langkah kakinya terhenti saat matanya menemukan anak-anak SMA yang memenuhi meja-meja taman di depan kantin, sepertinya sedang berdiskusi dalam kelompok.  Hal yang menarik perhatian gadis berambut panjang itu adalah seorang anak perempuan berkacamata yang duduk sendirian di meja paling ujung.

“Halo, sedang pelajaran apa?” tanya Siska sambil duduk di seberang anak itu. Tentunya setelah memastikan tak ada guru yang mengawasi kelas tidak jelas ini.

“Oh…” anak itu nampak terkejut melihat kehadiran Siska. Dengan jari telunjuknya dia menaikkan bingkai kacamatanya yang merosot. “Bahasa Indonesia, Bu Marni…” dengan sopan dia menjawab pertanyaan yang dilontarkan Siska.

“Bu Marninya mana?” tanya Siska. Matanya mulai menyapu setiap sudut taman yang memang difungsikan sebagai ruang diskusi outdoor itu, tetapi wanita bertubuh kurus yang pernah diingatnya itu tidak menampakkan batang hidungnya.

“Nggak masuk. Sakit katanya. Kami dikasih tugas…” ujar anak perempuan itu melenyapkan keingintahuan Siska.

“Kamu suka baca buku ini?” tanya Siska tiba-tiba saat melihat sebuah buku tebal di atas meja. Matanya menangkap tulisan Harry Potter and The Sorcerer Stone yang tertera di cover buku itu.

“Iya Kak…” jawab anak itu sekilas sambil melirik buku tebal itu. “Buku lama sih, tapi bagus kok isinya. Aku suka baca buku itu, makanya aku pakai buku itu untuk tugas bikin sinopsis buku…” jelas anak itu.

“Ooo…” Siska membulatkan mulutnya. Buku Harry Potter seri pertama itu kini berada di tangannya. Dia mulai membuka lembar demi lembar. Siska ingat saat pertama kali dia membaca buku itu, belasan tahun silam. Buku Harry Potter yang begitu fenomenal, bahkan sampai diangkat ke layar kaca itu sukses merebut perhatiannya. Sejak pertama kali membaca buku itu, Siskalangsung jatuh cinta kepada sosok Harry Potter, dan dia tak pernah melewatkan seri-seri berikutnya. Siska lebih suka membaca buku daripada menonton film, karena dengan membaca buku dia dapat menciptakan dunia Harry Potter sesuai imajinasinya. Bisa dikatakan Harry Potter adalah salah satu alasan di balik sepak terjang Siska di dunia tulis menulis.

“Suatu hari nanti, aku akan menjadi seorang penulis terkenal…” jawab anak itu antusias. Siska bisa melihat matanya yang berbinar meskipun berada dibalik kacamata. “Seperti JK Rowling. Lalu aku akan menulis buku yang bagus juga…” lanjutnya lagi menyebut nama penulis buku Harry Potter itu.

Mendengar kata-kata anak itu, ingatan Siska kembali melayang jauh ke tahun-tahun yang telah lampau, ketika dia masih menggunakan seragam putih abu-abu.

“Suatu hari nanti, aku akan jadi seorang penulis terkenal…” kata Siska remaja kepada teman-temannya saat mereka duduk di taman, “Aku akan nulis banyak buku dan ratusan cerita yang bisa menginspirasi orang lain.” Sandra yang kala itu nampak lebih muda dan teman-temannya yang lain hanya mengangguk-anggukan kepala mereka sambil mengunyah jajanan yang mereka beli dari kantin. Pada jam istirahat Siska dan teman-temannya biasanya berkumpul di kantin meskipun mereka berasal dari kelas yang berbeda.

Siska memandangi teman-temannya satu per satu yang nampaknya tak menganggap serius tekadnya. “Beneran!” tegasnya lagi.

“Kamu yakin?” tanya Tata. Suaranya yang renyah sama sekali tidak menunjukkan nada meremehkan. Siska memandang gadis remaja bertubuh kurus dengan wajah lonjong itu dan menganggukkan kepala.

“Kalau aku pilih kerja kantoran aja. Lebih keren. Pakai baju rapi, kerja di kantor ber AC…” tukas Silvia cepat. “Tiap bulan dapet gaji gede. Kalau jadi penulis, terus bukunya nggak laku, dapet duitnya dari mana?”

Siska hanya mengangkat bahu mendengar celoteh gadis berwajah pucat itu. Silvia memang selalu berbicara apa adanya, ceplas ceplos. “Makanya, aku harus bisa nulis buku yang bagus supaya orang-orang suka. Kalau aku nulis cerita yang bagus, pasti buku ku laku.” Tekad Siska semakin bulat.

“Semoga suatu hari nanti impianmu terwujud,” kata Sandra lengkap dengan nada sinisnya sambil mengibaskan rambut panjangnya.

Siska tertawa menanggapi sahabat karibnya itu. “So pasti. Nanti aku traktir kalian semua kalau buku ku laku keras…” ujarnya sambil memeluk teman-temannya.

Kejadian itu seperti baru saja terjadi kemarin. Dalam hati Siska menertawakan dirinya sendiri. Seorang remaja yang belum mengenal kerasnya kehidupan tetapi berani bermimpi.

“Kakak…” panggilan anak perempuan itu menarik Siska dari lamunannya. Rupanya tanpa sadar buku Harry Potter itu telah berada dalam pelukan Siska.

“Oh,” kata Siska. Segera dia meletakkan buku itu di atas meja. “Kamu yakin mau jadi penulis? Jadi penulis itu nggak gampang lho. Ada saatnya tulisanmu ditolak.”

“Ya tinggal nulis lagi…” jawab anak perempuan itu sambil tersenyum. “JK Rowling juga. Sebelum Harry Potter sukses, dia sering mengalami banyak penolakan. Bahkan dia sempat hidup menggelandang. Aku nggak bisa bayangin gimana rasanya jadi JK Rowling saat itu. Tapi dia nggak nyerah, dan terus berusaha. Andai kala itu dia nyerah, buku ini nggak akan ada,” ujar anak itu panjang lebar sambil menunjuk buku Harry Potter itu. Kembali dia menaikkan kacamata yang agak merosot dengan jari telunjuknya. Siska hanya mengangguk-anggukan kepala menyetujui ucapan anak itu.

“Aku masuk kelas dulu ya Kak, sudah bel.”

“Oh. Ok. Semoga impianmu tercapai,” ujar Siska tulus.

“Terima kasih,” kata anak perempuan itu lalu mulai membereskan peralatannya. Siska terus memandangi anak itu saat dia berlalu dan bergabung dengan teman-teman sekelasnya. Apa yang dikatakan anak itu memang benar. JK Rowling pernah mengalami masa-masa yang sulit sebelum berhasil menelurkan buku Harry Potter. Tapi dia tidak menyerah. Banyak orang-orang sukses lain yang juga mengalami nasib serupa. Hal yang sama adalah mereka tidak menyerah, tetapi terus berjuang dan semakin giat berusaha.

Bukan waktunya untuk menyerah, perjuanganku belum selesai dan aku tak boleh menyerah sebelum aku berhasil. Siska menyemangati dirinya sendiri. Menjadi penulis sudah menjadi cita-citanya sejak dulu. Dia ingin bisa menjadi penulis yang menghasilkan tulisan-tulisan dan berbagai cerita yang berbobot dan menginspirasi orang lain. Saat ini, dia memang belum menjadi siapa-apa. Tak masalah orang lain meragukannya, Siska hanya perlu melakukan satu hal, membuktikan bahwa dia mampu dan akan berhasil. Memang untuk meraih hal itu tidaklah mudah. Namun, justru banyaknya kesulitan yang dialaminya akan membuktikan bahwa dia memang pantas meraih kesuksesan. Suatu hari aku akan menjadi seorang penulis, ujar Siska sekali lagi dalam hati. Ketika orang lain mengingatku sebagai Siska yang tak pernah menyerah meskipun mengalami berbagai kesulitan, saat itu aku tidak hanya berhasil meraih kesuksesan tetapi juga sanggup menginspirasi orang lain.

“Di sini kau rupanya,” tegur Sandra yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Siska. “Aku cari ke mana-mana,” omelnya.

“Maaf, maaf… kamu udah selesai?” tanya Siska.

“Udah, yuk pulang…” Sandra segera berbalik tanpa menunggu Siska.

“Suatu hari nanti, aku akan menjadi seorang penulis terkenal…” kata Siska saat mereka berjalan bersama.

“Semoga suatu hari nanti impianmu terwujud,” kata Sandra masih dengan nada sinisnya.

“Thanks ya San…” Siska tersenyum penuh arti. Dan terima kasih juga adik yang aku tak tahu namanya, katanya dalam hati.

IMG_20150129_163204

One thought on “One day – suatu hari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s