Two hours – dua jam

Sandra membuka matanya. Sudah berapa lama dia tertidur? Kereta yang dinaikinya sama sekali tidak berjalan. Dia melirik jam tangannya. Jam sembilan lewat tiga puluh menit. Seharusnya dia sudah setengah perjalanan sekarang. Sandra menyilakan rambut pendeknya lalu melayangkan pandangannya ke luar jendela. Matanya mencoba menangkap sesuatu yang bisa dikenalinya. Nihil. Hanya kegelapan yang ada di luar sana.

“Keretanya trouble Mbak,” sahut seorang wanita muda yang duduk di sebelah Sandra.

Sandra memandang wanita itu sejenak. Sebelumnya dia tidak terlalu memperhatikan wanita muda yang duduk di sebelahnya itu. Sepertinya dia seorang wanita karir, nampak dari busana formal yang dikenakannya. Rambutnya yang panjang sebahu juga nampak rapi. Wajahnya nampak menyiratkan kelelahan, make up nya sedikit pudar, tetapi tidak memudarkan kecantikannya. Menilik usianya, sepertinya mereka hanya selisih beberapa tahun. “Kenapa ya Mbak?” tanya Sandra.

“Kurang tahu Mbak. Saya juga dengernya gitu dari beberapa penumpang lain. Sudah hampir setengah jam Mbak, mogoknya…”

“Oh…” hanya itu yang dapat terlontar dari mulut Sandra. Menit demi menit selanjutnya Sandra mulai sibuk dengan gadgetnya. Sementara wanita yang duduk di depannya asyik mengobrol dengan pasangan paruh baya yang duduk di depan mereka. Kereta Sriwedari yang dinaiki Sandra ini memang diatur sehingga tempat duduk penumpang saling berhadapan.

“Sial, habis baterai,” omel Sandra tiba-tiba saat layar gadget miliknya itu tak lagi menampilkan apa pun. Sandra menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Menunggu adalah hal yang paling dibencinya. Dia kembali melirik jam tangannya. Sembilan lewat empat puluh lima menit.

“Lama sekali ya Mbak,” katanya dengan nada tinggi. Kesabarannya mulai terkikis.

“Oh, mungkin sebentar lagi Mbak,” sahut wanita yang duduk di sebelah Sandra agak terkejut. “Ratna…” kata wanita itu memperkenalkan diri.

“Sandra…” jawab Sandra malas. Sandra memang terkenal atas ketidakramahannya. “Ini sudah sampai mana ya?” lanjutnya lagi dengan nada tak acuh.

“Sudah setengah perjalanan Mbak Sandra…” jawab wanita yang bernama Ratna itu ramah.

“Sandra aja, nggak usah pakai Mbak,” sahut Sandra jutek.

“Ok Sandra,” Ratna masih tetap bersikap ramah. Sepertinya wanita itu harus siap menghadapi pedasnya mulut Sandra selama beberapa waktu ke depan.

“Lama banget sih. Ini sopirnya ngapain aja sih? Tahu nggak sih orang bête nunggu. Gimana coba sama orang-orang yang dikejar waktu. Dari tadi nggak jalan-jalan. Mau nunggu sampai berapa lama lagi?” Sandra mulai mengungkapkan kekesalannya. Harap maklum, Sandra sedang mengalami hari yang buruk. Hari ini KHS (kartu hasil studi) semesterannya keluar dan nilainya memang seperti yang telah ditebak Sandra. IP nya berkilo-kilo meter jauhnya dari angka 4. Mendung yang menyelimuti hati Sandra berubah menjadi hujan badai saat dia bertengkar dengan Bimo, cowok yang menyandang status sebagai pacarnya selama dua tahun terakhir. Sebenanya sih hanya karena masalah sepele. Saat Sandra menceritakan nasib naas yang menimpanya itu, sebagai pacar yang baik Bimo berusaha menasehatinya untuk kuliah dengan sungguh-sungguh dan berusaha semaksimal mungkin. Namun mungkin karena Sandra sedang bad mood, akhirnya mereka bertengkar. Sandra merasa Bimo terlalu mencampuri kehidupan pribadinya.

“Ya mungkin lagi ada masalah teknis San. Kalau terus dijalanin bisa-bisa nanti keretanya kecelakaan. Pak masinis tahu yang terbaik kok. Percaya saja…” Ratna berusaha menenangkan Sandra sekaligus mengkoreksi istilah yang digunakan Sandra untuk menyebut pengemudi kereta api.

“Sebentar lagi juga jalan,” kali ini bapak tua yang duduk di depan Sandra ikut menanggapi. Mau tak mau Sandra memasang seulas senyum yang sangat jelas terlihat bahwa senyuman itu dipaksakan.

“Sampe mana tadi? O ya sampe Alif…” Bapak tua itu kembali melanjutkan obrolannya dengan Ratna. Sandra mengamati sejenak pasangan paruh baya yang duduk di hadapannya itu. Seorang bapak tua dan isterinya. Mungkin usia mereka sekitar 60 tahun. Kerutan di wajah mereka menandakan banyaknya usia yang telah dilalui bersama. Bapak itu menggunakan kacamata dan berpeci, sedangkan istrinya mengenakan pakaian tertutup dan berhijab. Karena tak ada hal lain yang bisa dikerjakannya, mau tak mau Sandra ikut mendengarkan. “Alif itu kerjanya di kontraktor bangunan. Jadi site manager, mungkin semacam mandor gitu mungkin ya. Bapak juga ndak ngerti kerjanya kaya apa. Alhamdulilah gajinya gede. Setiap bulan pasti ngirimi Bapak sama Ibu.”

“Iya kaya kemarin Bapaknya sakit, harus operasi kaki. Alif yang nanggung biaya operasi. Padahal Ibu tu sudah bilang, Lif kakak-kakak mu juga sudah urunan bayari operasi Bapak. Sudah, simpen aja uangnya buat kamu. Gaji kamu itu ditabung buat kamu besok. Ndak usah dikasih ke Bapak sama Ibu. Wong kamu juga harus mikir masa depan. Tapi ya anak saya itu si Alif, bilangnya ndak papa Bu. Wong Alif kerja juga buat Bapak sama Ibu. Alif ndak pengen Ibu dibilang miskin, orang ndak punya sama tetangga, sama saudara-saudara,” istri Bapak itu turut menimpali. Sandra mulai tergelitik untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang keluarga suami istri itu.

“Mungkin Alif ingat dulu waktu kecil kami susah. Saya aja buat sekolahnya anak-anak minjem uang dari saudara-saudara. Kakak-kakaknya Alif cuma lulus SMP. Mereka ndak mau sekolah SMA. Mau kerja aja, buat bantu Bapak sama Ibu. Si Alif, saya suruh sekolah SMA. Biarpun kami susah, tapi kami tetep pengen anak-anak itu sekolahnya tinggi, biar nasibnya bisa lebih baik dari orang tuanya,” timpal Ibu itu lagi.

“Tapi kan sekolah nggak menjamin orang itu akan sukses nanti…” kali ini Sandra membuka mulutnya.

“Iya nak. Kita memang ndak tahu jalannya orang gimana. Tapi pendidikan itu penting. Kalo orang pintar, dia bisa kerja di mana-mana. Kalau orang bodoh kaya kami, ndak bisa apa-apa. Ndak bisa usaha. Bisanya cuma buka warung,” Bapak itu menjelaskan tanpa bermaksud menentang pendapat Sandra.  Dalam hati Sandra mengakui ada kebenaran yang terkandung dalam kata-kata bapak itu. Tepat saat itu kereta mulai berjalan. Sandra melirik jam tangannya. Jam sepuluh lewat lima menit.

“Ibu bersyukur sama Allah. Meskipun kami orang ndak punya, tapi anak-anak kami mau ngerti sama orang tuanya. Mereka ndak minta macem-macem. Sekolah juga sungguh-sungguh. Alhamduliah sekarang anak-anak kami hidupnya lebih baik dari orang tuanya. Apalagi si Alif, sudah mapan kerjanya,” kata ibu yang duduk di depannya. Rona kebahagiaan memancar dari wajah yang penuh dengan kerutan itu. Sandra sempat berpikir, apakah orang tuanya juga akan mengatakan hal yang sama tentangnya? Apakah dia sudah mengerti keadaan orang tuanya? Rasanya tidak. Apa yang Sandra minta pasti diberikan oleh orang tuanya. Tapi sama sekali dia tidak pernah memikirkan bagaimana usaha orang tuanya bekerja. Sandra merasa tertampar oleh kisah keluarga pasangan paruh baya yang ada di hadapannya itu. Dia merasa bahwa hidupnya jauh lebih beruntung daripada pasangan itu tapi sangat jarang sekali dia bersyukur.

“Ibu cuma pengen si Alif nikah. Ibu sering bilang, mbok kamu cari istri yang baik le, yang bisa ngurus kamu, sayang sama kamu, nasehati kamu, ngingeti kamu sholat juga. Soalnya si Alif, anak saya itu sering lupa sholat, terutama sholat subuh…” lanjut ibu itu. Mendengar kata-kata ibu itu tiba-tiba Sandra teringat kepada Bimo. Bimo juga sangat perhatian. Dia sering mengirimkan BBM mengingatkan Sandra untuk makan, cowok itu memang hafal betul tabiat Sandra yang sering lupa waktu kalau sudah terlanjur asyik dengan dunianya. Ratna, yang duduk di sebelah Sandra juga sepertinya sengaja membuang muka, mengalihkan pandangannya ke arah penumpang yang duduk di seberangnya. Untuk beberapa menit mereka terdiam.

Pasangan paruh baya itu nampak sibuk berbicara satu sama lain untuk menghubungi anak mereka. Sepertinya mereka akan turun di stasiun selanjutnya. Si bapak nampak berbicara melalui HP dengan salah satu anaknya, meminta dijemput.

“Itu HP dari si Alif,” kata si ibu. “Biar Alif gampang kalau mau telpon Ibu sama Bapak, katanya waktu ngasih HP itu. Padahal sungguh, Ibu sama Bapak ndak perlu barang kaya gitu. Tapi si Alif maksa, sudah dibelikan buat Ibu sama Bapak, katanya.” Dengan nada gembira ibu itu menceritakan tentang HP yang digunakan suaminya.

Tak lama kemudian kereta tiba di Stasiun Klaten. Benar saja, ketika kereta berhenti bapak dan ibu itu minta diri. Kembali Sandra melirik jam tangannya. Jam sepuluh lewat dua puluh.

Sepeninggalan pasangan itu, kereta mendadak hening. Sandra sibuk berkutat dengan pikirannya, mencerna apa yang dibicarakan oleh pasangan tua itu. Apa yang telah diberikannya untuk orang tuanya? Alih-alih memberikan HP, nilai yang baik saja dia tidak mampu mempersembahkan. Bimo memang benar. Dia seharusnya berusaha lebih keras.

“Ngomong-ngomong Sandra ada urusan apa ke Solo?” tanya Ratna memecah keheningan, berusaha mencari topik pembicaraan.

“Mau pulang. Aku kuliahnya di Jogja. Rumah di Solo,” jawab Sandra singkat. Tak terdengar lagi kesan jutek dalam nada bicaranya.

“O… di sana ngekos?”

“Iya.”

“Ngomong-ngomong sebentar lagi sampe Solo nih rasanya. Kamu dijemput? Sudah kasih tahu?” selidik Ratna karena Sandra sama sekali tidak mengeluarkan HP nya dari dalam tasnya, padahal tadi dia sempat berkutat cukup lama dengan benda itu.

“Iya… belum… HP ku mati…” jawab Sandra singkat. Sudah hampir jam sebelas. Tadi Sandra sudah memberi tahu papanya kalau kereta yang ditumpanginya mogok dan baterai HP nya akan habis. Saat ini dia tak tahu apakah papanya masih menunggu kabar darinya. Semoga papa tidak cemas, batin Sandra.

“Mau pinjam HP ku? Sudah malam, nggak baik kalau perempuan pulang sendirian. Yang jemput pasti juga bingung kamu nggak ngabarin…” ujar Ratna sambil menyodorkan HP nya. “Hapal nomornya kan?”

Sandra mengangguk pelan saat menerima HP itu, “Terima kasih.” Kemudian dia memencet nomor rumahnya, berbicara dengan sang papa yang ternyata masih menunggu kepulangan anak sulungnya itu.

“Lama ya, Jogja Solo hampir dua jam,” kata Ratna saat Sandra mengembalikan HP nya. “Biasanya satu jam lebih sedikit.” Entah dia mengelurkan uneg-uneg yang tersimpan di dalam hatinya atau sengaja mengatakan hal itu mendahului Sandra sebelum dia mengomel lagi.

Sandra mengangguk mengiyakan ucapan Ratna. Kereta pun berhenti di Stasiun Purwosari. “Sandra turun mana?” tanya Ratna saat bersiap-siap hendak turun.

“Balapan,” jawab Sandra.

“Oh, kalau gitu aku turun dulu ya. Sampai jumpa…” Ratna tersenyum ramah lalu menghilang di bersama orang-orang yang juga turun. Iya, dua jam perjalanan dari Jogja ke Solo ini memang terasa lama, batin Sandra. Tetapi selama dua jam ini aku belajar cukup banyak. Aku belajar untuk bersyukur atas segala yang kumiliki, orang tua yang menyayangiku, kehidupan yang nyaman, juga pacar yang memperhatikanku. Aku juga belajar bahwa masih ada orang baik seperti Ratna yang ramah dan peduli terhadap orang lain.

Tiba-tiba pandangan mata Sandra tertuju pada selembar kertas yang tertinggal di kursi Ratna. Dia ingin berteriak memanggil nama mantan teman sebangkunya itu. Tetapi mulutnya seakan menjadi kaku saat dia membaca tulisan yang tertera di atas kertas itu…

IMG_20150319_170448

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s