Three seconds – tiga detik

“Kamu habis ngomong sama siapa sih Lol?” tanya seorang anak perempuan kepada temannya saat mereka berjalan beriringan menuju ke kelas. Kawat gigi yang terpasang rapi terlihat jelas di giginya saat dia membuka mulutnya.

“Oh, nggak tahu,” jawab temannya yang bernama Lola. Gadis berkacamata itu menaikkan kacamatanya yang agak turun dengan jari tengah tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya memegang buku ‘Harry Potter and The Sorcerer Stone’.

“Lho kok? Kamu ngobrol sama orang yang nggak kamu kenal gitu aja?” tanya anak perempuan dengan kawat gigi itu.

“Iya,” jawab Lola singkat. “Aku lupa tanya siapa namanya,” lanjutnya lagi.

“Ya ampun Lola…” anak perempuan berkawat gigi itu mengacak-acak rambutnya yang pendek.

“Sudah nggak usah dipikirin Rin,” jawab Lola. Kini mereka sudah tiba di depan pintu kelas mereka. “Nanti sore aku batal ke rumahmu. Ayah ulang tahun, dan Bunda berencana bikin makan malam special.”

“Ooo…” Rini membulatkan mulutnya. “Ya sudah lain kali saja…”

Lola meletakkan buku nya di antara barisan buku seri Harry Potter lainnya. Dia tersenyum simpul mengingat pertemuannya siang tadi di sekolah dengan seorang kakak yang dia bahkan tak tahu siapa namanya. Sepertinya kakak itu juga suka membaca, batin Lola dalam hati sambil jari tengahnya menaikkan bingkai kacamatanya yang merosot.

“Lola, kalau sudah ganti baju ayo cepat bantu Bunda!” teriak Bunda dari dapur. Suara Bunda terdengar sangat nyaring.

“Iya Bun, sebentar!” sahut Lola tak kalah nyaringnya. Gadis berambut panjang itu segera menanggalkan seragam putih abu-abunya. Tak lama kemudian Lola sudah muncul di dapur dengan kaos berwarna pink polos dan celana kolor sepaha yang juga berwarna pink lengkap dengan celemek yang masih juga berwarna pink. Hari itu adalah hari ulang tahun Ayah, dan Lola berencana memasak pai apel kesukaan Ayah.

“Bahan-bahannya sudah lengkap, ada di kulkas,” kata Bunda memberitahu. Bunda sendiri sedang sibuk menyiapkan nasi tumpeng beserta lauk pauknya. “Kamu bisa masak sendiri kan.”

“Iya Bun,” jawab Lola. Sebelumnya dia pernah memasak pai bersama Nenek. Tidak sulit sebenarnya, hanya saja harus berhati-hati saat membuat pinggiran pai nya supaya tidak rusak. Bagian itulah yang paling sulit, dan juga yang paling disukai Ayah.

Pertama-tama Lola harus membuat pinggiran pai itu terlebih dahulu. Dengan cekatan Lola mulai mengocok telur, kemudian mencampur tepung untuk membuat adonan. Setelah jadi, Lola memasukkan adonan pinggiran pai itu ke dalam lemari es. Adonan itu memang harus didinginkan dahulu selama kurang lebih 30 menit. Sembari menunggu adonan kulit pai, Lola mulai membuat bagian isinya. Dia memotong apel, mencampurkannya dengan margarine dan bahan-bahan lain kemudian mengaduknya hingga kental. Menit demi menit berlalu, hingga akhirnya Lola mengeluarkan adonan kulit pai dan memasukkannya ke oven. Lola mengusap peluh yang membasahi keningnya. Membuat pai cukup merepotkan juga, batin Lola.

Bunyi oven yang berdentang membuat Lola kembali ke dapur setelah beristirahat sejenak di ruang depan. Lola mengeluarkan pai apel yang masih setengah jadi itu dari oven. Pinggiran pai nya terlihat sempurna, bentuknya bagus dan tidak pecah. Kini Lola mulai melanjutkan mengisi bagian tengah pai sebelum memasukkan pai itu kembali ke oven. Lola melirik jam dinding yang tergantung di atas kulkas. Sudah jam empat lebih lima belas menit. Tak lama lagi Ayah akan segera pulang. Bunda sudah selesai memasak dan mulai menata makanan di meja makan.

Beberapa menit menunggu, akhirnya oven kembali berdentang. Pai apel Lola sudah matang. Dengan hati-hati Lola mengeluarkan pai yang masih panas itu. Bau nya yang harum menggelitik hidung Lola.

“Harus sekali baunya Lola! Tercium dari sini lho!” seru Bunda dari ruang makan.

“Iya Bun,” sahut Lola. Pai ini pasti lezat. Lola meletakkan pai nya itu di atas meja, kemudian dia berbalik mencari potongan-potongan apel untuk menghiasi bagian atas pai. Di sana rupanya. Lola melihat beberapa potongan apel di atas meja.

Dan tiba-tiba kejadian itu terjadi. Detik pertama, Lola menaikkan kacamata dengan jari tengah tangan kanannya, yang lagi-lagi entah untuk yang keberapa kalinya merosot turun. Kemudian dia berusaha meraih potongan apel yang ada di sebelah kanannya itu dengan tangan kanannya. Tiba-tiba saja tangan kiri Lola tanpa sadar menyenggol pai apel yang ada di atas meja. Detik selanjutnya terdengarlah suara gaduh di dapur diiringi teriakan histeris Lola. Semuanya itu terjadi begitu cepat, hanya dalam waktu tiga detik.

“Lola, ada apa?” tanya Bunda yang segera berlari menuju ke dapur begitu mendengar keributan itu. Bunda menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat melihat pai apel buatan Lola telah ada di atas lantai. Sebagian isinya berceceran di atas lantai. Sedangkan Lola hanya bisa berdiri terisak memandangi pai buatannya yang kini sudah hancur berantakan.

“Aku menghancurkan semuanya…” ujar Lola lirih sambil menangis. Tangisan Lola semakin keras, dan dia pun jatuh terduduk lemas. Kedua kakinya tak mampu menahan tubuh kecil Lola yang tiba-tiba terasa begitu berat.

“Sayang…” Bunda menghampiri Lola lalu memeluk gadis kecil itu. Tangis Lola tak kunjung berhenti.

“Aku menghancurkan semuanya… Bunda… aku menghancurkan pai untuk Ayah…” ujar Lola di sela-sela isakannya. “Aku nggak bisa bikin lagi… waktunya nggak cukup… bahannya juga sudah habis…”

Bunda mengamati sejenak pai yang telah jatuh itu. “Sayang, nggak apa-apa. Tanpa pai itu, Ayah tetap ulang tahun kok,” ujarnya sambil memandang Lola dengan penuh kasih. Bunda mengapus air mata yang membanjiri wajah Lola dengan kedua tangannya. “Tenanglah. Pai mu nggak hancur semua. Masih ada yang bisa kita berikan untuk Ayah.” Pelan-pelan Bunda membimbing Lola untuk bangkit berdiri, kemudian Bunda menghampiri pai yang masih dalam cetakan itu. Sebagian isinya masih berada dalam cetakan, tapi sudah berantakan. Kulit pai nya sudah rusak semua.

“Ini masih ada sedikit,” ujar Bunda. Bunda meletakkan sisa pai itu di atas meja, kemudian mengambil mangkuk dan sendok. Bunda menyendok sedikit pai yang masih tersisa itu lalu memasukkan ke dalam mulut. “Lola sayang, ini enak kok. Enak sekali,” hibur Bunda.

“Tapi kulit painya sudah rusak. Ayah paling suka kulit pai nya…” isak Lola.

“Sayang, nggak masalah pai mu itu nggak ada pinggirannya. Kamu tahu, meskipun tanpa pinggiran, Bunda yakin Ayah akan tetap menyukai pai mu itu.” Bunda meletakkan mangkuk itu di samping sisa pai Lola, lalu berdiri menghap Lola. “Karena pai itu adalah buatan Lola, yang dibuat Lola dengan penuh cinta kasih untuk Ayah,” ujar Bunda kembali menghapus air mata Lola yang masih tersisa di wajah gadis  kecil itu. “Sekarang, Lola bisa memilih untuk terus menangis, atau Lola ambil sisa pai yang masih ada lalu Lola taruh di atas mangkuk. Lola tetap ingin Ayah merasakan pai apel di hari ulang tahunnya kan?”

Perlahan Lola mulai bergerak mendekati meja, lalu memindahkan isi cetakan pai itu ke dalam mangkuk. Lola juga menaruh beberapa keping pinggiran kulit pai yang masih bisa diselamatkan. Sesekali Lola terisak, tapi kemudian disekanya air matanya dengan kedua tangannya. Sementara itu, Bunda mulai membersihkan ceceran pai yang mengotori lantai dapur.

Malam itu mereka merayakan ulang tahun Ayah dengan makan malam sederhana. “Lola, ini enak sekali,” ujar Ayah saat menyantap sisa pai apel buatan Lola.

“Maafin Lola, Yah. Lola merusak semuanya. Seharusnya Lola nggak ngejatuhin pai itu.” Wajah Lola masih diselimuti kesedihan.

“Lola, kamu tahu? Pai ini enak sekali. Dan Ayah bangga sama kamu. Kamu sudah berusaha membuatkan Ayah pai apel. Meskipun ada hal-hal yang terjadi dan itu tidak kita inginkan, tapi kamu tetap berusaha menyajikan pai ini untuk Ayah. Ini adalah pai yang paling enak, tentunya setelah buatan Nenek…” ujar Ayah jenaka. Seulas senyum tipis menghiasi bibir Lola.

“Itu semua juga karena Bunda. Terima kasih ya Bun. Bunda terus nyemangatin Lola,” ujar Lola menatap Bunda lalu berganti menatap Ayah. “Dan terima kasih Ayah. Lola tahu pai Lola nggak seenak buatan Nenek. Lola senang Ayah suka pai apel Lola, meskipun tanpa pinggiran yang renyah…”

“Lola, Sayang, bukan hanya pinggiran yang membuat pai ini lezat, tapi karena cinta kasih Lola untuk Ayah, dan ditambah lagi semangat Lola dalam membuatkan pai untuk Ayah. Pai ini terasa benar-benar lezat…” Ayah menguatkan Lola. “Terima kasih ya Sayang, puteri Ayah…”

Inspired from Audrey MasterChef Jr 2

Saat nasi telah menjadi bubur, kau bisa memilih untuk menyesalinya lalu membuangnya

Atau menambahkan ayam hingga bubur itu menjadi bubur ayam special

Jangan pernah menyerah dalam keadaan apa pun, selalu ada cara untuk memperbaikinya

Yang kau butuhkan hanyalah semangat untuk terus berjuang dan cinta untuk orang-orang yang kau kasihi

nasi telah menjadi bubur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s