Cerita di balik selembar foto…

Screenshot_2015-03-28-13-56-46

Mungkin kalian tertawa saat melihat gambar ini. Saya juga kok. Memang menggelikan sih, tetapi apa yang tertulis di situ memang benar adanya. Jawaban-jawaban itu adalah jawaban dari anak yang tidak mampu mengenyam pendidikan seperti kita. Coba kalian perhatikan tulisan yang agak kabur di sebelah kiri bawah. Di situ tertera tulisan ‘aping anit’. Seorang teman menceritakan bahwa bahwa itu adalah tempat di mana dia pernah memberikan les kepada anak-anak yang tidak mampu di daerah Jogja. Lokasinya terletak di Pingit, daerah perkampungan kumuh di Jogja. Rata-rata yang tinggal di situ adalah para pemulung, pengamen dan orang-orang yang nggak genah. Apalagi anak-anak yang belajar di situ, sungguh sangat mengenaskan.

Sebutkan hewan herbivora, jawaban mereka: gajah, kebo, kambing, bojone kebo, kebo wedok, anake kebo…

Kata teman saya. Memang sekilas terdengar lucu. Akan tetapi menjadi tidak lucu lagi jika kita pernah berpikir akan seperti apa anak-anak itu di masa depan? Akan seperti apa generasi muda bangsa ini, jika wajah pendidikan mereka saat ini seperti itu? Saya tidak tahu apakah mereka memang tidak serius belajar, atau memang seperti itulah kemampuan mereka. Jika tebakan saya yang pertama benar maka sungguh menyedihkan karena anak-anak itu tidak menganggap pendidikan adalah hal yang penting. Namun jika tebakan saya yang kedua benar maka lebih menyedihkan lagi. Saya tidak sanggup membayangkan akan menjadi apa anak-anak itu di masa depan. Well, untuk masalah itu saya tidak berniat membahas lebih jauh.

Poin yang ingin saya bahas adalah saya merasa menyesal dan bersalah setelah membaca penjelasan dari teman saya itu. Seringkali banyak hal-hal yang menurut kita lucu dan menggelikan. Tapi kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi, atau muatan yang terkandung di dalam peristiwa itu. Sama halnya seperti saat kita menonton reality show yang mengerjain orang. Lucu memang melihat reaksi korban yang dikerjain, tapi pernahkan anda membayangkan bagaimana rasanya ketika berada di posisi si korban dan dikerjain habis-habisan. Saya yakin pasti saat itu rasanya sungguh amat sangat tidak menyenangkan sekali.

Dari selembar foto itu, saya belajar untuk berempati pada orang lain. Memang sih itu nggak mudah, tetapi semuanya bisa dipelajari. Saya termasuk tipe orang yang suka guyonan, dan well, saya sadar kok sebenarnya masih banyak hal-hal lain yang lebih penting daripada menertawakan fenomena di sekitar kita, terutama yang menyangkut orang lain. My point is beware with your humor. Tanpa kita sadari bukan tidak mungkin kita sedang tertawa di atas penderitaan orang lain. Dan itu nggak lucu sama sekali kan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s