Cerita dari warung makan

Aku melangkahkan kakiku menuju ke warung di pinggir jalan. Ini pertama kalinya aku memasuki warung itu. Tak ada salahnya mencoba tempat makan yang baru. Dalam kepalaku hanya ada satu niat yang terbersit, melampiaskan rasa lapar yang memenuhi perutku. Namun alangkah terkejutnya aku begitu mendapati seorang anak, kira-kira masih SMP sedang berdiri di dekat kompor dan memasak. Untuk beberapa detik lamanya aku terpaku. Kebimbangan menyelimutiku, tak percaya aku dengan apa yang kulihat. Seorang anak kecil membuka warung makan? Dia sendiri yang memasak? Sungguh tidak mungkin, batinku.

“Mau pesan apa?” tanya anak itu tatkala menyadari kehadiranku. Ragu-ragu aku menyebutkan salah satu makanan yang ada dalam daftar menu.

“Tunggu sebentar ya,” katanya lalu kembali lagi menyibukkan diri dengan masakan yang sempat ditinggalkannya demi menyambutku.

Aku pun duduk sambil mengamati ulah anak itu. Dengan cekatan dia memasak sambil menyiapkan minuman, kemudian menghidangkan masakan itu di atas piring dan mengantarkannya kepada pembeli. Segera sesudah itu ia kembali ke depan kompor. Tanpa membuang waktu dia mengiris sayur, menyiapkan sayur, daging dan bahan-bahan makanan lainnya dalam sebuah mangkuk. Benar-benar cekatan. Aku masih tak percaya dengan apa yang kulihat. Benarkah anak ini yang menyiapkan semuanya? Tak mungkin! Seorang anak tidak mungkin membuka warung sendiri. Namun melihat keahliannya, sepertinya dia sudah sangat terlatih.

Menyaksikan aksi koki kecil itu, kepalaku dipenuhi pertanyaan yang muncul bertubi-tubi. Apakah dia masih sekolah? Atau dia sudah tidak sekolah? Kapan dia mengerjakan PR kalau setiap malam bekerja di warung? Bukankah warung itu buka mulai jam lima sore hingga larut malam? Lalu bagaimana dia belajar? Aku sempat membandingkan dengan pengalamanku dulu. Sepulang sekolah aku juga nongkrong di toko, tapi itu cuma sampai sore. Malamnya aku masih bisa mengerjakan PR, menonton TV dan bersantai. Tapi bagaimana dengan anak ini?

Aku tak tahu apa isi pikiran anak itu, tapi aku mencoba melakukan rekonstruksi. Jika aku berada dalam posisinya, aku yakin dia pasti ingin segera menjadi dewasa sehingga dia bisa bekerja dan membantu orang tuanya. Sedangkan aku, lelah rasanya menjadi orang dewasa. Rasanya lebih menyenangkan menjadi anak kecil. Sebenarnya jika dipikir, saat ini banyak hal yang bisa kulakukan untuk menggoreskan secarik warna di dunia ini, jauh lebih banyak daripada dulu ketika aku masih kecil. Salah satunya duduk di depan laptop dan membiarkan jari-jariku menari-nari di atas keyboard =p. Kurasa aku harus berhenti menoleh ke belakang, dan terus menatap ke depan, melakukan hal-hal yang aku bisa alih-alih merewind kenangan yang telah berlalu.

Beberapa saat kemudian, datanglah seorang laki-laki dan segera mengambil alih tugas yang dikerjakan anak itu. Mungkin dia ayahnya atau saudaranya. Seketika itu terjawablah pertanyaanku. Anak itu tidak sendirian mengusahakan warungnya. Meskipun demikian, anak itu tetap saja menyibukkan diri dengan menyiapkan minuman dan bahan-bahan lainnya.

Kurang lebih lima belas menit lamanya aku menunggu makananku sambil menyaksikan saujana unik di hadapanku, hingga akhirnya aku meninggalkan warung itu dengan menenteng tas kresek di tangan. Dengan langkah ringan, dalam hati aku bersyukur atas semua yang telah berlalu, untuk hal-hal yang bisa kukerjakan di kemudian hari serta sebuah cerita pada hari ini.

IMG20150409181619

Advertisements

Me-layout nggak cuma asal ceplok…

Well, pelajaran yang kudapat selama libur semester kemarin adalah kuliah me-layout. Awalnya sih kupikir me-layout itu gampang, cuma taruh tulisan n gambar, ditata dikit n taraaa selesai J . Tapi ternyata nggak cuma berhenti sampai di situ. Pekerjaan layout pertama sukses ditolak mentah-mentah L. Di situ saya kadang merasa sedih.

Alhasil me-layout menjadi kuliah tambahan di libur semester. Beberapa poin yang aku dapetin dari kerja rodi me-layout buku yang nggak selesei-selesai juga sampai hari ini adalah :

  1. Desain halaman, misalnya pembagian jumlah kolom dan ukuran kolom serta bagian mana yang digunakan untuk kalimat dan mana yang untuk gambar harus diatur sedemikian rupa sehingga enak dilihat. Antara kalimat (tulisan) dan gambar juga sebaiknya diletakkan dalam kolom yang terpisah sehingga enak dilihat, nggak terkesan campur aduk nggak karu-karuan. Dalam hal ini keteraturan menjadi kunci keindahan.
  2. Gambar yang diletakkan di halaman itu pun harus diatur ukurannya, sesuai dengan modul kolom, dengan tujuan memaksimalkan space. Pemilihan gambar yang digunakan pun juga harus memiliki nilai estetika, nggak cuma foto sembarang ditaruh. Di sini gambar selain berfungsi untuk menerangkan data (tulisan) juga memiliki nilai estetika. Gambar juga dapat digunakan sebagai pembatas halaman atau mengisi ruang kosong yang tidak diisi oleh tulisan. Maka dari itu gambar yang ditampilkan idealnya juga memiliki konsep.
  3. Untuk tulisan sendiri juga harus diatur, sesuai modul yang telah ditetapkan. Tulisan diusahakan memenuhi modul kolom sehingga tidak ada space-space yang kosong dan terkesan bolong-bolong. Oleh karena itu jarak antar baris menjadi kunci dalam memadatkan tulisan. Namun perlu dicatat bahwa nilai estetik harus ada, mana modul kolom yang diisi tulisan dan mana yang dibiarkan kosong dengan tetap mengikuti desain layout. Teknik mengatur mana bagian yang dipenuhi tulisan dan mana bagian yang dibiarkan kosong menjadi salah satu kunci agar layout halaman enak dilihat. Nggak enak juga kan kalau buku isinya cuma tulisan full. Orang jadi males dulu lihatnya. O ya satu lagi penulisan judul bab harus unik dan menarik. Ya biar enak dilihat saja J.
  4. Penulisan keterangan gambar juga harus diperhatikan. Untuk keterangan gambar ada baiknya disediakan tempat tersendiri, terpisah dari badan tulisan. Tujuannya tentu saja menambah nilai estetika layout, dan memudahkan pembaca untuk menelisik gambar yang ditampilkan.

Well, intinya dalam me-layout sangat penting memperhatikan komposisi tulisan dan gambar. Salah satu cara untuk mempermudah pengaturan dan menampilkan keteraturan adalah dengan menggunakan bantuan modul kolom dan baris.

Berikut adalah contoh layout halaman yang belum didesain (kiri) dan telah mengalami revisi berkali-kali (kanan). Semoga bisa memberikan gambaran dan sedikit menambah wawasan…

#latepostpakebanget #promosibukuyangbelumterbit

Untitled-2

Happy Passover…

Today is The Passover. Well, my friend and me had a little debate whether it’s ‘Passover’ or ‘Easter’. But I prefer use the word ‘Passover’ rather than ‘Easter’. First, because it is the word that used in Bible, and second, the word ‘Passover’ refers to the moment when God pass over the Egypt to save his people, same with Jesus pass over death to save human being. Ok, those are my reasons using Passover. Another meaning that I get is past-over, which is our past has over. The Christ’s resurrection brings us new hope, new beginning. The past has no longer overcome us, and we should leave our past, our evil deeds and walk in the God’s way.

For me, personally, this Passover reminds me to keep faithful. Remembering the Christ’s work in this world has started with Mary and Joseph, his parents, and they were the faithful ones. Mary let herself conceived the baby Jesus when she was a virgin, and Joseph chose to accept baby Jesus in his family, as his son. Both of them had found many difficulties since they were chosen to be Jesus’s parents, while they did have choice to refuse baby Jesus.  Instead of refusing take care Jesus, Mary and Joseph chose to be God’s instruments for accept Jesus as their own son, of course they knew the consequents of walking in God’s plan.

And Jesus himself, he keep did the Father’s will. Of course He could refuse the cross. He is God and He had the power to do it, but he didn’t do it. Instead of thinking himself, He chose the cross, He chose to be crucified, He chose death so we could get life. As a human being, of course it’s not easy for Jesus to face His death. No one wanted to die, if we could choose of course we chose eternal life rather than death. Look at His prayer. Even as a human He feared and wanted to pass it, but He keep obeyed Father’s will.

Father, if you are willing, take this cup from me; yet not my will, but yours be done. – Luke 22:42

My reflection is will I life for Him? Will I accept the God’s plan for my life even it’s different with mine? It’s easy for struggling something we want, but it’s different when we talk about the thing that we never ask for suddenly come into our life.

This Passover, I ask myself, will me be ready for keep walking in His plan no matter what will happen next, or take a decision to walk in my own?  How about you?