Berbeda

Kali ini aku mencoba menuliskan ending kisah ini dengan sudut pandang yang berbeda. Tak ada yang lebih baik, hanya saja kadang memang semua itu harus terjadi =p

Dona duduk terdiam sambil memandangi jari-jarinya yang terus bergerak-gerak di atas lututnya. Sepanjang perjalanan ke rumah Doni dia sudah mempersiapkan kata-kata yang akan dilontarkannya kepada cowok itu. Tapi kini mulutnya terasa kelu. Lima belas menit sudah Dona duduk diam di bangku taman. Sepeda motor gede berwarna hitam dengan dua helm tergantung pada kedua sisi stangnya terparkir rapi beberapa meter dari bangku itu.

Doni yang duduk mematung di samping Dona sepertinya juga tidak menunjukkan tanda-tanda akan membuka mulutnya. Dipandanginya beberapa pasang muda-mudi lain yang tengah menghabiskan waktu di taman itu. Sepasang muda-mudi tersenyum saat lewat di depannya. Mau tak mau Doni membalas senyum mereka, lalu kembali sibuk terdiam dengan pikirannya.

“Don…” ucap Dona dan Doni bersamaan. Persis seperti sketsa FTV ketika sepasang muda-mudi ingin mengungkapkan perasaan mereka.

“Emm kamu aja dulu…” kata Dona mempersilakan. Dalam hati dia mulai ragu, jangan-jangan Doni ingin mengakhiri hubungan mereka, meskipun sebenarnya mereka juga tidak pernah mengatakan secara resmi berhubungan. Lantas jika Doni ingin menginginkan hal itu untuk apa dia memakai kemeja berwarna biru yang dulu dibelikannya, pikir Dona. Seingat Dona, Doni sama sekali belum pernah memakai kemeja itu setiap kali mereka jalan bersama. Mungkin hanya kebetulan saja dia mengenakannya.

“Nggak apa-apa, ladies first,” sahut Doni santai, meskipun dadanya berdebar juga menebak apa yang kira-kira akan dikatakan Dona. Dona menarik nafas panjang. Doni memang seperti itu, dia selalu berusaha mengalah dan memprioritaskan Dona. Biasanya Dona senang diperlakukan seperti itu. Tapi kali ini lain ceritanya. Dona tidak mau mengungkapkan perasaannya kalau ujung-ujungnya Doni menghendaki hal yang berbeda.

“Aku… mau minta maaf atas sikapku kemarin…” ujar Dona lirih.

“Aku juga…” balas Doni cepat. Kembali mereka terdiam beberapa saat lamanya. “Kurasa kita memang berbeda. Terlalu banyak hal pada akhirnya akan membuat kita berselisih…” dengan hati-hati Doni mengucapkan kata-kata itu. Semilir angin di sore hari yang cerah tidak dapat menghilangkan rasa sesak yang melingkupi dada lelaki itu.

“Aku… sudah memikirkannya. Memang kita adalah sahabat yang baik. Aku tidak tahu bagaimana semua ini bisa terjadi. Aku hanya terkejut saja, tiba-tiba saja kita sudah seperti ini…” ujar Dona sambil memandangi buku-buku jari tangannya.

“Hahaha…” Doni tertawa renyah. Tawa itulah yang sering membuat Dona merasa nyaman berada di dekatnya. “Kau tahu Don, kau cantik, cerdas, berani dan peduli pada orang lain. Kau itu wanita yang sangat menyenangkan. Sungguh, jika saja kau tidak bersikap keras kepala…” ujar Doni dengan nada nakal.

“Demikian juga kau. Kau tampan. Lihatlah dirimu. Sebenarnya kau itu cowok keren, jika saja kau lebih memperhatikan penampilanmu, tidak bersikap semaumu sendiri dan lebih peka terhadap orang lain…” balas Dona tak mau kalah.

“Kau sering mengomel panjang lebar dan memarahi orang lain seolah-olah dirimu yang paling benar…”

“Kau tidak pernah mau mendengar kritik orang lain dan menganggap dirimu itu sempurana…”

“Fiuhhh…” Doni menarik nafas panjang. “Thanks ya sudah memperhatikanku…” Doni menatap  mata Dona dengan penuh ketulusan.

“Kau juga, terima kasih selalu ada untukku…” balas Dona.

“Kau lihat itu?” tanya Doni sambil menunjuk sepasang ayah dan anak yang berada tak jauh di depan mereka. Si anak nampak membawa sebuah kandang dengan seekor burung dara di dalamnya. Tiba-tiba saja mereka berhenti, kemudian sang ayah membuka kandang burung itu dan mengeluarkan burung itu. Diserahkannya burung itu kepada anaknya. Dengan hati-hati anak itu memegang burung dara dengan sebelah tangannya sedangkan tangan yang satunya lagi mengelus kepala burung itu.

“Kelihatannya anak itu sangat menyayangi burungnya…” sahut Dona sambil terus memandangi ayah dan anak itu. Doni mengangguk singkat mengiyakan ucapan Dona.

Beberapa menit ayah dan anak itu berdiri di sana, hingga sang ayah mengelus kepala anaknya lembut. Si anak pun mulai mengangkat tangannya dan kemudian dia membuka genggaman tangannya itu, membiarkan burung dara yang ada dalam tangannya terbang bebas menuju langit sore yang cerah.

“Meskipun begitu, dia tetap harus melepaskannya. Bagaimana pun juga membiarkan burung itu tinggal di kandang bukanlah hal yang baik. Kalau kita menyayanginya kita harus membiarkan dia terbang bebas, menjadi layaknya seekor burung, bukan burung dalam sangkar.” Doni juga ikut memandangi kedua orang itu. Mereka mulai membereskan sangkar dan beranjak meninggalkan taman itu.

“Aku paham maksudmu…” sahut Dona. Rasa sesak yang melingkupi dadanya perlahan mulai memudar.

“Maafkan aku Don. Mungkin lebih baik kita berpisah. Aku akan aku tidak akan memaksamu menerimaku. Dan aku juga tidak ingin menjadi bukan diriku saat bersamamu,” ujar Doni sambil memandang burung dara yang mulai menghilang di kejauhan.

“Memangnya kita pernah jadian?” tanya Dona.”Lantas mengapa sekarang kau meminta kita berpisah? Di antara kita memang tidak pernah ada apa-apa.”

“Hahaha… benar juga ya,” Doni menggaruk kepalanya yang tak gatal.

“Aku mengerti. Mungkin memang lebih baik seperti itu. Membuatmu mengikuti seperti apa yang aku mau memang bukan hal yang baik. Pada akhirnya kita hanya akan saling menyakiti satu sama lain. Jadi…” kata Dona sambil beranjak berdiri dari bangku taman, “aku pulang dulu ya…”

“Aku antar,” sahut Doni tiba-tiba. Dia juga ikut berdiri.

“Nggak usah, aku telpon Romi saja, minta dijemput,” tolak Dona halus.

“Oh, baiklah. Tunggu sebentar ya,” Doni berlari kecil ke arah motornya, mengambil helm berwarna biru langit  yang tergantung di sana dan menyerahkan helm itu kepada Dona. “Aku ingin kau memilikinya…”

Dona menerima helm itu. Helm itu terasa berat sekali di tangannya. “Kau tahu kau sangat tampang memakai baju itu…” ujar Dona riang.

“Thanks ya. Bajunya bagus hahaha…” balas Doni datar.

“Ok, aku akan menunggu Romi di sana,” kata Dona menunjuk ke sisi lain taman itu.

“Baik, aku pulang dulu kalau begitu…” sahut Doni sembari berbalik menuju motornya.

Dalam diam kedua pemuda pemudi itu beranjak meninggalkan bangku taman, berjalan menuju ke jalan yang mereka pilih sendiri.

“Kau tahu Don, aku sayang kamu…” batin Dona.

“Ya, aku tahu. Aku juga sayang kamu, kamu tahu kan Don…” kata Doni dalam hati.

“Aku tahu. Mencintaimu tidak berarti harus memilikimu…” Dona berhenti sesaat.

“Benar, aku mencintaimu sehingga aku rela melepaskanmu, membiarkan kau terus menjadi dirimu…” Doni menghentikan langkahnya. Ada dorongan dari dalam dirinya untuk menoleh ke belakang. Tetapi hal itu tidak dilakukannya. “Aku harap kau bahagia Don…”

“Aku juga Don…” Dona kembali meneruskan langkahnya.

“Thanks ya Don sudah mencintaiku…” Doni tiba di motornya, dan mulai mengenakan helm nya.

“Terima kasih Don sudah membiarkanku menjadi diriku…” Dona berbelok di tikungan jalan.

“…”

“…”

Sore hari yang cerah itu menjadi saksi bisu atas kisah mereka berdua. Ketika dua hati yang berbeda kepingan tak dapat dipaksa untuk menjadi satu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s