Lelaki tua di counter HP…

Aku melirik jam tangan yang melingkar di pegelangan tangan kiriku, jam 11 lewat 15 menit. Andi terlambat lagi, padahal katanya dia berniat membicarakan proyek yang penting. Gelas minuman yang ada di depanku sudah hampir habis. Aku mulai mempertimbangkan untuk memesan segelas minuman lagi saat mataku menangkap pemandangan yang cukup menarik.

Seorang laki-laki tua mengendarai sepeda kuno berwarna hitam berhenti beberapa meter dari kafe tempat aku menunggu Andi. Sepeda hitam itulah yang menarik perhatianku. Pit kebo, istilah untuk menyebut sepeda model itu. Ayahku pernah memiliki sepeda seperti itu, tapi sekarang sudah tidak lagi. Ayah menjual sepeda itu dan menggantinya dengan sepeda motor lima tahun lalu, padahal bagiku sepeda itu keren. Dulu Ayah sering mengantarku ke sekolah dengan sepeda itu.

Ah, untuk apa aku mengenang masa kecilku di desa. Kembali aku mencari sosok lelaki tua itu. Rupanya lelaki itu mengunjungi sebuah counter HP. Dari tempatku berada, aku bisa melihat ekspresi wajah lelaki itu dengan sangat jelas. Wajahnya yang berkerut menampakkan ekspresi cemas ketika berbicara dengan penjaga counter HP itu.  Beberapa menit mereka bercakap-cakap, dan ekspresi cemas yang menyelimuti wajah lelaki tua itu kina telah hilang, berganti dengan wajah sedih.

Dengan senyum yang dipaksakan dia melambaikan tangan rentanya kepada penjaga counter itu lalu melangkah keluar, menghampiri sepeda kunonya. Aku masih bisa menyaksikan kesedihan di wajahnya saat dia mengayuhkan sepedanya lewat di depan kafe tempatku duduk. Dalam hati aku bertanya, ada apa gerangan dengan lelaki tua itu? Apakah dia memiliki masalah dengan HP nya, ataukah dia berniat membeli HP baru tapi tidak memiliki cukup uang?

Tiba-tiba HP ku berbunyi. Sebuah pesan singkat kuterima dari Andi. Sial, dia membatalkan pertemuan ini. Istrinya sakit, dia harus mengantarkannya ke rumah sakit, dan baru ingat kalau dia sudah membuat janji denganku. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, segera aku menghampiri kasir dan membayar minumanku, untung saja aku belum memesan segelas lagi.

Melangkah keluar dari kafe, rasa penasaran masih menghantuiku. Wajah sedih lelaki tua itu masih terngiang di ingatanku. Tak apa sedikit kepo, batinku. Beberapa menit kemudian aku sudah berdiri di counter HP yang didatangi lelaki tua tadi.

“Mas Jon, bapak tua yang barusan datang kemari, ada masalah apa ya dengan HP nya?” tanyaku sok akrab. Aku memang sering membeli pulsa di tempat ini, dan sudah cukup mengenal pemiliknya.

“Oh bapak yang tadi,” sahut Mas Joni, “kasihan Mas bapak itu…” katanya semakin membuatku penasaran.

“Lho memangnya kenapa?”

“Tadi bapak itu minta tolong saya ngecek HP nya, apa HP nya ada yang rusak. Apa bisa dibuat telpon? Terus Mas, saya lihat HP nya baik-baik saja. Ya saya bilang HP nya nggak ada masalah. Terus bapak itu malah jadi sedih gimana gitu…”

“Loh kok aneh, HP nya nggak rusak kok malah sedih?” selaku tak sabar.

“Sebentar to Mas, saya kan belum selesai cerita. Kata bapak itu kalau HP nya nggak rusak, kok anak-anaknya nggak pernah telpon dia. Kasihan kan?”

Mendengar penuturan Mas Joni, seketika aku teringat pada Ayah, bukan pada pit kebonya, tapi kepada ayahku. Sudah hampir seminggu ini aku tidak menelponnya, padahal tadi aku menghabiskan waktu hampir setengah jam menunggu Andi tanpa melakukan apa pun. Segera kuraih HP ku dan kucari nomor telepon Ayah…

IMG_20150505_193347

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s