The Dolls

One day, the prince was hanging out alone when he met an old man. The old man gave him three dolls. Displeased with the dolls, the prince said, “Am I a girl so you give me dolls.” The old man answered, “These are the presents to a king wanna be. If you see them, there is a hole on each doll’s ears.” The old man gave a string to the prince, “Put in this string on the one hole so it can come out from the other one. Do it to each of doll.”

Drove by curiosity, the prince took the first doll and put in the string on its ear until it came out from the other ear. “It is a certain kind of men. Everything you said to him, it will come out from the other ear. They will not get anything,” said the old man. The prince put in the string to the second doll. It came out from its mouth. “It is the second one. Everything you said to him, he will say it to the others.”

The prince took the third doll and did it again. But the string didn’t come out. “It is the third one. Everything you said, it will not come out,” said the old man. “Is it the best?” the prince asked. As an answer, the old man gave the last doll.

When the prince put in the string on its ear, it came out from the other ear. “Did it again,” asked the old man. The prince did it again, but the string came out from its mouth. When he did it for the third time, it didn’t come out. “This is the best,” said the old man. “To be trusted, a man should know when he have to shut his mouth and listening for nothing, when he should listening for keeping the information, and when he should open his mouth.”

Bored

I didn’t know what kind of dream that I had, suddenly I woke up from my nap and had it on my mind. Bored. Don’t see it as a negative word, but just a word that describing a kind of feeling.

I remember my boarding house’s friend. When I invited him to hang out for culinary, he asked me, why did we have to go to the far place if there were so many culinary around us. Bored, that was my answer. When I think bout it, I get a feeling that bored is a situation that we created by ourselves. Looks at my friend, he didn’t feel bored because he enjoyed it and he didn’t ever think to ask anything else.

Why people get bored?

I think because we want something more than we have already. If we just accept it and get satisfied, I think we’ll never get bored. Wanting something leads us to get bored.

What can make people bored?

I think routine daily activities will do it. Oh, and doing nothing gotta work too. It has the same pattern, see. You did your daily activities, they made you tired and you want something new, so you’ll get bored after a certain time. Actually, when you wanted to do something new, that’s the moment when you started getting bored. Similar with doing nothing. You wanted to do something so you got bored.

Is there anything that will not make us get bored?

I think that question maybe work on some people but their answer will not same with the other ones. Generally, we will not get bored with our family, our mom and dad, or our siblings. But there is no guarantee that it will work to all people. Normally it will, but life is complex, isn’t it. I have a relative who have a problem in her marriage, but instead of divorce, she choose to be with her family. In the other hand, there was a family that got divorce for a silly reason.

I think the key for not get bored is accepting everything you have and be grateful with it. I learn it from people around me.

I think that’s all. Such a non conceptual writing. Haha… well, I just got it after taking a nap. There is no idea where it came from…

Not about Tolikara

Menyedihkan, itulah yang terlintas di pikiran saya saat mendengar berita tentang kericuhan yang terjadi di Tolikara, Papua. Sampai saat ini telah berkembang banyak versi mengenai kejadian tersebut, mulai dari berita yang intens ditayangkan di TV maupun yang beredar di sosial media.

Anyway, I don’t want to comment. Skeptis dan tidak mudah percaya adalah salah satu sikap yang harus dipegang oleh scientist. Mengenai berita yang beredar, saya tidak tahu yang mana yang dapat dipercaya. Harus dibuktikan dulu kebenarannya, dan kebenaran itu tidak boleh diputarbalikkan. Well, seorang teman yang memang bergerak di bidang media pernah memberitahu salah satu peran media adalah menggiring opini publik. That’s why I choose not to believe.

Sudahlah, bukan poin itu yang mau kubahas. Hal yang memprihatinkan adalah kejadian tersebut terjadi saat hari raya Idul Fitri. Entah apa motif dan siapa pelaku intelektualnya, biar yang berwenang saja yang berkomentar. Hanya saja, apa ya, sungguh kasihan orang-orang yang menggunakan hal itu, agama sebagai alat untuk memuaskan kepentingan pribadinya. Banyak terjadi kekerasan atas nama agama yang sebenarnya dilatarbelakangi oleh motif yang tidak jelas dan ujung-ujungnya hanya menimbulkan pertikaian dan kebencian antar umat beragama. Jujur saja ya, memangnya kalau berbeda agama apakah berarti selalu tidak sejalan, dan apakah kalau seagama selalu seiya sekata. I don’t think so. Pengalaman dan pengamatan berkata lain. Konflik itu terjadi karena perbedaan kepentingan dan hal-hal lain hanya dipakai sebagai senjata dalam menarik dukungan atau pembenaran atas egoisme pribadi.

Sempat terlintas dalam pikiran, bagaimana jika yang namanya agama itu tidak diadakan, barangkali dunia akan jadi lebih baik. Tapi hal itu tidak menjadi jaminan. Sebenarnya bukan agama nya yang salah tapi manusianya yang harus diperbaiki. Kemarin secara tidak sengaja saya menonton scene film Assalamualaikum Beijing, nggak sengaja nonton sih, pas pencet tombol remote control muncul adegan itu di layar TV, ketika Revalina ngobrol dengan Morgan, membicarakan masalah agama. Bukan agamanya yang salah, tetapi manusianya. Kalau tidak ada agama, bisa jadi keadaannya akan jauh lebih buruk. Kurang lebih seperti itu isi dialog dan poin yang kutangkap. Personally, I’m totally agree. Cuma nggak tahu gimana membenahinya lagi, secara alat yang seharusnya dipakai untuk membenahi malah dimanfaatkan sebagai mainan untuk membuat tambah rusak.

Kembali lagi mengenai kejadian di Tolikara, aku nggak tahu yang mana yang bener, bagaimana kejadian sebenarnya dan siapa aktor intelektualnya. Saling menyalahkan dan membenci adalah jerat yang sengaja dipasang. Tidak perlu terjebak. Justru orang yang menebar itu patut dikasihani dan semoga diampuni karena telah bermain-main dengan hal yang sakral.

Maaf ya, alam…

Menjelang lebaran tahun ini, berita di TV selain dipenuhi oleh sajian mobil yang berderet di sepanjang jalan tol, juga disajikan ratusan orang yang terbengkalai di bandara. Erupsi Gunung Raung, itulah penyebab banyaknya calon pemudik yang sampai saat ini masih belum jelas nasibnya. Di tengah bencana erupsi tersebut, masih ada berita lain mengenai banjir di Aceh yang menenggelamkan pemukiman penduduk, lagi-lagi menghambat penduduk yang berniat mudik. O ya, jangan lupakan erupsi Gunung Sinabung yang sampai saat ini masih belum jelas bagaimana nasibnya.

Menyedihkan, itulah hal pertama yang terpikirkan begitu mendengar berbagai berita tersebut. Momen lebaran yang seharusnya dinikmati oleh keluarga harus dilalui dalam perasaan yang entah bagaimana menggambarkannya, saya sendiri juga tidak tahu. Satu hal yang saya pelajari dari kejadian tersebut adalah bagaimana alam membalas perlakuan manusia terhadapnya. Jika mau ditilik lebih lanjut, semua hal itu pasti ada sebab akibatnya. Memang tidak semua bencana alam terjadi akibat ulah manusia, tetapi manusia juga memiliki andil atas bencana yang menimpanya. Katakanlah, sudah tahu daerah gunung itu berbahaya, tetapi ya masih juga nekad bikin rumah di sana. Akhirnya mau tak mau harus menelan resiko kehilangan rumahnya.

Well, terlepas dari hal-hal yang tidak bisa kita kontrol, setidaknya masih ada yang masih dapat kita lakukan, yaitu meminta maaf kepada alam. Terdengar konyol bukan, tapi memang itulah yang seharusnya dilakukan. Manusia, disadari atau tidak mengeksploitasi alam demi memenuhi kepentingannya sendiri. Pernahkan terpikirkan, apa yang sudah kita berikan kepada alam yang telah menyediakan berbagai kebutuhan hidup kita. Salah satu contoh yang paling sederhana, apakah anda sudah membuang sampah pada tempatnya, atau asal lempar saja?

Melalui momen lebaran kali ini, ijinkanlah diri kita untuk bersilaturahmi tidak hanya dengan Tuhan maupun dengan keluarga, tetapi juga dengan seluruh ciptaan yang lain, termasuk alam. Alam juga diciptakan sama seperti manusia, dan memiliki hubungan timbal balik dengan manusia. Atas semua keegoisan manusia terhadap alam, saya rasa tidak ada salahnya meminta maaf. Perlu diingat bahwa bencana alam yang terjadi itu semua di luar kontrol manusia.

Selamat merayakan Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. Atas tulisan-tulisan saya yang menyinggung, mengkritik, saya mohon maaf. Tidak ada maksud buruk, hanya sekadar berefleksi dan menunjukkan bahwa masih banyak kekurangan dalam diri manusia.

Sebuah pelajaran dari Jakarta

Hari ini seorang teman bercerita tentang pengalamannya selama dua hari di Jakarta. Singkat cerita, teman saya itu sangat takut sekali pergi ke Jakarta, apalagi seorang diri di kota megapolitan itu. Namun, selama dua hari di sana, dia merasakan bagaimana penyertaan Tuhan melalui orang-orang tak dikenal yang membantunya selama di sana, lalu bagaimana ibu kota yang katanya lebih kejam daripada ibu tiri itu menyambutnya, Tuhan masih menjaga teman saya.

Mendengar ceritanya, saya jadi ingat dua tahun lalu, saat saya berniat menginjakkan kaki di Jakarta. Saat itu saya juga kalut dan takut, bagaimana saya seorang diri di sana nantinya. Jakarta, yang terkenal dengan tingkat kriminalitas yang tinggi, kehidupan sosial yang individual, dan ritme hidup yang keras. Namun, sekarang semuanya itu telah berhasil saya lalui. Banyak pengalaman dan pelajaran yang saya dapatkan selama berada di bawah langit ibu kota. Bahkan sekarang pun saat saya tidak lagi berada di sana, Jakarta masih tetap mengingatkan saya untuk mensyukuri hidup saya, terlebih lagi selama saya hidup di sana, menghadapi Jakarta yang keras.

Hari ini saya belajar, banyak hal-hal sederhana yang menurut kita sudah biasa kita jalani setiap hari, akan tetapi bagi orang lain bisa saja hal itu sangat luar biasa dan merupakan sesuatu yang sangat sulit untuk dilakukan. Mungkin karena kita menganggap hidup ini dipenuhi oleh rutinitas, hal-hal yang biasa kita lakukan sehari-hari sehingga kita tidak memandang hidup ini sebagai sesuatu yang luar biasa. Padahal, banyak hal sederhana yang sebetulnya sangat luar biasa dan patut disyukuri, contohnya ketika pagi hari kita masih diberi kesempatan untuk membuka mata, sementara ada orang lain yang tidak mendapatkan kesempatan tersebut; atau saat kita masih memiliki rumah untuk pulang setelah seharian bekerja, sementara saudara-saudara kita yang berada di Sinabung harus hidup di pengungsian, dan saya yakin masih ada jutaan atau milyaran hal-hal kecil yang jika dirinci satu per satu akan sangat panjang dan banyak sekali, bahkan mungkin jauh lebih banyak daripada list masalah yang setiap saat kita keluhkan.

Anyway, jika hari ini anda belum sempat bersyukur, sekarang juga pikirkan satu hal yang patut disyukuri. Saya masih percaya bersyukur akan membuat hidup terasa lebih indah.

Jangan mati di umur 25…

Screenshot_2015-06-09-22-29-21

Jangan MATI di umur 25…

Karena waktu terlalu MAHAL bila digunakan untuk mengerjakan sesuatu yang tidak kamu suka…

Jangan MATI di umur 25…

Karena hidup terlalu BERHARGA untuk dihabiskan di dalam kubikal…

Jangan MATI di umur 25…

Karena kamu baru melihat SETITIK saja wajah dari dunia ini…

Jangan MATI di umur 25…

Karena yakinlah… pintu rejeki ada dalam berbagai macam rupa…

Kamu hanya perlu melihat… sedikit lebih dalam…

Sumber: Daily Manly

A lesson from MasterChef

Well, menonton MasterChef kali ini (28 Juni) membuat saya belajar mengenai satu hal, yaitu natur manusia yang tidak mau disalahkan, merasa diri paling benar, paling perfect dan selalu berusaha mencari kesalahan orang lain (baca menyalahkan orang lain) untuk menutupi kesalahan yang dilakukannya sendiri.

Episode kali ini cukup menarik, di mana terjadi tukar menukar resep yang mengakibatkan RY harus keluar dari galeri. Statement RY saat dirinya harus berhenti mengikuti kompetisi sangat menarik menurut saya. Alih-alih mengakui bahwa dirinya tidak mampu memasak dengan baik, RY menyalahkan RZ yang telah menukar resepnya dengan SM, dan SM karena telah membuat resep yang salah atau tidak benar.

Analisa saya adalah RY keluar dari galeri karena ketidakmampuannya dalam memasak. Jika RY mampu dan ahli memasak maka seharusnya tidak masalah resep apa pun yang dipegangnya, dia mampu mengolah sebuah dish yang menarik dan lezat, toh dalam kompetisi tersebut rule nya diperbolehkan memodifikasi resep. Selanjutnya, jika RY sudah tahu resep itu salah mengapa dia harus mengikuti resep tersebut? Menurut saya, RY sebenarnya juga tidak paham mengenai resep tersebut dan bagaimana mengolah bahan yang telah disediakan. Saya teringat wejangan dosen saya, memang sih konteksnya berbeda, bukan dalam dunia memasak tapi dalam dunia konstruksi. Meskipun demikian saya masih dapat menarik benang merah dan persamaannya, yaitu bahwa setiap bahan memiliki karakteristik yang berbeda dan harus diperlakukan sesuai dengan karakter nya. Dengan kata lain, seperti dalam dunia konstruksi treatment untuk bahan kayu, beton dan baja berbeda dan penggunaannya pun sebagai material juga tidak dapat disamakan, maka demikian juga dengan bahan makanan. Teman saya yang ahli memasak pernah berkata bahwa memasak daging ayam berbeda dengan daging sapi, apalagi dengan ikan, meskipun resepnya sama. Katakanlah sama-sama daging lada hitam, yang menggunakan bahan daging sapi cara memasaknya tidak akan sama dengan daging ayam.

Kembali ke statement RY tersebut, sangat jelas terlihat bahwa RY mengkambinghitamkan orang lain untuk menutupi kelemahannya dan sebagai pembenaran atas nasib buruk yang menimpanya. Memang sih RZ dan SM memiliki andil dalam membuat RY tersingkir. Namun RY sendiri, alih-alih mengakui bahwa dia tidak sanggup dan tidak bagus dalam kompetisi kali ini, lebih memilih berlindung di balik alasan andil kedua orang tersebut.

Sebagai manusia, seringkali kita menemukan bahkan melakukan hal tersebut, berusaha membenarkan diri sendiri dengan menyalahkan orang lain. Sangat sedikit orang yang mau dengan fair mengakui bahwa hal buruk yang menimpanya memang terjadi atas ulahnya sendiri. Sungguh menarik bahwa secuil episode MasterChef tersebut mampu menegur saya dan membuat saya merefleksikan hal-hal yang terjadi pada hari-hari selanjutnya.

#MasterChefIndonesia #latepost