A lesson from MasterChef

Well, menonton MasterChef kali ini (28 Juni) membuat saya belajar mengenai satu hal, yaitu natur manusia yang tidak mau disalahkan, merasa diri paling benar, paling perfect dan selalu berusaha mencari kesalahan orang lain (baca menyalahkan orang lain) untuk menutupi kesalahan yang dilakukannya sendiri.

Episode kali ini cukup menarik, di mana terjadi tukar menukar resep yang mengakibatkan RY harus keluar dari galeri. Statement RY saat dirinya harus berhenti mengikuti kompetisi sangat menarik menurut saya. Alih-alih mengakui bahwa dirinya tidak mampu memasak dengan baik, RY menyalahkan RZ yang telah menukar resepnya dengan SM, dan SM karena telah membuat resep yang salah atau tidak benar.

Analisa saya adalah RY keluar dari galeri karena ketidakmampuannya dalam memasak. Jika RY mampu dan ahli memasak maka seharusnya tidak masalah resep apa pun yang dipegangnya, dia mampu mengolah sebuah dish yang menarik dan lezat, toh dalam kompetisi tersebut rule nya diperbolehkan memodifikasi resep. Selanjutnya, jika RY sudah tahu resep itu salah mengapa dia harus mengikuti resep tersebut? Menurut saya, RY sebenarnya juga tidak paham mengenai resep tersebut dan bagaimana mengolah bahan yang telah disediakan. Saya teringat wejangan dosen saya, memang sih konteksnya berbeda, bukan dalam dunia memasak tapi dalam dunia konstruksi. Meskipun demikian saya masih dapat menarik benang merah dan persamaannya, yaitu bahwa setiap bahan memiliki karakteristik yang berbeda dan harus diperlakukan sesuai dengan karakter nya. Dengan kata lain, seperti dalam dunia konstruksi treatment untuk bahan kayu, beton dan baja berbeda dan penggunaannya pun sebagai material juga tidak dapat disamakan, maka demikian juga dengan bahan makanan. Teman saya yang ahli memasak pernah berkata bahwa memasak daging ayam berbeda dengan daging sapi, apalagi dengan ikan, meskipun resepnya sama. Katakanlah sama-sama daging lada hitam, yang menggunakan bahan daging sapi cara memasaknya tidak akan sama dengan daging ayam.

Kembali ke statement RY tersebut, sangat jelas terlihat bahwa RY mengkambinghitamkan orang lain untuk menutupi kelemahannya dan sebagai pembenaran atas nasib buruk yang menimpanya. Memang sih RZ dan SM memiliki andil dalam membuat RY tersingkir. Namun RY sendiri, alih-alih mengakui bahwa dia tidak sanggup dan tidak bagus dalam kompetisi kali ini, lebih memilih berlindung di balik alasan andil kedua orang tersebut.

Sebagai manusia, seringkali kita menemukan bahkan melakukan hal tersebut, berusaha membenarkan diri sendiri dengan menyalahkan orang lain. Sangat sedikit orang yang mau dengan fair mengakui bahwa hal buruk yang menimpanya memang terjadi atas ulahnya sendiri. Sungguh menarik bahwa secuil episode MasterChef tersebut mampu menegur saya dan membuat saya merefleksikan hal-hal yang terjadi pada hari-hari selanjutnya.

#MasterChefIndonesia #latepost

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s