Not about Tolikara

Menyedihkan, itulah yang terlintas di pikiran saya saat mendengar berita tentang kericuhan yang terjadi di Tolikara, Papua. Sampai saat ini telah berkembang banyak versi mengenai kejadian tersebut, mulai dari berita yang intens ditayangkan di TV maupun yang beredar di sosial media.

Anyway, I don’t want to comment. Skeptis dan tidak mudah percaya adalah salah satu sikap yang harus dipegang oleh scientist. Mengenai berita yang beredar, saya tidak tahu yang mana yang dapat dipercaya. Harus dibuktikan dulu kebenarannya, dan kebenaran itu tidak boleh diputarbalikkan. Well, seorang teman yang memang bergerak di bidang media pernah memberitahu salah satu peran media adalah menggiring opini publik. That’s why I choose not to believe.

Sudahlah, bukan poin itu yang mau kubahas. Hal yang memprihatinkan adalah kejadian tersebut terjadi saat hari raya Idul Fitri. Entah apa motif dan siapa pelaku intelektualnya, biar yang berwenang saja yang berkomentar. Hanya saja, apa ya, sungguh kasihan orang-orang yang menggunakan hal itu, agama sebagai alat untuk memuaskan kepentingan pribadinya. Banyak terjadi kekerasan atas nama agama yang sebenarnya dilatarbelakangi oleh motif yang tidak jelas dan ujung-ujungnya hanya menimbulkan pertikaian dan kebencian antar umat beragama. Jujur saja ya, memangnya kalau berbeda agama apakah berarti selalu tidak sejalan, dan apakah kalau seagama selalu seiya sekata. I don’t think so. Pengalaman dan pengamatan berkata lain. Konflik itu terjadi karena perbedaan kepentingan dan hal-hal lain hanya dipakai sebagai senjata dalam menarik dukungan atau pembenaran atas egoisme pribadi.

Sempat terlintas dalam pikiran, bagaimana jika yang namanya agama itu tidak diadakan, barangkali dunia akan jadi lebih baik. Tapi hal itu tidak menjadi jaminan. Sebenarnya bukan agama nya yang salah tapi manusianya yang harus diperbaiki. Kemarin secara tidak sengaja saya menonton scene film Assalamualaikum Beijing, nggak sengaja nonton sih, pas pencet tombol remote control muncul adegan itu di layar TV, ketika Revalina ngobrol dengan Morgan, membicarakan masalah agama. Bukan agamanya yang salah, tetapi manusianya. Kalau tidak ada agama, bisa jadi keadaannya akan jauh lebih buruk. Kurang lebih seperti itu isi dialog dan poin yang kutangkap. Personally, I’m totally agree. Cuma nggak tahu gimana membenahinya lagi, secara alat yang seharusnya dipakai untuk membenahi malah dimanfaatkan sebagai mainan untuk membuat tambah rusak.

Kembali lagi mengenai kejadian di Tolikara, aku nggak tahu yang mana yang bener, bagaimana kejadian sebenarnya dan siapa aktor intelektualnya. Saling menyalahkan dan membenci adalah jerat yang sengaja dipasang. Tidak perlu terjebak. Justru orang yang menebar itu patut dikasihani dan semoga diampuni karena telah bermain-main dengan hal yang sakral.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s