Wanita itu

“Ibuku kemarin meninggal,” kata wanita itu sambil tetap tersenyum seperti biasanya saat aku mendapati keramaian di rumahnya. Aku hanya mampu berdiam diri, tak tahu harus mengatakan apa, sementara wanita itu terus berbicara tentang kepergian ibunya dengan santainya. Hingga dia meninggalkanku, ucapan belasungkawa pun tak mampu meluncur dari mulutku. Entah apa yang membuatku seakan-akan membatu, apakah karena kabar kematian ibunya, aku memang tidak terlalu mengenal ibunya, aku hanya mengenal wanita tua ramah itu sebagai pemilik kontrakan tempat tinggalku, atau karena sikap wanita itu yang menurutku tidak wajar. Seseorang yang dirundung duka tidak seharusnya bersikap seakan-akan semuanya baik-baik saja.
“Mbak Dina,” kata Ricky, tetangga kontrakanku menyebutkan nama wanita itu saat kami duduk di teras. Bahkan namanya pun aku tidak tahu, padahal kontrakanku berada di belakang rumahnya.
“Ibunya meninggal kemarin,” kataku menimpali ucapan Ricky. Ricky hanya mengangguk mengiyakan.
“Kau tahu Gas,” kata Ricky lagi, “Mbak Dina itu punya anak tujuh…” Mendengar ucapan Ricky aku merasa terkejut, memang aku pernah bertemu dengan anak-anaknya, tetapi selama ini aku hanya menghitung empat saja.
“Anak-anak yang lebih besar dimasukkan ke asrama,” lanjut Ricky seakan bisa membaca pikiranku. “Kasihan ya, keluarga mereka tidak sanggup mengurus anak-anak itu…” Aku mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan Ricky. Keluarga itu memang bukan keluarga yang berada. Rumah kontrakanku ini pun cukup sederhana dan terbilang murah untuk ukuran rumah setipenya. Karena harganya yang cukup miring itulah akhirnya aku memutuskan mengontrak di sini, meskipun tempatnya sangat sederhana.
“Kasihan lho Gas, ibu itu,” kini Ricky mengalihkan topik pembicaraan kepada ibu wanita itu. ‘Di usianya yang senja, ibu itu masih harus mengurus cucu-cucunya, apalagi kesehatannya tidak terlalu baik.” Kembali aku mengangguk-angguk. Memang aku tahu beberapa kali ibu wanita itu sempat masuk rumah sakit. “Kenapa ya ibu itu bisa jadi seperti itu, padahal dulu dia sehat sekali. Ibu itu orang yang baik mungkin karena itu dia cepat dipanggil Tuhan. Meskipun mereka bukan keluarga kaya, tetapi ibu itu suka berbagi dengan tetangga, bahkan dulu dia sempat membantuku melunasi hutangku.” Ricky menerawang ke langit memandang bintang yang berkelip, mengingat masa yang telah lalu.
“Mbak Dina itu istri ketiga. Setelah punya tujuh anak, suaminya meninggalkannya dan menikah lagi,” Ricky kembali melanjutkan ceritanya tentang wanita itu. Setidaknya ucapannya itu menjawab pertanyaanku di mana ayah anak-anak itu, selama ini aku belum pernah melihat ayah mereka, sekaligus menjelaskan mengapa anak-anak itu sering bermain ke kontrakanku atau kontrakan yang lain, mereka tidak mendapatkan figur seorang ayah dan mencari teman untuk menemani mereka bermain. Dalam hati aku merasa sedikit menyesal karena sempat mengusir anak-anak itu ketika mereka memasuki kontrakanku tanpa dipersilakan, meskipun dengan cara halus.
“Aku juga nggak tahu mengapa dia mau jadi istri ketiga…” Ricky terus saja mengoceh sementara aku sudah tidak lagi mendengarkan apa yang diucapkannya. Kepalaku dipenuhi oleh bayangan wanita itu, senyum tulus tanpa beban yang selalu menghiasi wajahnya setiap kali kami bertemu itu sangat menggangguku. Aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang wanita itu, tidak tahu tentang pahitnya hidup yang harus dijalaninya, tidak tahu apa makna dibalik senyum lepasnya. Entah bagaimana rasanya memiliki tujuh orang anak, ditinggalkan suami, bahkan harus berpisah dengan anak-anaknya, memasukkan mereka ke asrama karena tidak mampu membiayai hidup mereka. Hampir setiap hari kami bertemu, tetapi aku sama sekali tak tahu apa-apa tentang wanita itu. Aku hanya tahu wanita itu selalu tersenyum ramah kepada semua orang. Dalam hati aku kagum terhadap ketegaran wanita itu, kemampuannya untuk terus tersenyum. Mungkin senyuman wanita itu tidak mampu mengubah suratan hidupnya, tetapi senyumannya itu telah mengubah caraku memandang hidup. Wanita itu, tak peduli bagaimana pun keadannya, telah mengajariku untuk menyambut hidup dengan sebuah senyuman.

IMG20151026063050
art by my sister

Advertisements

The most important thing

When you are drowning, let’s say, in the sea, what do you need most?
Is it a rope so you can grab it? Is it a floating board? Is it a swimming skill? Or is it a Baywatch for helping you? Most of us I believe will choose one of those. At least I did it. Instead of them, the most thing we need when we are drowning is oxygen. Is there anyone choose oxygen? Maybe just a few of us will think about it. Because we get oxygen every time and everywhere free, it makes us forgot it as a basic need as well as the most important thing in our life.
If the same question I asked to you, what do you need most in your life, what will you answer?
Will you answer money? I thing everyone need money for life right. Will you answer food? Of course we need it. Or maybe you will answer oxygen too hahaha, of course we need it for breath. Well, the point here is about the focus of our life. The first question, when I asked it maybe most of us will think the way to get out from water, that’s our focus. Focusing ourselves to get out from water makes us forgot that it is not the most important one, oxygen is the first thing we need before we think how to get out.
Now, how about our life? What is our focus? Focusing our life, our attention to something that less important will lead us lose the most important one =)