The art of giving

When we talked about giving, maybe you thought nothing special with it. Everyone could do it. It was ordinary thing. Do you think so? First let us correct ourselves. How many times did we give something sincerely? Did we do it for nothing or because we wanted something for a payback? Moreover, did we give our best or just, well let’s say something that we actually didn’t need? Now, you have the answer. Keep it for yourself and it will be your mark.

Today I learned giving was something wonderful. It couldn’t be done easily. I mean, maybe you could give something to anyone, but when you wanted he/ she did the same thing to you, instead of doing giving you were doing business. Giving means you did give everything you had, even the best of yourself to others without considering who were them, so you wouldn’t not thought for a payback.

It sounds easy, isn’t it? But how can we do it? First, you have to keep in your mind that you have nothing. Everything be with you is not your possession. Indeed, it is something passed to you so you can pass it to others. Giving will be easy if we realize that we have nothing and will not bring anything when we are gone.

The second one, it is him who really understands that he has received something that can give it to others. You don’t really think people who keep in their mind that they are poor will give something, no matter how rich they are actually, do you? On the other hand, no matter how poor them, when they think that they have something to be shared, they will do it. Can you figure out? You have to received something first, then you think that you have something so you can share it.

Again, it sounds so simple, but it is not. Giving is not something that can be done anytime. I think it is a gift for you if you can give anything, anywhere, anytime sincerely.

Advertisements

Hiking

Hari ini seorang teman bercerita tentang pengalamannya mendaki gunung. Mendaki gunung dengan berjalan kaki bukanlah hal yang mudah. Selain jalan yang terjal dan jauh, dengan tebing yang curam ditambah lagi beban barang bawaan yang dibawa tentunya semakin menambah kesulitan. Apalagi jika yang melakukan pendakian itu adalah seorang pemula. Pasti dibutuhkan tekad, semangat dan barangkali penuh keterpaksaan untuk dapat sampai ke puncak. Setidaknya itulah poin yang kudapatkan dari temanku itu.
Dia menceritakan perjalanannya dengan sangat ekspresif, bagaimana dia terus berusaha untuk mendaki selangkah demi selangkah. Perjalanan itu terasa sangat jauh sekali, menurut dia. Di tengah jalan rasanya ingin sekali menyerah. Kaki ini tak sanggup lagi untuk terus berjalan. Ok, bagi yang belum pernah mendaki, bayangkan saja ya. Kalau aku dulu sering mengikuti outbond sih sehingga lebih dapet feel nya ketika temanku itu bercerita. Memang capek sekali berjalan naik turun tebing, dan harus diburu waktu karena jika gelap maka perjalanan akan semakin berbahaya. Tak ada waktu dan tempat untuk bersantai. Wajar saja jika temanku itu bercerita sembari mengeluh, tertawa dan menangis. Ingin mati saja rasanya, katanya waktu itu.
Namun, bagian yang menarik adalah ketika sampai di puncak. Ketika pagi hari merasakan hangatnya cahaya matahari pagi di puncak gunung sembari menikmati indahnya hamparan pemandangan yang tersaji di depan mata, semua rasa lelah, capek, perjuangan untuk mendaki bercucuran keringat, air mata, bahkan emosi ingin mati terbayar sudah.
Poin kedua adalah proses yang dijalani. Sepanjang perjalanan berkali-kali temanku itu mengeluh, ingin berhenti, ingin pulang, sampai tak terhitung jumlahnya. Apalagi perjalanan itu terasa begitu jauh dan berat. Tak tahu berapa lami lagi sampai di puncak dan apakah perjalan menuju puncak itu akan berhasil dilalui, atau justru seperti kata temanku itu, dia akan mati di tengah jalan hahaha. Namun akhirnya dia berhasil juga sampai di puncak. Ketika kami mendiskusikan bagian itu, bukankah perjuangan menempuh jalan kehidupan juga seperti itu. Marilah sejenak kita menengok ke belakang. Banyak kali saat-saat di mana rasanya kita ingin menyerah menghadapi segala permasalahan yang seakan-akan menghujani. Tapi, pada akhirnya kita berhasil melalui semua itu.
Kemarin dengan kelompok teman yang berbeda, kami juga sempat mendiskusikan masalah itu, bagaimana perjuangan untuk menjalani kuliah S1 terasa begitu berat, tapi toh kami berhasil lulus juga. Sekarang jika melihat ke belakang, rasanya tidak terlalu sulit menjalani kuliah itu, padahal dulu kami bercucuran keringat dan air mata juga. Aku masih ingat saat-saat pulang kuliah bersama teman-teman. Dalam perjalanan kami saling mencurahkan isi hati, rasanya tak sanggup kami menyelesaikan semester itu, saat itu semester 6 sih, semester yang katanya paling menentukan apakah mahasiswa tersebut akan berhasil, dalam artian memiliki sense of architect. Dalam obrolan ngelantur kami, aku masih ingat kami sempat bersepakat untuk mundur saja dari kuliah, yang hanya sebatas obrolan dan tidak pernah dilaksanakan. Toh sekarang kami berhasil melalui semua itu, bahkan mentertawakan momen-momen itu, padahal dulu kami benar-benar menangis melaluinya hahaha…
Anyway, saat ini tak peduli seberapa pun berat masalah yang dijalani, solusi itu pasti ada. Tak peduli seberapa jauh jalan yang harus ditempuh untuk mendaki, puncak gunung itu pasti ada. Masalahnya tidak semua orang memiliki ketekunan, tekad, semangat dan kepercayaan terhadap dirinya sendiri dan Sang Pencipta, sehingga mereka menutup mata terhadap ujung perjalanan itu dan memilih meyakinkan diri sendiri bahwa tidak ada apa-apa di sana. Lebih baik menyerah saja.
For me, I believe untuk mendapatkan sesuatu yang berharga ada harga yang harus dibayar. Masalah, kesulitan dan rintangan apa pun itu bertujuan untuk mempersiapkan diri menjadi peribadi yang lebih baik sehingga layak untuk mendapatkan hal berharga tersebut. Orang yang menyerah di tengah jalan menunjukkan bahwa kualitas yang dimilikinya hanya sejauh itu. So, keep fighting!!!