Story of monkey

Untitled-1 copy.jpg

 

Well, there it is true that our surroundings, the people around us do create our mind. And it is true too when we did something uncommon we’ll be seen as weird man. But do you ever think to yourself why do you do it? Or you just follow the flow, do the things no matter whether they are good or bad according to the custom.

Sorry to say it, but I think do something you don’t really understand why you have to do it is a stupidity. A smart one knows what does he do, why does he do it, and the purpose of doing it.

 

Only two things are infinite: the universe and human stupidity. And I am not sure about the former.

Albert Einstein

Advertisements

Wanita itu 2

IMG20160103143630.jpg

Untuk kesekian kalinya wanita itu datang ke kantor. Setiap kali dia datang, dia hanya duduk diam memasang wajah datar tanpa ekspresi, menunggu bosku datang. Namun, hari ini ada yang tampak berbeda. Wanita itu tidak lagi duduk diam tetapi mulai bertanya-tanya kepada Mas Alex, seniorku. Mungkin bos yang menyuruh wanita itu bertanya. Setahuku wanita itu bernama Mbak Nuri, salah satu mahasiswi pasca sarjana bimbingan bosku, yang kebetulan juga mengajar sebagai dosen. Ditilik dari usianya, wanita itu tidak lagi muda, mungkin sudah di atas 30 tahun. Analisaku terhenti ketika Mas Alex melibatkanku dalam pembicaraan mereka. Lebih tepatnya mengalihkan lawan bicara wanita itu sehingga kini akulah yang menjadi lawan bicaranya.

Beberapa menit kami berbincang, ternyata wanita itu cukup ramah. Wajah datarnya seketika berubah ketika dia mulai berbicara. Awalnya dia menceritakan bagaimana dia tertarik untuk meminta bosku menjadi dosen pembimbingnya. Tak ada yang menarik dari ceritanya, hingga akhirnya dia mulai menceritakan bagaimana perjalanannya mengerjakan tesis.

“Dulu saya nggak bisa apa-apa, Mas. Nggak ngerti apa-apa. Dulu saya hampir tiap hari datang ke kantor, nunggu berjam-jam buat belajar. Kalau ada yang lagi nganggur saya tanyain,” katanya dengan ceria. “Jadi kadang datang tiga jam cuma buat belajar sepuluh menit, nunggu dulu kalau ada yang bisa diganggu. Soalnya kan anak-anak yang di sini juga pada sibuk…” Mendengar ceritanya mau tak mau aku sedikit terpancing, benarkah dia sesabar dan sekuat itu? Pantas saja ketika dia datang ke kantor, hal yang dilakukannya hanyalah duduk berjam-jam menunggu kedatangan bosku.

“Saya sempat cuti dulu, waktu bapak saya meninggal,” lanjutnya lagi. “Terus saya kembali lagi ke kampus, tapi saya kena begal. Laptop, HP hilang semua. Stress saya, sempat masuk rumah sakit juga. Terus keluar dari rumah sakit, saya kembali lagi. Saya bilang ke bapak kalau saya mau lanjutin tesis, tapi saya nggak punya apa-apa. Bapak bilang pakai komputer kantor saja nggak apa-apa, kalau ada yang kosong,” lanjutnya lagi menceritakan perjuangannya. “Terus saya pakai komputer ini,” katanya sambil menunjuk komputer yang sedang kupakai. Aku mengangguk-angguk. Tak pernah kusangka wanita yang awalnya kuanggap sombong itu menyimpan cerita yang begitu menyentuh.

Tak berapa lama kemudian, bosku pun tiba. Segera wanita itu menghilang di balik pintu ruangan bos. Ketika wanita itu berdiskusi dengan bosku, aku memikirkan pembicaraan singkat kami. Kesanku tentang wanita itu berubah 180 derajat. Ternyata dia bukanlah wanita sombong yang berwajah datar, melainkan wanita tegar yang berani melawan kerasnya kehidupan. Aku tak sanggup membayangkan bagaimana rasanya ketika kehilangan orang tua, lalu kehilangan barang-barang berharga. Di tengah berbagai masalah yang datang silih berganti dia masih bisa menceritakan semuanya itu dengan penuh canda tawa, seakan semua itu tidak berarti apa-apa baginya.

“Gimana Mbak?” tanyaku ketika wanita itu keluar dari ruangan bos.

“Masih harus dianalisa lagi…” katanya santai, masih dengan wajah ceria. “Aduh, saya harus segera selesaikan ini tesis, biar cepat lulus, sudah lama molornya…” Aku hanya mengangguk-angguk sambil sesekali tersenyum melihat ulah wanita itu.

“Tapi memang benar sih Mas, kata siapa itu… oh Ridwan Kamil. Mewujudkan cita-cita itu butuh waktu yang lama dan uang yang banyak. Siapa sangka saya kuliah selama ini. Dulu mikirnya S2 cuma 2 tahun, tapi sampai sekarang belum lulus juga. Ya sudah Mas, saya pulang dulu…” katanya sambil berlalu. Wanita itu benar-benar membuatku kagum. Keceriannya, kepolosannya, kesabarannya, ketegarannya menghapi segala permasalahan, dan semangatnya untuk terus belajar dan tidak mudah menyerah benar-benar patut diapresiasi.

Memandang kepergian wanita itu, dalam hati aku berjanji bahwa aku harus bisa lebih baik dari wanita itu. Jika dia saja mampu melakukan hal itu, menghadapi masalah yang begitu berat dengan keceriaan, maka aku juga harus mampu melebihi wanita itu. Permasalahan hidup seberat apa pun harus dijalani dengan penuh perjuangan, semangat dan tawa. Hari ini aku belajar sesuatu dari wanita itu…

 

4 years – 4 tahun

Suara detuk sepatu high heels Ratna beradu dengan lantai terdengar saat wanita cantik itu melangkah memasuki kafe. Denggan anggun dia melepas kacamata hitamnya dan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kafe, mencari sosok yang dikenalnya. Seulas senyum tipis menghiasi wajah wanita berambut pendek itu saat matanya menangkap seorang wanita berambut ikal dengan make up tebal menghiasi wajahnya melambaikan tangan. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Ratna bergegas menghampiri meja di mana wanita itu sedang duduk bersama seorang laki-laki.

“Maaf ya, aku telat…” kata Ratna begitu dia meletakkan pantatnya di samping wanita bermake up tebal yang melambaikan tangannya tadi. “Sudah lama kalian di sini?”

“Aku juga barusan kok Na,” sahut wanita yang duduk di sebelah Ratna. “Roy yang nongol duluan.” Wanita itu mengarahkan pandangannya ke arah laki-laki berambut cepak yang duduk di seberang mereka.

“Ya ya ya… sudah biasa aku nunggu kalian…” jawab Roy dengan nada sebal.

“Apa kabar Roy? Wah kamu nggak berubah ya, tetep sama seperti dulu…” Ratna menyapa laki-laki itu. Belum sempat Roy membuka mulutnya, wanita bermake up tebal itu sudah terlebih dulu menyabotase Ratna, “Ya ampun Na, kamu nggak berubah ya, masih cantik seperti dulu…” ujar wanita bermake up tebal itu kepada Ratna, “Gimana kabarmu? Kapan kamu kembali ke Indo? Kamu sudah resign? Terus sekarang kamu kerja apa?” tanpa henti dia mencerca Ratna dengan berbagai pertanyaan, seakan tidak mengacuhkan Roy yang duduk di depan mereka.

“Sabar kenapa sih Des…” sahut Roy menyela rentetan kalimat yang keluar dari mulut Desi, wanita berambut ikal dengan make up wajah tebal itu. “Biar Ratna pesan dulu.”

Ratna tersenyum melihat tingkah kedua sahabatnya itu. “Kalian bener-bener nggak berubah ya, masih sama seperti dulu. Kamu masih tetap cerewet Des, dan kamu Roy, masih tetap sering berantem sama Desi …”

“Sudah kamu pesen minum dulu sana, sekalian lunch aja? Kami sudah pesen kok, tinggal kamu yang belum…” sahut Roy sambil melambaikan tangannya, memanggil pramusaji.

“Dan masih suka ngatur orang lain…” timpal Desi yang disambut gelak tawa Ratna. Senang sekali rasanya dia berkumpul dengan sahabat lamanya. Mereka bertiga sudah bersahabat sejak SMP. Namun ketika SMA Ratna melanjutkan sekolahnya di luar kota dan berpisah dengan kedua sahabatnya itu. Demikian juga dengan saat kuliah, Ratna mengambil kuliah di Singapura, sedangkan kedua sahabatnya itu memilih kuliah di Indonesia. Bisa dibilang ini adalah pertemuan pertama mereka secara langsung.

“Apa kabarnya kamu sekarang? Ayo dong cerita ke mana saja kamu selama ini. Pasti asyik ya kuliah di Singapur, tinggal di sana. Kamu di Indo sampai kapan? Mau balik Singapur lagi? Eh lalu suamimu gimana kabarnya? Kamu kok berani sih Na merit muda. Aku saja masih pikir-pikir kalau diajak pacaran serius, yah masih sibuk menikmati masa muda…” serbu Desi dengan suara cemprengnya begitu pramusaji meninggalkan meja mereka setelah mencatat pesanan Ratna.

“Pelan-pelan tanya nya, satu-satu napa?” tegur Roy memotong ucapan Desi.

“Hahaha…” Ratna tergelak menyaksikan ulah kedua sahabatnya itu. “Minggu depan aku balik ke Singapur. Ya gimana ya… dijalani saja sih Des. Nggak tahu juga. Semuanya terjadi begitu saja. Kalian sendiri gimana? Kamu bikin kue ya Des sekarang? Lalu Roy kerja apa?”

“Iya bikin kue, aku titip ke kenalan-kenalan. Lumayan sih. Banyak pesanan juga,” jawab Desi. “Kalau Roy tuh sekarang sibuk pacaran sama temen kantornya. Sudah naik pangkat makin sibuk dia kerja nyambi pacaran…”

“Wow Roy, kamu sudah punya pacar?” tanya Ratna kagum. Dia tahu betul untuk urusan memilih pacar, Roy sangat selektif. Waktu sekolah dulu cukup banyak gadis yang mendekatinya, tapi Roy sama sekali tidak melayani mereka. Mau fokus belajar, alasannya waktu itu.

“Cuma temen aja,” jawab Roy santai. “Si Desi yang lebai…”

“Temen tapi sering dianter jemput….” sindir Desi. Celoteh mereka terhenti saat pramusaji kafe menghidangkan pesanan mereka.

“Makan dulu,” ajak Roy tidak mengacuhkan Desi. Laki-laki itu mulai menyantap nasi goreng pesanannya. Ratna dan Desi pun mulai menyibukkan diri dengan makanan mereka masing-masing.

“Kamu gimana Na, nggak bareng sama suami?” tanya Desi begitu Ratna meletakkan sendok dan garpunya.

“Ohhh… nggak kok. Sendiri saja,” jawab Ratna setelah meminum jus jeruk yang dipesannya. Dia menarik nafas panjang sebelum membuka mulutnya, “Aku sudah pisah kok…”

“Ha??? Kok bisa Na? Gimana ceritanya?” tanya Desi spontan. Wanita berambut ikal itu menghentikan urusannya dengan piring dan sendok-garpunya lalu menatap tajam Ratna, sementara Roy masih tetap tenang meneguk teh manisnya. Roy memang sudah pernah mendengar hal itu dari Ratna saat mereka berbincang via BBM beberapa saat lalu.

“Yah memang mungkin lebih baik begini. Kami sudah nggak cocok. Sekarang hubungan kami sebagai teman jauh lebih baik daripada saat kami menikah,” jawab Ratna diplomatis.

“Kalian sudah menikah empat tahun kan?” kali ini Roy yang membuka mulutnya. “Apa nggak bisa dipertahanin?”

“Iya. Aku aja sampe kaget denger kamu merit Na,” sahut Desi. “Lulus kuliah kamu langsung merit. Muda banget. Aku aja sampai sekarang belum rencana merit.”

“Ya mungkin dulu aku terlalu cepat mengambil keputusan. Suamiku sering berbuat kasar,” jawab Ratna. “Dia suka memukulku saat kami bertengkar. Dia posesif dan suka mengekangku. Bayangin aja, kalau keluar sama teman, misalnya nih seperti sekarang saat aku jalan sama kalian, dia sering menelpon menanyakan aku sedang apa, dengan siapa, di mana, bahkan dia selalu minta bukti. Kadang aku sampai minta tolong temenku ngomong sama dia, untuk membuktikan kalau aku bener-bener jalan sama mereka. Dan nggak cuma berhenti sampai di situ saja, dia juga selalu ingin tahu apa yang aku omongin. Dia sampai minta aku cerita apa yang aku obrolin. Parah banget kan? Aku sampai malu sama temenku,” curhat Ratna panjang lebar.

“Ya ampun Na, kok bisa sih suamimu seperti itu?” tanya Desi singkat. Kali ini dia tidak mampu melontarkan kalimat yang panjang.

“Memangnya waktu kalian pacaran kamu nggak tahu kalau dia seperti itu?” selidik Roy.

“Ya aku tahu sih dia temperamental. Tapi selama kami pacaran, dua tahun kami pacaran, dia sama sekali nggak pernah mukul aku. Setelah menikah baru aku tahu kalau dia seperti itu. Dia itu selain suka mukul juga males banget. Pernah aku sakit dia sama sekali nggak mau nganter aku ke dokter. Akhirnya aku sampai berangkat sendiri. Katanya dia capek pulang kerja…” Ratna bercerita sambil mengingat masa lalunya.

“Ya ampun Na, sedih banget ceritamu. Kenapa kamu nggak langsung pisah aja sih kalau tahu dia nya seperti itu?” Desi menatap Ratna sedih.

“Ya, awalnya aku berharap dia akan berubah. Dua tahun setelah menikah, aku cerita ke orangtuaku, dan mereka pernah marahin dia. Setelah itu dia nggak pernah mukul aku lagi, tapi setiap kali dia marah dia masih saja ngancam aku. Bukannya aku nggak ingin pisah, tapi dia nggak mau. Aku selalu bilang kalau hubungan kita seperti ini lebih baik kita pisah saja, tapi dia berjanji mau memperbaiki diri. Tapi ya sama sekali nggak ada perubahan. Sampai akhirnya tahun keempat dia sendiri yang minta pisah. Itu pun aku yang ngurus semuanya. Bahkan aku yang keluar uang. Dia sama sekali nggak mau keluar uang. Katanya uangku lebih banyak. Gajiku lebih besar daripada dia…”

“Hebat ya Rat, kamu bisa bertahan sampai empat tahun…” hanya itu yang bisa keluar dari mulut Roy.

“Ya mau gimana lagi? Aku harus kuat ngejalanin semuanya itu…” jawab Ratna sambil tersenyum.

“Ya ampun Na, kalau aku jadi kamu, aku sudah minta pisah langsung!” kata Desi tegas.

“Tapi kamu nggak ada pikiran gimana gitu, pisah dari suami, jadi janda?” tanya Roy lagi.

“Ya ada sih. Aku juga mikir gimana nanti kalau aku pisah. Jadi janda pasti aku akan dicap negatif. Tapi ya ini hidupku. Aku yang ngejalanin, bukan orang lain. Selama empat tahun hidup sama suamiku aku belajar banyak, hingga aku berani mutusin untuk pisah. Terserah orang mau ngomong apa, mereka nggak tahu apa yang aku jalanin. Mereka nggak tahu rasanya jadi aku.” Ratna meneguk jus jeruknya. “Yang penting aku bahagia dengan hidupku sekarang dan aku nggak ngerugiin orang lain.”

“Aku salut sama kamu Na,” sahut Desi.

“Terus langkah kamu ke depan gimana?” tanya Roy. “Kamu masih mau balik ke Singapur?”

“Nggak. Aku mau ke Eropa. Aku mau sekolah lagi dan kerja di sana. Aku mau berusaha mengejar mimpiku. Aku punya mimpi untuk bisa sukses. Aku pernah berlibur ke sana, waktu aku stress dengan pernikahanku, dan aku punya beberapa teman yang baik. Di sana orang dihargai sesuai dengan kemampuannya, dan aku ingin membuktikan diriku, kalau aku bisa sukses.”

“Wow, kamu hebat Rat. Semoga kamu bisa sukses ya. Aku cabut dulu ya, mau balik kantor,” pamit Roy setelah melihat jam tangannya.

“Oh ya sudah. Aku juga masih ada urusan kok,” jawab Ratna. “Semoga kita bisa ketemu lagi dan ngobrol-ngobrol di lain waktu.” Dengan langkah tegap Ratna berjalan meninggalkan kafe, berpisah dengan sahabat-sahabatnya. Ya, ini hidupnya dan dia merasa senang dengan apa yang dijalaninya hari ini, termasuk bercengkrama dengan kedua sahabatnya. Jalan di depannya masih panjang dan dia harus terus melanjutkan hidupnya, menebus waktu empat tahun yang telah dihabiskannya bersama suaminya dan yang telah memberikannya pelajaran untuk menjadi wanita yang kuat, dirinya sendiri. Karena masa depannya ada di tangannya, dan dia sendiri yang memilih jalan mana yang akan ditempuhnya.

Inspired from true story of my friend…

dont-judge-me-for-my-choices-when-you-dont-understand-my-reasons

Penjara Pikiran

Kita semua pasti mengenal sikat gigi. Ya, setiap hari kita menggunakan benda yang satu ini. Tapi tahukah Anda penemu sikat gigi modern ? Dia bernama William Addis, seorang berkebangsaan Inggris. Dia memakai tulang yang dilubanginya kecil-kecil, kemudian mengisinya dengan bulu binatang, serta mengelemnya menjadi satu.

William pun menjadi jutawan setelah idenya dikembangkan menjadi sikat gigi berbulu nilon dan diproduksi oleh perusahaan Amerika bernama “Du Pont” pada tahun 1938.

Tahukah Anda, bahwa saat William Addis menemukan konsep sikat gigi, ia sedang mendekam di dalam penjara? Tubuhnya di penjara, tapi pikirannya tidak terpenjara.

7659189_201502100925150368

Sementara banyak orang yang tidak di penjara, tetapi seringkali memenjarakan pikirannya sendiri. Penjara itu berupa kata-kata:

“Tidak Mungkin”

“Tidak Bisa”

“Tidak Mau”

“Tidak Berani” dan tidak-tidak lainnya, yang kerap menjadi penghalang kita untuk berkembang.

Tuhan memberikan kita potensi untuk dikembangkan, secara positif dan semaksimal mungkin. Jadi, jangan mengizinkan keadaan apapun memenjarakan pikiran kita.

Mulailah memikirkan sebuah kemenangan daripada sebuah kekalahan.

Optimis VS Pesimis

Seorang yang pesimis akan melihat gelas yang setengahnya berisi air sebagai gelas setengah kosong, sedangkan seorang yang optimis memandangnya sebagai gelas setengah penuh.

Seorang kreatif yang optimis akan memandangnya sebagai sebuah vas bunga mawar, dan seorang pragmatis yang optimis menganggapnya sebagai pelepas dahaga.

optimisdanpesimis

Pertimbangkanlah keuntungan-keuntungan yang diperoleh karena memilih rute yang optimistis seperti yang digambarkan dalam cerita ini:

Dua katak terjatuh ke dalam semangkuk krim. Yang satu berjiwa optimis; tetapi yang lain memandang itu dengan sedih.

“Aku akan tenggelam, dan kau juga!” Maka dengan jeritan putus asa yang terakhir, si katak pesimis menutup mata dan berkata, “Selamat tinggal.”

Katak yang berjiwa optimis berseru riang. Katanya, “Sulit untuk keluar, namun aku tak akan mundur! Aku akan berenang sampai kekuatanku habis. Karena setelah mencoba, aku akan mati dengan puas.”

Dengan penuh keberanian si katak optimis berenang sampai seolah-olah ia sedang mengocok krim. Akhirnya, di atas lapisan mentega dia berhenti dan ia pun melompat ke luar dengan gembira.

Apakah pesan moral yang dikandung dalam cerita ini? Mudah! Jika tidak dapat keluar — tetaplah berenang!

Sejumlah orang mengeluh karena TUHAN menaruh duri di sekeliling mawar, sementara yang lain memuji karena TUHAN meletakkan mawar di tengah-tengah duri.

 

Kisah penebang kayu

Alkisah ada seorang penebang kayu. Suatu hari dia kehilangan kapaknya, yang membuat dia tidak bisa bekerja. Penebang kayu itu mencurigai salah seorang tetangganya sebagai pencuri kapaknya.

Pagi itu sang tetangga berangkat dan menutupi peralatan kerjanya dengan kain. Ketika melihat penebang kayu, tetangga itu tersenyum singkat. Dalam hati penebang kayu menebak, kapaknya pasti disembunyikan di sana. Apalagi dia merasa tetangga ini senyumnya tidak tulus. Penebang kayu itu mulai yakin bahwa tetangga itulah pencurinya.

Besoknya tetangganya bahkan terasa begitu ramah berlebihan. Biasanya tetangga ini jarang menyapa, tetapi kali ini dia menyempatkan berbasa-basi. Penebang kayu mersa semakin yakin bahwa kapaknya dicuri oleh tetangganya itu. Apalagi dia melihat hasil tebangan kayu si tetangga dua hari ini banyak sekali. Pasti dia menebang menggunakan kapak curiannya, batin penebang kayu. Semakin dia memikirkan hal itu, semakin dia merasa yakin.

Pada hari ketiga, ketika penebang kayu mencari pisau untuk memotong sayur, dia mendapati kapaknya tersimpan di laci dapur. Rupanya, istrinya yang sedang keluar kota menyimpan kapak itu di sana. Penebang kayu itu sama sekali tidak membaca pesan yang ditinggalkan istrinya di kulkas. Senang benar hati penebang kayu itu karena kapaknya telah ditemukan.

Pagi ini, dia mengamati lagi tetangganya yang lewat. Untuk pertama kalinya, dia merasa tetangga ini tidak berkelakukan seperti pencuri dan senyumnya juga tulus-tulus saja. Bahkan percakapannya terasa sangat wajar dan jujur. Dia heran kenapa kemarin dia melihat tetangganya sebagai pencuri.

pemburu

Persepsi membentuk kenyataan, pikiran kita membentuk sudut pandang kita.

Apa yang kita yakini akan semakin terlihat oleh kita sebagai kenyataan.

Sebagai contoh, apapun yang dilakukan orang yang kita cintai adalah baik dan benar. Anak nakal dianggap lucu, kekasih pelit diangggap berhemat, orang cerewet dibilang perhatian, keras kepala dibilang berprinsip dan makanan tidak enak dibilang bergizi.

Hidup tidak pernah dan tidak ada yang adil, tidak benar salah, kita ciptakan sudut pandang kita sendiri. Kita menemukan apa yang kita ingin temukan. Kenyataan adalah siapa kita dan bagaimana kita memandang semuanya itu. Pandangan kita berubah mengikuti perubahan jaman dan keadaan.