Wanita itu 2

IMG20160103143630.jpg

Untuk kesekian kalinya wanita itu datang ke kantor. Setiap kali dia datang, dia hanya duduk diam memasang wajah datar tanpa ekspresi, menunggu bosku datang. Namun, hari ini ada yang tampak berbeda. Wanita itu tidak lagi duduk diam tetapi mulai bertanya-tanya kepada Mas Alex, seniorku. Mungkin bos yang menyuruh wanita itu bertanya. Setahuku wanita itu bernama Mbak Nuri, salah satu mahasiswi pasca sarjana bimbingan bosku, yang kebetulan juga mengajar sebagai dosen. Ditilik dari usianya, wanita itu tidak lagi muda, mungkin sudah di atas 30 tahun. Analisaku terhenti ketika Mas Alex melibatkanku dalam pembicaraan mereka. Lebih tepatnya mengalihkan lawan bicara wanita itu sehingga kini akulah yang menjadi lawan bicaranya.

Beberapa menit kami berbincang, ternyata wanita itu cukup ramah. Wajah datarnya seketika berubah ketika dia mulai berbicara. Awalnya dia menceritakan bagaimana dia tertarik untuk meminta bosku menjadi dosen pembimbingnya. Tak ada yang menarik dari ceritanya, hingga akhirnya dia mulai menceritakan bagaimana perjalanannya mengerjakan tesis.

“Dulu saya nggak bisa apa-apa, Mas. Nggak ngerti apa-apa. Dulu saya hampir tiap hari datang ke kantor, nunggu berjam-jam buat belajar. Kalau ada yang lagi nganggur saya tanyain,” katanya dengan ceria. “Jadi kadang datang tiga jam cuma buat belajar sepuluh menit, nunggu dulu kalau ada yang bisa diganggu. Soalnya kan anak-anak yang di sini juga pada sibuk…” Mendengar ceritanya mau tak mau aku sedikit terpancing, benarkah dia sesabar dan sekuat itu? Pantas saja ketika dia datang ke kantor, hal yang dilakukannya hanyalah duduk berjam-jam menunggu kedatangan bosku.

“Saya sempat cuti dulu, waktu bapak saya meninggal,” lanjutnya lagi. “Terus saya kembali lagi ke kampus, tapi saya kena begal. Laptop, HP hilang semua. Stress saya, sempat masuk rumah sakit juga. Terus keluar dari rumah sakit, saya kembali lagi. Saya bilang ke bapak kalau saya mau lanjutin tesis, tapi saya nggak punya apa-apa. Bapak bilang pakai komputer kantor saja nggak apa-apa, kalau ada yang kosong,” lanjutnya lagi menceritakan perjuangannya. “Terus saya pakai komputer ini,” katanya sambil menunjuk komputer yang sedang kupakai. Aku mengangguk-angguk. Tak pernah kusangka wanita yang awalnya kuanggap sombong itu menyimpan cerita yang begitu menyentuh.

Tak berapa lama kemudian, bosku pun tiba. Segera wanita itu menghilang di balik pintu ruangan bos. Ketika wanita itu berdiskusi dengan bosku, aku memikirkan pembicaraan singkat kami. Kesanku tentang wanita itu berubah 180 derajat. Ternyata dia bukanlah wanita sombong yang berwajah datar, melainkan wanita tegar yang berani melawan kerasnya kehidupan. Aku tak sanggup membayangkan bagaimana rasanya ketika kehilangan orang tua, lalu kehilangan barang-barang berharga. Di tengah berbagai masalah yang datang silih berganti dia masih bisa menceritakan semuanya itu dengan penuh canda tawa, seakan semua itu tidak berarti apa-apa baginya.

“Gimana Mbak?” tanyaku ketika wanita itu keluar dari ruangan bos.

“Masih harus dianalisa lagi…” katanya santai, masih dengan wajah ceria. “Aduh, saya harus segera selesaikan ini tesis, biar cepat lulus, sudah lama molornya…” Aku hanya mengangguk-angguk sambil sesekali tersenyum melihat ulah wanita itu.

“Tapi memang benar sih Mas, kata siapa itu… oh Ridwan Kamil. Mewujudkan cita-cita itu butuh waktu yang lama dan uang yang banyak. Siapa sangka saya kuliah selama ini. Dulu mikirnya S2 cuma 2 tahun, tapi sampai sekarang belum lulus juga. Ya sudah Mas, saya pulang dulu…” katanya sambil berlalu. Wanita itu benar-benar membuatku kagum. Keceriannya, kepolosannya, kesabarannya, ketegarannya menghapi segala permasalahan, dan semangatnya untuk terus belajar dan tidak mudah menyerah benar-benar patut diapresiasi.

Memandang kepergian wanita itu, dalam hati aku berjanji bahwa aku harus bisa lebih baik dari wanita itu. Jika dia saja mampu melakukan hal itu, menghadapi masalah yang begitu berat dengan keceriaan, maka aku juga harus mampu melebihi wanita itu. Permasalahan hidup seberat apa pun harus dijalani dengan penuh perjuangan, semangat dan tawa. Hari ini aku belajar sesuatu dari wanita itu…

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s