Be wise in your posting

Well, one of my rules in posting anything in social media is not share about conflict, gossip or issue that contain negative case.  Instead, I choose to post something inspire. Here my opinion about posting:

  1. If I didn’t know the truth, and only knew from other people, I chose not to share it. Moreover, if it attacked someone or blamed people, I should be very careful. I didn’t know the fact. If it was not true, it meant I did backstabbing.
  2. My aim in posting was telling news to other. It’s not your fault for posting about social conflict, but it was good to consider the maturity of the readers. They got different level of maturity one and another. I know, maybe you had a good intention, for other people got more careful so they did not get the same case. But instead of spreading good news, we possible did grow up hatred, fight or new conflict because the one who read our post got the wrong idea or he wasn’t mature enough in getting our message. If it was me, I chose not to post something that potentially brought negative message, especially if I couldn’t prove its validity.
  3. Still about the aim of posting. Many people post something that I thing it was categorized in bullying someone. And the victim, he usually has no connection with us. Maybe he did wrong, but it was not legal for us to bully him. I chose not to judge his deed or publish something that hurt him. I thing I you had one person got wrong, it was better to say it to him directly, not publishing or spreading it. Unless, it was your aim to bully him.
  4. Finally, just posted what was important and should be posted. Don’t did it because your friends did it too. it was so sad, many people posted something that they actually didn’t know the message because following their surroundings.

Those are my rules in posting. I know it’s not wise at all, but at least I’ve tried no to spread rubbish ini social media.

Advertisements

Tentang orang tua…

Hari ini aku mengikuti pertemuan untuk pengajar Kali Code. Sedikit sharing, kondisi anak-anak yang kami ajar di sana benar-benar jauh dari sempurna. Kali Code adalah daerah yang terkenal dengan tingkat kekumuhan dan kemiskinan yang tinggi. Dengan kondisi yang seperti itu, bisa ditebak bahwa anak-anak yang tinggal di daerah itu seperti apa. Hidup mereka jauh dari kelimpahan dan kecukupan menurut ukuran kita. Hal yang terlihat jelas dari setiap pertemuan dengan anak-anak itu adalah sikap mereka yang menurut kami susah diatur, tidak mau belajar, hanya mau bermain dan suka bikin onar, bahkan beberapa diantara mereka ada yang kemampuannya kurang. Selama ini hanya hal-hal itu yang menjadi identitas para anak-anak di Kali Code.

Namun hari ini aku belajar hal yang lain, melalui cerita seorang teman, aku memandang anak-anak itu dari sisi yang berbeda. Temanku itu bercerita bahwa dia melihat seorang anak didiknya mengemis, bahkan di jam sekolah. Ketika ditanya, orang tuanya yang menyuruh dia mengemis. Sungguh menyedihkan ketika mendengarnya. Orang tua yang seharusnya mengusahakan masa depan anak malah mengeksploitasi anak-anak mereka bahkan membuat masa depan mereka menjadi suram. Memang sih kondisi mereka kurang mampu, tetapi tidak seharusnya orang tuanya melakukan hal itu. Kasarannya, kalau menurutku sih kalau kamu orang tua tidak bisa memelihara anakmu dengan baik, JANGAN pernah jadi orang tua, JANGAN pernah melahirkan anak-anak jika tak mampu mengurus mereka!! Well, soal peran orang tua biarlah itu menjadi bahasan lain, aku hanya ingin membahas mengenai anak-anak mereka dan dampak perlakuan orang tua terhadap mereka.

Di balik sikap mereka yang liar, ternyata sebagian besar dari mereka tumbuh tanpa pengawasan dan didikan dari orang tuanya. Memang ada orang tua yang tidak mengeksploitasi anaknya dan menyuruh anak-anak mereka belajar, akan tetapi karena kesibukan orang tua mencari uang, si anak menjadi tidak mendapat waktu dan perhatian yang cukup. Sering saat kami datang ke sana, kami hanya menjumpai anak-anak saja, orang tuanya bekerja entah apa yang dilakukan dan baru pulang malam hari. Jika demikian, kapan orang tua mereka punya waktu untuk memperhatikan anaknya, padahal anak butuh figur orang tuanya. Sungguh memperihatinkan bukan. Selama ini aku tidak menyadari bahwa keadaan anak-anak itu ternyata sudah segawat itu. Karena latar belakang keluarga dan lingkungan mereka itulah yang membentuk mereka jadi seperti itu, liar dan tak terkendali.

Well, akhirnya sampailah di poin yang ingin aku bagikan. Aku merasa bersyukur memiliki orang tua yang memarahi, memaksa untuk belajar, menyekolahkan dan memaksa untuk ikut les. Belajar tentunya merampas kebahagiaan dan waktu untuk bermain, tetapi hal itu sangat penting bagi masa depan kita. aku sadar betul bahwa saat ini aku tidak akan menjadi aku yang sekarang jika sewaktu kecil dulu orang tuaku tidak mendidikku dengan cara yang demikian. Ketika disuruh belajar dan mengerjakan PR rasanya pasti sebal. Ketika dimarahi karena mendapat nilai jelek rasanya pasti tidak enak. Tapi itu semua dilakukan demi kebaikan kita, karena orang tua ingin supaya kita menjadi orang yang lebih baik daripada mereka dan masa depan kita lebih cemerlang daripada mereka.

Mungkin hari ini masih ada yang memendam kepahitan kepada orang tua nya karena waktu kecil pernah dimarahin munkin juga dipukul karena tidak mau belajar atau bermasalah dengan pendidikan. Orang tua kita, mereka juga tidak sempurna. Kadang mereka tidak tahu bagaimana memperlakukan anaknya. Tidak ada sekolah menjadi orang tua bukan. Tapi aku percaya bahwa orang tua, sebagian besar, pasti menginginkan, mengharapkan dan mendoakan anaknya menjadi orang yang sukses. Hanya saja, mungkin mereka tidak tahu bagaimana caranya membawa anak mereka ke arah sana, seperti orang tua di Kali Code. Aku tidak bisa menghakimi cara mereka mengeksploitasi anaknya, karena aku tidak berada di posisi mereka. Tapi ada hal yang masih aku syukuri dan pandang baik dari mereka. Setidaknya mereka masih menyuruh anak-anak mereka untuk datang mengikuti pelajaran tambahan yang kami adakan meski waktunya di malam hari.

Kiranya sekian dulu tulisanku malam ini. jangan lupa bersyukur atas orang tuamu dan marilah kita mengingat hal ini untuk menjadi orang tua yang lebih baik bagi anak-anak kita, saat ini atau di kemudian hari.

My daughter

“Mom, today Miss Clara told us about what would we do when we grow up…” said Diana, my daughter when we are going to home for her school.

“Aha. Mommy is wondering what is it…” I said to her without release my eyes from the street in front of me. I’m not a good driver and I have to drive carefully.

“I said that I want to be a nurse. She answer me happily, “and Laura could be the doctor…” she added it.

Her answer disturbs me. I go along the side of road and stop my car. I’m not a good driver, I repeat it and I can’t speak seriously while driving.

“Baby, why did you want to be nurse since Laura be doctor. I think you could be a doctor too.”

“But Mom, why should I be a doctor?”

“Dear, look at Laura. She wanted to be doctor. It’s ok for you to be doctor. You know, doctor is greater than nurse. Doctor can heal wounded person. It’s so cool…”

“But Mom, there is no job that greater than the other. I think all of them are same. Nurse is cool too. If everyone wants to be doctor, then who will be the nurse, since we need her to.” Said Diana calmly.

For the second time, her answer makes me really uncomfort. Honestly, she is right. All of jobs are same and we need them. Ok, maybe we think that one job is greater than the other one, in my daughter’s case it is doctor greater than nurse, but we can’t erase nurse. Instead, we need her too.

“Mom…” Diana calls me.

“Ok sweetie, you are right. I was wrong. You can be nurse. Nurse is wonderful too. Let’s continue our journey to home…”

**

Realized it or not, parents teach their kids to be greater than others. As parents, we want our kids be the number one, have many skills, be the winner. Maybe it is not absolutely our fault. We are the product of our parent’s will. That’s why we do the same to our kids.

Everyone is unique. Each of us has a certain place in the universe. Like a puzzle, each piece is part of the big picture. No piece that is better than the others. Each of them is same. No matter how bad its shape, still it is needed to make the puzzle perfect.

Inspired from my friend’s sharing post..