MAAF

Beberapa minggu sudah berlalu sejak hari raya Lebaran, tetapi nuansa saling meminta maaf masih terus berlangsung. Ketika bertemu dengan orang yang dikenal maka kata mohon maaf lahir batin terucap dari bibir. Tak peduli apakah orang itu muslim atau non muslim, saling meminta maaf menjadi bagian yang tak terpisahkan dari momen Lebaran. Sungguh indah, setidaknya sekali dalam setahun ada momen untuk menyambung silaturahmi dan saling memaafkan. Susah lho sebenarnya meminta maaf itu, apalagi memberi maaf. Bagi yang merasa, jangan senyam-senyum sendiri.

Terlepas dari momen Lebaran, setiap orang pasti pernah bermaaf-maafan. Ijinkanlah aku bertanya, apakah ketika meminta maaf, atau memberi maaf, itu benar-benar tulus dari hati, atau hanya sekadar ritual dan formalitas. Karena semua orang melakukannya, maka mau tidak mau kita pun ikut-ikutan melakukan hal itu. Sorry to say, jika demikian kata maaf hanya menjadi hiasan di bibir yang tidak bermakna apa pun. Jika ditinjau lebih jauh, bukankah maaf itu merupakan pengakuan atas kesalahan dan meminta maaf berarti mengakui keselahan yang telah diperbuat. Akan tetapi, ketika meminta maaf hanyalah sebuah formalitas, maka tidak ada penyesalan saat meminta maaf. Lantas jika demikian apa bedanya? Bukankah diucapkan atau tidak diucapkan pun sebenarnya tidak ada bedanya? Hahaha… silakan pikir sendiri dan jawab sendiri deh…

Itu tadi bagian yang meminta maaf. Lalu sekarang kita beranjak ke bagian yang memberi maaf. Aku ingin bertanya, antara meminta maaf dan memberi maaf, mana yang lebih susah? Mungkin sebagian dari kita akan menjawab bahwa meminta maaf lebih susah, sedangkan yang lain menjawab sebaliknya. Tak masalah sih. Menurut aku jika benar-benar dilakukan dari hati, sebenarnya keduanya sama susahnya. Di atas sudah aku singgung bukan betapa tidak mudah meminta maaf itu? Lalu siapa bilang memberi maaf, atau memaafkan, itu mudah? Aku seringmendengar orang bilang bahwa dia memaafkan tetapi tidak melupakan. Menurut aku sih itu bulshit. Mana bisa memaafkan tetapi masih terus menyimpan perkara itu dalam hati? Lalu jika misalnya orang itu melakukan kesalahan yang sama, atau mungkin kesalahan yang berbeda bisa juga sih, perkara yang lalu, yang katanya sudah dimaafkan tetapi kenyataannya disimpan dalam hati, pasti akan diungkit-ungkit lagi. Jika demikian memaafkan nya di mana? Apakah memaafkan itu sifatnya musiman, jika sedang ada momen memaafkan, semua dimaafkan, setelah musim itu lewat dan orang itu berbuat salah, maka kesalahan yang dulu-dulu diungkit lagi? Jika demikian yang terjadi mah itu nggak memaafkan namanya. Sama dengan yang di atas, memaafkannya cuma di bibir saja, terpaksa karena mengikuti sikon, tetapi di hati sebenarnya masih tersimpan dendam dan menunggu kesempatan untuk membalas dendam tersebut.

Well, itu sih yang terlintas di pikiranku ketika menghadapi momen saling bermaaf-maafan ini. Semoga pembaca yang budiman tidak demikian yah. Dan sebuah refleksi dari aku sendiri, jadi lebih berhati-hati ketika mengucapkan kata maaf, sorry, dan sejenisnya. Anyway, semoga kita semua menjadi lebih sempurna dalam hal meminta dan memberi maaf…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s