the story of potato, egg and coffee beans

Once there lived an old man who owned a magic pot.

Wherever he put water in it, it would start boiling.

One day, three men came to his house.

The first man had a potato. He complained that it was too hard to eat.

The second man had an egg.  He said it was too soft to eat.

The third man had a few coffee beans. He said it wasn’t enough.

The old man asked them to put all of these into the boiling water.

The potato that went in hard and unrelenting, came out extremely softened.

The egg that seemed extremely fragile, came out hardened.

The coffee beans used the opportunity to change itself and turned into an aromatic drink.

 

The pot signifies life. It is filled with our experiences.

The boiling water signifies hardships. Everyone faces difficult times in life.

The potato, the egg, and the coffee beans are three types of people in the world.

They deal with hardships in different ways.

Some people mellow down like the potato.

Some make themselves stronger to face hard times, like the egg.

And some adapt and change themselves to suit the situation, like the coffee beans.

So are you the potato, the egg, or the coffee beans?

 

it’s not my writing. I get it from a friend…

Advertisements

Kartu kuning ketua BEM UI kepada presiden

Beberapa hari ini, berita tersebut tak hanya menghiasi layar televisi, tetapi juga media sosial. Siapa yang belum mendengar berita itu? Saya yakin pasti semua orang pernah mendengarnya dan ikut berkomentar, meskipun hanya di dalam hati hehe… Awalnya saya tidak berniat membuat tulisan ini, tetapi setelah beberapa hari berita itu masih juga berseliweran di media sosial, saya tergelitik untuk menumpahkan isi kepala saya.

Tak dapat dipungkiri, peristiwa itu menimbulkan pro dan kontra. Saya pribadi mendukung semangat yang diusung oleh si pelaku. Siapa sih yang tidak ingin masalah di Asmat itu segera terselesaikan? Saya yakin pasti semua orang ingin saudara-saudara kita di sana dapat hidup lebih layak. Untuk melakukan tindakan itu, memberi kartu kuning kepada presiden di hadapan publik, saya yakin bukan hal yang mudah dilakukan. Perlu keberanian dan mental baja, termasuk siap menanggung resiko yang akan dihadapi nanti. Jujur, saya yakin tidak banyak orang yang berani melakukan hal itu. Saya merasa tindakan hal ini lebih dari membuat surat terbuka, karena dilakukan secara live.

Namun, saya rasa tidak benar juga jika si pelaku seakan-akan menyalahkan presiden, menumpahkan segala beban kepada presiden. Presiden itu bukan Tuhan yang maha sempurna. Dia memiliki keterbatasan. Tak pantas rasanya jika menuntut beliau harus sempurna dalam segala hal, termasuk mampu menyelesaikan semua masalah. Saya merasa bahwa pemerintah telah berusaha. Tinggal seberapa keras kesungguhan usaha pemerintah, saya tidak tahu dan tidak bisa menjudge karena saya tidak memiliki data yang akurat tentang usaha pemerintah tersebut. Inilah poin yang ingin saya garis bawahi. Janganlah mudah menjudge seseorang, apalagi jika tidak memegang data yang akurat, di mana penilaian hanya sekadar berdasarkan berita yang belum lengkap atau tidak dapat dipertanggung jawabkan. Sekali lagi, jangan mudah percaya pada media. Media seringkali memiliki fungsi menggiring publik agar melihat sesuai apa yang diinginkan oleh si actor intelektual, bukan pada fakta yang sebenar-benarnya. Hal ini saya pelajari dari teman yang bekerja di media hehe.

Kembali pada kisah kartu kuning, si pelaku masih mahasiswa. Dia masih idealis maka wajar saja jika tindakannya seperti itu. Sebagai mantan mahasiswa, saya bisa memahami dan mencoba melihat dari sudut pandangnya. Orang yang dewasa tidak akan menjudge si pelaku dengan sembarangan. Jika dia perlu dibina dan diarahkan, saya rasa wajar saja. Dia masih mahasiswa. Tentu saja kita tidak bisa mengharapkan dia bertindak sebagai orang dewasa. Justru orang-orang yang mengharapkan dia bertindak layaknya seorang veteran lah yang saya rasa tidak wajar. Menghakimi, menyalahkan justru akan membuat anak muda itu kehilangan kekritisannya dan tidak berani mengembangkan pendapatnya. Hal itu sama saja dengan mematikan semangat nya yang masih membara. Namun, memuji secara berlebihan juga tidak dapat dibenarkan. Dia bukan orang yang sempurna, perlu dicatat. Dia masih perlu banyak belajar untuk menjadi orang yang dewasa. Tugas kita bersama untuk mengarahkan anak-anak muda sehingga mereka menjadi orang yang mampu bertindak benar di kemudian hari.

Wow, panjang juga ternyata tulisan saya. Saya rasa cukup sekian saja. Toh saya cuma berniat membuang isi pikiran hehe. Semoga bermanfaat.