Bukan pemeran utama..

Dalam setiap film pasti ada pemeran utama dan ada pemeran pembantu. Pemeran utama tentu mendapat porsi, perhatian dan scene yang lebih besar dari pemeran pembantu. Tak jarang hal ini membuat pemeran pembantu bahkan kadang dianggap kurang penting dari pemeran utama. Apakah benar demikian? Tentu saja tidak. Tanpa adanya pemeran pembantu, film itu tidak akan berhasil. Bayangkan saja jika dalam sebuah film hanya dibintangi oleh satu atau dua orang pemeran utama, tak ada pemeran lainnya. Sebut saja film Indonesia yang semua orang pasti tahu, AADC yang kemudian dibuat sekuelnya tahun ini, AADC 2. Meskipun fokus cerita film itu terpusat pada kisah Cinta dan Rangga, tetapi kehadiran orang-orang di sekitar mereka membuat film itu lebih menarik. Apa jadinya jika tidak ada pemeran pembantu di film itu, misalnya tidak ada geng Cinta yang heboh dan turut memegang alur cerita ketika mereka mengatur pertemuan Cinta dan Rangga? Atau bagaimana jika tidak ada karyawan perempuan di kafe milik Rangga yang di akhir film sempat membuat Cinta salah paham? Betapa membosankannya film itu bukan?

Melalui uraian di atas saya mencoba menekankan bahwa setiap orang memiliki peranan masing-masing dalam sebuah kisah. Mungkin saja peran si A lebih kecil dari si B, tapi kehadiran si A tetap saja mempengaruhi seluruh jalan cerita, bahkan juga mempengaruhi perilaku si B, si C dan orang-orang lainnya.

Anda mungkin bertanya apa hubungannya dengan kita? Pernahkan anda berpikir bahwa dalam sebuah kisah, kita tidak ditakdirkan menjadi pemeran utama, tetapi hanya sebagai pemeran pembantu?

Banyak orang selalu berpikir tentang dirinya, menjadikan dirinya sebagai yang utama, pusat dari segala sesuatu, atau dengan kata lain ingin menjadi yang utama, ingin diperhatikan dan mendapat porsi yang lebih besar daripada orang lain. Apakah hal itu salah? Tentu saja tidak. Yang salah adalah jika kita tidak tahu di mana posisi kita, lantas kita menuntut lebih dari apa yang menjadi peranan kita, atau kita mengabaikan tugas yang seharusnya kita kerjakan karena merasa hal itu tidak penting dan malah mengurusi tugas orang lain, yang notabene bukan bagian kita. Kadang, harus disadari bahwa tidak semua dari kita merupakan pemeran utama dalam sebuah scene. Misalnya, dalam pekerjaan di kantor, mungkin kita hanya karyawan biasa, kita bukan bos yang memiliki kedudukan dan peranan besar di kantor itu. Apakah dalam menjalankan tugas dan peranan kita sebagai karyawan, kita bekerja dengan sungguh-sungguh, atau justru hanya asal-asalan karena merasa peranan kita tidak penting? Kejadian lain misalnya, ketika rekan kerja kita diminta untuk menangani proyek baru yang dirasa sangat penting, sehingga semua perhatian di kantor itu tercurah kepada rekan kerja dan proyek yang dipegangnya itu, dan cenderung mengabaikan kita, apakah hal itu membuat kita iri, atau kita tetap bekerja dengan penuh semangat dan bersedia memberikan bantuan apabila teman kita itu meminta bantuan kita?

Mengakhiri tulisan ini, saya ingin menutup dengan sebuah statement.

Dunia ini adalah panggung sandiwara, lantas bagaimana jika kita bukan pemeran utama dalam sandiwara itu?

Advertisements

fighting-the-works-of-the-flesh-hatred_898_630_80

Hater… Today it was common to find that someone has a hater or haters. Some celebrities even have thousands of haters. The haters even have their own group and they always give a bad comment about the celebrity. I don’t have any idea why someone became a hater. Well, I myself had an experience becoming a hater. I used to hate my friend. The source of my hatred was I was disappointed in her. When we had group homework, she didn’t do her part yet always complained about our work. Well, I thought it was reasonable enough to make me didn’t want to be friend with her. But it was in the past.

When thinking about it, I asked myself, what was I looking for as being a hater? What did I get? Nothing. I got nothing for becoming a hater. Instead, I lost my happiness because I always thought how to get rid of her. I meant I didn’t want her be near me. The most annoying thing was she didn’t aware of my hatred toward her. She keep did her usual activity as if everything was ok. I once told her that I hated her acts, but innocently, she didn’t keep it on mind. At the end, I suffered because of my hatred but she didn’t feel anything. You see, there was no point of hating someone.

The other negative impact of hatred is it spreads. Once we hating someone, we would speak his bad only to the people around us. The longer we talked his badness, the people around us became hating him even at first they didn’t. At the end, we became the agent of hatred that destroy the relationships between the people surround us and him. We sacrificed them for nourishing our hatred. In my case, I got my friends hated her. At first, they just thought that she was annoying but later they hated her too.

From my experience, I learnt that hatred was not only consuming the object of my hatred, but also consuming me and my friends. My hatred destroyed all of us. I know it was easy to speak don’t hate but it’s really hard to implement it. However all of us have a choice, a choice to grow hatred or to let it go. Please make a wise choice..

Suatu hari di Museum Affandi

Hari ini aku berkunjung ke Museum Affandi (akhirnya setelah beberapa tahun tinggal di Jogja aku menginjakkan kakiku di tempat itu). Sebenarnya sejak kecil aku sudah mengagumi beliau. Aku tahu beliau adalah seniman, pelukis yang terkenal. Dulu, setiap pergi ke Jogja, dalam hati aku berharap bisa melihat lukisan beliau. Dan sekarang, belasan tahun kemudian, akhirnya aku benar-benar berada di sana dan melihat lukisan demi lukisan yang pernah dilukis oleh beliau. Waktu kecil aku memang suka melukis sih, jadi wajar saja kalau dulu aku ingin jadi pelukis di kemudian hari kelak.

Selain karya-karya Affandi yang sangat terkenal, hari ini aku belajar sisi lain dari seorang Affandi. Mengunjungi museum nya, dan melihat karya-karya yang dipamerkan itu, sedikit banyak membuatku mengenal proses kehidupan yang pernah dilalui oleh beliau. Lukisan-lukisan di awal masa karir beliau berupa lukisan keluarganya dan dirinya sendiri. Menurut penuturan guide yang mengatarku, saat itu Affandi tidak mampu mencari (membayar) model sehingga beliau melukis dirinya dan keluarganya, istrinya, ibunya dan anaknya. Lukisan demi lukisan beliau yang menggambarkan momen demi momen kehidupan yang beliau alami, membawaku menyelami kehidupan beliau jauh ke belakang.

Bagi seorang seniman, karya seni adalah sebagian dari jiwa yang dituangkan dalam bentuk lain. Sama halnya ketika aku menuliskan pemikiranku dalam tulisan ini. Dalam lukisannya, Affandi juga membagikan secuil kisah hidupnya. Ok, to the point aja, setelah mengamati lukisan demi lukisan, aku mendapatkan kesan bahwa di awal karir nya sebagai pelukis, Affandi mengalami banyak kesulitan dan tantangan. Penolakan pun tak jarang beliau alami saat hendak mengajukan diri mengikuti pameran lukisan. Namun, saat itu beliau tidak menyerah. Jika saat itu beliau menyerah dan berhenti menjadi pelukis, mungkin sekarang ini nama beliau sudah hilang ditelan waktu.

Selain lukisan beliau yang menggambarkan beratnya perjuangan dan perjalanan yang beliau alami saat itu, aku juga belajar tentang kedewasaan dalam berkarya. Affandi memiliki gaya lukisan yang sangat berbeda di awal karirnya dibandingkan saat menjelang akhir hidupnya. Semakin ke belakang, lukisan beliau semakin abstrak (menurutku sih karena aku nggak ngerti lukisan). Meskipun begitu, aku tahu benar bahwa nilai lukisan beliau tentu semakin mahal. Kurasa, tak mudah bagi seseorang untuk mengubah gaya hidupnya, apalagi jika dia sudah merasa nyaman dengan apa yang selama ini ada padanya. Tetapi, seorang Affandi berani mengambil resiko mengubah gaya lukisan beliau.

Aku tak tahu apa yang ada dalam pikiran beliau ketika beliau mengubah gaya lukisannya. Bisa jadi saat itu memang tren seni sedang berubah. Tetapi dalam setiap perubahan, pasti ada resiko yang harus diambil. Yang sempat kupikirkan adalah bagaimana jika orang lain tidak menyukai lukisan beliau yang semakin abstrak? Aku tak tahu apakah pemikiran itu pernah terlintas dalam benak seorang Affandi, tetapi kenyataan membuktikan bahwa nama Affandi semakin tenar dan dia semakin terkenal. Perjuangan beliau, kegigihan beliau dalam melukis dan membuktikan dirinya bisa menjadi pelukis kenamaan di Indonesia telah terbayar.

Aku menulis ini pure dari apa yang aku lihat, dengar dan pikirkan saat mengunjungi Museum Affandi. Jika mungkin ada yang berbeda dengan data-data biografi beliau (aku belum pernah membaca biografi beliau sih), harap dimaklumi. Pada akhirnya, rencanaku untuk melihat-lihat lukisan beliau berakhir dengan kegagalan, karena aku lebih mengagumi jalan kehidupan beliau daripada lukisan-lukisan beliau.

DSCN2685

MAAF

Beberapa minggu sudah berlalu sejak hari raya Lebaran, tetapi nuansa saling meminta maaf masih terus berlangsung. Ketika bertemu dengan orang yang dikenal maka kata mohon maaf lahir batin terucap dari bibir. Tak peduli apakah orang itu muslim atau non muslim, saling meminta maaf menjadi bagian yang tak terpisahkan dari momen Lebaran. Sungguh indah, setidaknya sekali dalam setahun ada momen untuk menyambung silaturahmi dan saling memaafkan. Susah lho sebenarnya meminta maaf itu, apalagi memberi maaf. Bagi yang merasa, jangan senyam-senyum sendiri.

Terlepas dari momen Lebaran, setiap orang pasti pernah bermaaf-maafan. Ijinkanlah aku bertanya, apakah ketika meminta maaf, atau memberi maaf, itu benar-benar tulus dari hati, atau hanya sekadar ritual dan formalitas. Karena semua orang melakukannya, maka mau tidak mau kita pun ikut-ikutan melakukan hal itu. Sorry to say, jika demikian kata maaf hanya menjadi hiasan di bibir yang tidak bermakna apa pun. Jika ditinjau lebih jauh, bukankah maaf itu merupakan pengakuan atas kesalahan dan meminta maaf berarti mengakui keselahan yang telah diperbuat. Akan tetapi, ketika meminta maaf hanyalah sebuah formalitas, maka tidak ada penyesalan saat meminta maaf. Lantas jika demikian apa bedanya? Bukankah diucapkan atau tidak diucapkan pun sebenarnya tidak ada bedanya? Hahaha… silakan pikir sendiri dan jawab sendiri deh…

Itu tadi bagian yang meminta maaf. Lalu sekarang kita beranjak ke bagian yang memberi maaf. Aku ingin bertanya, antara meminta maaf dan memberi maaf, mana yang lebih susah? Mungkin sebagian dari kita akan menjawab bahwa meminta maaf lebih susah, sedangkan yang lain menjawab sebaliknya. Tak masalah sih. Menurut aku jika benar-benar dilakukan dari hati, sebenarnya keduanya sama susahnya. Di atas sudah aku singgung bukan betapa tidak mudah meminta maaf itu? Lalu siapa bilang memberi maaf, atau memaafkan, itu mudah? Aku seringmendengar orang bilang bahwa dia memaafkan tetapi tidak melupakan. Menurut aku sih itu bulshit. Mana bisa memaafkan tetapi masih terus menyimpan perkara itu dalam hati? Lalu jika misalnya orang itu melakukan kesalahan yang sama, atau mungkin kesalahan yang berbeda bisa juga sih, perkara yang lalu, yang katanya sudah dimaafkan tetapi kenyataannya disimpan dalam hati, pasti akan diungkit-ungkit lagi. Jika demikian memaafkan nya di mana? Apakah memaafkan itu sifatnya musiman, jika sedang ada momen memaafkan, semua dimaafkan, setelah musim itu lewat dan orang itu berbuat salah, maka kesalahan yang dulu-dulu diungkit lagi? Jika demikian yang terjadi mah itu nggak memaafkan namanya. Sama dengan yang di atas, memaafkannya cuma di bibir saja, terpaksa karena mengikuti sikon, tetapi di hati sebenarnya masih tersimpan dendam dan menunggu kesempatan untuk membalas dendam tersebut.

Well, itu sih yang terlintas di pikiranku ketika menghadapi momen saling bermaaf-maafan ini. Semoga pembaca yang budiman tidak demikian yah. Dan sebuah refleksi dari aku sendiri, jadi lebih berhati-hati ketika mengucapkan kata maaf, sorry, dan sejenisnya. Anyway, semoga kita semua menjadi lebih sempurna dalam hal meminta dan memberi maaf…

Travelling dan hidup…

stranded_main

Seminggu ini aku berada di Jakarta karena urusan pekerjaan, lebih tepat nya terjebak di Jakarta karena berangkat ke Jakarta mendadak dan tidak mendapat tiket pulang ke Solo dengan harga yang wajar. Jadi ya OK lah sementara ini stay dulu di Jakarta. Selama beberapa hari berada di sini tentunya aku pergi mengunjungi tempat-tempat wisata yang memang hitz di Jakarta. Nggak Cuma mall aja lho ya yang bisa dikunjungi haha…

Anyway, ketika berada dalam busway menuju ke salah satu tempat wisata itu, sebuah pikiran melintas di kepalaku. Dia berkata nikmati perjalannya. Travelling is not only about the destination, but also about the journey too. Memang sih berada di Jakarta yang macet abizzz, bahkan ketika libur lebaran yang katanya Jakarta sepi menurut aku sih masih tetep macet, hoax itu yang bilang kalau lebaran Jakarta sepi hahaha…. Ok kembali ke topik kemacetan di Jakarta, semua orang mah pasti nggak ada yang menikmati kemacetan. Berbeda tentunya kalau perjalannya menyenangkan, pasti semua orang akan menyukainya. Tetapi kalau jalannya macet, lama, jauh pasti bête abis. Mending di rumah saja, nggak usah pergi, perginya berjam-jam di sana nya cuma beberapa jam, terus nanti pulangnya masih harus berjuang melawan kemacetan lagi, begitu sih pemikiranku.

Nah pemikiran seperti itu yang membuat aku lupa menikmati travelling nya. Karena fokus ku hanya kepada tujuan, yaitu tempat wisata nya, tetapi menganggap perjalanan ke sana sebagai hal yang terpisah dan bukan bagian dari travelling maka aku menganggap perjalan sebagai sesuatu yang menjemukan. Padahal it’s totally wrong. Menikmati perjalanan termasuk bagian dari menikmati suatu petualangan. Tentunya dalam petualangan itu ada hal yang berat da nada yang ringan, ada yang menyenangkan dan ada yang tidak menyenangkan. Tetapi itu adalah satu paket yang harus diterima. Aku nggak akan merasa senang pada akhirnya kalau aku nggak menerima perjalanan itu sebagai bagian dari travelling ku. Ketika aku bersungut-sungut, yang ada adalah aku kehilangan kegembiraan yang seharusnya kudapatkan dari travelling keliling Jakarta itu.

Well, hal yang sama juga dapat diterapkan ketika menghadapi hidup ini. Tentu dalam hidup ini ada banyak tujuan-tujuan yang telah ditetapkan, baik itu tujuan jangka pendek maupun tujuan jangka panjang. Sebagai anak sekolah misalnya, tentu semua orang pernah mengalami menjadi anak sekolah bukan, tujuan mereka adalah mencapai nilai yang bagus, naik kelas/ lulus dengan prestasi yang baik. Jika kegembiraan diukur dengan pencapaian tersebut maka yang ada adalah hidup mereka sangat mengenaskan. Coba saja dihitung sebelum ujian belajarnya berapa lama, ujiannya hanya beberapa jam dan pembagian rapor hanya sekali tiap semester. Kalau mereka gembira hanya pada saat akhir semester karena nilainya bagus, toh hanya bertahan beberapa jam atau beberapa hari saja. Bandingkan dengan kesusahan yang dialami sepanjang semester harus belajar dll. Namun, bukankah tidak demikan? Kegembiraan itu termasuk satu paket dengan belajar nya. Ketika kita bisa menguasai sesuatu dan melihat belajar sebagai sesuatu yang menyenangkan maka perjalanan satu semester itu tidak merupakan sebuah beban tetapi menjadi menyenangkan.

Well, that’s my point. Nikmatilah hidup seperti sebuah perjalanan. Dalam proses nya apsti ada hal yang nggak enak tapi toh ada hal yang menyenangkan juga. Mungkin kegagalan dan masalah memang bukan tujuan kita, tetapi itu adalah bagian dari perjalanan dan proses yang mau nggak mau harus dinikmati untuk mencapai tujuan kesuksesan. Selamat menikmati hidup dengan paket yang sempurna, including the failure dishes…

Ikan Cod dan Catfish

Bertahun-tahun yang lalu, menjala ikan Cod di daerah timur laut menjadi sebuah bisnis komersial yang sangat besar. Industri perikanan mengakui bahwa ada sebuah pasar besar bagi ikan Cod di seluruh Amerika, tetapi mereka mempunyai masalah besar didalam pendistribusiannya. Awalnya mereka hanya membekukan ikan itu, seperti yang mereka lakukan pada semua produk mereka yang lain, dan mengapalkannya ke seluruh negeri.

Tetapi untuk alasan-alasan tertentu, setelah ikan Cod itu dibekukan, ikan tersebut kehilangan rasa khasnya. Jadi para pemilik memutuskan untuk mengapalkan ikan-ikan dalam tangki-tangki besar yang diisi dengan air laut segar. Mereka mengira bahwa pastilah itu akan menyelesaikan masalah tersebut dan menjaga kesegaran ikan.Tetapi mereka kecewa, karena proses ini hanya membuat masalah menjadi semakin buruk. Karena ikan itu tidak aktif dalam tangki, sehingga menjadi lunak dan seperti bubur, dan sekali lagi ikan-ikan itu kehilangan rasa khasnya.

Suatu hari, seseorang memutuskan untuk menaruh beberapa Catfish (ikan kucing) dalam tangki dengan ikan Cod. Catfish adalah musuh alami ikan Cod, jadi sementara tangki itu berjalan ke seluruh negeri, ikan Cod tersebut harus tetap waspada dan aktif serta berjaga-jaga terhadap Catfish tersebut. Luarbiasanya, saat tangki tersebut tiba ditujuan, ikan Cod itu masih sesegar dan selezat saat mereka masih berada di daerah timur laut.

Seperti Catfish tersebut, mungkin kesukaran Anda ditaruh ke atas jalan kehidupan Anda untuk suatu maksud. Mungkin kesukaran itu ditaruh disana untuk menantang Anda, menajamkan Anda, membuat Anda tetap segar, menjaga Anda tetap hidup, aktif, serta bertumbuh.

Memang, kadang-kadang rasanya seolah-olah Anda disertai seekor ikan hiu putih besar dalam tangki tersebut, bukannya seekor Catfish, tetapi kesukaran yang sedang Anda hadapi bisa saja merupakan sesuatu yang Tuhan sedang pakai untuk mendorong dan menantang Anda supaya menjadi yang terbaik. Pencobaan itu adalah ujian bagi iman, karakter, dan kesabaran Anda.

Jangan menyerah. Jangan berhenti. Jangan merengek dan mengeluh. Sebaliknya berdirilah teguh dan lakukanlah perjuangan iman yang baik. Tuhan Yesus memberkati.

Copied from a friend… Not originally my writing… ^^