Ikan Cod dan Catfish

Bertahun-tahun yang lalu, menjala ikan Cod di daerah timur laut menjadi sebuah bisnis komersial yang sangat besar. Industri perikanan mengakui bahwa ada sebuah pasar besar bagi ikan Cod di seluruh Amerika, tetapi mereka mempunyai masalah besar didalam pendistribusiannya. Awalnya mereka hanya membekukan ikan itu, seperti yang mereka lakukan pada semua produk mereka yang lain, dan mengapalkannya ke seluruh negeri.

Tetapi untuk alasan-alasan tertentu, setelah ikan Cod itu dibekukan, ikan tersebut kehilangan rasa khasnya. Jadi para pemilik memutuskan untuk mengapalkan ikan-ikan dalam tangki-tangki besar yang diisi dengan air laut segar. Mereka mengira bahwa pastilah itu akan menyelesaikan masalah tersebut dan menjaga kesegaran ikan.Tetapi mereka kecewa, karena proses ini hanya membuat masalah menjadi semakin buruk. Karena ikan itu tidak aktif dalam tangki, sehingga menjadi lunak dan seperti bubur, dan sekali lagi ikan-ikan itu kehilangan rasa khasnya.

Suatu hari, seseorang memutuskan untuk menaruh beberapa Catfish (ikan kucing) dalam tangki dengan ikan Cod. Catfish adalah musuh alami ikan Cod, jadi sementara tangki itu berjalan ke seluruh negeri, ikan Cod tersebut harus tetap waspada dan aktif serta berjaga-jaga terhadap Catfish tersebut. Luarbiasanya, saat tangki tersebut tiba ditujuan, ikan Cod itu masih sesegar dan selezat saat mereka masih berada di daerah timur laut.

Seperti Catfish tersebut, mungkin kesukaran Anda ditaruh ke atas jalan kehidupan Anda untuk suatu maksud. Mungkin kesukaran itu ditaruh disana untuk menantang Anda, menajamkan Anda, membuat Anda tetap segar, menjaga Anda tetap hidup, aktif, serta bertumbuh.

Memang, kadang-kadang rasanya seolah-olah Anda disertai seekor ikan hiu putih besar dalam tangki tersebut, bukannya seekor Catfish, tetapi kesukaran yang sedang Anda hadapi bisa saja merupakan sesuatu yang Tuhan sedang pakai untuk mendorong dan menantang Anda supaya menjadi yang terbaik. Pencobaan itu adalah ujian bagi iman, karakter, dan kesabaran Anda.

Jangan menyerah. Jangan berhenti. Jangan merengek dan mengeluh. Sebaliknya berdirilah teguh dan lakukanlah perjuangan iman yang baik. Tuhan Yesus memberkati.

Copied from a friend… Not originally my writing… ^^

nilai A

Saya sudah selesai merekap nilai mahasiswa ketika dosen saya datang dan menanyakan tentang hasil rekap nilai tersebut. Yup, saat ini saya membantu sebagai asisten dosen yang juga harus memberi nilai.
“Nilai nya nggak ada yang A Pak, tertinggi hanya A-…” lapor saya. Sesuai standar penilaian yang saya terapkan, tidak ada mahasiswa yang mampu mengerjakan tugas-tugas nya dengan sempurna.
“Nggak apa-apa. Kamu rekap dulu lalu kirim ke saya. Nanti ada kebijakan saya…” jawab beliau dengan santainya.

Saat itu saya menyadari bahwa nilai A itu bukan berarti sangat memuaskan. Ketika saya kuliah dulu ada beberapa dosen yang enggan memberi nilai A karena menurut mereka nilai A itu adalah nilai yang sempurna, sangat memuaskan. Namun pengalaman saya berhadapan dengan dosen saya tersebut membuat saya menyadari kebalikannya. Jika kesempurnaan yang dituntut sebagai standar nilai A, maka tidak ada seorang manusia pun yang berhak mendapat nilai A. Bukankah ilmu itu selalu berkembang? Dan tidak ada orang yang menguasai semua ilmu. Tidak ada orang yang selalu tahu ketika diberi pertanyaan yang sulit.

Well, the point is bagi beberapa dosen yang mengerti dan memahami kemanusiaan kita, termasuk saya yang akhirnya baru mengerti bahwa kita manusia, nilai A itu bukan berarti sempurna, sangat memuaskan, tetapi A = anugerah. Why? Karena tidak sepantasnya kita mendapat nilai A karena masih banyak yang tidak kita mengerti dalam ilmu tersebut, tetapi toh karena kemurahan dosen, kita mendapatkan nilai A.

Hahaha, mungkin readers berpendapat so what? Kalau menurut saya sih, banyak orang yang mengejar kesempurnaan, tetapi pada akhirnya menjadi kelelahan karena kesempurnaan itu hanya milik Tuhan semata. Nggak ada manusia yang sempurna. Dalam apapun yang kita kerjakan, lakukan yang terbaik dan percaya saja bahwa Tuhan melihat itu semua. Seperti dosen saya tadi, aya percaya ada kebijakan Nya bagi orang yang mau berusaha. Dia akan memberikan nilai A, bukan karena kita orang yang sempurna dan pantas, tetapi karena anugerah itu diberikan oleh karena kemurahan Nya. That’s why syukuri apa yang ada, dan berusaha untuk menjadi lebih baik lagi…

Menyikapi intoleransi

Akhir-akhir ini berita intoleransi menjadi topik yang sangat hot di berbagai media, terutama media sosial. Orang saling membenci satu sama lain atas dasar perbedaan. SARA kembali diangkat sebagai bahan bakar untuk menyalakan api intoleransi. Tak perlu rasanya saya mengungkit-ungkit berbagai kisah tentang intoleransi, toh berita-berita semacam itu marak lalu lalang di sekitar kita.
Berbicara tentang intoleransi, saya rasa tak perlu jauh-jauh mencari contoh di mana persengketaan terjadi atas dasar perbedaan. Persengketaan bisa juga muncul tanpa ada perbedaan, bahkan di komunitas yang homogen. Lihat saja keadaan di sekitar kita dan hidup kita sehari-hari. Bukankah perselisihan antar sahabat atau antar saudara yang notabene 99% seragam dengan kita sendiri juga sering terjadi. Memang sih hal-hal tersebut sifatnya tidak seekstrim berita-berita yang sedang marak sekarang, tetapi tetap saja terjadi perselisihan, konflik yang berakibat timbulnya kebencian satu sama lain.
Suka atau tidak, pada kenyataannya akan selalu ada orang yang tidak suka dengan kita. Tak perlu jauh-jauh mencari perbedaan, kita mulai dari hal yang sederhana, yaitu perbedaan pendapat. Setiap orang berhak memiliki pendapat masing-masing dan perbedaan pendapat adalah hal yang biasa. Yang terjadi selanjutnya adalah perbedaan tersebut menjadi dipermasalahkan. Kembali lagi, hal ini juga wajar. Anda liat polanya? Ada perbedaan yang biasa lalu dijadikan masalah dan menimbulkan konflik yang berujung pada hubungan yang tidak baik, katakanlah saling membenci satu sama lain.
Kembali soal menyikapi konflik dan ketidaksukaan orang lain. Menurut saya, tak perlu membalas permusuhan dengan permusuhan. Hal itu tak ada habisnya dan justru membuat hubungan yang sudah rusak menjadi semakin rusak. Jika memang karena permasalahan yang sepele lalu membuat orang lain memusuhi kita, tak perlu balik memusuhinya, melainkan tetaplah bersikap baik kepadanya. Dengan melalukan hal itu kita telah menunjukkan kedewasaan yang tidak dimiliki oleh orang itu. Orang yang dewasa mampu membedakan mana hal yang penting dan yang tidak penting untuk dikerjakan.
Memang sih, kadang tidak mudah menahan diri dan emosi, tetapi bukankah hal itu merupakan proses menuju pribadi yang dewasa. Finally, menurut saya dalam menyikapi intoleransi atau konflik apa pun tak perlu tersulut oleh tindakan orang lain. Tetaplah bersikap baik dan membagikan kebaikan kepada sesama. Selamat menjadi orang dewasa…

Love is not because of… but it is in spite of…

What did you fell when someone whom you love hurt you, disappointed you or made you sad? Did you still love them? Perhaps some of you still loved them while the other chose to hate them.

I know that it was not easy when a man who was close to you hurt you badly. However, as you loved him so much, I think you would have not considered the pain that he did. As parents who loved their children so much wouldn’t able to hate them even though they hurt them. Love covered everything.

Now, let’s talk about our relationship with God. I knew and I really did have some hard times that made me hurt, be disappointed even angry at Him. When everything happened was far away from my expectation, I questioned His love. If He were God, he should help me through this hardness. If He loved me, I should not face those problems. There were a lot of excuses that I made for blaming Him.

Yet, did I really have right to do it? Who was I that I could order The Creator? Suddenly my consciousness rebuked me. When I said that I loved him, was it was because I wanted Him always fulfilled my wishes? So when the other way happened, my love turned to a hate. If it was so, then I had no love for Him at all.

True love was still bloom even the condition seemed almost impossible for it. That’s why when I said that I loved Him, I should keep loving Him even though I faced hardness, even though I lost my dreams and hope, even though He didn’t grant my request.  That’s the pure love as He did it to me first. He loved me so much even I was a sinner, even I rebelled to Him and chose walking by myself and pushed Him far away.

At that time I learned to love Him even though…

as I knew and believed in Him that He had and would provide me with the best ones.

Learning from a game #2

 

Untitled-2.jpgThose were some screens from the game that I played. I captured them because I thought it was true. Often we thought other people were bad but we didn’t consider ourselves. When other people did some wicked things toward us and we avenged them by doing the same thing as they had done, I think it made us no different with them.

Perhaps it is unrealistic, but I agree that taking revenge will bring us into a never-ending chain of pain. You see that when we took revenge to someone, he would take revenge to us, then we would do it again. It would be repeated for many times until we were destroyed in the end. In order to end it, I believe we have to stop doing the bad thing to the people who hurt us. On the other hand, we should revenge his bad thing with our good one. It will set free our heart form any malice and maybe it can change him too.

 

Learning from a game ;)

Untitled-1

Those are some scenes from Brave Story game. Never did I imagine to get these sentences from a game. You know, I was fail in my job recruitment and I blamed myself for it. If I have tried harder, maybe I would have got the job. Nevertheles, I can’t change the fact that I was fail.

I was mad at myself for sometime, but it wouldn’t get me better. It just made me tortured indeed. Finally, my friend told me that I had a choice to weep myself or to leave everything behind and take a step forward.  I know, it is not easy. At first, it was really hard for me to stop weeping myself, but in the end I chose to move on.

Sometimes I still feel sad for my failure, but on the other hand I have to convince myslef that everything will be ok. I believe everything happens for my sake. That’s why I have to continue my life with a big smile.

INSIDE OUT

If you have seen this movie, there is a moment when Sadness touched happy memories, they will turn into sad memories. The memory is still same, it’s the emotion that comes out with it that changes.

It happens in real life. Happy memories in the past make you sad once you remember it. It’s mostly because it was actually beautiful, and you know it will never happen again because everything has changed.

Everything changes. Everybody changes. Friend is now a stranger. Families are on the other side. Lover is now the person you hate the most. Your beautiful dream into your worst nightmare.

The movie is for kids but it tells the dark truths. But we can only appreciate Joy if we already know Sadness, right?

NB: I copied it from a friend.

inside-out_sq-10c195eac067977999a233d5fc3b5e5fc70f8fd3-s800-c85