Pemecah batu

Semua Tentang Pekerja Pemecah Batu
“Saya melihat seorang pemecah batu sedang memukul sebongkah batu padas sampai seratus kali tanpa kelihatan retak sedikit pun. Tetapi, pada pukulan ke seratus satu kali, batu itu pecah menjadi dua. Saya tahu bahwa bukan pukulan terakhir itu yang membelah batu, tapi semua pukulan yang telah dilakukan sebelumnya” (Jacob Rils)

When you want to give up

When you want to give up
Please consider what you have done
Remember what your goal is
Remind yourself about the hardness that you endured
Recall your achievements and how hard you struggled for them

When you want to give up
Believe that there is a success which is waiting for you
Stop doubting yourself as you are created unique and the only one
Convince yourself that your dream is coming true
Keep on your feet and pace yourself

Coz you determine your success so don’t give up yet…

When God answer the pray 13

God, where are you God? Where are you?

I’m here My son. What happened? Why are you crying?

God, you know. You know what happened. You know that I just ruined my exam. I ruined everything.

I do know…

Then, why didn’t You help me? Where were You? You know I got bad comments. When presenting my work, the professors criticized me. I’m done, God. I won’t pass this exam. However, You did nothing to help me. You kept silent and let them attacked me cruelly.

 My son, I did help you. When you get the topic that you had to make a presentation, you were really happy, weren’t you? I know you excel in it so I chose it for you.

Ok God. You are right about that part, but still I ruined it. You knew from beginning it would happen, did You? I know that You did it on purpose. Did You want me failed?

Of course not My son. Don’t be angry with me. I did everything for your sake. Didn’t you remember that you almost lost your chance to take the exam? It was Me that helped you. I let them gave you one more chance when some of your friends didn’t get the chance. For doing it, you even didn’t thank Me…

Ok God, I thank You. I admit You’re right…

About their critics, wasn’t it good for you? You knew what were you lacking at and you could improve yourself. I really did it on purpose. I wanted you to learn something.

I admit that I was not good. I was disappointed with myself and I wanted to blame it on someone. I knew what they had spoken was right. But still, I couldn’t accept it. No matter how much I learned, the fact that I ruined my exam would not change.

Stop judging yourself. Instead of weeping, you should be grateful for everything you have. You have had a chance to take the exam and you have got some critics which are good for improving yourself. About the result of your exam, trust it on Me. You don’t have any idea about what am I doing but keep complain on Me.

God, I’m sorry. I’m sorry because I don’t thank You. I forget to thank You… It just really shatters me. I’m done…

I’m not yet done even you are. I’ve did everything for you and I still do it. Don’t lose hope, my Son. Believe in Me and you will see what will I do to you.

….

Cinta

musim_semi

Katakan kepadaku mengapa kau mencintaiku?

Apakah karena aku rupawan, atau aku jenaka, atau aku cerdas?

Apakah karena aku kaya, atau aku berdarah bangsawan, atau aku artis?

Apakah karena aku anakmu, aku saudaramu atau aku pasanganmu?

Kalau semuanya itu tidak ada padaku, apakah kau masih mencintaiku?

Akankah kau juga akan mencintaiku jika aku adalah orang asing?

Jika kau tak mengenalku bukankah tak ada alasan bagimu untuk menyukaiku?

Alasan, apakah diperlukan alasan untuk mencintai?

Jika tak ada alasan apakah cinta juga tak kan ada?

Beritahu aku jawabanmu…

 

is is just?

Will you tell me what kind of just is…

Does divide something to the same pieces can define what just is…

Is it just for giving wages to a man who life with his four kids as many as man who live alone?

Or should he who has four kids gets more than he who has not…

Is it just for giving food to a healthy teen as much as a toodler?

Or should the bigger one gets more than the little one…

Since he need more…

 

Maybe giving the same amount to them is just…

But giving a man what is he really need…

It is not just, instead it is wise…

Wanita itu

“Ibuku kemarin meninggal,” kata wanita itu sambil tetap tersenyum seperti biasanya saat aku mendapati keramaian di rumahnya. Aku hanya mampu berdiam diri, tak tahu harus mengatakan apa, sementara wanita itu terus berbicara tentang kepergian ibunya dengan santainya. Hingga dia meninggalkanku, ucapan belasungkawa pun tak mampu meluncur dari mulutku. Entah apa yang membuatku seakan-akan membatu, apakah karena kabar kematian ibunya, aku memang tidak terlalu mengenal ibunya, aku hanya mengenal wanita tua ramah itu sebagai pemilik kontrakan tempat tinggalku, atau karena sikap wanita itu yang menurutku tidak wajar. Seseorang yang dirundung duka tidak seharusnya bersikap seakan-akan semuanya baik-baik saja.
“Mbak Dina,” kata Ricky, tetangga kontrakanku menyebutkan nama wanita itu saat kami duduk di teras. Bahkan namanya pun aku tidak tahu, padahal kontrakanku berada di belakang rumahnya.
“Ibunya meninggal kemarin,” kataku menimpali ucapan Ricky. Ricky hanya mengangguk mengiyakan.
“Kau tahu Gas,” kata Ricky lagi, “Mbak Dina itu punya anak tujuh…” Mendengar ucapan Ricky aku merasa terkejut, memang aku pernah bertemu dengan anak-anaknya, tetapi selama ini aku hanya menghitung empat saja.
“Anak-anak yang lebih besar dimasukkan ke asrama,” lanjut Ricky seakan bisa membaca pikiranku. “Kasihan ya, keluarga mereka tidak sanggup mengurus anak-anak itu…” Aku mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan Ricky. Keluarga itu memang bukan keluarga yang berada. Rumah kontrakanku ini pun cukup sederhana dan terbilang murah untuk ukuran rumah setipenya. Karena harganya yang cukup miring itulah akhirnya aku memutuskan mengontrak di sini, meskipun tempatnya sangat sederhana.
“Kasihan lho Gas, ibu itu,” kini Ricky mengalihkan topik pembicaraan kepada ibu wanita itu. ‘Di usianya yang senja, ibu itu masih harus mengurus cucu-cucunya, apalagi kesehatannya tidak terlalu baik.” Kembali aku mengangguk-angguk. Memang aku tahu beberapa kali ibu wanita itu sempat masuk rumah sakit. “Kenapa ya ibu itu bisa jadi seperti itu, padahal dulu dia sehat sekali. Ibu itu orang yang baik mungkin karena itu dia cepat dipanggil Tuhan. Meskipun mereka bukan keluarga kaya, tetapi ibu itu suka berbagi dengan tetangga, bahkan dulu dia sempat membantuku melunasi hutangku.” Ricky menerawang ke langit memandang bintang yang berkelip, mengingat masa yang telah lalu.
“Mbak Dina itu istri ketiga. Setelah punya tujuh anak, suaminya meninggalkannya dan menikah lagi,” Ricky kembali melanjutkan ceritanya tentang wanita itu. Setidaknya ucapannya itu menjawab pertanyaanku di mana ayah anak-anak itu, selama ini aku belum pernah melihat ayah mereka, sekaligus menjelaskan mengapa anak-anak itu sering bermain ke kontrakanku atau kontrakan yang lain, mereka tidak mendapatkan figur seorang ayah dan mencari teman untuk menemani mereka bermain. Dalam hati aku merasa sedikit menyesal karena sempat mengusir anak-anak itu ketika mereka memasuki kontrakanku tanpa dipersilakan, meskipun dengan cara halus.
“Aku juga nggak tahu mengapa dia mau jadi istri ketiga…” Ricky terus saja mengoceh sementara aku sudah tidak lagi mendengarkan apa yang diucapkannya. Kepalaku dipenuhi oleh bayangan wanita itu, senyum tulus tanpa beban yang selalu menghiasi wajahnya setiap kali kami bertemu itu sangat menggangguku. Aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang wanita itu, tidak tahu tentang pahitnya hidup yang harus dijalaninya, tidak tahu apa makna dibalik senyum lepasnya. Entah bagaimana rasanya memiliki tujuh orang anak, ditinggalkan suami, bahkan harus berpisah dengan anak-anaknya, memasukkan mereka ke asrama karena tidak mampu membiayai hidup mereka. Hampir setiap hari kami bertemu, tetapi aku sama sekali tak tahu apa-apa tentang wanita itu. Aku hanya tahu wanita itu selalu tersenyum ramah kepada semua orang. Dalam hati aku kagum terhadap ketegaran wanita itu, kemampuannya untuk terus tersenyum. Mungkin senyuman wanita itu tidak mampu mengubah suratan hidupnya, tetapi senyumannya itu telah mengubah caraku memandang hidup. Wanita itu, tak peduli bagaimana pun keadannya, telah mengajariku untuk menyambut hidup dengan sebuah senyuman.

IMG20151026063050
art by my sister

Indonesia

Indonesia kah kita ketika setiap hari duduk di gerai fast food menikmati lezatnya junk food

Tak pernah mengenal apa itu tiwul, klepon, oncom, dan para sahabatnya

Indonesia kah kita ketika lebih fasih melontarkan kalimat dalam bahasa Inggris

Namun merasa kesulitan ketika mendengar orang tua berbicara bahasa daerah

Indonesia kah kita saat lihai memainkan piano, organ, drum, biola, saxophone

Tetapi belum pernah sekalipun menyentuh gamelan, kenong, gong, kulintang

Indonesia kah kita saat dengan bangga menenteng tas impor saat melenggang di mall

Sementara banyak barang made in Indonesia melancong ke benua lain

Siapakah kita, siapakah orang Indonesia

Apakah karena kita lahir di Indonesia menjadikan kita orang Indonesia

Masihkah kita menjadi orang Indonesia ketika menutup telinga terhadap keluhan saudara di Papua

Layakkah kita disebut orang Indonesia saat mengurangi angka nol di lembaran pajak

Pantaskah kita mengaku orang Indonesia saat mempergunakan kekuasaan untuk menindas tetangga

Jika dengan lantang kita menyebut diri orang Indonesia

Apakah yang telah kita lakukan bagi Indonesia

Jangan-jangan kita bukannya berkarya mengisi kemerdekaan

Tetapi malah menginjak-injak semangat kemerdekaan, persatuan, nasionalisme

Yang diperjuangkan dengan darah dan keringat 70 tahun lalu

Hanya untuk satu harapan, kemerdekaan bagi semua rakyat Indonesia

Bukan kelompok 17, suku 8, atau geng 45

Dirgahayu Indonesia