Jangan mati di umur 25…

Screenshot_2015-06-09-22-29-21

Jangan MATI di umur 25…

Karena waktu terlalu MAHAL bila digunakan untuk mengerjakan sesuatu yang tidak kamu suka…

Jangan MATI di umur 25…

Karena hidup terlalu BERHARGA untuk dihabiskan di dalam kubikal…

Jangan MATI di umur 25…

Karena kamu baru melihat SETITIK saja wajah dari dunia ini…

Jangan MATI di umur 25…

Karena yakinlah… pintu rejeki ada dalam berbagai macam rupa…

Kamu hanya perlu melihat… sedikit lebih dalam…

Sumber: Daily Manly

FEAR

F-E-A-R can be defined by two ways:

1. Forget Everything And Run.

2. Face Everything And Rise.

Now the choice is yours

1078872_44288931

saya tidak iri…

saya tidak iri kepada teman-teman saya meskipun setiap pulang sekolah mereka dijemput naik mobil sedangkan saya hanya dijemput oleh ayah saya naik sepeda, karena yang menjemput adalah ayah saya sendiri, bukan sopir… ‪#‎copiedfromateen‬

i’m not envy to my friends even every day after class ends they going home picked by luxurious cars, so different with me who always picked by my dad and his old bicycle, because it’s my dad who picks me, not a driver… #‎copiedfromateen‬

The great peopl…

The great people are not they who do great things, but they who have willingness to do the trivial things. It’s because they’re great enough to do the things that others don’t want to do…

Terakhir Yang Religius

Menjelang Kematiannya
Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milik-ku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus
kulakukan untuk milik-Nya itu ???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan
milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan
itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai
musibah,
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai
petaka,
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk
melukiskan kalau itu adalah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok
dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
Kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukum bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan
seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita
menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap
menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan
kekasih
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai
keinginanku
Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku
hanya untuk beribadah.
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan
keberuntungan sama saja”….

W.S. Rendra