Ketika sayap-sayapku patah

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Ketika sayap-sayapku patah

Dan ku tak bisa terbang tinggi

Bersama awan-awan di langit biru

Apa yang harus ku lakukan?

Akankah ku terus berdiam diri

Memandangi sayap-sayap yang terkulai itu

Tidak!

Sayap-sayapku boleh saja patah

Tapi semangatku tak boleh patah

Meskipun ku tak bisa terbang di langit biru

Namun dengan kedua kaki kecilku

Ku masih dapat berlari mengejar matahari

Advertisements

MAAF

Beberapa minggu sudah berlalu sejak hari raya Lebaran, tetapi nuansa saling meminta maaf masih terus berlangsung. Ketika bertemu dengan orang yang dikenal maka kata mohon maaf lahir batin terucap dari bibir. Tak peduli apakah orang itu muslim atau non muslim, saling meminta maaf menjadi bagian yang tak terpisahkan dari momen Lebaran. Sungguh indah, setidaknya sekali dalam setahun ada momen untuk menyambung silaturahmi dan saling memaafkan. Susah lho sebenarnya meminta maaf itu, apalagi memberi maaf. Bagi yang merasa, jangan senyam-senyum sendiri.

Terlepas dari momen Lebaran, setiap orang pasti pernah bermaaf-maafan. Ijinkanlah aku bertanya, apakah ketika meminta maaf, atau memberi maaf, itu benar-benar tulus dari hati, atau hanya sekadar ritual dan formalitas. Karena semua orang melakukannya, maka mau tidak mau kita pun ikut-ikutan melakukan hal itu. Sorry to say, jika demikian kata maaf hanya menjadi hiasan di bibir yang tidak bermakna apa pun. Jika ditinjau lebih jauh, bukankah maaf itu merupakan pengakuan atas kesalahan dan meminta maaf berarti mengakui keselahan yang telah diperbuat. Akan tetapi, ketika meminta maaf hanyalah sebuah formalitas, maka tidak ada penyesalan saat meminta maaf. Lantas jika demikian apa bedanya? Bukankah diucapkan atau tidak diucapkan pun sebenarnya tidak ada bedanya? Hahaha… silakan pikir sendiri dan jawab sendiri deh…

Itu tadi bagian yang meminta maaf. Lalu sekarang kita beranjak ke bagian yang memberi maaf. Aku ingin bertanya, antara meminta maaf dan memberi maaf, mana yang lebih susah? Mungkin sebagian dari kita akan menjawab bahwa meminta maaf lebih susah, sedangkan yang lain menjawab sebaliknya. Tak masalah sih. Menurut aku jika benar-benar dilakukan dari hati, sebenarnya keduanya sama susahnya. Di atas sudah aku singgung bukan betapa tidak mudah meminta maaf itu? Lalu siapa bilang memberi maaf, atau memaafkan, itu mudah? Aku seringmendengar orang bilang bahwa dia memaafkan tetapi tidak melupakan. Menurut aku sih itu bulshit. Mana bisa memaafkan tetapi masih terus menyimpan perkara itu dalam hati? Lalu jika misalnya orang itu melakukan kesalahan yang sama, atau mungkin kesalahan yang berbeda bisa juga sih, perkara yang lalu, yang katanya sudah dimaafkan tetapi kenyataannya disimpan dalam hati, pasti akan diungkit-ungkit lagi. Jika demikian memaafkan nya di mana? Apakah memaafkan itu sifatnya musiman, jika sedang ada momen memaafkan, semua dimaafkan, setelah musim itu lewat dan orang itu berbuat salah, maka kesalahan yang dulu-dulu diungkit lagi? Jika demikian yang terjadi mah itu nggak memaafkan namanya. Sama dengan yang di atas, memaafkannya cuma di bibir saja, terpaksa karena mengikuti sikon, tetapi di hati sebenarnya masih tersimpan dendam dan menunggu kesempatan untuk membalas dendam tersebut.

Well, itu sih yang terlintas di pikiranku ketika menghadapi momen saling bermaaf-maafan ini. Semoga pembaca yang budiman tidak demikian yah. Dan sebuah refleksi dari aku sendiri, jadi lebih berhati-hati ketika mengucapkan kata maaf, sorry, dan sejenisnya. Anyway, semoga kita semua menjadi lebih sempurna dalam hal meminta dan memberi maaf…

Travelling dan hidup…

stranded_main

Seminggu ini aku berada di Jakarta karena urusan pekerjaan, lebih tepat nya terjebak di Jakarta karena berangkat ke Jakarta mendadak dan tidak mendapat tiket pulang ke Solo dengan harga yang wajar. Jadi ya OK lah sementara ini stay dulu di Jakarta. Selama beberapa hari berada di sini tentunya aku pergi mengunjungi tempat-tempat wisata yang memang hitz di Jakarta. Nggak Cuma mall aja lho ya yang bisa dikunjungi haha…

Anyway, ketika berada dalam busway menuju ke salah satu tempat wisata itu, sebuah pikiran melintas di kepalaku. Dia berkata nikmati perjalannya. Travelling is not only about the destination, but also about the journey too. Memang sih berada di Jakarta yang macet abizzz, bahkan ketika libur lebaran yang katanya Jakarta sepi menurut aku sih masih tetep macet, hoax itu yang bilang kalau lebaran Jakarta sepi hahaha…. Ok kembali ke topik kemacetan di Jakarta, semua orang mah pasti nggak ada yang menikmati kemacetan. Berbeda tentunya kalau perjalannya menyenangkan, pasti semua orang akan menyukainya. Tetapi kalau jalannya macet, lama, jauh pasti bête abis. Mending di rumah saja, nggak usah pergi, perginya berjam-jam di sana nya cuma beberapa jam, terus nanti pulangnya masih harus berjuang melawan kemacetan lagi, begitu sih pemikiranku.

Nah pemikiran seperti itu yang membuat aku lupa menikmati travelling nya. Karena fokus ku hanya kepada tujuan, yaitu tempat wisata nya, tetapi menganggap perjalanan ke sana sebagai hal yang terpisah dan bukan bagian dari travelling maka aku menganggap perjalan sebagai sesuatu yang menjemukan. Padahal it’s totally wrong. Menikmati perjalanan termasuk bagian dari menikmati suatu petualangan. Tentunya dalam petualangan itu ada hal yang berat da nada yang ringan, ada yang menyenangkan dan ada yang tidak menyenangkan. Tetapi itu adalah satu paket yang harus diterima. Aku nggak akan merasa senang pada akhirnya kalau aku nggak menerima perjalanan itu sebagai bagian dari travelling ku. Ketika aku bersungut-sungut, yang ada adalah aku kehilangan kegembiraan yang seharusnya kudapatkan dari travelling keliling Jakarta itu.

Well, hal yang sama juga dapat diterapkan ketika menghadapi hidup ini. Tentu dalam hidup ini ada banyak tujuan-tujuan yang telah ditetapkan, baik itu tujuan jangka pendek maupun tujuan jangka panjang. Sebagai anak sekolah misalnya, tentu semua orang pernah mengalami menjadi anak sekolah bukan, tujuan mereka adalah mencapai nilai yang bagus, naik kelas/ lulus dengan prestasi yang baik. Jika kegembiraan diukur dengan pencapaian tersebut maka yang ada adalah hidup mereka sangat mengenaskan. Coba saja dihitung sebelum ujian belajarnya berapa lama, ujiannya hanya beberapa jam dan pembagian rapor hanya sekali tiap semester. Kalau mereka gembira hanya pada saat akhir semester karena nilainya bagus, toh hanya bertahan beberapa jam atau beberapa hari saja. Bandingkan dengan kesusahan yang dialami sepanjang semester harus belajar dll. Namun, bukankah tidak demikan? Kegembiraan itu termasuk satu paket dengan belajar nya. Ketika kita bisa menguasai sesuatu dan melihat belajar sebagai sesuatu yang menyenangkan maka perjalanan satu semester itu tidak merupakan sebuah beban tetapi menjadi menyenangkan.

Well, that’s my point. Nikmatilah hidup seperti sebuah perjalanan. Dalam proses nya apsti ada hal yang nggak enak tapi toh ada hal yang menyenangkan juga. Mungkin kegagalan dan masalah memang bukan tujuan kita, tetapi itu adalah bagian dari perjalanan dan proses yang mau nggak mau harus dinikmati untuk mencapai tujuan kesuksesan. Selamat menikmati hidup dengan paket yang sempurna, including the failure dishes…

Ikan Cod dan Catfish

Bertahun-tahun yang lalu, menjala ikan Cod di daerah timur laut menjadi sebuah bisnis komersial yang sangat besar. Industri perikanan mengakui bahwa ada sebuah pasar besar bagi ikan Cod di seluruh Amerika, tetapi mereka mempunyai masalah besar didalam pendistribusiannya. Awalnya mereka hanya membekukan ikan itu, seperti yang mereka lakukan pada semua produk mereka yang lain, dan mengapalkannya ke seluruh negeri.

Tetapi untuk alasan-alasan tertentu, setelah ikan Cod itu dibekukan, ikan tersebut kehilangan rasa khasnya. Jadi para pemilik memutuskan untuk mengapalkan ikan-ikan dalam tangki-tangki besar yang diisi dengan air laut segar. Mereka mengira bahwa pastilah itu akan menyelesaikan masalah tersebut dan menjaga kesegaran ikan.Tetapi mereka kecewa, karena proses ini hanya membuat masalah menjadi semakin buruk. Karena ikan itu tidak aktif dalam tangki, sehingga menjadi lunak dan seperti bubur, dan sekali lagi ikan-ikan itu kehilangan rasa khasnya.

Suatu hari, seseorang memutuskan untuk menaruh beberapa Catfish (ikan kucing) dalam tangki dengan ikan Cod. Catfish adalah musuh alami ikan Cod, jadi sementara tangki itu berjalan ke seluruh negeri, ikan Cod tersebut harus tetap waspada dan aktif serta berjaga-jaga terhadap Catfish tersebut. Luarbiasanya, saat tangki tersebut tiba ditujuan, ikan Cod itu masih sesegar dan selezat saat mereka masih berada di daerah timur laut.

Seperti Catfish tersebut, mungkin kesukaran Anda ditaruh ke atas jalan kehidupan Anda untuk suatu maksud. Mungkin kesukaran itu ditaruh disana untuk menantang Anda, menajamkan Anda, membuat Anda tetap segar, menjaga Anda tetap hidup, aktif, serta bertumbuh.

Memang, kadang-kadang rasanya seolah-olah Anda disertai seekor ikan hiu putih besar dalam tangki tersebut, bukannya seekor Catfish, tetapi kesukaran yang sedang Anda hadapi bisa saja merupakan sesuatu yang Tuhan sedang pakai untuk mendorong dan menantang Anda supaya menjadi yang terbaik. Pencobaan itu adalah ujian bagi iman, karakter, dan kesabaran Anda.

Jangan menyerah. Jangan berhenti. Jangan merengek dan mengeluh. Sebaliknya berdirilah teguh dan lakukanlah perjuangan iman yang baik. Tuhan Yesus memberkati.

Copied from a friend… Not originally my writing… ^^

Pemecah batu

Semua Tentang Pekerja Pemecah Batu
“Saya melihat seorang pemecah batu sedang memukul sebongkah batu padas sampai seratus kali tanpa kelihatan retak sedikit pun. Tetapi, pada pukulan ke seratus satu kali, batu itu pecah menjadi dua. Saya tahu bahwa bukan pukulan terakhir itu yang membelah batu, tapi semua pukulan yang telah dilakukan sebelumnya” (Jacob Rils)

nilai A

Saya sudah selesai merekap nilai mahasiswa ketika dosen saya datang dan menanyakan tentang hasil rekap nilai tersebut. Yup, saat ini saya membantu sebagai asisten dosen yang juga harus memberi nilai.
“Nilai nya nggak ada yang A Pak, tertinggi hanya A-…” lapor saya. Sesuai standar penilaian yang saya terapkan, tidak ada mahasiswa yang mampu mengerjakan tugas-tugas nya dengan sempurna.
“Nggak apa-apa. Kamu rekap dulu lalu kirim ke saya. Nanti ada kebijakan saya…” jawab beliau dengan santainya.

Saat itu saya menyadari bahwa nilai A itu bukan berarti sangat memuaskan. Ketika saya kuliah dulu ada beberapa dosen yang enggan memberi nilai A karena menurut mereka nilai A itu adalah nilai yang sempurna, sangat memuaskan. Namun pengalaman saya berhadapan dengan dosen saya tersebut membuat saya menyadari kebalikannya. Jika kesempurnaan yang dituntut sebagai standar nilai A, maka tidak ada seorang manusia pun yang berhak mendapat nilai A. Bukankah ilmu itu selalu berkembang? Dan tidak ada orang yang menguasai semua ilmu. Tidak ada orang yang selalu tahu ketika diberi pertanyaan yang sulit.

Well, the point is bagi beberapa dosen yang mengerti dan memahami kemanusiaan kita, termasuk saya yang akhirnya baru mengerti bahwa kita manusia, nilai A itu bukan berarti sempurna, sangat memuaskan, tetapi A = anugerah. Why? Karena tidak sepantasnya kita mendapat nilai A karena masih banyak yang tidak kita mengerti dalam ilmu tersebut, tetapi toh karena kemurahan dosen, kita mendapatkan nilai A.

Hahaha, mungkin readers berpendapat so what? Kalau menurut saya sih, banyak orang yang mengejar kesempurnaan, tetapi pada akhirnya menjadi kelelahan karena kesempurnaan itu hanya milik Tuhan semata. Nggak ada manusia yang sempurna. Dalam apapun yang kita kerjakan, lakukan yang terbaik dan percaya saja bahwa Tuhan melihat itu semua. Seperti dosen saya tadi, aya percaya ada kebijakan Nya bagi orang yang mau berusaha. Dia akan memberikan nilai A, bukan karena kita orang yang sempurna dan pantas, tetapi karena anugerah itu diberikan oleh karena kemurahan Nya. That’s why syukuri apa yang ada, dan berusaha untuk menjadi lebih baik lagi…