Salahkah aku…

Salahkah aku jika aku tak memiliki tempat untuk kusebut ‘rumah’, bagiku bangunan yang mereka sebut rumahku adalah medan pertempuran ayah dan ibu…

Salahkah aku jika laki-laki yang kupanggil ‘ayah’ mencari daun muda karena daun yang bertahun-tahun menemaninya tidak sehijau saat pertama kali dipetik…

Salahkah aku jika perempuan yang mereka bilang melahirkanku rela meninggalkanku demi emas dan berlian buah tangan dia yang bernama ‘ketenaran’… 

Salahkah aku jika otakku telah tewas dalam rumah medan pertempuran yang senantiasa kuhadapi sehingga tinta semerah darah mengucur membasahi kertas-kertas ujianku…

Salahkah aku jika guru-guruku memberikan alamat palsu kepadaku sehingga tiap kali kucari mereka yang kutemui hanyalah kursi kosong di ruang guru…

Salahkah aku jika sekumpulan orang-orang yang menyebut diri mereka ‘teman’ hanyalah orang-orang yang bermulut manis namun berhati pahit…

Salahkah aku jika dia yang kau katakan sahabatku ternyata tak ubahnya manusia bermuka dua yang mengirisku tipis-tipis di belakangku…

Salahkah aku jika orang yang bersamanya aku berharap untuk menghabiskan sisa hidupku mencampakkanku begitu saja karena aku belum siap menghadapi orangtuanya…

Salahkah aku jika aku menikmati perhatian yang kudapatkan di luar gerbang sekolah dari mereka yang kau sebut gembel, anak jalanan…

Salahkah aku jika sebatang rokok menjadi teman yang setia di kala suka dan duka, selalu menghiburku lewat kesunyian yang kunikmati…

Salahkah aku saat kukembalikan dompet yang kutemukan di jalan namun ibu pemiliknya malah meneriakiku ‘maling’ dan hampir saja aku mampus di tangan sekelompok orang yang mengatasnamakan hukum demi memuaskan hasrat mereka menghajar tubuh kurusku…

Salahkah aku saat kutemukan sebuah dompet namun tak kukembalikan meskipun identitas pemiliknya masih tertinggal di sana karena aku tak ingin bernasib naas seperti waktu itu…

Salahkah aku karena aku memilih menikmati hidup yang kujalani sekarang, bebas, lepas, tak peduli pada mereka yang bernama ‘norma’ dan ‘hukum’…

Katakan kepadaku apakah salahku sehingga kau memandangku seolah-olah aku adalah pelaku kejahatan kelas kakap, padahal aku hanyalah seorang korban…

Aku adalah satu dari sekian banyak korban situasi yang tak bersahabat, keluarga yang tak harmonis, dan kehidupan yang kejam…

Advertisements

KUMULAI DARI DIRI SENDIRI

song and lyric by.Pontas Purba 

Kumulai dari diri sendiri
Untuk melakukan yang terbaik
Kumulai dari diri sendiri
Hidup jujur dengan hikmat Tuhanku
          Tekadku Tuhan mengikutmu selama hidupku
          Berpegang teguh kepada iman dan percayaku
Akan kumulai dari diriku
Melakukan sikap yang benar
Biarpun kecil dan sederhana
Tuhan dapat membuat jadi besar

Kumulai dari keluargaku
Menjadi pelaku firman-Mu
Slalu mendengar tuntunan Tuhan
Berserah pada rencana kasih-Mu
          Kadang-kadang lain jawaban Tuhan atas doaku
          Kupegang teguh Tuhanku memberikan yang terbaik
Kumulai dari keluargaku
Hidup memancarkan kasih-Mu
Walaupun lemah dan tidak layak
Kuasa Tuhan menguatkan diriku

God is knowable but incomprehensible

He: God is knowable but incomprehensible…  (pasang status di BB)

Me: Maksude statuse ko?

He:Tuhan dapat kita kenal melalui banyak hal yang Dia nyatakan, tapi kita manusia tidak dapat menyelaminya seutuhnya…

Me: Hmmm pilihan katae bagus… menyelamiNya… (y)

He: Iya… Ni ada jemaat KK anak e umur seminggu meninggal, pada punya anak setelah 13 th merried… Sedih banget ya… Trus maksude Tuhan i apa coba?? Bingung.. 🙂 That’s why kita ndak isa menyelami karyaNya seutuhnya…

Me: Hmmm iya sih kadang bingung jg maunya Tuhan gmn…

Sebuah percakapan singkat melalui BBM antara aku dan koko senior =) tapi membuatku terus berpikir. Memang jika dipikir ada banyak hal yang tidak dapat dimengerti oleh manusia tentang Tuhan. Manusia terus berusaha mencari tahu tentang hal-hal yang terjadi dalam hidupnya, mengapa hal ini terjadi, apa maksud Tuhan? Well, barangkali tidak semua manusia berpikir begitu, but setidaknya aku termasuk salah satu yang bergabung dalam kelompok pemikir hehehe…

Aku termasuk orang yang selalu bertanya mengapa, mengapa dan mengapa. Aku percaya segala sesuatu yang terjadi pasti ada tujuannya dan bagiku menemukan tujuan itu adalah suatu keharusan, karena dengan mengetahui tujuan dari setiap hal yang terjadi akan membawaku semakin dekat dengan Tuhan dan pengenalanku akan hidup ini.

Selama ini aku berusaha mencari dan mencari, mencari tujuan hidup. Aku selalu bertanya-tanya ‘Tuhan apa maumu?’, ‘Tuhan tolong katakan padaku apa yang harus aku lakukan?’, ‘Tuhan aku harus bagaimana?’, ‘Tuhan apakah ini pilihan yang benar?’ dll, pokoknya banyak hal yang sering kutanyakan, mengapa, bagaimana, apa, siapa, kapan, dan barangkali Tuhan juga sudah bosen ya mendengarkan setiap pertanyaanku, keluhanku, rengekanku.

Aku rasa adalah hal yang wajar bagi manusia untuk ingin tahu segala sesuatu. Aku ingat cerita tentang seorang bapa gereja yang berusaha untuk memahami Tuhan, mencari tahu dan beljar agar bisa mengenal dan mengerti Tuhan. Suatu hari bapa itu sedang berjalan-jalan di pantai dan beliau melihat seorang anak yang sedang menggali sebuang lubang di pasir, kemudian anak itu membawa embernya, mengambil air laut dan memasukkannya ke dalam lubang yang baru saja digalinya itu. Demikianlah anak itu mengulang-ulang tindakannya, mengambil air laut dan memasukkannya ke dalam lubang kecil di pantai.

“Nak apa yang sedang kau lakukan?” tanya bapa itu yang heran melihat perbuatan si anak.

“Aku sedang memasukkan air laut ke dalam lubang ini. Aku akan memasukkan semua air laut ke dalam lubang buatanku.” Jawab anak kecil itu mantap.

“Tapi nak, hal itu tentu saja tidak mungkin, air laut begitu banyak sedangkan lubang buatanmu itu sangat kecil, bahkan baru kau isi dengan beberapa ember air saja sudah hampir penuh, bagaimana kau dapat memasukkan semua air laut ke dalam lubang ini?” tanya bapa itu dengan sedikit geli.

“Demikian juga bapa, bukankah Tuhan itu terlalu besar untuk dimengerti oleh manusia yang kecil dan terbatas…” jawab si anak itu lagi.

Well, sampai di titik ini aku tidak yakin apakah Tuhan yang berbicara melalui mulut seorang anak kaceil, atukah sang bapa gereja menyadarinya sendiri setelah merenungkan kejadian tersebut. Pada intinya adalah manusia yang terbatas tidak mungkin dapat mengerti dan memahami Tuhan yang tidak terbatas. That’s the point.

Lalu apakah semua pertanyaan-pertanyaanku berarti tidak akan pernah kutemukan jawabannya, apakah pencarianku tentang makna kehidupan, tujuan hidup tidak akan pernah berakhir, dan bagaimana aku dapat mengerti Tuhan jika aku tidak sanggup dan tidak dapat mengertiNya, bagaimana aku dapat mencari dan mengerti kehendakNya?

Jawabannya cukup sederhana, seorang senior pernah berkata kepadaku, ada tiga cara untuk mengetahui kehendak Tuhan, pertama Tuhan sendiri yang berbicara secara langsung, seperti melalui pewahyuan, kedua Tuhan berbicara melalui diri kita sendiri, melalui suara hati kita yang menuntun kita untuk membuat suatu keputusan tertentu, ketiga Tuhan menggunakan situasi dan kondisi sekitar kita untuk menuntun kita, bisa menggunakan orang tua, teman, atau suatu keadaan tertentu yang memaksa kita untuk mau tidak mau mengambil keputusan yang sebenarnya tidak kita ingini. Tentunya tidak mudah untuk mendengarkan suara Tuhan, mencari kehendakNya. Dibutuhkan kepekaan dan hubungan rohani yang baik dengan Tuhan, HPDT yang sehat, hubungan pribadi dengan Tuhan, sudah lama aku tidak menggunakan istilah itu =).

Kembali berbicara mengenai menyelami Tuhan, saat aku menonton IMB hari Sabtu kemarin, maklumlah aku termasuk salah satu IMB lovers, komentar Titi Rajobintang saat mengomentari pertunjukan Sandrina membuatku berpikir keras, dia berkomentar bahwa seni kontemporer itu tidak harus dimengerti, konsep nya memang tidak mengharuskan penonton untuk dapat mengerti, tetapi yang penting adalah penonton menikmati pertunjukan itu. Statement itu menancap dalam pikiranku dan mengaduk-aduk otakku yang saat itu sedang bersemangat, kebetulan saja sih sebenarnya.

Aku berpikir memang dalam seni konsep yang diusung tidak harus dapat dimengerti oleh semua orang, sebagai mantan mahasiswa jurusan arsitektur, karena menurutkau aku masih belum dapat dikatakan arsitek sungguhan =), banyak karya-karya desain aliran postmodern yang memang luar biasa bagusnya dan indahnya tetapi aku tidak bisa memahami konsep yang diusung sang arsitek, mengapa bentuk yang demikian bisa terjadi, but overall aku mengakui desainnya memang bagus dan mendapat pengakuan dari dunia.

I think seperti itulah juga Tuhan, bukankah Tuhan juga desainer agung, sang arsitek agung, barangkali memang Tuhan tidak ingin agar manusia tahu ada apa di balik segala sesuatu yang terjadi, bukan kehendak Tuhan agar manusia mengerti, tapi Tuhan hanya ingin manusia menikmati apa yang telah dijadikanNya, tanpa manusia itu mengerti. Just enjoy it, enjoy yourlife. Tidak perlu pusing memikirkan segala sesuatunya. Barangkali perumpamaannya adalah sama seperti matahari, kita tidak tahu apa itu matahari, mengapa matahari bisa tercipta, untuk apa matahari ada, memang ada banyak ilmuwan yang berusaha mencari tahu tentang teori-teori sains dan mempelajari matahari, tapi bukankah tanpa mengetahui itu semua kita masih tetap dapat menikmati matahari, dapat menikmati cahaya matahari pagi yang hangat, teriknya siang hari yang menyengat kulit, bahkan mengabadikan sunset yang luar biasa indahnya di pantai. Semua itu dapat dilakukan tanpa perlu mengetahui dan mempelajari matahari.

Lalu bagaimanakah caranya untuk mengetahui kehendak Tuhan, mengetahui apa maunya Tuhan?

Berikut kutipan percakapanku via BBM dengan seorang teman…

Me: Jika jawabanMu tidak seperti yang kuingini, birlahku tetap percaya bahwa kehendakMu yang terbaik bagiku… (pasang status BBM, itu lirik lagu yang dinyanyikan di gereja Minggu kemarin, judulnya Biarlah kumulai dari diri sendiri (kalau ga salah hehehe…))

She: Piye kotbah hari ini?

Me:Ha5 intie taat sama Tuhan g tau maune Tuhan gmn bagian kita taat n Tuhan bakal mmampukan mnghadapi segalanya

She: Lalu piye cara e tau itu mau e Tuhan bukan?

Me: Nah itu msh pergumulan jg sih. Tpi nek mau bner2 mncari kehendak Tuhan pasti bakal ktemu. Dlm tiap hal Tuhan berbicara trmsk dlm hal2 kcl skalipun.

She: Aku bingung juga. Aku selama ini mencari2, tapi bingung cara nyari e piye

Me: Org kalo terlalu sibuk nyari kadang mlh g ktmu. Tapi kalo saatnya ktmu pasti ktmu kok. Sering kan gt nyari brg wis ublek2 seisi rmg tp g ktmu.

She: Berarti lak podo wae diem menunggu.

Me: La pas g dicari-cari moro2 mlh nonggol dw. Mungkin mnurut org nunggu itu wasting time, aku juga sih. Tp kan juga sgala sswt ada waktunya. Musa brkeliaran dulu 40th d padang gurun sblome akire dipanggil Tuhan k mesir. Daud hdp dlm pelarian mboh piro taon itu sblom akire jd raja. Yusuf nunggu di penjara bbrp lama seblom akire tukang roti inget sama dia

She: Lha perumpamaanmu oq dasyat gitu, 40thn itu Musa, lha 40thn lg usiaku 65thn

Me: Ha5 g jg cm sgala sswt ada waktunya. Cm mmg trgantung kpekaan kita n rencana Tuhan. Kalo mmg dirasa kita blom siap y g akan diksh.

She: Iya

Me: Aku dw y g ngerti sih tp bljr u/ taat n prcaya sgala sswt indah pada waktunya termasuk pada waktu ini, waktu kmrn maupun bsok2

She: Aku akan mencoba mencari cara belajar

Me: Ha5 (y). Tp ada kalae Tuhan mmg g singkapkan. Tp Tuhan mau kita ttp mnikmati meski g ngerti. Kmrn pas nonton imb pas show ne sandrina titi kan comment prtunjukan kontemporer tu mmg g hrs slalu isa dimengerti yg pnting bs dinikmati. Krn konsepnya mmg bkn u/ dimengerti tp dinikmati.

She: Bener juga

Me: Soale nek bljr desain mmg gt kdg g ngerti konsepe arsitek itu apa tp mmg desaine bgs. So tarik kesimpulan ha5. Tuhan kan jg desainer agung.

She: Hahahaha…

….

Itulah secuil percakapanku dengan seorang teman tentang mencari kehendak Tuhan. Intinya tidak perlu mencari tahu jika memang Tuhan tidak memberitahu, tidak perlu bingung dan terus mencari-cari sampai akhirnya tidak melakukan apa-apa. Barangkali memang Tuhan hanya ingin kita menikmati hidup ini. Ada banyak orang yang menyiksa diri dengan berusaha mencari-cari bahkan sebenarnya dia sendiri tidak tahu apa yang dicarinya. Hal seperti itulah yang membuat manusia kehilangan kesempatan untuk menikmati hidup anugerah Tuhan.

I believe apa yang Tuhan mau katakan dan Tuhan kehendaki atas hidup kita akan dinyatakanNya pada saatnya, dan sambil menunggu waktunya biarlah kita tetap menjalani hidup ini dengan penuh ucapan syukur.

Dulu aku menganut paham bahwa menunggu itu sesuatu yang wasting time, tapi kemudian aku menyadari bahwa ada yang namanya proses dan menunggu itu termasuk salah satu bagian di dalam proses itu. Akan menjadi sangat panjang jika kutuliskan pemikiranku mengenai proses, biarlah itu menjadi bagian lain dari tulisanku, bagaimana seorang Aris memandang sebuah proses…

I’m crazy

Aku orang gila, barangkali itulah anggapan orang-orang semua saat melihatku..

Orang-orang itu mencibir saat berjalan melewatiku, dan aku berani bertaruh dalam hati mereka mengataiku..

Tapi apakah aku benar-benar gila, siapakah yang sesungguhnya benar-benar gila?

Orang-orang berdompet tebal yang rela menghabiskan uang ratusan ribu demi sepiring nasi di sebuah kafe bernama, yang seringkali tak pernah dilahap sampai habis…

Orang-orang bermobil mewah dengan banyaknya rumah mewah yang tertulis atas namanya namun berstatus kredit…

Orang-orang berjas yang duduk di kursi-kursi empuk pemerintahan yang korupsi dan memakan hak rakyat kecil sepertiku…

Orang-orang bergelar sarjana hukum yang menggunakan hukum untuk mempermainkan rakyat kecil dan miskin…

Anak-anak sekolah putus asa yang rela menyerahkan perjuangannya selama ini kepada selembar kertas yang berstatus bocoran soal UAN…

Tante-tante pengangguran yang rela menghabiskan waktunya berjam-jam di salon demi mencari cara untuk mengelabuhi usia mereka yang semakin mendekati penghujung…

Om-om paruh baya yang rela menukarkan kebahagiaan rumah tangganya selama puluhan tahun dengan petulangan sex semalam di hotel berbintang dengan perempuan tak bernama…

Gadis-gadis remaja yang dengan senang hati menjual keperawanannya yang tak ternilai demi memuaskan keinginan mereka akan barang-barang yang sedang trend…

Para orangtua yang tega membiarkan anaknya mencari sesuap nasi di jalanan bersama ratusan kendaraan yang bisa melindas tubuh mungil mereka…

Orang-orang kehilangan harapan yang memilih jalan pintas memutuskan benang kehidupan mereka sementara ada ribuan orang yang berusaha keras berjuang untuk menang melawan kematian…

Orang-orang yang rela membunuh saudaranya karena perbedaan di antara mereka dan tak sejalan dengan kepentingan pribadinya…

Siapakah yang benar-benar gila sekarang? Aku ataukah salah seorang dari kalian? Bisa jadi sebenarnya aku lebih waras dari kalian…

Fake

Jika saja kau mengenal siapa aku apakah kau tidak akan jijik kepadaku?

Jika kau bisa membaca isi pikiranku apakah kau tidak akan muak dan ingin muntah memandangku?

Jika kau mendengar perkataan-perkataanku yang kukatakan di dalam hati apakah kau tidak akan menampar mulutku beserta hatiku?

Jika kau bisa melihat topeng kepalsuan yang kugunakan apakah kau tidak akan merobeknya dan membuatku menampakkan wajah asliku?

Namun aku bersyukur karena kau tidak bisa mengetahui semuanya itu. Aku bersyukur karena kau merasa bahagia hidup dalam kepura-puraanku. Aku bersyukur aku masih bisa terus berpura-pura demi membuatmu bahagia.

Tak lupa aku juga senantiasa beryukur atas banyaknya manusia yang lebih memilih hidup dalam kepura-puraan demi mengejar kebahagiaan yang semu, kebahagiaan yang dibangun di atas dasar kepura-puraan yang rapuh dan dapat hancur kapan saja; karena pada dasarnya manusia lebih suka dibohongi dengan kepalsuan yang enak didengar, sedap dilihat, dan nikmat dirasakan, daripada berhadapan dengan kebenaran yang menampar wajah, memekakkan telinga, dan menusuk hati.

Itulah sejatinya kehidupan manusia yang penuh kepalsuan dan kepura-puraan, di atas dunia yang merupakan sebuah panggung sandiwara.

Kamu tetap adikku…

Aku pulang dengan wajah kusut. Kubiarkan Bobby, adikku, berjalan mendahuluiku masuk dan mengucapkan salam. Aku malas membuka mulutku yang kutekuk ke bawah. Aku melenggang masuk ke kamarku melewati Mama yang hanya diam memperhatikanku. Tak kupedulikan teriakan Mama yang menyuruhku keluar untuk makan siang. Aku hanya berbaring telentang di atas kasur, seragam putih biruku saja belum kulepas. Air mataku mengalir membasahi pipiku. Aku marah. Aku marah, kepada anak-anak di depan sekolah yang mengataiku dan adikku, aku marah kepada Bobby karena dia yang menyebabkan anak-anak itu mengataiku, aku marah kepada diriku sendiri yang tak bisa merima Bobby, aku marah kepada Mama dan Papa, aku marah kepada semua orang.

Kudengar ketukan lembut di pintu kamarku. Beberapa menit kemudian Mama muncul membuka pintu yang memang tidak kukunci. Dari raut wajahnya, aku bisa melihat kekhawatiran, kecemasan dan kesedihannya. Sebagai seorang ibu tentu saja Mama menyayangi anak-anaknya, aku dan Bobby.

“Bella, kamu kenapa?” Mama duduk di kasurku memulai pembicaraan, tangannya mengelus lembut kepalaku. “Sayang, kamu sakit?” tanyanya masih dengan suara lembut.

Aku hanya mengeleng lemah. “Nggak ada apa-apa Ma…” Aku tidak mau memberitahu Mama apa yang terjadi hari ini. Aku tidak mau membuat Mama sedih. Aku ingin menghapus suara anak-anak brengsek itu dari kepalaku, tapi suara mereka telah terekam dalam otakku.

Bagaimana aku bisa tak kudengarkan suara-suara mereka, hinaan-hinaan mereka, aku tidak tuli, telingaku masih bisa mendengar dengan jelas teriakan mereka saat mereka meneriaki kami. “Pincang, pincang!!!” Sebuah kata-kata yang tentunya ditujukan kepada Bobby, adikku. Ah, seandainya saja dulu Bobby tidak mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kakinya menjadi pincang. Seandainya saja dia tidak mencuri-curi mengendarai sepeda motor di jalan raya padahal dia masih belum lancar, seandainya saja waktu itu Mama menyimpan kunci motor di tempat tersembunyi tentunya kaki Bobby masih normal dan aku tidak perlu malu berjalan bersamanya. Sebenarnya Bobby cukup tampan dan gagah, tentu saja aku kakaknya juga berwajah cantik, sayang kakinya yang pincang merusak semuanya. Sekarang kalian tahu kan mengapa aku sangat marah kepada Bobby, dan aku juga marah kepada diriku sendiri, karena seharusnya sebagai kakak aku tidak boleh berpikiran demikian, aku harus bisa menerima Bobby apa adanya, termasuk kakinya yang tidak sempurna.

“Bella sayang, makan yuk. Bobby sudah selesai makan, sekarang giliran kamu.” Mama membujukku untuk keluar kamar. Aku hanya mengangguk pelan. Aku tidak mau membuat Mama sedih. Tentu saja kondisi Bobby sudah cukup membuat Mama sedih, apalagi kalau ditambah lagi dengan penolakanku terhadapnya, pasti Mama akan sangat sedih sekali. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Mama. Sebagai seorang ibu yang mengandung anaknya selama sembilan bulan, lalu melahirkan dengan penuh perjuangan, bangga karena anaknya lahir dengan selamat, merawat dan menjaganya sehingga tumbuh sehat, namun sekarang anaknya cacat. Hati ibu mana yang tidak terluka, barangkali Mama juga menyesali kejaidan yang menimpa Bobby, tapi tak pernah sekalipun kulihat Mama marah kepada Bobby, bahkan ketika Bobby mengalami kecelakaan itu Mama tidak memarahinya, malahan Mama menangis mengkhawatirkan keadaan Bobby. Ketika Mama tahu kaki Bobby cacat, Mama juga tidak menyalahkan Bobby, Mama malah memberi Bobby semangat untuk menghadapi hari-harinya. Oh Mama, seandainya saja aku bisa seperti dirimu, namun maafkan kau karena aku tidak bisa, setidaknya aku belum bisa.

“Ma, besok Bobby pulang sendiri saja. Kak Bella nggak usah jemput Bobby….” kata Bobby saat kami sedang nonton TV bersama.

“Lho kenapa Bob?” tanya Mama sambil mengarahkan pandangannya kepadaku. Aku berani bertaruh pasti Mama berpikir aku melakukan sesuatu yang membuat Bobby mengatakan kalimat itu. Tapi benar kok aku tidak melakukan apa-apa, sepanjang perjalanan pulang tadi mulutku terkunci rapat karena aku menahan panasnya amarah dalam hatiku. Jujur dalam hati aku senang karena Bobby yang mengatakannya. Memang sih jarak SMAku dan SMPnya tidak terlalu jauh, hanya saja aku harus sedikit berjalan memutar untuk menuju ke SMPnya, mantan SMPku.

“Nggak ada apa-apa Ma, biar aku nggak perlu ngunggu Kak Bella dan Kak Bella bisa langsung pulang. Jadi kami bisa lebih cepat sampai di rumah.” Bobby memang anak yang cerdas dan alasan yang dikemukakannya sangat masuk akal, dalam hati aku membeli nilai seratus untuk alasannya. “Lagipula aku bisa pulang bareng Iwan, kan rumahnya di depan sana, dan Kak Bella bisa pulang bareng Sinta, anaknya Tante Santi itu.”

“Hmmm, baiklah kalau itu maumu. Yakin kalian nggak sedang berantem?” Mama masih memandangiku sekan-akan berusaha menyelidiki ada apa antara aku dan Bobby.

“Nggak kok Ma.” Jawabku cepat sambil mengacak-acak rambut Bobby. Aku paling suka mengacak-acak rambut adikku itu karena setelah itu pasti Bobby berteriak dan berusaha memukul tanganku. “Kalau sekarang kami benar-benar berantem…” kataku sambil melarikan diri sebelum Bobby bisa membalasku. Sekilas kulirik Mama yang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan anak-anaknya yang sudah remaja tapi masih seperti anak kecil saja.

Sudah beberapa hari ini aku tidak lagi menjalankan tugasku menjemput Bobby sepulang sekolah. Sebenarnya Mamalah yang memberikanku tugas itu, sejak kecil kami memang selalu berangkat dan pulang sekolah bersama, apalagi setelah Bobby mengalami kecelakaan, Mama jadi sedikit lebih khawatir sehingga memaksaku untuk menjaganya baik-baik, memangnya aku babby siternya. Kadang aku menyempatkan diri berjalan memutar mampir ke sekolahnya untuk memastikan dia baik-baik saja. Beberapa kali kulihat dia berjalan bersama Iwan, menunggu angkot bersama. Kadang aku sedikit mencemaskannya karena dia sering bercanda dengan Iwan, bagaimana kalau saat menyeberang jalan mereka bercanda lalu kurang memperhatikan keadaan, bukankah sekarang ini banyak pengendara kendaraan beroda empat maupun dua yang tidak tahu bagaimana caranya berlalu lintas.

Tak terasa sebulan sudah aku dan Bobby tidak lagi pulang bersama. Hari ini hujan turun dengan derasnya. Sudah lama kutunggu tapi hujan tak kunjung reda. Sinta ada pelajaran tambahan jadi aku memutuskan pulang sendiri. Tiba-tiba pikiranku tertuju kepada Bobby, aku jadi ingin melewati sekolahnya, meskipun hujan masih deras. Tanpa menunggu lebih lama lagi kubuka payungku dan aku melangkah maju menerjang jutaan titik-titik air yang turun membasahi bumi.

Hmmm, tidak ada orang di sini, pasti Bobby sudah pulang bersama Iwan. Aku melangkah menuju ke bawah pohon sambil menunggu angkot yang lewat. Tunggu, kulihat di sebelah sana seseorang berjalan menembus hujan, sendirian, tanpa payung, dan caranya berjalan tidak sempurna. Aku segera mengenalinya sebagai adikku. Mengapa dia berjalan sendiri, di mana Iwan, di mana payungnya? Aku bergegas berlari menghampirinya.

“Bob, kamu kok sendirian, hujan-hujan lagi. Mana Iwan, mana payung kamu?” tanyaku begitu aku tiba di dekatnya dan menempatkan payungku untuk melindungi kami berdua dari serangan hujan yang tampaknya masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.

Bobby nampak terkejut mendapatiku yang berada di sampingnya. “Iwan tadi dijemput kakaknya naik motor, aku lupa bawa payung.” Jawabnya polos sambil menggigil kedinginan.

“Yuk kita pulang!” ajakku sambil menggandeng tangannya berjalan menuju ke bawah pohon untuk menunggu angkot yang lewat. “Mulai besok kamu pulangnya bareng Kakak lagi!” kataku tegas, tak kupedulikan tatapan aneh orang-orang yang lalu lalang, aku juga pura-pura tak melihat mereka yang berbisik-bisik sambil menatap kami.

“Bener Kak, Kakak mau jalan bareng aku? Apa Kakak nggak malu?” tanyanya polos.

“Bobby, mereka itu hanya orang lain, tapi kamu adalah adikku, bagaimanapun juga kamu tetap adikku.” Bisa kulihat mata Bobby berbinar saat dia mendengar kata-kataku dan kurasakan tangannya semakin erat menggegam tanganku.

**

Sebuah cerita yang pernah kubaca sewaktu aku masih kecil, kutulis ulang dengan sedikit modifikasi, tentu saja aku tak ingat detail ceritanya dan siapa pengarangnya, yang jelas bukan aku. Hanya saja pesan cerita yang disampaikan masih tersimpan jelas di kepalaku. Karena itulah cerita ini kutulis kembali.