a little lesson about life

“Sebenarnya Om juga capek kerja seperti ini, tapi mau gimana lagi, mau kerja apa lagi kalau nggak kerja kaya gini?” jawab Om itu sambil menceritakan awal mula perjalanannya menggeluti bisnis konstruksi. Siang itu aku sedang duduk bersama Om yang merupakan rekan bisnisku, kami sedang menunggu rekan bisnis lainnya. Sambil membunuh waktu aku iseng bertanya kepada Om itu bagaimana awal mula perjalanan kariernya. Om itu bercerita bahwa dulu dia memulai usahanya dari nol, benar-benar nol, dia bersama temannya sama-sama berjuang hingga akhirnya saat ini mereka bisa membangun perusahaan sendiri. Aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku, sesekali aku tersenyum atau menyampaikan sepatah dua patah kata untuk menyetujui ceritanya, hanya untuk menunjukkan bahwa aku mendengarkannya.

“Capek kalau dibilang. Sudah puluhan tahun kerja seperti ini. Mau kerja yang lain, bingung mau kerja apa. Ya suka nggak suka harus dijalani.” Om itu kembali melanjutkan perkataannya. Aku menangkap nada keluh kesah dari ceritanya. Jika boleh menyimpulkan, aku rasa sebenarnya om itu tidak menyukai pekerjaan yang dijalani saat ini, tapi mau tak mau dia harus menjalani pekerjaan ini, karena membutuhkan penghidupan. Aku mengerti, aku sangat mengerti. Dunia real memang tidak memberikan kesempatan bagi banyak orang untuk bebas melakukan apa yang mereka kehendaki.  Situasi dan kondisi seringkali memaksa orang untuk melakukan apa yang sebenarnya mereka tidak inginkan, tapi kembali lagi bahwa setiap orang memiliki pilihan, dan itu berarti kita bebas memilih untuk menentukan jalan yang kita ambil atau memilih untuk mengikuti situasi, menyerah dan memilih orang lain yang mengatur hidup kita. That’s the first point.

The second one is are you really alive? Banyak orang yang kelihatannya hidup tapi sebenarnya mereka telah mati, tidak memiliki tujuan dan goal, hanya melewati hari demi hari sampai pada akhirnya nanti mereka benar-benar mati. Well, aku tidak mau seperti itu. aku juga tidak mau seperti om yang kuceritakan di awal, pasrah dan menyerah pada kehidupan. Aku tidak mau terjerat oleh hidup dan permasalahan ekonomi, bagiku hidup tidak hanya semata-mata mengenyangkan perut, hidup adalah bagaimana kita menjalani hidup ini dengan benar-benar hidup. Jujur sampai sekarang aku masih mencari. I’m looking for the meaning of live, I’m looking for my life.

Mungkin ada kalanya orang harus melepaskan diri dari comfort zone, keluar dari zona nyaman dan benar-benar berjuang untuk hidup, memperjuangkan apa yang benar-benar dianggap penting untuk diperjuangkan, bukan hidup dalam kenyamanan semu, dan pada akhirnya menyesali keputusan dan pilihan yang telah diambil. Aku tak mau menyesal di kemudian hari. I wanna live my life. That’s why aku berusaha untuk menemukan hidupku sendiri, bukan hidup dalam pilihan yang diingankan orang lain. Just wanna share, bahwa ada banyak orang di luar sana yang terjerat oleh hidup itu sendiri. Barangkali dibutuhkan keberanian ekstra untuk memperjuangkan hidup. Tapi aku yakin setiap orang memiliki jalan hidupnya sendiri, dan apa pun itu I believe God will guide us to walk in our way. Selamat memikirkan hidup dan mencari arti kehidupan.

Advertisements

Si Tulang Malas

Ada seorang pemuda yang sangat malas, kerjanya setiap hari hanya bermalas-malasan. Orang-orang di kampungnya menjulukinya Si Tulang Malas, karena dia sangat malas. Karena dia tidak bekerja da hanya bermalas-malasan, dia dan keluarganya hidup dalam kemiskinan. “Nanti pada saatnya kita akan kaya,” kata Si Tulang Malas setiap kali istrinya menyuruhnya bekerja. Akhirnya sang istri pun hanya mampu mengelus dada melihat ulah suaminya (heran juga ya kenapa dulu istrinya bersedia menikahi suami seperti itu). Hingga pada suatu hari istrinya tak tahan lagi hidup bersama suaminya dan mengusir Si Tulang Malas. Si Tulang Malas pun memutuskan pergi mencari petapa yang tinggal di gunung sebelah untuk menanyakan cara agar dia menjadi kaya tanpa perlu bekerja dengan susah payah.

Dalam perjalanannya, Si Tulang Malas bertemu dengan seekor serigala. “Siapa kau dan mau apa kau memasuki wilayah kekuasaanku?” tanya serigala itu. Dengan takut Si Tulang Malas bercerita bahwa dia sedang dalam perjalanan mencari petapa untuk meminta nasehat agar menjadi kaya. “Apakah kau bersedia menolongku?” tanya serigala itu. “Jika kau bertemu dengan petapa itu, tolong tanyakan mengapa perutku sakit sekali, dan sudah satu bulan aku tidak bisa makan.” Si Tulang Malas pun menyanggupi permintaan serigala itu dan berjanji menyampaikan pertanyaannya kepada sang petapa.

Tak berapa lama kemudian Si Tulang Malas tiba di sungai, ketika dia hendak minum dilihatnya seekor ikan besar sedang menampakkan wajahnya dari dalam air. ‘Tuang, aku dengar kau sedang dalam perjalanan mencari petapa di gunung sebelah, apakah kau tak keberatan jika aku meminta tolong untuk menanyakan mengapa tenggorokanku sakit setiap kali aku menelan makanan?” Si Tulang Malas berjanji untuk menyampaikan pertanyaan ikan itu kepada petapa.

Sampai di kaki gunung, Si Tulang Malas merasa lelah dan dia berisitirahat di bawah pohon besar. “Tuan, apakah benar kau sedang mencari petapa yang tinggal di atas gunung?” tanya pohon itu. “Bersediakah kau menolongku untuk menanyakan kepada petapa itu mengapa daun-daunku selalu cepat gugur begitu mereka muncul?” Si Tulang Malas kembali berjanji kepada pohon itu untuk menyampaikan pertanyaannya kepada petapa.

Akhirnya, tibalah Si Tulang Malas di tempat kediaman petapa. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Si Tulang Malas segera bertanya kepada petapa itu bagaimana caranya agar dia menjadi kaya tanpa perlu bersusah payah, tak lupa dia menanyakan pertanyaan serigala, ikan dan pohon. Petapa itu menjawab pertanyaan yang dititipkan kepada Si Tulang Malas. “Lalu bagaimana dengan pertanyaanku?” tanya Si Tulang Malas kepada petapa itu kerena petapa itu sama sekali tidak memberitahunya bagaimana cara menjadi kaya. “Semuanya itu sudah diatur, pulanglah,” jawab petapa itu. Si Tulang Malas pun pulang dengan hati gembira.

“Bagaimana Tuan, apakah engkau sudah bertemu dengan petapa itu?” tanya pohon besar itu ketika dia melihat Si Tulang Malas menuruni gunung.

“Sudah. Petapa itu bilang bahwa di akarmu terdapat sebuah peti berisi koin emas yang sangat banyak, jika kau ingin daunmu tidak gugur, kau harus menyingkirkan peti itu,” jawab Si Tulang Malas.

“Tuang, tolonglah aku, ambillah peti itu dan dengan demikian Tuan juga akan mendapatkan banyak koin emas bukan?”

“Maaf, kau carilah orang lain saja. Aku malas menggali akarmu. Petapa itu bilang kekayaanku sudah diatur, aku tak perlu bersusah payah.” Si Tulang Malas pun meninggalkan pohon itu dan melanjutkan perjalanannya pulang. Ketika dia sampai di sungai, dilihatnya ikan itu sedang menunggunya.

“Tuan, bagaimana, apakah kau sudah menanyakan pertanyaanku kepada petapa?” tanya ikan itu.

“Kata petapa di tenggorokanmu terdapat mutiara yang sangat besar, kau harus mengeluarkannya agar kau dapat makan dengan nyaman.”

“Tuang, tolonglah bantu aku untuk mengeluarkan mutiara itu dan kau dapat memilikinya.”

“Mintalah orang lain saja untuk membantumu. Aku malas. Petapa itu bilang kekayaanku sudah diatur, aku tak perlu bersusah payah.” Si Tulang Malas kembali melanjutkan perjalanannya dan meninggalkan ikan itu.

Ketika Si Tulang Malas sudah hampir sampai di kampungnya, dilihatnya serigala tertidur pulas menunggunya. Si Tulang Malas membangunkan serigala itu. “Kata petapa kau harus makan orang yang paling malas di dunia ini agar perutmu sembuh,” kata Si Tulang Malas.

“Tapi di mana aku dapat menemukannya?” tanya serigala itu.

“Petapa itu tidak mengatakannya.” Kemudian Si Tulang Malas menceritakan perjalannya menemui petapa hingga dia kembali menjumpai serigala itu.

“Akhirnya aku menemukan orang itu. Kini aku tak perlu susah-susah lagi mencari siapa orang paling malas di dunia, orang itu sendirilah yang mendatangiku,” kata serigala riang kemudian dia melahap Si Tulang Malas dan sembuhlah perut serigala itu. Itulah akhir hidup Si Tulang Malas.

**

Sebuah cerita yang pernah kubaca sewaktu aku masih kecil. Masih nyantol sih, coz ceritanya bagus, poin yang terus kuingat adalah jangan jadi orang malas dan haru selalu berusaha. Endingnya bagus. Poin kedua yang baru saja kusadari saat menuliskan cerita ini lagi adalah barangkali benar bahwa nasib Si Tulang Malas memang sudah diatur, tapi tidak berarti dia ditakdirkan untuk dimakan serigala, jika saja dia memilih untuk menolong pohon dan ikan tentunya dia menjadi kaya dan tidak akan berakhir menjadi makan malam serigala. Tapi kembali lagi, Si Tulang Malas sendiri yang menentukan nasibnya, padahal dia memiliki kesempatan untuk mengubah nasibnya, jika saja dia tidak terlalu malas.

Well, kadang orang berpikir bahwa nasibya sudah diatur, memang benar tetapi tanpa disadari sikap dan tindakan, serta pilihan kitalah yang turut berperan serta menentukan nasib hidup kita sendiri. Jangan salahkan takdir, nasib ataupun orang lain atas kemalangan yang menimpa kita, tapi salahkan diri sendiri, koreksi pilihan-pilihan yang membuat kita mengalami hal itu. 

On the way 3

Sore ini sewaktu aku pulang meeting di daerah Sunter, aku melihat seorang kakek tua dalam segam kuningnya sedang sibuk menyapu jalan, ya kakek itu adalah seorang petugas kebersihan. Satu hal yang menarik adalah kakek itu nampak bersemangat dalam menyapu, mengumpulkan daun-daun dan memasukkannya ke dalam keranjang yang dibawanya. Menilik dari wajahnya sepertinya usianya sudah 60-70an.

Hal yang aku kagumi adalah kakek itu tidak meminta-minta seperti kebanyakan orang lainnya, bahkan orang yang masih muda pun tidak malu meminta-minta tapi kakek ini tidak demikian, dia bersemangat bekerja di bawah teriknya panas matahari.

Hal kedua adalah aku kagum dengan wajahnya yang nampak gembira, tidak menunjukkan kejengkelan atau menggerutu. Dia bekerja dengan penuh semangat. Aku merasa malu pada diriku karena selalu saja menggerutu dan tidak puas dengan hidup yang kujalani saat ini.

Itulah sedikit cerita tentang kakek petugas kebersihan di jalan yang kulihat hari ini. Just wanna share.

Kakek

Salut untuk KAKEK ini, tidak pernah meminta tetapi selalu berusaha. Di usia senjanya masih membanting tulang walau hari sudah tengah malam. Setiap hari beliau berangkat berjalan kaki sekitar 30 menit sampai 1 jam dari rumahnya menuju ke tempat di mana beliau berjualan. Kakek berusia 90 tahun ini menjual kacang sangrai dan kacang rebus dengan seharga Rp 1000,- per bungkus kecil dan Rp 2000,- per bungkus besar.

Beliau berjualan dari jam 7 malam sampai jam 12 malam (bahkan mungkin lebih malam lagi dari itu). Pernah juga di kala hujan deras kakek itu duduk beralaskan plastik dan hanya ditemani oleh sebuah payung kecil sebagai teman berteduh. Meskipun kacang yang dijualnya cukup murah tetapi barang dagangannya tidak pernah habis terjual, hanya terjual beberapa bungkus dalam sehari.

Kakek ini berjualan di sebelah barat RS. BRAYAT sebelum jalan ke arah pasar burung DEPOK, tepat di bawah pohon besar yang sedikit gelap.

Bagi teman-teman di SOLO yang mungkin lewat di daerah itu tolong pelankan laju kendaraan kalian dan sempatkan untuk membeli kacang rebus dan kacang sangrainya.

Jadilah berkat bagi sesama.

Just share from my cousin. Today i learn untuk selalu bersyukur dan jangan mudah mengeluh coz masih banyak orang yang hidupnya tidak seberuntung kita. Always give thanks and stop grumbling coz somewhere outside there are much people live less fortunate than us. Be a bless.

Man of Steel – Superman

Review Man of Steel

Weekend kemarin aku menyempatkan diri menonton Man of Steel (Superman) bersama seorang teman. Well, dari segi cerita so so sih, seperti kebanyakan film superhero pada umumnya, bahkan cenderung kurang dinikmati. Filosofi dalam film itu yang menarik bagiku.

1. Setiap orang memiliki tujuan dalam hidupnya.

Tidak ada yang terlahir secara kebetulan. Your life isn’t an accident, but The Creator has already created you with some certain goals. Maybe you can’t understand now, not yet, but someday you’ll know the purpose of your life.

Seperti Clark Kent muda yang tidak mengerti mengapa dia ‘berbeda’ dengan orang-orang pada umumnya. Tapi pada saatnya dia mengerti, meskipun menurutku prosesnya terlalu instan. I think we need process in our life, maybe it’s very long to find the reason of our existence.

2. Orang yang kuat bukanlah orang yang mengandalkan kekuatan otot, kekerasan, ataupun selalu menan2g atas alawan-lawannya, tapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan diri, tahu kapan saatnya bertindak dan kapan saatnya menahan diri.

Sejak kecil orang tuaku mengajarkanku untuk mengalah. Mengalah itu bukan berarti kalah, tapi orang yang mampu mengalah adalah orang yang menang atas egonya.

Seperti halnya Clark yang berusaha tidak melayani teman-temannya yang membullynya, meskipun sesungguhnya dia mampu, atau saat dia menyerahkan diri untuk ditangkap demi kelangsungan hidup manusia, demikian halnya dengan Louis yang harus rela artikel yang ditulisnya dengan penuh perjuangan mengenai rahasia Clark tidak dipublish, tentunya semuanya itu dibutuhkan kebesaran hati.

3. Kadang ada hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi dalam hidup ini, meskipun kita merasa itu hal buruk, tapi sesungguhnya hal itu terjadi demi kebaikan kita.

Saat ayah Clark memutuskan untuk meninggal, coz dia tidak mengijinkan anaknya menyelamatkannya, bagi Clark itu adalah hal yang buruk, tapi ayahnya memandang itu sebagai hal yang baik bagi masa depan puteranya. Sering barangkali aku bertanya mengapa ini terjadi, mengapa itu terjadi, but I find the answer, it’s happened for my sake, maybe for me it’s a bad thing, but for God it’s the best for me.

4. Seorang Superman sekalipun memiliki pengharapan.

Tidak ada seorang pun yang benar-benar super di dunia ini. Selalu ada ruang untuk harapan, karena harapan lah yang menjadi dasar bagi manusia untuk hidup, karena manusia berharap akan kehidupan yang lebih baik lagi dan dia memperjuangkannya. Jika tidak memiliki harapan sesungguhnya orang itu sudah mati, menyerah, end, game over

5. Finally no body can live alone.

Bahkan Superman yang notabene manusia super membutuhkan bantuan orang lain untuk mengalahkan musuhnya, dia dibantu Louis dan bayangan ayahnya untuk mengirim musuhnya ke black hole. Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain.

Itulah beberapa poin yang aku tangkap dari film tersebut. 

Namaku uang…

Wajahku biasa saja, fisikku juga lemah, namun aku mampu merombak tatanan dunia. Aku juga ‘bisa’ merubah perilaku, bahkan sifat manusia, karena manusia mengidolakan aku. Banyak orang merubah kepribadiannya, mengkhianati teman, menjual tubuh, bahkan meninggalkan keyakinan imannya demi aku!

Aku tidak mengerti perbedaan orang saleh dan bejat, tapi manusia memakai aku menjadi patokan derajat, menentukan kaya miskin dan terhormat atau terhina…

Aku bukan iblis, tapi sering orang melakukan kekejian demi aku…

Aku juga bukan orang ketiga, tapi banyak suami istri berpisah gara-gara aku, anak dan orang tua berselisih karena aku…

Sangat jelas aku juga bukan tuhan, tapi manusia menyembah aku seperti tuhan, bahkan kerap kali hamba-hamba tuhan lebih menghormati aku, padahal Tuhan sudah berpesan jangan jadi hambaku…

Seharusnya aku melayani manusia, tapi mengapa malah manusia bersedia menjadi budakku?

Aku tidak pernah mengorbankan diri untuk siapapun, tapi banyak orang rela mati demi aku. Perlu aku ingatkan, aku hanya bisa menjadi alat bayar resep obat anda, tapi tidak mampu memeperpanjang hidup anda.

Kalau suatu hari ianda dipanggil Tuhan, aku tidak akan bisa menemani anda, apalagi menjadi penebus dosa-dosa anda, anda harus menghadap sendiri kepada Sang Pencipta lalu menerima penghakimanNya.

Saat itu Tuhan pasti akan membuat perhitungan dengan anda, APAKAH SELAMA HIDUP ANDA MENGGUNAKAN aku dengan bijak, atau sebaliknya MENJADIKAN aku sebagai TUHAN?

Ini informasi terakhirku : aku TIDAK ADA DI SURGA, jadi jangan cari aku di sana.

 

Salam sayang,

 

UANG