Father and his baby…

Jakarta, 13 Mei 13
Hari Kamis kemarin saat aku berangkat ke kota, dalam bus aku melihat seorang bapak yang usianya sudah cukup tua sedang memangku seorang balita perempuan. Sungguh menarik menyaksikan pemandangan itu, saat balita itu mencoba tertidur dalam pangkuan bapak tua itu, aku tak tahu apakah bapak itu ayahnya atau kakeknya, namun yang pasti balita itu tertidur lelap, awalnya dia hanya memejamkan mata, membuka matanya lagi, lalu kembali memejamkan matanya. Bapak tua itu mengusap-usap wajah si balita, berusaha menenangkannya barangkali. Beberapa menitu kemudian akhirnya balita itu tertidur pulas, tak memedulikan orang-orang di sekitarnya, mungkin dunianya hanya ada dia dan bapak itu. Beberapa lama mereka duduk di bus itu hingga kemudian bapak itu berdiri dan turun dari bus dengan tetap menggendong balita yang telah tertidur pulas itu.
Kejadian sederhana yang membuatku berpikir bagaimana merasakan aman dan damai dalam lindungan Tuhan. Dalam buaian Bapa apakah aku dapat tertidur lelap, benar-benar mempercayakan diriku kepadaNya, bahkan saat Dia membawaku menuju ke tempat yang tak kuketahui. Mampukah aku memejamkan mata, membiarkan Dia membawaku, menuntunku seturut rencanaNya. Seringkali dalam setiap jengkal kehidupan ini aku ingin memegang kendali atas hidupku, namun aku sadar ada terlalu banyak hal yang tak sanggup kukendalikan. Dan semuanya itu membuatku frustasi. Aku berusaha mengendalikan segala sesuatu namun aku tak sanggup, aku gagal. Hingga pada suatu titik, pada akhirnya aku menyerah dan membiarkan Dia mengatur segalanya. Namun ada saatnya aku tidak bisa percaya sepenuhnya, aku tidak bisa memejamkan mata dan tertidur karena aku ingin selalu terjaga, memastikan bahwa aku berada pada jalur yang kukehendaki. Dan saat aku merasa Dia membawaku ke jalur yang salah, aku mulai protes. That’s my life.
Tidak mudah untuk mempercayakan diri kepada Tuhan, membiarkan Dia tetap menjadi Tuhan karena seringkali yang terjadi adalah kita yang ingin menjadi tuhan. Kita ingin memastikan Tuhan menjalankan tugasNya dengan membawa kita berada pda jalur yang benar, benar di sini adalah benar dalam artian sesuai dengan mau kita, dan apa yang kita mau tidak selalu sama dengan yang Dia mau. Aku ingin menutup tulisan ini dengan sebuah kutipan :
“Anda dijadikan untuk Allah, bukan sebaliknya, dan hidup berarti membiarkan Allah memakai Anda bagi tujuan-Nya, bukan Anda yang menggunakan Allah bagi tujuan Anda sendiri – Rick Warren”

Advertisements

Dosa dan penyimpangan…

Salah satu definisi dosa adalah menyimpang, menyimpang dari jalan yang benar, tidak berada on the track. Suatu perenungan singkat yang membuka mata dan pikiranku. Seringkali aku sering membiarkan penyimpangan-penyimpangan kecil terjadi, hanya beberapa senti saja. Tanpa menyadari akibat jangka panjang penyimpangan itu. Memang benar awalnya hanya menyimpang beberapa senti, tapi jika terus menerus dilanjutkan maka beberapa senti itu akan berubah menjadi beberapa meter, bahkan beberapa kilo dari tempat yang seharusnya. Barangkali itulah yang terjadi dengan dosa. Awalnya hanya perbuatan-perbuatan kecil yang dikompromikan, tapi kompromi-kompromi kecil itu terus berlanjut dan semakin lama-semakin membesar sehingga yang terjadi kemudian adalah membuat kita benar-benar melenceng dari jalur yang benar.

Benar juga ayat yang menyatakan setialah dalam perkara-perkara kecil, karena perkara-perkara kecil akan berujung pada perkara-perkara besar. Kompromi sekecil apapun akan berdampak besar pada akhirnya nanti. It’s time for saying no to sin…

I vs me…

Sungguh suatu gambaran yang baik di mana kata ‘I’ yang digunakan untuk menunjuk diri sendiri sebagai subjek dalam bahasa Inggris selalu ditulis menggunakan huruf besar, tak peduli di mana pun letaknya dalam susunan kalimat. Hal itu dapat dipandang untuk menunjukkan manusia yang selalu berpusat pada dirinya, mengutamakan dirinya, menjadikan dirinya sebagai yang utama. Suatu paradigma yang wajar dan umum di dalam dunia yang cemar ini. Sedangkan kata ‘me’ yang menunjukkan manusia sebagi objek barangkali dipandang sebagai suatu kebodohan, kelemahan, ketidakmampuan di mata dunia. Padahal hal yang benar adalah ‘me’ bukan ‘I’ karena kebenarannya manusia bukanlah subjek tapi objek, Tuhanlah yang menjadi subjeknya.

Sebenarnya musuh utama manusia adalah dirinya sendiri. Nafsu, keserakahan, keinginan pribadi lah yang membuat manusia menjadi makhluk yang jahat, brutal, bahkan tak berprikemanusiaan. Seringkali manusia menyalahkan setan atas apa yang dilakukannya, padahal jika mau jujur sebenarnya manusia sendirilah yang dengan penuh kesadaran mengikuti hawa nafsu dan keinginannya, dengan atau tanpa bujukan setan. Natur manusia yang berdosa membuat diri manusia tak lagi sempurna, melainkan dipenuhi oleh kebusukan. Hal yang palit sulit adalah mengalahkan diri sendiri, menyangkal diri. Bagaimana cara mengalahkan diri sendiri, hal itu mustahil karena jika diandaikan pertandingan, dua orang yang memiliki skill sama jika bertarung tak ada yang menang. Hanya dengan bantuan orang lain maka kita dapat menang, dalam hal ini dengan bantuan Tuhan.

Dengan menyadari posisi dan status manusia di hadapan Tuhan, juga di dalam dunia ini maka seharusnya dapat membantu kita untuk menempatkan diri, bertindak dan berprilaku. Sebagai objek maka manusia adalah sasaran yang dikenai predikat, bukan pelaku predikat itu. Dalam hal ini Tuhanlah yang bekerja, melakukan pekerjaan, dan manusia adalah sasaran karya Tuhan. Maka sudah sepantasnyalah kita menempatkan diri sesuai posisi dan kapasitas sebagai objek.

Yang selalu terjadi adalah sebaliknya, manusia ingin menempatkan diri sebagai subjek, menjadikan dirinya pusat dari segala sesuatu, dan menyingkirkan Tuhan. Manusia menjadikan Tuhan sebagai objek pemenuhan kebutuhannya. Manusia memperhamba Tuhan, dengan menurunkan posisi Tuhan hanya sebagai pemberi berkat, pengabul permintaan, lalu apa bedanya Tuhan dengan pesuruh yang selalu kita suruh ini dan itu. Sebuah koreksi bagi kita semua. Di manakah kita memposisikan diri saat ini. Apakah sebagai ‘I” atau ‘me’? 

I think I’m in love with her…

Sore itu Rama nampak gelisah. Dia sedang berusaha belajar, memindahkan rumus-rumus fisika dari buku catatan ke dalam otaknya. Tapi setiap kali dia mencoba untuk menghafal rumus-rumus itu, sebuah rumus lain menari-nari di otaknya. Bukan rumus s=vo.t yang menunjukkan jarak tempuh sama dengan kecepatan dikalikan waktu tempuh, maupun vt2=vo2+2as yang menunjukkan kecepatan akhir sama dengan akar kecepatan awal dikuadratkan lalu ditambahkan dua kali percepatan dan jarak tempuh yang mengendap di otaknya melainkan Rama+Santi=love, sebuah rumus yang tak ada dalam buku catatan maupun buku pelajaran fisika manapun.

Rama mengacak-ngacak rambutnya, mencoba mengenyahkan rumus yang diciptakannya sendiri itu. diletakannya buku catatannya di atas kasur, tepat di samping pantatnya. Dia bergeser sejenak, memperbaiki cara duduknya, mencoba mencari posisi duduk yang lebih nyaman di atas kasur. Dia harus belajar untuk menghadapi ulangan fisika besok, tapi sudah hampir satu jam dia membolak-balik lembar demi lembar buku catatannya tak ada satu rumus pun yang tertanam di otaknya, justru rumus asing itu yang terus menerus mengetuk-ngetuk otaknya, mencoba untuk masuk.

“Kenapa Ram? Ada yang nggak kamu mengerti? Barangkali Papa bisa bantu?” Suara Papanya membuat perhatian Rama teralih dari rumus aneh yang berdiri di depan pintu otaknya. Untuk sementara dia membiarkan rumus itu berdiam diri, menunggu dengan setia di depan pintu otaknya. Kini dia menoleh ke arah pintu kamarnya yang terbuka lebar, sepertinya tadi dia telah menutup pintu kamarnya. Tanpa menunggu jawaban putera sulungnya, lelaki paruh baya itu melangkah memasuki kamar berukuran tiga kali tiga meter itu. Tak dipedulikannya sticker bertuliskan “Masuk=Mati” yang menempel di pintu kamar itu. Satu lagi rumus yang tak ada dalam mata pelajaran mana pun.

“Emmm, nggak kok Pa, Rama lagi belajar aja. Tapi dari tadi nggak ada yang bisa masuk,” ujar Rama cemberut. Papa Rama tersenyum melihat tingkah puteranya itu. Meskipun sudah kelas X SMA, tapi kadang sikapnya msih seperti anak kecil. Ah, tak peduli berapa pun usia Rama sekarang, di mata laki-laki itu, Rama tetaplah putera kecilnya. “Kalau belajar nggak masuk-masuk berarti ada yang harus dikeluarkan dulu. Barangkali otakmu sudah penuh.” Lelaki itu mengusap rambut puteranya lembut.

“Emmm, gitu ya Pa?” Rama memandang wajah Papanya. Meskipun sudah berusia empat puluh tahun, wajah Papanya masih sama seperti wajah lelaki di dalam foto yang menggendongnya saat masih bayi. Tidak, wajah itu tak lagi sama, semakin Rama memperhatikannya, dia menemukan beberapa kerutan samar di dahi laki-laki itu. Kerutan yang menunjukkan kerja keras dan kebijaksanaannya sebagai seorang ayah.

“Lalu, apakah kamu akan membiarkan Papa menunggu?” Rama menunduk sebentar, seperti berpikir keras, apakah dia harus menceritakan rumus aneh yang kini menunggu di depan pintu otaknya. Barangkali Papanya memiliki penyelesaian bagaimana cara menggunakan rumus itu, karena tak ada soal manapun dalam pelajaran fisika yang dapat dijawab menggunakan rumus itu. “Ram, ada kalanya dua orang laki-laki melakukan pembicaraan antara dua orang laki-laki.” Papa Rama sepertinya tahu ada masalah yang menganggu puteranya, sepertinya puteranya itu masih enggan untuk menceritakan masalah apa itu, “Atau antara ayah dan anak…”

“Emmm, oke lah kalau begitu. Tapi janji ya Pa, antara dua orang laki-laki, atau antara ayah dan anak, sama sajalah…” Ucapan Rama membuat Papanya terkekeh pelan.

“Pa, sepertinya aku naksir cewek…” Pelan sekali kata-kata itu meluncur dari mulutnya, hampir saja Papanya tak bisa mendengar suara puteranya itu.

“Lalu…”

“Lalu aku nggak yakin sama perasaanku, tapi setiap kali aku melihatnya, aku merasa berdebar…”

“Terus…”

“Terus aku merasa nyaman dekat dia, aku ingin terus ada di dekatnya. Aku bingung, nggak tahu harus gimana…”

“Ooo…”

Mendengar Papanya yang hanya berkomentar ‘lalu’, ‘terus’ dan menutup nya dengan ‘o’ panjang Rama semakin cemberut. Dia menekuk wajahnya kesal. Papa Rama kembali tersenyum melihat tingkah puteranya.

“Rama, Papa sudah menduga akan tiba saatnya kamu menghadapi hal itu. Papa senang dapat menjalankan tugas sebagai seorang ayah, mendampingi puteranya saat menghadapi masa-masa, meminjam istilah anak muda jaman sekarang, galau,” Papa Rama menghela nafas sejenak sambil duduk di sebelah puteranya. Rama menggeser pantatnya, memberika ruang bagi Papanya, toh kasur itu masih luas untuk diduduki dua orang.

“Dulu Papa juga pernah mengalami apa yang kamu alami saat ini. Jika boleh Papa memberi saran, sebaiknya untuk saat ini kamu fokus dengan sekolahmu dulu. Jalanmu masih panjang. Usiamu masih terlalu belia untuk mengenal apa itu cinta. Percayalah kepada Papa, di kemudian hari akan tiba waktunya cinta itu datang, ketika kamu sudah lebih dewasa dan lebih mengenal dunia. Untuk saat ini, bertemanlah dengan siapa saja, baik dengan laki-laki maupun perempuan.” Papa Rama memandang dalam-dalam mata puteranya yang nampak mendengarkan kata-katanya dengan seksama.

“Dengan menutuskan menjalin hubungan dengan seorang gadis, akan membuatmu membatasi pergaulan dengan gadis-gadis lainnya. Padahal masa SMA adalah masa remaja yang menyenangkan, di mana kamu bisa berteman dengan siapa saja, menikmati masa remajamu, bukannya merasa galau. Jika kamu mengisi masa SMA mu dengan kegalauan, kamu akan kehilangan masa-masa yang menyenangkan itu. Dan masa-masa itu tak akan dapat diulang kembali,” Papa Rama mengalihkan pandangannya ke foto-foto Rama bersama teman-temannya yang berderet rapi di atas meja belajar.

“Lalu bagaimana dengan cewek yang aku taksir?”

“Jika memang kalian berjodoh, di kemudian hari kalian akan bertemu kembali, jika kalian sudah benar-benar siap untuk menjalin sebuah hubungan.” Papa Rama menjawab bijak. Rama mengangguk-anggukan kepalanya, berusaha mencerna nasehat Papanya. “Boleh aku tanya sama Papa?” kali ini Rama mengajukan sebuah pertanyaan.

“Apakah Papa juga harus minta ijin untuk menjawab pertanyaanmu? Silakan saja kamu tanya apa saja, Papa akan menjawabnya meskipun tanpa ijin darimu.”

“Apa sebelum bertemu Mama, Papa pernah mencintai perempuan lain?”

“Tentu saja. Mamamu bukanlah perempuan pertama dalam hidup Papa.” Mendengar jawaban Papanya Rama semakin tertarik. “Sebelum Mamamu ada seorang perempuan yang sangat Papa sayangi, dia adalah Mamaku, nenekmu.” Papa Rama tersenyum saat mengatakan itu, apalagi saat dia memandang puteranya yang nampak tak puas mendengar kata-katanya.

“Saat itu sangat berbeda dengan jaman sekarang. Jaman dulu orangtua suka menjodohkan anak-anak mereka. Papa adalah salah satu korbannya. Papa dijodohkan dengan Mamamu. Tapi Papa tak menyesal menerima perjodohan itu, karena Mamamu adalah wanita yang hebat. Semakin Papa mengenalnya semakin Papa menyadari bahwa Papa mencintainya.” Rama mendengarkan kata-kata Papanya dengan takjub. “Cinta seperti itulah yang mampu bertahan. Bukan cinta monyet yang menimbulkan kegalauan sesaat.” Papa Rama mengakhiri kata-katanya.

“Lalu Rama harus gimana?” Rama masih belum bisa mengerti maksud perkataan Papanya.

“Jalani saja dulu hari-harimu. Jangan membuat keputusan hanya karena terbawa perasaan. Berteman dulu dengannya. Barangkali seiring dengan berjalannya waktu kamu akan bertemu gadis lain yang lebih menarik perhatianmu.”

“Oke Pa, Rama akan menuruti kata-kata Papa.” Rama tersenyum sambil mengacungkan ibu jarinya.

“Sekaran boleh Papa tanya?”

“Apakah Rama juga harus minta ijin untuk menjawab pertanyaan Papa? Silakan saja Papa tanya apa saja, Rama akan menjawabnya meskipun tanpa ijin dari Papa.” Rama meniru ucapak Papanya, membuat laki-laki itu menatap puteranya gemas.

“Siapa nama gadis itu?”

“Itu rahasia. Yang jelas bukan Mama…” Rama menjawab sambil mencibir, nampak rona merah pada wajahnya.

“Tadi katanya kamu mau jawab semua pertanyaan Papa.” Papa Rama menggoda puteranya itu.

“Kan sudah aku jawab. Jawabannya rahasia. Sekarang Papa keluar dulu, Rama mau belajar.” Rama mendorong Papanya agar berdiri dan meninggalkan kamarnya. Laki-laki itu menuruti kemauan puteranya. Dia berjalan keluar kamar. “Jangan lupa tutup pintunya.” Rama berkata sambil meringis.

“Baik Tuan Muda.” Papa Rama menjawab lalu menutup pintu pelan, tak ingin menggangu puteranya yang melanjutkan acara belajarnya. Sekilas matanya menangkap stiker yang bertuliskan “Masuk=Mati”.

Di dalam kamar, Rama sudah memegang kembali buku catatannya. Rumus aneh yang tadi menunggu di depan pintu otaknya pergi entah ke mana, barangkali dia tidak sabar karena menunggu terlalu lama. Sudahlah, yang penting kini rumus demi rumus fisika berjalan memasuki otak Rama satu per satu.

I think I’m in love with her… maybe yes maybe no… gumam Rama.

Rainy day…

Aku berdiri di emperan ruko yang sudah tutup, tubuhku mengigil kedinginan. Malam ini hujan turun deras sekali. Sejak tadi aku berlari ke sana kemari mencoba mencari tempat berteduh, akhirnya aku berhasil mendapatkan tempat ini. Aku berharap kali ini aku tidak diusir, seperti tempat-tempat yang barusan kudatangi. Aku selalu mendapatkan bentakan dan usiran. Aku hanya ingin berteduh, apakah orang-orang itu tak tahu. Aku bukan maling, aku tidak berniat mencuri dari toko mereka. Barangkali mereka menganggap kehadiranku menganggu, menganggu calon pembeli yang akan datang. Memang aku hanya anak jalanan, yang berpakaian kumal. Tapi aku juga manusia sama seperti mereka.

 Aku duduk menekuk kakiku, kupeluk lututku berharap mendapatkan sedikit kehangatan. Dari balik pintu besi ruko ini kudengar suara-suara tawa ceria. Aku iri. Aku ingin merasakan kehangatan, kehangatan keluarga. Kutendang pintu besi ruko itu keras-keras beberapa kali, melampiaskan kekesalanku. Tapi rupanya tindakanku ini menganggu pemiliknya. Pintu itu terbuka. Kuharap aku akan mendapat sedikit belas kasihan. Namun apa yang kudapati, yang kudapati hanyalah tatapan mata tajam seorang ibu paruh baya. Kemudian dia menutup pintu itu dengan kasar.

Apa salahku? Apakah aku salah mengharapkan segelas susu hangat untuk menghangatkan tubuhku yang mengigil kedinginan. Sejak tadi pagi aku belum makan, perutku keroncongan, bahkan kini tubuhku menggigil karena kehujanan. Kembali kutendang pintu ruko itu. Aku ingin berteriak, beriakan aku sedikit makanan. Aku lapar, aku kedinginan, tidakkah kalian peduli kepadaku.

Kembali pintu itu terbuka, aku bergegas mendekat, berharap akan mendapatkan setidaknya sedikit makanan, biarpun mereka melemparnya aku akan tetap memakannya seperti seekor anjing yang kelaparan. Aku memang kelaparan, dan kedinginan. Tapi apa yang kudapati, kali ini ibu itu tak sendirian, di sampingnya muncul sesosok laki-laki paruh baya, kuduga dia adalah suami ibu itu, dan di tangan laki-laki itu ada sebuah balok kayu. Apakah orang ini berniat memukulku? Aku sudah pernah merasakan pukulan dan aku tidak mau merasakannya lagi. Kulihat ibu itu tampak berusaha menahan suaminya yang menggenggam kayu itu erat. Sepertinya aku sudah bisa me nduga apa yang akan terjadi. Tanpa pikir panjang aku segera berlari meninggalkan tempat itu.

Kini aku tahu aku takkan pernah mendapatkan belas kasihan. Tak ada yang namanya belas kasihan di dunia ini. Tak ada manusia yang masih memiliki hati. Aku benar-benar diperlakukan seperti binatang. Kehadiranku tak diinginkan, bahkan aku hampir saja dipukul. Cara mereka mengusirku sama seperti mengusir anjing, atau kucing, bukan seorang anak manusia. Aku tak tahu harus ke mana lagi. Aku tak punya tempat untuk dituju. Aku hanya berlari menerobos hujan dengan tubuh mengigil kedingina dan perut kelaparan, tanpa menyadari sepasang mata sedang mengawasiku dari balik pintu besi yang dingin…

Penjaga gerbang tol

Pagi itu aku berangkat dengan tergesa-gesa, suasana hatiku saat ini sedang kurang baik. Aku terlambat bangun akibat bergadang mengerjakan tugas kantor yang terpaksa kubawa pulang. Kulirik jam tanganku, aku yakin aku pasti terlambat masuk kerja. Kemacetan kota Jakarta pagi itu, bahkan dalam jalan tol sekalipun, menambah kelam hatiku yang sedang mendung. Dalam hati aku mengutuk para pemilik mobil yang tidak mau menggunakan transportasi umum, tanpa menyadari bahwa aku salah satunya.

Akhirnya sampai juga aku di gerbang tol Taman Mini, segera kubuka kaca jendela dan kuraih selembar uang sepuluh ribuan kepada bapak penjaga gerbang tol. “Pagi boss!” Suaranya terdengar bersemangat menyapaku ramah saat kusodorkan uang itu. Kutatap dia sejenak sambil menerima karcis tol berserta uang kembalian yang disodorkannya tanpa mampu merespon sapaannya. Sepertinya otakku masih terlalu pagi untuk mencerna kejadia yang baru saja kualami. Aku hanya mengangguk singkat, menutup kaca jendela lalu bergegas melanjutkan perjalananku.

Sepanjang perjalanan kata-katanya yang penuh semangat terus terngiang di telingaku. Tanpa sadar aku tersenyum seiring dengan warna hatiku yang berubah biru, secerah langit biru kota Jakarta pagi itu. Sebuah kalimat singkat yang diberikan bapak penjaga gerbang tol Taman Mini itu telah menyejukkan suasana hatiku.

Kini setiap kali melewati gerbang tol Taman Mini aku berharap bertemu dengannya lagi dan mendengar sapaannya yang penuh semangat, tapi tak pernah kutemui lagi bapak itu. Namun ada sedikit hal yang berubah dalam diriku, setiap menerima karcis tol kutambahkan kata “Terima kasih” kepada penjaga gerbang tol.

***

Sebuah cerpen yang kutulis berdasarkan sharing pendeta yang Minggu kemarin kotbah di gerejaku. Untuk mengubah dunia menjadi lebih baik harus dimulai dari 3M, mulai dari hal kecil, mulai dari diri sendiri dan mulai dari sekarang. Dan itulah yang saat ini kulakukan =)