When God answer the pray 9

God, where are You? Show me Yourself! I wanna complain to You…

Here I am, my son. And I can’t wait to hear your complain…

God, You’re unfair. Look at my job! Even I work hard and always work overtime why I don’t get promoted, but my friend does? It’s not fair!

So it’s the problem? You just aren’t satisfied because don’t get promoted?

God! It is not ‘just’… You know how I have worked hard for years. But what did I get? Nothing. But he, his work was horrible. He couldn’t do everything by himself. He always asked for a help, and I always helped him. Since such useless one like him gets promoted, it can’t be done. I reject it!

So, you think you’re better than him?

Of course God. I always do my job well and on time. Everyone is satisfied with my performance. So it should be me rather than him who get promoted!

So, you think you’re the best employee?

I… am… I always do my best.

What have you done so you are fit to get the best employee title? Have you really do your best?

Emm… actually I… but God, it’s same with him. He does nothing too.

Stop looking at him. Look at yourself! Right now, in your current position, you’re so arrogant. What will you be if you get promoted? You’ll be more arrogant.

Ok God. You are right for this one. But I think getting him promoted is a failure.

I’ve told you to stop looking at everyone else. Moreover, it’s My right to decide. I’m the God, not you. Everything I give to you is enough. Envy not to him.

But God, I still think it’s unfair for me. I have done everything for nothing. My hard work, my struggle is meaningless.

It’s not right. Your achievement is truly the result of your hard work.

But it’s not enough for me. I want more. I think I suppose to get more than this.

My son, I give you what do you need, not what do you want. Remind yourself, everything is mine and I’m free to give it to him who I want to give as I give you everything. Stop getting unsatisfied and be thankful for what with you now.

I know your heart is still unsatisfied. It’s ok. Not easy to be thankful, isn’t it? But when you are able to thanks for your life, you’ll be able seeing the beauties around you. Try it, trust Me!

Ok God, I’ll try…

And one thing, look at the beautiful side of your grumble. It can create a post that I hope many people will be blessed…

 

Jalandar, sebuah potret manusa (dalam serial Mahadewa)

Malam itu aku sedang berkutat di depan TV ketika serial Mahadewa mulai. Aku bukan penggila serial India sih, tetapi berhubung nggak ada tayangan bagus di channel Indo apa boleh buat.

Episode malam itu adalah ketika Jalandar, Raja Iblis yang merupakan esensi Mahadewa mati. Dikisahkan Jalandar adalah esensi Mahadewa yang dibesarkan oleh putri duyung. Ibu Jalandar mati dibunuh oleh dewa Indra. Singkat cerita, Jalandar merasa selama hidupnya dia mendapat perlakuan yang tidak adil, sehingga dia menggugat Mahadewa. Jika dia adalah esensi Mahadewa, mengapa Mahadewa tidak memperhatikannya, sehingga dia mengalami hidup yang berat?

Ketika menonton serial itu, jujur aku setuju dengan Jalandar. Pertanyaan yang sama sering juga kuajukan. Di mana Tuhan saat terjadi ketidakadilan? Mengapa Tuhan membiarkan hal buruk terjadi? Kalau Tuhan mencintaiku, mengapa Tuhan diam saja dan tidak menolong? Kuakui pertanyaan-pertanyaan itu sering kulontarkan dalam hatiku. Dan, mengikuti kisah perjalanan hidup Jalandar aku menjadi penasaran, jawaban macam apa yang diberikan penulis skenario film tersebut.

Dikisahkan bahwa Mahadewa hadir melalui orang-orang yang ada di sekitar Jalandar. Melalui ibunya, sang putrid duyung yang mencurahkan kasih sayang, melalui gurunya yang membimbing Jalandar hingga menjadi Raja Iblis dan melalui istrinya yang begitu mengasihinya. Namun, ketidakpuasan Jalandar lah yang menyeretnya menuju kehancuran.

Merefleksikan kisah itu, mungkin memang benar ketidakadilan, kajahatan dan hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi di dalam dunia ini. Di manakah Tuhan? Tuhan bukannya diam saja, tetapi Tuhan juga hadir melalui orang-ornag di sekitar kita. Orang-orang yang menyayangi dan mendukung kita. Keluarga, sahabat, teman-teman. Semua orang yang ada di sekitar kita. Kegagalan kita menemukan Tuhan ketika kita menolak semua bentuk kehadiran Tuhan tersebut. Kita menutup diri dan tidak mau berusaha melihat kasihNya. Ketika manusia memandang hanya ke dalam dirinya sendiri dan tidak menghiraukan orang-orang di sekitarnya maka dia gagal merasakan kehadiran orang lain. Demikian halnya dengan yang aku alami. Aku mempertanyakan ini dan itu karena aku terus berkutat dengan diriku sendiri. Aku menganggap masalahku sangat besar sehingga menutupi kehadiran Tuhan dalam hidupku. Terlalu memfokuskan diri pada suatu hal membuat hal yang lain menjadi tidak kelihatan. Manusia, sama halnya seperti Jalandar memiliki pilihan untuk menerima kenyataan dan menjalankan hidupnya dengan sebaik mungkin, atau sebaliknya menolak kenyataan dan berusaha menggugat Sang Pencipta. Jalandar memilih pilihan terakhir, sehingga selama hidupnya dia tidak mendapatkan kedamaian dan berakhir mengenaskan.

Sulit memang berusaha menerima hal yang tidak kita pahami dan tidak kita ingini. Tapi aku berusaha percaya dan menerima apa pun yang terjadi dalam hidup ini semuanya tidak terlepas dari rencana Tuhan. It’s called faith. Selamat meneruskan hidup…

Hukuman mati bagi pengedar narkoba…

kontras-hukuman-mati-harus-dihapuskan-dari-peradilan

Beberapa hari ini gencar diberitakan hukuman eksekusi mati untuk para terpidana kasus narkoba.  Well, saya juga sempat menonton Mata Najwa yang membahas tentang hukuman eksekusi mati. Cukup kontroversial memang hukuman tersebut. Ada yang mendukung tapi ada juga yang menentang. Mereka yang mendukung beralasan bahwa hukuman tersebut pantas diberikan karena para pelaku kejahatan telah menghilangkan nyawa orang lain juga sehingga tak ada hukuman yang lebih pantas daripada hukuman mati. Dengan melenyapkan orang-orang yang tersebut sama artinya dengan melindungi orang lain dari kejahatan mereka. Namun mereka yang menetang beranggapan bahwa para pelaku bukanlah pelaku tunggal, melainkan terbentuk dari adanya sistem sehingga kesalahan tidak bisa ditimpakan kepada mereka semata. Karena ada kesempatan dari sistem hukam yang lemah dan keterpaksaan dari segi ekonomi dan kesejahteraan hidup sehingga mereka melakukan tindakan tersebut. Seluruh aspek turut menyumbang peran dan harus diperbaiki.

Personally, saya setuju bahwa pelaku kejahatan tersebut harus dihukum seberat-beratnya, tetapi apakah harus dengan hukuman mati? Dilematis memang mengenai hukuman tersebut. Honestly, I think sampah masyarakat memang harus dilenyapkan. Meskipun demikian, saya tetap tidak bisa mendukung hukuman mati sebagai putusan yang adil. I have my own reasons. Pertama, jika dikatakan bahwa hukuman mati memberikan efek jera, I don’t think so. Buktinya jumlah kejahatan narkoba semakin meningkat bukan menurun. Demikian juga melenyapkan beberapa orang tidak lantas membuat kejahatan tersebut musnah dari muka bumi. Yang ada malah menimbulkan suksesi dan regenerasi. Hukuman mati tidak menyelesaikan masalah sampai tuntas, hanya menyelesaikan satu bagian episode saja.

Kedua, saya setuju bahwa kejahatan narkoba adalah kejahatan jaringan, kejahatan yang sistematis, terstruktur dan masif. Seseorang menjadi penjahat, pengedar atau pemakai tentunya tidak berdiri sendiri, melainkan ada backingan dari pihak-pihak lain. Selama ini hanya para pemain depan lah yang selalu menjadi tumbal, tetapi sutradara, penulis skenario dan produsernya sama sekali tidak tersentuh. Jika memang memberantas kejahatan tersebtu maka harus diberantas sampai ke akar-akarnya. Percuma memotong ranting, toh nanti juga akan tetap tumuh. Jika dikatakan bahwa sistem hukum Indo lemah, memang harus diakui hal tersebut ada benarnya juga, but I won’t comment about it. Demikian juga dengan tuntutan hidup yang mendorong orang menjadi bagian dari jaringan tersebut. Pemerintah memang turut memegang andil secara tidak langsung. Jika pemerintah mampu mensejahterakan rakyat maka tentunya tidak ada rakyat mau terjerat dalam kejahatan itu. Meskipun sebenarnya orang-orang tersebut juga bersalah karena mereka sebenarnya memiliki pilihan untuk menolak ambil bagian dalam kejahatan tersebut, tetapi tidak memilih dengan bijak.

Ketiga, dari segi moral, saya tidak setuju untuk melenyapkan nyawa orang lain, seberapa jahatnya orang tersebut. Jika Sang Pemberi Kehidupan tidak mengambil hidup yang diberikannya, masakan kita manusia berhak menentukan siapa yang layak hidup dan siapa yang tidak. Memutuskan nyawa seseorang sama halnya dengan menghilangkan kesempatannya. Memang saya tidak tahu mau jadi apa mereka ke depan. Akan tetapi jika ada orang yang benar-benar bertobat dan di kemudian hari orang tersebut menjadi seorang yang benar-benar baik, dunia ini akan kehilangan kesempatan untuk menjadi lebih baik karena orang tersebut telah dimusnahkan sebelumnya. Memang hal ini belum pasti, tapi saya rasa setiap orang memiliki kesempatan selama dia hidup, masalahnya adalah ketika dia kehilangan hidupnya maka orang tersebut juga kehilangan kesempatannya.

Memang sih, topik ini cukup kontroversial dan setiap orang memiliki pandangannya masing-masing. Menutup tulisan saya, saya ingin mengutip kata-kata kakak Fransisca Yopie di Mata Najwa. memang tidak berhubungan dengan kasus narkoba, tetapi masih terkait dengan hukuman mati. Sebagai orang yang kehilangan anggota keluarganya dengan cara yang sadis, perempuan itu seingat saya berkata kurang lebih nya begini: soal hukuman mati itu (untuk eksekutor adiknya) adalah keputusan pengadilan. Keluarga menginginkan keadilan. Otak kejahatan belum tersentuh hanya pelakunya saja. Orang itu (pelaku) memiliki pilihan untuk bicara atau bungkam, tapi dia memilih bungkam…

Belakang Hotel…

Belakang Hotel

ketika  kaum marginal

melawan kata adil

Kemarin saya mengikuti acara pemutaran film ‘Belakang Hotel’ sebuah kampanye terselubung untuk memperhatikan lingkungan hidup, khususnya air sebagai komponen abiotik. Film itu mendokumentasikan warga kampung yang sumurnya kering dan warga menuduh hotel yang ada di dekat kampung mereka sebagai pencuri air yang seharusnya ada di sumur mereka. Menurut warga sebelum ada pembangunan hotel-hotel dulu air sumur mereka tidak pernah kering. Penjelasan singkatnya terjadi perebutan air tanah antara sumur warga yang berteknologi sederhana dengan sumur bor hotel yang berteknologi mutakhir, dan sudah bisa diduga hasilnya bahwa warga kalah. Oleh karena itu wajar jika banyak warga yang menentang pembangunan hotel, apartemen maupun bangunan-bangunan komersil yang dianggap tidak ramah lingkungan. Yah sudah rahasia umum kalau IMB bangunan semacam itu banyak yang pake ilmu sulap, meskipun ada juga yang menempuh prosedur yang benar.

Jika ditinjau ulang, sebenarnya menuduh hotel sebagai satu-satunya penyebab masalah keringnya sumur warga rasanya kurang bijak. Dalam pembangunan infrastruktur banyak pihak yang bermain di sana. Ada owner, pengguna/ konsumen, perencana dan pelaksana, yang tentunya terdiri dari  orang-orang yang ahli di bidangnya, dan pengambil kebijakan, dalam hal ini mereka yang memiliki wewenang untuk menandatangi ijin pembangunan tersebut. Bisa dikatakan semua orang memiliki sumbangsih dalam permasalahan tersebut. Dari kacamata seorang mantan buruh proyek, ketika mendesain sebuah proyek entah apa pun itu, hotel, apartemen, mall seharusnya memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan. Orang yang mengaku sebagai arsitek harus bisa membuat bangunannya ramah lingkungan, kalau nggak ngapain pake arsitek, kalau cuma asal bikin semua orang juga bisa, suruh tukang aja juga bisa kok. Nilai plus seorang arsitek adalah ketika bisa menciptakan desain yang menguntungkan semua orang dan lingkungan, bukan cuma owner aja tapi mencekik leher orang lain secara tidak langsung. Personally, saya percaya ketika kita membuat sesuatu yang baik dan benar akan mendatangkan kebaikan bagi sesama, mereka akan mendoakan kita juga, demikian juga sebaliknya perbuatan yang egois akan mendatangkan kutukan dari orang lain.

Lalu sebagai orang awam, tentu juga memiliki andil. Kan sudah saya tulis semua orang memiliki andil. Tindakan siapa pun kita memiliki dampak. Orang sudah mati aja juga masih bisa berdampak buat lingkungan dan orang lain. Buktinya, meskipun orang nya sudah tidak ada tapi keluarga masih tetap harus mengurusi jasadnya, istilah kasarnya masih ngrepotin orang lain, dan jasad orang itu ketika dikuburkan akan terurai dan menjadi komponen-komponen organik yang selanjutnya diterima oleh tanah. Ok kembali ke topik, ketika kita memanen air, maksudnya menggambil dan menggunakan air untuk kepentingan kita, apakah kita sudah menanam air sebelumnya? Kalau ada yang dipanen seharusnya ada yang ditanam. Kalau semua orang tidak mau menanam dan hanya mau memanen wajar saja jika air kita habis. Memang ada siklus hidrologi yang mengatakan bahwa jumlah air di muka bumi akan kekal. Masalahnya apakah komponen yang berwujud air bersih itu juga selamanya kekal? Dulu orang bisa minum air dari kran, sekarang kalau mau minum beli aqua. Dulu orang bisa mandi di pinggir kali (sungai). Sekarang jadi seperti apa sungai kita?

Salah satu hal yang bisa dilakukan oleh semua orang adalah menanam air, yaitu dengan membuat sumur resapan di masing-masing rumah. Dengan membuat sumur resapan maka kita mengembalikan air yang kita pakai kembali ke bumi. Masalahnya apakah selama ini kita melakukan hal itu, menanam air atau hanya membuang air ke selokan? Hal lain yang bisa dilakukan adalah mencuci air. Apa itu mencuci air? Mencuci air dalam hal ini adalah mengembalikan air yang dibuang ke bumi dalam keadaan bersih. Hal ini terkait erat dengan pengolahan limbah, baik limbah domestik maupun limbah industri. Apakah kita membuang air bekas cucian yang masih mengandung deterjen langsung saja ke selokan atau ke tanah? Bukankah air bekas cucian itu berbahaya, kalau tidak percaya coba diminum itu airnya, masih hidup nggak. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mencuci air salah satunya adalah dengan menggunakan bak penampungan air untuk menyaring dan mengendapkan kotoran sehingga kualitas air yang keluar bisa lebih baik. Satu cara lagi yang saya yakin pasti bisa dilakukan oleh semua orang adalah mengehemat air, mematikan kran yang tidak terpakai, tidak mandi berlama-lama dan tidak membuang-buang air.

Ketika anda memperlakukan lingkungan dengan baik, maka lingkungan juga akan memperlakukan anda dengan baik. Selamat bersahabat dengan lingkungan.

Kemarahan Musa dan hukuman Tuhan

Beberapa hari yang lalu saya mendengarkan siaran radio, sekilas saja sih karena sinyalnya jelek sehingga suara yang saya dengar kurang jelas dan putus-putus. Satu hal yang menarik, menurut saya sih, waktu mereka membahas tentang kemarahan Musa dan hukuman yang Tuhan jatuhkan kepadanya.

Jika dipikirkan, setidaknya menurut saya, kesalahan Musa pada waktu itu adalah marah kepada bangsa Israel sewaktu mereka meminta air di padang gurun. Dalam kemarahannya itulah Musa tidak menuruti perintah Tuhan, yang mana Dia memerintahkan Musa untuk menyentuh batu, tapi Musa malah memukul batu itu. Memang sih hasilnya sama saja, tetap keluar air dari batu itu dan bangsa Israel dipuaskan dahaganya. Namun akibat ketidaktaatan Musa itu, Tuhan tidak memberikannya kesempatan untuk masuk ke tanah perjanjian.

Menurut saya, kesalahan itu tidaklah terlalu fatal. Musa pernah membunuh pada masa mudanya, dan Tuhan tidak memperhitungkan hal itu, maksud saya Tuhan tidak mengungkit-ungkit masalah tersebut dan bisa jadi Tuhan mengampuninya. Musa juga tidak menyembah berhala seperti mayoritas bangsa yang dipimpinnya. Bisa dibilang hidup Musa dapat dikategorikan cukup saleh. Tapi mengapa kesalahan yang menurut saya dapat dikategorikan dosa kecil, dibandingkan dosa yang dilakukan Musa pada masa mudanya, mengakibatkan hukuman yang sangat fatal? Jika Tuhan bisa mengampuni orang lain yang dosanya jauh lebih besar dan lebih jahat daripada Musa, mengapa Tuhan malah menjatuhkan hukuman yang sedemikian berat bagi Musa? Tidakkah Tuhan sanggup mengampuni Musa, dengan memperhitungkan segala yang telah dilakukannya selama ini?

Argumen-argumen itulah yang menjadi dasar bagi saya untuk mempertanyakan perbuatan dan putusan Tuhan. Saya yakin tidak sedikit orang yang sepaham dengan saya. Namun perlu diingat bahwa dosa itu sama saja, tidak ada dosa kecil atau dosa besar, dosa suci maupun dosa kotor, dosa hitam maupun putih. Yang namanya dosa ya dosa. Dan itu sudah harga mati. Semua tindakan, perilaku, apa pun itu yang melawan Tuhan adalah dosa. Tindakan Musa yang tidak mentaati Tuhan dalam kemarahannya adalah dosa dan sudah jelas bahwa dosa itu hukumannya maut. Saya tidak terlalu paham mengenai karakter Musa, dan saya tidak mau menelaah lebih jauh mengapa dia berbuat begitu. Saya yakin pasti semua orang memiliki alibi yang kuat sebgai dasar pertimbangan dalam perbuatannya. Tapi hukuman Tuhan atas dosa tidak mentolerir alibi-alibi tersebut. Sekali lagi, dosa itu sudah harga mati.

Kembali pada hukuman Tuhan. Lalu, apakah Tuhan menjadi Tuhan yang kejam dan tidak berbelas kasih karena menjatuhkan hukuman yang sedemikian berat kepada Musa? Jika ditelaah lebih jauh, sesungguhnya Tuhan itu sudah sedemikian mengasihi Musa. Tuhan memilih Musa, memanggil dia secara khusus melalui semak duri yang menyala, ketika Musa meminta untuk melihat kemuliaan Tuhan, Tuhan mengabulkan permintaannya, bahkan di akhir hidupnya, Musa dikatakan tidak ditemukan makamnya, bisa jadi dia telah diangkat oleh Tuhan. Coba, kurang baik apa Tuhan itu?

Sebenarnya pola pikir manusialah yang selalu berusaha untuk mencari apa yang menguntungkan dirinya dan melakukan pembelaan diri. Jika kita melihat cara pandang Tuhan, bahwa Dia telah memberikan segala yang baik kepada kita, maka tidak sepantasnya kita menjadi jaksa yang menuntut Tuhan. Semua yang telah diberikan Tuhan kepada manusia rupanya membuat manusia lupa diri dan tidak lagi mengingat kebaikan-kebaikan Tuhan. Saya sadar hal itulah yang terjadi pada diri saya ketika saya mempertanyakan hukuman yang diberikan Tuhan kepada Musa.

Seringkali dalam banyak hal saya mempertanyakan keputusan Tuhan. Sering saya berpikir bahwa Tuhan itu tidak adil. Namun tidak sepantasnya saya mempertanyakan Tuhan, alih-alih mempertanyakan Tuhan seharusnya saya mengubah pola pikir saya dari menuntut Tuhan menjadi mensyukuri kebaikanNya atas hidup saya. Belajar untuk melihat hidup ini lebih objektif, bukan hanya berpusat pada saya dan keutamaan saya. GB.

The fair unfair life

I think this life is unfair. Look at the surrounding of yours. There are so many people starving while the others are having abundant food. There are so many people homeless, who sleep under the dark sky, when the others buy the gold dog house for their dogs. Even there are so many righteous people who suffer while the wicked ones are sitting on the thrones and laughing for the ridiculus of goodness.

But when I think again, somehow I believe this unfair life is fair enough for us. God was created us diferently and each of us is unique. I believe He created the condition that support us, even it’s the opposite of what we want, but somehow He support us with strenght for overpowering it. I can’t imagine the poor people that don’t have house, they sleep under the bridge, in the darkness of city shadow, but yet, they still survive. I think if it’s me, I won’t make it, I can’t stand for it.

I can’t understand how can the poor survive. I think my life is hard enough, but their is harder than mine. But yet, God keeps them and feeds them. He’s taking care of them. God’s providing their life. My mind can’t accept it, it’s out of my mind, but my heart keep it. That’s why I said He gives us the unfair life that fair enough for each of us.

I enjoy watching the television program that show the live of poor people. In one episode, it showed widow with a mental illnes son. They were poor, and their life was hard, even harder because of the son. But the mother said, it’s because her son, she keep her spirit of life burnt. Somehow, her unperfect son gave her a life purpose. It was very awesome. I thought somehow God was fair to them, even their life was hard, but God made them could continue their life. I can’t explain my feeling but that’s what I think, and what I feel.

It’s seems like the master who gave his money to his servants, each one was given different sum of money, each one is different, according to their ability. Think bout it, it seems that it’s not fair, because the master gave different sum of money to them, but in the other way, it’s fair enough because each of them was given according to their ability. Problem appreared when we thought it’s unfair and we complained, then we did not do anything for the money. It was ourselves that set our life horrible. Take a look the poor people who were simply grateful bout their simple life, they lived happily even they lacked for money, food and comfortable life. At least, it was what we think, but maybe it’s not what they think. In spite of complaining bout their life and wanting abother life, they simply enjoyed their simple life.

I know maybe this can’t be accepted. I said before, it’s out of my mind. But somehow my heart told me for believing in this life, the perfect unperfect life that  He created, this fair unfair live we face. Still, try to enjoy your unfair life. It feels a bit beautiful when we smile this life.

Justice

Tuhan, apakah keadilan itu?

Ada orang yang makan sampai sakit perut dan membuang-buang makanan

Namun ada juga yang tidak makan berhari-hari, mengais-ngais mencari sisa makanan yang dibuang

Apakah ini keadilan? Apakah yang seorang harus makan berlebihan lalu membuangnya agar dapat dimakan oleh yg lain? Mengapa tidak dengan rela membaginya saja?

 

Ada orang yang memiliki banyak mobil bermerk dan hanya dijadikan pajangan garasi

Namun ada juga yang tidak punya kendaraan dan harus berjalan kaki kesana kemari

Apakah ini juga keadilan? Saat yang seorang pergi kesana kemari naik mobil sementara banyak orang yang harus berjalan berkilo-kilo meter? Mengapa tidak memberikan tumpangan kepada yang lain?

 

Ada orang yang bekerja keras siang dan malam untuk menghidupi dirinya dan keluarganya

Namun ada juga yang mencari jalan pintas, merampok orang lain bahkan membunuh hanya demi beberapa rupiah tanpa berpikir bagaimana keluarga yang bergantung kepadanya

Apakah ini juga keadilan? Apakah mereka bekerja keras untuk diambil, dirampok oleh orang lain? Mengapa tidak bekerja bersama, bukankah pekerjaan yang dilakukan bersama akan lebih ringan dan hasilnya juga dapat dibagi?

 

Ada orang yang tertawa sementara ada juga yang menangis.

Apakah ini juga keadilan? Perlukah sesorang tertawa di atas tangisan orang lain?

 

Keadilan macam apakah ini? Apakah keadilan berpihak kepada mereka yang berkuasa, mampu dan punya segalanya, dan melupakan mereka yang tersingkir, terlantar dan tak dianggap?

Apakah mereka yang tersingkir harus benar-benar disingkirkan?

Ada yang mengatakan apa yang kamu tabur, itulah yang kamu tuai. Tapi pada realitanya banyak orang menuai dari apa yang tidak dia tabur. Sekali lagi, apakah ini yang namanya keadilan?

 

Ketika berpikir tentang keadilan dan bertanya kepada Tuhan, “Keadilan macam apa ini Tuhan?”

Dia hanya menjawab, “Keadilan yang penuh kasih.”

 

Ya, itulah keadilan Tuhan. Jalan Tuhan berbeda dengan jalan kita dan pikiranNya tak dapat dimengerti oleh manusia.

Keadilan yang ada dalam bayangan kita adalah apa yang kita pikir itu adil. Namun jika ditelaah lebih lanjut seharusnya yang dinamakan keadilan itu adalah ketika kita mendapatkan apa yang seharusnya kita dapatkan. Dan seharusnya manusia mendapatkan maut karena dosa.

 

Karena kasihNya maka kita masih beroleh anugerah hidup. Dan sekarang kita masih mau memprotes Sang Pemberi Hidup? Tidak salah memang untuk menanyakan segalah sesuatunya kepada Tuhan dan Dia pasti memberikan jawabannya. Dengan bertanya kita dapat lebih memahami jalan pikirannya.

 

Kembali pada keadilan, jika mau adil sehrusnya semua orang menerima hal yang sama. Tidak ada perbedaan dan diskriminasi. Itulah keadilan, sama rata sama rasa. Namun apakah hal itu benar-benar keadilan yang sesungguhnya? Bukankah tidak adil jika mereka yang berusaha keras untuk mendapatkan sesuatu mendapatkan bagian sama dengan mereka yang sama sekali tidak berusaha.

 

Lalu harus seperti apakah keadilan itu?

Keadilan yang sebenarnya hanya dapat diberikan oleh Sang Pemberi Keadilan. Keadilan yang penuh kasih. Keadilan yang mengampuni dosa dan kejahatan. Keadilan yang memberikan apa yang seharusnya tidak layak dan tidak pantas didapatkan oleh manusia.

 

Mungkin masih ada dalam piiran kita bagiamana dengan mereka yang mendapat dan merasa tidak diperlakukan dengan adil? Tidak perlu khawatir dan cemas. Ada Sang Hakim Adil yang senantiasa mengetahui dan menjaga kita dari segala ketidak adilan. Dan perlu diingat, Dia juga memberikan keadilan yang penuh kasih.

 

Bersyukurlah atas apa yang kamu dapatkan karena tidak semua orang seberuntung dirimu. Dan bagikanlah kasihNya kepada mereka yang kurang beruntung. Itulah keadilan  Tuhan, keadilan yang penuh kasih. Tidak memaksa, namun penuh kelemahlembutan. 

Tulisan yang kupublish di facebook ku dua tahun lalu…