Justice

Tuhan, apakah keadilan itu?

Ada orang yang makan sampai sakit perut dan membuang-buang makanan

Namun ada juga yang tidak makan berhari-hari, mengais-ngais mencari sisa makanan yang dibuang

Apakah ini keadilan? Apakah yang seorang harus makan berlebihan lalu membuangnya agar dapat dimakan oleh yg lain? Mengapa tidak dengan rela membaginya saja?

 

Ada orang yang memiliki banyak mobil bermerk dan hanya dijadikan pajangan garasi

Namun ada juga yang tidak punya kendaraan dan harus berjalan kaki kesana kemari

Apakah ini juga keadilan? Saat yang seorang pergi kesana kemari naik mobil sementara banyak orang yang harus berjalan berkilo-kilo meter? Mengapa tidak memberikan tumpangan kepada yang lain?

 

Ada orang yang bekerja keras siang dan malam untuk menghidupi dirinya dan keluarganya

Namun ada juga yang mencari jalan pintas, merampok orang lain bahkan membunuh hanya demi beberapa rupiah tanpa berpikir bagaimana keluarga yang bergantung kepadanya

Apakah ini juga keadilan? Apakah mereka bekerja keras untuk diambil, dirampok oleh orang lain? Mengapa tidak bekerja bersama, bukankah pekerjaan yang dilakukan bersama akan lebih ringan dan hasilnya juga dapat dibagi?

 

Ada orang yang tertawa sementara ada juga yang menangis.

Apakah ini juga keadilan? Perlukah sesorang tertawa di atas tangisan orang lain?

 

Keadilan macam apakah ini? Apakah keadilan berpihak kepada mereka yang berkuasa, mampu dan punya segalanya, dan melupakan mereka yang tersingkir, terlantar dan tak dianggap?

Apakah mereka yang tersingkir harus benar-benar disingkirkan?

Ada yang mengatakan apa yang kamu tabur, itulah yang kamu tuai. Tapi pada realitanya banyak orang menuai dari apa yang tidak dia tabur. Sekali lagi, apakah ini yang namanya keadilan?

 

Ketika berpikir tentang keadilan dan bertanya kepada Tuhan, “Keadilan macam apa ini Tuhan?”

Dia hanya menjawab, “Keadilan yang penuh kasih.”

 

Ya, itulah keadilan Tuhan. Jalan Tuhan berbeda dengan jalan kita dan pikiranNya tak dapat dimengerti oleh manusia.

Keadilan yang ada dalam bayangan kita adalah apa yang kita pikir itu adil. Namun jika ditelaah lebih lanjut seharusnya yang dinamakan keadilan itu adalah ketika kita mendapatkan apa yang seharusnya kita dapatkan. Dan seharusnya manusia mendapatkan maut karena dosa.

 

Karena kasihNya maka kita masih beroleh anugerah hidup. Dan sekarang kita masih mau memprotes Sang Pemberi Hidup? Tidak salah memang untuk menanyakan segalah sesuatunya kepada Tuhan dan Dia pasti memberikan jawabannya. Dengan bertanya kita dapat lebih memahami jalan pikirannya.

 

Kembali pada keadilan, jika mau adil sehrusnya semua orang menerima hal yang sama. Tidak ada perbedaan dan diskriminasi. Itulah keadilan, sama rata sama rasa. Namun apakah hal itu benar-benar keadilan yang sesungguhnya? Bukankah tidak adil jika mereka yang berusaha keras untuk mendapatkan sesuatu mendapatkan bagian sama dengan mereka yang sama sekali tidak berusaha.

 

Lalu harus seperti apakah keadilan itu?

Keadilan yang sebenarnya hanya dapat diberikan oleh Sang Pemberi Keadilan. Keadilan yang penuh kasih. Keadilan yang mengampuni dosa dan kejahatan. Keadilan yang memberikan apa yang seharusnya tidak layak dan tidak pantas didapatkan oleh manusia.

 

Mungkin masih ada dalam piiran kita bagiamana dengan mereka yang mendapat dan merasa tidak diperlakukan dengan adil? Tidak perlu khawatir dan cemas. Ada Sang Hakim Adil yang senantiasa mengetahui dan menjaga kita dari segala ketidak adilan. Dan perlu diingat, Dia juga memberikan keadilan yang penuh kasih.

 

Bersyukurlah atas apa yang kamu dapatkan karena tidak semua orang seberuntung dirimu. Dan bagikanlah kasihNya kepada mereka yang kurang beruntung. Itulah keadilan  Tuhan, keadilan yang penuh kasih. Tidak memaksa, namun penuh kelemahlembutan. 

Tulisan yang kupublish di facebook ku dua tahun lalu… 

Advertisements

Keadilan sedang tidur…

Hari ini dalam perjalanan pulang meeting, aku melihat seorang pengendara motor menggunakan kaos bertuliskan ‘keadilan sedang tidur’. I think it’s interesting. Dewasa ini memang banyak hal-hal yang membuat orang bersikap pesimis terhadap keadilan. Apakah keadilan tidak ada lagi? Di manakah keadilan sekarang berdiri?

 

Menurutku sih, ada beberapa hal yang melatar belakangi pola pikir tersebut:

1.Apakah definisi keadilan itu

Apakah keadilan itu? Bisa saja masing-masing orang mendefinisikan keadilan itu menurut pandangan mereka masing-masing. Contohnya ada dua keluarga, yang satu memiliki dua anak dan yang lain tidak memiliki anak. Pada suatu hari tetangga mereka sedang punya hajat dan tetangga itu memberikan dua buah kotak, syukuran lah istilahnya kepada keluarga A yang memiliki dua anak, sedangkan pada keluarga B yang tidak memiliki anak hanya mendapat satu kotak. Bisa saja hal itu dipandang adil oleh keluarga A karena keluarga A anggotanya lebih banyak daripada B, tetapi juga saja dipandang tidak adil oleh keluarga B. That’s why keadilan itu bisa saja dinilai subjektif. Barangkali itulah yang menimbulkan tindakan main hakim sendiri.

 

 2. Orang sudah kehilangan harapan akan keadilan

Terkait dengan tindakan main hakim sendiri, sebenarnya tindakan itu muncul akibat dari hilangnya harapan terhadap keadilan. Karena itulah orang yang merasa diperlakukan tidak adil berusaha menciptakan keadilan versi mereka sendiri. Sebenarnya hal ini terkait juga dengan pandangan orang mengenai keadilan. Aku juga dapat dikatakan pesimis terhadap keadilan, karena merasa bahwa di mana-mana banyak terjadi ketidakadilan. Sering aku bertanya di manakah keadilan itu bersembunyi, mengapa dia tak juga menampakkan dirinya. Tak jarang aku bertindak layaknya hakim yang menjudge orang lain, merasa diri paling benar, but it’s not true. Pembalasan adalah hak Tuhan. Keadilan yang sebenarnya ada di tangan Tuhan. Aku percaya bahwa Tuhan itu maha adil. Aku pernah sih menuangkan tulisan tentang keadilan, tapi datanya ada di computer lama, nantilah kapan-kapan aku cari, kalau sempat hehehe…

 

Itulah sedikit pemikiranku mengenai tulisan di kaos pengendara sepeda motor yang menggelitik otakku. Itu sih menurutku, anyway kalau ada yang punya pandangan berbeda it’s ok hehehe…

Pekerja kebun anggur

Ketika malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu. Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi merekapun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik  matahari. Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku memberikannya kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? (Mat 20:8-15)

Pada awalnya aku setuju dengan para pekerja itu, tidak adil jika mereka mendapatkan upah yang sama padahal jam kerja mereka lebih banyak. Akan tetapi aku mendapatkan pemahaman lain, chek my cerpen : Pekerja di kandang ayam.

Poin-poin yang mengubah perspektifku adalah:

  1. Sudah ditekankan di awal bahwa upah pekerjaan itu adalah satu dinar sehari, bukan satu dinar satu jam atau seperduapuluh empat dinar selama satu jam. Jika memang sejak awal tidak terjadi kesepakatan maka para pekerja itu tidak perlu mengerjakannya. Dan waktu berlangsungnya pekerjaan itu adalah satu hari, meskipun ada hitungan jam nya juga, tetapi faktor pembagi yang digunakan adalah hari dan bukan jam.
  2. Seperti yang kutulis dalam cerpenku, bisa saja tuan itu merekrut pekerja lain karena pekerjaan itu terlalu banyak sehingga para pekerja yang mulai bekerja sejak pagi tidak akan sanggup menyelesaikannya. Bukankah pada akhirnya sama saja jika pekerjaan itu tidak selesai dalam sehari maka harus dilanjutkan keesokan harinya dan tuan itu tetap saja membayar satu dinar lagi untuk keesokan harinya. Tidak dijelaskan pukul berapa pekerjaan itu selesai, tetapi menurut asumsiku pekerjaan itu selesai tepat pada waktu berakhirnya hari itu, karena pada siang hari pekerjaan itu belum selesai dan demikian juga pada sore harinya. Lagipula jika suatu pekerjaan dikerjakan bersama-sama hasilnya akan jauh berkali-kali lipat dibandingkan apa yang dihasilkan jika orang dalam jumlah yang sama bekerja sendiri-sendiri (bukan opiniku, sudah ada buktinya). Karena itulah muncul kata-kata ‘karena aku murah hati’, murah hati di sini bukan murah hati hanya kepada mereka yang bekerja dengan jam kerja lebih sedikit tetapi juga kepada mereka yang bekerja dalam jam kerja yang banyak. Tak ada pilih kasih. Kemurahan itu ditujukan kepada semua orang.
  3. Perasaan tidak adil itu muncul karena manusia merasa iri terhadap sesamanya, dapat dilihat di sini poinnya adalah memandang kepada ‘keakuan’, berpusat pada diri sendiri, sehingga mulai membanding-bandingkan. Jika sudah menyangkut ego dan ‘keakuan’ maka efeknya pasti tidak baik. Iri hati timbul karena ‘aku’ merasa dirugikan oleh orang lain, padahal sebenarnya tidak. ‘Aku’ tidak rugi apa pun karena menerima jumlah yang sesuai dengan kesepakatan. Hak ku tidak diambil oleh orang lain. Hanya saja ‘aku’ tidak senang karena orang lain menerima jumlah yang sama pula. Justru ‘aku’ lah yang ingin mengambil hak orang lain. Itulah egoisme manusia.

Barangkali sekian dulu penjabaranku, semoga bisa dimengerti, maaf jika aku tak pandai merangkai kata yang mudah dipahami dan dicerna. Masih harus banyak belajar untuk menguraikan kerumitan pikiran dalam kata-kata yang sederhana.

Pekerja di kandang ayam

Pagi itu Ujang sedang menikmati sarapan paginya, secangkir kopi, saat bosnya memanggilnya. Sebuah tugas sedang menanti, pikir Ujang. Dengan sigap Ujang meninggalkan cangkir kopinya yang masih berisi setengah, dan menjawab panggilan bosnya. Ternyata hari itu dia mendapat tugas untuk membersihkan kandang ayam. Ujang memang bekerja di sbuah peternakan ayam, tentunya kandang ayam yang harus dibersihkannya bukan sepetak kandang kecil berukuran satu kali satu meter, melainkan puluhan meter persegi.

Maka dengan semangat 45 Ujang mulai melaksanakan amanat dari sang bos, apalagi ditambah embel-embel bonus setelah selesai membersihkan kandang ayam itu. Selain luas, kandang itu juga sangat kotor, ya kalian tahulah seperti apa kandang itu, penuh kotoran yaman dan tentunya baunya bukan main. Setelah mengumpulkan ayam-ayam dalam satu ruas kandang, maka mulailah Ujang membersihkan ruas-ruas kandang yang lain. Detik demi detik berlalu, berganti menit, dan menit pun berubah rupa menjadi jam. Tak terasa sudah jam dua belas siang, waktunya Ujang beristirahat. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakoninya, baru seperempat bagian kandang yang selesai dibersihkannya. Dalam hati Ujang mengutuki luasnya kandang ayam yang dimiliki bosnya.

Selesai beristirahat, Ujang kembali melanjutkan pekerjaannya. Tapi kali ini dia tidak sendiri. Entah dari mana tiba-tiba Ucup muncul dan mulai ikut membersihkan kandang ayam itu. Rupanya sang bos yang sedari pagi mengawasi Ujang bekerja menugaskan Ucup untuk turun tangan membersihkan kandang itu. Ujang tidak akan sanggup menyelesaikan pekerjaannya sebelum hari gelap, batin sang bos. Maka tanpa banyak bicara Ujang dan Ucup bekerja membersihkan kandang ayam bersama-sama.

Menjelang sore hari, kira-kira pukul tiga kembali sang bos memanggil kedua anak buahnya itu. Dua cangkir es teh dan beberapa potong pisang goreng telah tersaji di meja. Jam tiga siang adalah saat di mana matahari tepat berada di atas kepala, teriknya tak tertahankan. Ujang pun melahap sajian yang menggugah selera itu, meskipun hanya seadanya, diikuti Ucup yang mengekor jejak kawannya.

Sekarang waktunya kembali bekerja, tapi siapa lagi itu yang datang? Rupanya sang bos kembali menghadirkan orang lain untuk terjun membersihkan kandang ayam. Kali ini Asep turut bergabung dalam tim kecil itu. Ujang, Ucup dan Asep bekerja bersama. Tak butuh waktu banyak bagi mereka untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Menjelang magrib, kandang ayam itu telah bersih, dan ayam-ayam pun telah berada di tempat mereka masing-masing. Saatnya Ujang menagih janji sang bos.

Ujang mendapat giliran paling akhir, setelah Ucup dan Asep menerima amplop yang berisi bonus dari bos. Setelah mengucapkan terima kasih, dibukanya amplop itu. Beberapa lembar kertas warna hijau menampakkan wajahnya. Ujang menghitung jumlah lembar yang ada, tapi kemudian dia mengeluarkan lembar demi lembar, lalu membuka kembali amplopnya lebar-lebar, mengangkatnya tinggi-tinggi lalu membaliknya, menunggu sesuatu yang akan jatuh dari amplop itu. Nihil, tak ada apa-apa. Ternyata jumlah lembar yang diterimanya sama dengan yang diterima Ucup dan Asep. Wajah Ujang mulai mengeras, dia merasa tidak diperlakukan dengan adil. Bukankah dia membersihkan kandang itu lebih awal daripada kedua rekannya itu, berarti seharusnya dia mendapat jumlah yang lebih besar, tapi nyatanya tidak.

“Mengapa wajahmu tidak menunjukkan kepuasan?” tanya sang bos. Entah sejak kapan dia sudah berdiri di samping anak buahnya itu. Karena Ujang tidak juga membuka mulutnya maka kembali sang bos bertanya, “Apakah kau merasa diperlakukan tidak adil?”

Iya, dalam hati Ujang menjawab, meskipun mulutnya tetap terkunci rapat.

“Pantaskah kau marah terhadapku, padahal aku menugaskan Ucup dan Asep untuk membantumu. Aku tahu kau tidak akan dapat menyelesaikan pekerjaan itu seorang diri. Pikirkanlah lagi, jika kau dapat menyelesaikan pekerjaan itu sebelum hari gelap, maka aku tak perlu menyuruh orang lain untuk membantumu, dan aku tak perlu mengeluarkan uang untuk membayar mereka, cukup kau saja. Dan kini kau marah padaku, karena aku murah hati?”