bagaimana jadinya dunia tanpa…

Ketika menonton trailer film Bulan Terbelah di Langit Amerika, tulisan di trailer itu cukup menggelitikku. Bagaimana jadinya dunia tanpa Islam? Kurang lebih seperti itulah tulisan yang ada di trailer film itu. Sempat aku berpikir seperti apa wajah dunia saat ini jika agama itu tidak ada. Mungkin saja peristiwa 9/11 tidak akan terjadi. Tapi tak ada jaminan juga bahwa dunia akan lebih baik dari kenyataan sekarang ini. Maksudku, banyak tokoh-tokoh muslim yang berperan dan turut mempengaruhi dunia menjadi lebih baik. Bagaimana jika mereka tidak ada, apakah dunia ini akan jadi seperti ini? Katakanlah di Indonesia sendiri, proklamator kemerdekaan Bung Karno dan Bung Hatta adalah muslim. Aku tak tahu bagaimana jika mereka tidak menganut agama itu, katakanlah jika mereka adalah orang yang tidak percaya kepada Tuhan, apakah Indonesia saat ini akan menjadi negara merdeka? Bagaimanakah wajah negara ini sekarang?

Well, to the point aja, agama apa pun itu, mau X, Y, Z tak dapat dipungkiri bahwa mereka telah berperan serta memberikan kebaikan dan membentuk wajah dunia kita. Dengan berbagai kesedihan yang mewarnai dunia saat ini, bukan agamanya yang salah, melainkan orang-orangnya. Agama hanya menjadi salah satu alat untuk melegalkan kerakusan, ketamakan dan pembenaran diri. Aku percaya tanpa adanya agama orang yang pada dasarnya berniat jahat tetap akan melakukan niat jahatnya itu. Orang yang sudah memiliki niat jahat akan selalu berusaha menggunakan jalan apa pun untuk mncapai tujuannya. Justru, agama berperan membentuk manusia menjadi pribadi yang baik. Adalah pilihan masing-masing orang jika mereka memilih tidak menaklukan diri di bawah kebaikan, tetapi berusaha menggunakan ajaran-ajaran agama sesuai penafsiran mereka sendiri dengan tujuan membenarkan dirinya.

Akhir kata, adalah sangat picik dan berpikiran sempit jika membuang selusin telur hanya karena menemukan sebutir dua butir telur yang kebetulan busuk, tanpa memeriksa keseluruhan telur lainnya.

Advertisements

Not about Tolikara

Menyedihkan, itulah yang terlintas di pikiran saya saat mendengar berita tentang kericuhan yang terjadi di Tolikara, Papua. Sampai saat ini telah berkembang banyak versi mengenai kejadian tersebut, mulai dari berita yang intens ditayangkan di TV maupun yang beredar di sosial media.

Anyway, I don’t want to comment. Skeptis dan tidak mudah percaya adalah salah satu sikap yang harus dipegang oleh scientist. Mengenai berita yang beredar, saya tidak tahu yang mana yang dapat dipercaya. Harus dibuktikan dulu kebenarannya, dan kebenaran itu tidak boleh diputarbalikkan. Well, seorang teman yang memang bergerak di bidang media pernah memberitahu salah satu peran media adalah menggiring opini publik. That’s why I choose not to believe.

Sudahlah, bukan poin itu yang mau kubahas. Hal yang memprihatinkan adalah kejadian tersebut terjadi saat hari raya Idul Fitri. Entah apa motif dan siapa pelaku intelektualnya, biar yang berwenang saja yang berkomentar. Hanya saja, apa ya, sungguh kasihan orang-orang yang menggunakan hal itu, agama sebagai alat untuk memuaskan kepentingan pribadinya. Banyak terjadi kekerasan atas nama agama yang sebenarnya dilatarbelakangi oleh motif yang tidak jelas dan ujung-ujungnya hanya menimbulkan pertikaian dan kebencian antar umat beragama. Jujur saja ya, memangnya kalau berbeda agama apakah berarti selalu tidak sejalan, dan apakah kalau seagama selalu seiya sekata. I don’t think so. Pengalaman dan pengamatan berkata lain. Konflik itu terjadi karena perbedaan kepentingan dan hal-hal lain hanya dipakai sebagai senjata dalam menarik dukungan atau pembenaran atas egoisme pribadi.

Sempat terlintas dalam pikiran, bagaimana jika yang namanya agama itu tidak diadakan, barangkali dunia akan jadi lebih baik. Tapi hal itu tidak menjadi jaminan. Sebenarnya bukan agama nya yang salah tapi manusianya yang harus diperbaiki. Kemarin secara tidak sengaja saya menonton scene film Assalamualaikum Beijing, nggak sengaja nonton sih, pas pencet tombol remote control muncul adegan itu di layar TV, ketika Revalina ngobrol dengan Morgan, membicarakan masalah agama. Bukan agamanya yang salah, tetapi manusianya. Kalau tidak ada agama, bisa jadi keadaannya akan jauh lebih buruk. Kurang lebih seperti itu isi dialog dan poin yang kutangkap. Personally, I’m totally agree. Cuma nggak tahu gimana membenahinya lagi, secara alat yang seharusnya dipakai untuk membenahi malah dimanfaatkan sebagai mainan untuk membuat tambah rusak.

Kembali lagi mengenai kejadian di Tolikara, aku nggak tahu yang mana yang bener, bagaimana kejadian sebenarnya dan siapa aktor intelektualnya. Saling menyalahkan dan membenci adalah jerat yang sengaja dipasang. Tidak perlu terjebak. Justru orang yang menebar itu patut dikasihani dan semoga diampuni karena telah bermain-main dengan hal yang sakral.

Penghapusan agama dalam KTP

Beberapa hari lalu twitter saya sempat ramai membicarakan tentang penghapusan agama dalam KTP. Cukup menarik juga membaca twit para netizen, tentunya ada yang pro maupun kontra.  Pendapat saya secara pribadi, well menurut saya agama itu merupakan identitas seseorang. Jadi wajar saja kalau agama dicantumkan dalam KTP, bukankah fungsi KTP sebagai kartu identitas juga? Tapi hal yang tidak saya setujui adalah ketika agama yang tercantum dalam KTP digunakan sebagai alat diskriminasi oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan tertentu.

Apapun agamanya selama orang itu menganut salah satu dari sekian agama yang diakui oleh republik ini seharusnya tidak perlu dipermasalahkan. Yang kemudian menjadi masalah adalah adanya kepentingan-kepentingan sekelompok orang yang berbenturan dengan kelompok lain dan menggunakan agama sebagai salah satu alat untuk memuluskan kepentingan mereka. Saya rasa dari situlah asal muasalnya timbul wacana penghapusan agama dari KTP.

Saya analogikan jika sesoerang memiliki kepentingan untuk menjaga berat tubuhnya tetap terjaga apakah lantas dia membuang semua makanan dan mengharamkan semua makanan. Tentu tidak bukan. Orang itulah yang harus mengatur pola makanannya dan mengontrol dirinya agar tidak melanggar batas ketentuan berat badan yang diinginkan.

Demikian juga dengan wacana penghapusan agama dalam KTP. Bukan tulisan agamanya yang salah, tetapi pola pikir mayarakat yang perlu dibenahi. Saya masih ingat ketika saya masih kanak-kanak, saya tidak membedakan dengan siapa saya bermain. Saya tidak memandang apa agama anak tetangga yang saya ajak main setiap hari. Saya juga tidak mempermasalahkan apa suku teman-teman sekelas saya. Lingkunganlah yang telah membentuk manusia, mencemari pola pikir manusia dengan konten-konten negatif sehingga pola pikir yang murni berubah menjadi penuh prasangka dan pertikaian.

Jangan salahkan apa pun atau siapa pun, karena sesungguhnya manusia, kita sendirilah yang menyebabkan segala sesuatunya terjadi…

Repost

Merepost status seorang teman di halaman fb nya… Well, I absolutely agree with him and I think it’s good to share his opinion..

 

yang dinilai dari seorang manusia itu adalah amal dan perbuatannya bukan agamanya apa.

yang berhak untuk masuk surga adalah keimanan dan keyakin kepada sang pencipta, bukan orang2 yang fanatik tapi sebenarnya tak pernah mengerti iman dan keyakinannya sendiri

Agama itu adalah sebuah jalan, sebuah kunci, sebuah pedoman hidup menuju yang MAHA ESA, bukan sebuah jalan buat provokasi, bukan sebuah kunci adu domba dan bukan sebuah pedoman untuk saling melecehkan.

silahkan kalau mau beradu otak, strategi, progam untuk memuluskan jalan politik anda tapi ingatlah JANGAN PERNAH GUNAKAN AGAMA SEBAGI SARANA BUAT KEPENTINGAN POLITIK ANDA.

Tidak ada satupun AGAMA yang mengajarkan untuk MENCELA dan MENJELEKAN AGAMA YANG LAIN

 

copied from https://www.facebook.com/moneycastro?fref=ts

 

Sekadar menambahkan, saya prihatin dan kasihan dengan para guru PPKn / PMP yang repot-repot mengajar dari jaman dahulu jika output yang dihasilkan seperti sekarang ini. Sungguh menyedihkan…