Sepanjang jalan

Jam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit, dan aku masih berjuang berlari menuju ke kampus. Sial benar hari ini. Tadi pagi aku baru menyadari kalau ban motorku bocor dan sudah kempes total. Karena bingung dan tak tahu harus bagaimana akhirnya aku memutuskan naik kendaraan umum menuju ke kampus dan kutinggalkan motorku untuk beristirahat hari ini. Untuk menuju ke kampus aku harus berganti angkot sekali. Angkot yang lewat di depan kos ku berhenti di ujung gang sehingga aku harus berganti menaiki angkot yang membawaku dari ujung gang menuju ke gedung kampusku. Sudah lima belas menit aku menunggu, tapi angkot yang kutunggu tak juga datang. Kulirik beberapa tukang ojek yang mangkal di bawah pohon. Aku mulai berpikir untuk menggunakan jasa mereka, tapi di lain pihak aku malu kalau naik ojek ke kampus. Apa kata teman-temanku nanti? Kalau naik angkot aku masih bisa berhenti di warung yang berjarak beberapa meter dari kampus, kemudian berjalan kaki sampai ke kampus.  

Akhirnya kuputuskan untuk tak menunggu angkot lagi. Aku mulai berjalan, toh jaraknya tidak terlalu jauh, sekitar satu kilo. Semakin lama aku berjalan semakin cepat. Hingga kulirik jam tanganku dan kulihat jarum panjangnya yang mulai beranjak dari angka 10. Akhirnya kuputuskan untuk menyerah. Percuma sudah, dengan kecepatanku berjalan kaki aku takkan sampai di kelas tepat waktu. Kini aku hanya bisa berdoa semoga dosenku masih memperbolehkan aku masuk kelas. Memang dosen yang satu ini terkenal tidak mentolerir keterlambatan.

Aku mulai memperlambat langkah kakiku dan mengatur nafasku yang agak tersenggal-senggal. Seandainya saja aku tidak mengutamakan gengsiku dan memutuskan naik ojek tadi pasti sekarang aku sudah duduk manis di kelas yang berAC. Kuseka dahiku yang berpeluh. Bajuku juga mulai basah oleh keringat. Kini aku merasa konyol dan bodoh. Hanya untuk menjaga gengsi aku merugikan diriku sendiri. Padahal belum tentu juga teman-temanku peduli aku naik motor atau aku naik ojek atau aku jalan kaki. Betapa bodohnya aku.

**

Seringkali dalam hidup ini Tuhan telah menyediakan sarana transportasi yang memang telah disiapkanNya untuk mengantar kita sampai ke tujuan. Tapi yang namanya manusia sepertinya tidak pernah puas kalau tidak berusaha sendiri dan memilih mengerjakan jalannya sendiri, tidak mau memberdayagunakan sarana yang telah Tuhan siapkan. Manusia memilih jalannya sendiri dengan berbagai alasan yang melatar belakangi pilihannya itu, tidak berpasrah diri dan mengikuti apa yang Tuhan mau.

Akibatnya? Pilihan-pilihan manusia yang tidak tepat seringkali berdampak merugikan dirinya sendiri. Ada jalan yang lebih cepat dan nyaman, tapi nama ego manusia memilih jalan yang sulit dan sukar. Menurutku itu bukanlah pilihan yang bijak dan tidak membuktikan bahwa manusia itu kuat dan mampu berjuang sendiri, justru manusia itu bodoh karena memilih untuk merepotkan dirinya sendiri. Well, memang poin utama yang harus dikalahkan adalah ego dan ke-aku-an, barulah kita bisa menaklukan diri di bawah kaki Tuhan. 

Advertisements

Born this way…

Waktu kecil aku berharap memiliki orang tua yang kaya…

Yang setiap hari mengantarku berangkat ke sekolah dan menjemputku dengan mobil mewah, seperti teman-temanku…

Tapi kenyataannya tidak demikian, aku selalu berangkat sekolah dan pulang naik bus kota…

Aku ingin memiliki kakak laki-laki atau perempuan, rasanya menyenangkan punya seseorang untuk dimintai nasehat…

Tapi aku hanya memiliki adik laki-laki dan perempuan, yang kadang menyita waktuku…

Saat aku remaja aku ingin menjadi anak populer, yang jago berolahraga dan disukai lawan jenis…

Tapi kenyatannya aku hanyalah si kutu buku yang berotak biasa-biasa saja…

Waktu aku mengalami cinta pertama, aku ingin merasakan bagaimana rasanya pacaran…

Tapi sebelum itu terjadi, kusadari cintaku bertepuk sebelah tangan…

Saat aku kuliah aku ingin menjadi mahasiswa yang santai, punya part time job, juga berkencan, memulai sebuah relasi…

Tapi semua waktuku kuhabiskan untuk berkencan dengan tugas-tugas kuliahku…

Tamat kuliah aku mengingkan pekerjaan yang membuatku nyaman, tentunya dengan penghasilan yang tinggi…

Tapi yang kudapatkan adalah pekerjaan yang super sibuk, menguras pikiran dan tenaga, hingga membuatku terkapar setelah seharian bekerja…

Meskipun sampai sekarang tak semuanya berjalan seperti harapanku…

Jika aku bisa memilih dilahirkan kembali, aku tidak ingin mengubah apa pun…

I prefer born this way once again…

Bahagiaku bukan bahagiamu…

Bahagiaku bukan bahagiamu, apakah itu berarti bahagiamu bukan bahagiaku?

Entahlah, aku tak mau menghapus bahagiamu tapi aku juga tak ingin kehilangan bahagiaku. Sejak dulu kau selalu menentukan jalan yang kupilih, kau memilihkanku SD, SMP, SMA bahkan kulih pun ada campur tanganmu.

Demi bahagiaku, itulah alasanmu. Saat itu aku hanya menuruti apa maumu. Aku tak tahu bahagia apa yang kau maksud.

Kini saat aku hendak memilih sendiri jalan yang akan kutempuh, kau masih saja berusaha mengaturku. Demi bahagiaku, alasan yang sama kau kemukakan.

Demi bahagiaku atau demi bahagiamu? Kini aku mulai mempertanyakan hal itu. Jika bahagiamu bukan bahagiaku, apakah itu berarti bahagiaku bukan bahagiamu juga?

Jika bahagiamu bukan bahagiaku dan bahagiaku bukan bahagiamu, itu artinya aku harus memilih… 

I vs me…

Sungguh suatu gambaran yang baik di mana kata ‘I’ yang digunakan untuk menunjuk diri sendiri sebagai subjek dalam bahasa Inggris selalu ditulis menggunakan huruf besar, tak peduli di mana pun letaknya dalam susunan kalimat. Hal itu dapat dipandang untuk menunjukkan manusia yang selalu berpusat pada dirinya, mengutamakan dirinya, menjadikan dirinya sebagai yang utama. Suatu paradigma yang wajar dan umum di dalam dunia yang cemar ini. Sedangkan kata ‘me’ yang menunjukkan manusia sebagi objek barangkali dipandang sebagai suatu kebodohan, kelemahan, ketidakmampuan di mata dunia. Padahal hal yang benar adalah ‘me’ bukan ‘I’ karena kebenarannya manusia bukanlah subjek tapi objek, Tuhanlah yang menjadi subjeknya.

Sebenarnya musuh utama manusia adalah dirinya sendiri. Nafsu, keserakahan, keinginan pribadi lah yang membuat manusia menjadi makhluk yang jahat, brutal, bahkan tak berprikemanusiaan. Seringkali manusia menyalahkan setan atas apa yang dilakukannya, padahal jika mau jujur sebenarnya manusia sendirilah yang dengan penuh kesadaran mengikuti hawa nafsu dan keinginannya, dengan atau tanpa bujukan setan. Natur manusia yang berdosa membuat diri manusia tak lagi sempurna, melainkan dipenuhi oleh kebusukan. Hal yang palit sulit adalah mengalahkan diri sendiri, menyangkal diri. Bagaimana cara mengalahkan diri sendiri, hal itu mustahil karena jika diandaikan pertandingan, dua orang yang memiliki skill sama jika bertarung tak ada yang menang. Hanya dengan bantuan orang lain maka kita dapat menang, dalam hal ini dengan bantuan Tuhan.

Dengan menyadari posisi dan status manusia di hadapan Tuhan, juga di dalam dunia ini maka seharusnya dapat membantu kita untuk menempatkan diri, bertindak dan berprilaku. Sebagai objek maka manusia adalah sasaran yang dikenai predikat, bukan pelaku predikat itu. Dalam hal ini Tuhanlah yang bekerja, melakukan pekerjaan, dan manusia adalah sasaran karya Tuhan. Maka sudah sepantasnyalah kita menempatkan diri sesuai posisi dan kapasitas sebagai objek.

Yang selalu terjadi adalah sebaliknya, manusia ingin menempatkan diri sebagai subjek, menjadikan dirinya pusat dari segala sesuatu, dan menyingkirkan Tuhan. Manusia menjadikan Tuhan sebagai objek pemenuhan kebutuhannya. Manusia memperhamba Tuhan, dengan menurunkan posisi Tuhan hanya sebagai pemberi berkat, pengabul permintaan, lalu apa bedanya Tuhan dengan pesuruh yang selalu kita suruh ini dan itu. Sebuah koreksi bagi kita semua. Di manakah kita memposisikan diri saat ini. Apakah sebagai ‘I” atau ‘me’?