Tentang orang tua…

Hari ini aku mengikuti pertemuan untuk pengajar Kali Code. Sedikit sharing, kondisi anak-anak yang kami ajar di sana benar-benar jauh dari sempurna. Kali Code adalah daerah yang terkenal dengan tingkat kekumuhan dan kemiskinan yang tinggi. Dengan kondisi yang seperti itu, bisa ditebak bahwa anak-anak yang tinggal di daerah itu seperti apa. Hidup mereka jauh dari kelimpahan dan kecukupan menurut ukuran kita. Hal yang terlihat jelas dari setiap pertemuan dengan anak-anak itu adalah sikap mereka yang menurut kami susah diatur, tidak mau belajar, hanya mau bermain dan suka bikin onar, bahkan beberapa diantara mereka ada yang kemampuannya kurang. Selama ini hanya hal-hal itu yang menjadi identitas para anak-anak di Kali Code.

Namun hari ini aku belajar hal yang lain, melalui cerita seorang teman, aku memandang anak-anak itu dari sisi yang berbeda. Temanku itu bercerita bahwa dia melihat seorang anak didiknya mengemis, bahkan di jam sekolah. Ketika ditanya, orang tuanya yang menyuruh dia mengemis. Sungguh menyedihkan ketika mendengarnya. Orang tua yang seharusnya mengusahakan masa depan anak malah mengeksploitasi anak-anak mereka bahkan membuat masa depan mereka menjadi suram. Memang sih kondisi mereka kurang mampu, tetapi tidak seharusnya orang tuanya melakukan hal itu. Kasarannya, kalau menurutku sih kalau kamu orang tua tidak bisa memelihara anakmu dengan baik, JANGAN pernah jadi orang tua, JANGAN pernah melahirkan anak-anak jika tak mampu mengurus mereka!! Well, soal peran orang tua biarlah itu menjadi bahasan lain, aku hanya ingin membahas mengenai anak-anak mereka dan dampak perlakuan orang tua terhadap mereka.

Di balik sikap mereka yang liar, ternyata sebagian besar dari mereka tumbuh tanpa pengawasan dan didikan dari orang tuanya. Memang ada orang tua yang tidak mengeksploitasi anaknya dan menyuruh anak-anak mereka belajar, akan tetapi karena kesibukan orang tua mencari uang, si anak menjadi tidak mendapat waktu dan perhatian yang cukup. Sering saat kami datang ke sana, kami hanya menjumpai anak-anak saja, orang tuanya bekerja entah apa yang dilakukan dan baru pulang malam hari. Jika demikian, kapan orang tua mereka punya waktu untuk memperhatikan anaknya, padahal anak butuh figur orang tuanya. Sungguh memperihatinkan bukan. Selama ini aku tidak menyadari bahwa keadaan anak-anak itu ternyata sudah segawat itu. Karena latar belakang keluarga dan lingkungan mereka itulah yang membentuk mereka jadi seperti itu, liar dan tak terkendali.

Well, akhirnya sampailah di poin yang ingin aku bagikan. Aku merasa bersyukur memiliki orang tua yang memarahi, memaksa untuk belajar, menyekolahkan dan memaksa untuk ikut les. Belajar tentunya merampas kebahagiaan dan waktu untuk bermain, tetapi hal itu sangat penting bagi masa depan kita. aku sadar betul bahwa saat ini aku tidak akan menjadi aku yang sekarang jika sewaktu kecil dulu orang tuaku tidak mendidikku dengan cara yang demikian. Ketika disuruh belajar dan mengerjakan PR rasanya pasti sebal. Ketika dimarahi karena mendapat nilai jelek rasanya pasti tidak enak. Tapi itu semua dilakukan demi kebaikan kita, karena orang tua ingin supaya kita menjadi orang yang lebih baik daripada mereka dan masa depan kita lebih cemerlang daripada mereka.

Mungkin hari ini masih ada yang memendam kepahitan kepada orang tua nya karena waktu kecil pernah dimarahin munkin juga dipukul karena tidak mau belajar atau bermasalah dengan pendidikan. Orang tua kita, mereka juga tidak sempurna. Kadang mereka tidak tahu bagaimana memperlakukan anaknya. Tidak ada sekolah menjadi orang tua bukan. Tapi aku percaya bahwa orang tua, sebagian besar, pasti menginginkan, mengharapkan dan mendoakan anaknya menjadi orang yang sukses. Hanya saja, mungkin mereka tidak tahu bagaimana caranya membawa anak mereka ke arah sana, seperti orang tua di Kali Code. Aku tidak bisa menghakimi cara mereka mengeksploitasi anaknya, karena aku tidak berada di posisi mereka. Tapi ada hal yang masih aku syukuri dan pandang baik dari mereka. Setidaknya mereka masih menyuruh anak-anak mereka untuk datang mengikuti pelajaran tambahan yang kami adakan meski waktunya di malam hari.

Kiranya sekian dulu tulisanku malam ini. jangan lupa bersyukur atas orang tuamu dan marilah kita mengingat hal ini untuk menjadi orang tua yang lebih baik bagi anak-anak kita, saat ini atau di kemudian hari.

Lelaki tua di counter HP…

Aku melirik jam tangan yang melingkar di pegelangan tangan kiriku, jam 11 lewat 15 menit. Andi terlambat lagi, padahal katanya dia berniat membicarakan proyek yang penting. Gelas minuman yang ada di depanku sudah hampir habis. Aku mulai mempertimbangkan untuk memesan segelas minuman lagi saat mataku menangkap pemandangan yang cukup menarik.

Seorang laki-laki tua mengendarai sepeda kuno berwarna hitam berhenti beberapa meter dari kafe tempat aku menunggu Andi. Sepeda hitam itulah yang menarik perhatianku. Pit kebo, istilah untuk menyebut sepeda model itu. Ayahku pernah memiliki sepeda seperti itu, tapi sekarang sudah tidak lagi. Ayah menjual sepeda itu dan menggantinya dengan sepeda motor lima tahun lalu, padahal bagiku sepeda itu keren. Dulu Ayah sering mengantarku ke sekolah dengan sepeda itu.

Ah, untuk apa aku mengenang masa kecilku di desa. Kembali aku mencari sosok lelaki tua itu. Rupanya lelaki itu mengunjungi sebuah counter HP. Dari tempatku berada, aku bisa melihat ekspresi wajah lelaki itu dengan sangat jelas. Wajahnya yang berkerut menampakkan ekspresi cemas ketika berbicara dengan penjaga counter HP itu.  Beberapa menit mereka bercakap-cakap, dan ekspresi cemas yang menyelimuti wajah lelaki tua itu kina telah hilang, berganti dengan wajah sedih.

Dengan senyum yang dipaksakan dia melambaikan tangan rentanya kepada penjaga counter itu lalu melangkah keluar, menghampiri sepeda kunonya. Aku masih bisa menyaksikan kesedihan di wajahnya saat dia mengayuhkan sepedanya lewat di depan kafe tempatku duduk. Dalam hati aku bertanya, ada apa gerangan dengan lelaki tua itu? Apakah dia memiliki masalah dengan HP nya, ataukah dia berniat membeli HP baru tapi tidak memiliki cukup uang?

Tiba-tiba HP ku berbunyi. Sebuah pesan singkat kuterima dari Andi. Sial, dia membatalkan pertemuan ini. Istrinya sakit, dia harus mengantarkannya ke rumah sakit, dan baru ingat kalau dia sudah membuat janji denganku. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, segera aku menghampiri kasir dan membayar minumanku, untung saja aku belum memesan segelas lagi.

Melangkah keluar dari kafe, rasa penasaran masih menghantuiku. Wajah sedih lelaki tua itu masih terngiang di ingatanku. Tak apa sedikit kepo, batinku. Beberapa menit kemudian aku sudah berdiri di counter HP yang didatangi lelaki tua tadi.

“Mas Jon, bapak tua yang barusan datang kemari, ada masalah apa ya dengan HP nya?” tanyaku sok akrab. Aku memang sering membeli pulsa di tempat ini, dan sudah cukup mengenal pemiliknya.

“Oh bapak yang tadi,” sahut Mas Joni, “kasihan Mas bapak itu…” katanya semakin membuatku penasaran.

“Lho memangnya kenapa?”

“Tadi bapak itu minta tolong saya ngecek HP nya, apa HP nya ada yang rusak. Apa bisa dibuat telpon? Terus Mas, saya lihat HP nya baik-baik saja. Ya saya bilang HP nya nggak ada masalah. Terus bapak itu malah jadi sedih gimana gitu…”

“Loh kok aneh, HP nya nggak rusak kok malah sedih?” selaku tak sabar.

“Sebentar to Mas, saya kan belum selesai cerita. Kata bapak itu kalau HP nya nggak rusak, kok anak-anaknya nggak pernah telpon dia. Kasihan kan?”

Mendengar penuturan Mas Joni, seketika aku teringat pada Ayah, bukan pada pit kebonya, tapi kepada ayahku. Sudah hampir seminggu ini aku tidak menelponnya, padahal tadi aku menghabiskan waktu hampir setengah jam menunggu Andi tanpa melakukan apa pun. Segera kuraih HP ku dan kucari nomor telepon Ayah…

IMG_20150505_193347

Cerita dari warung makan

Aku melangkahkan kakiku menuju ke warung di pinggir jalan. Ini pertama kalinya aku memasuki warung itu. Tak ada salahnya mencoba tempat makan yang baru. Dalam kepalaku hanya ada satu niat yang terbersit, melampiaskan rasa lapar yang memenuhi perutku. Namun alangkah terkejutnya aku begitu mendapati seorang anak, kira-kira masih SMP sedang berdiri di dekat kompor dan memasak. Untuk beberapa detik lamanya aku terpaku. Kebimbangan menyelimutiku, tak percaya aku dengan apa yang kulihat. Seorang anak kecil membuka warung makan? Dia sendiri yang memasak? Sungguh tidak mungkin, batinku.

“Mau pesan apa?” tanya anak itu tatkala menyadari kehadiranku. Ragu-ragu aku menyebutkan salah satu makanan yang ada dalam daftar menu.

“Tunggu sebentar ya,” katanya lalu kembali lagi menyibukkan diri dengan masakan yang sempat ditinggalkannya demi menyambutku.

Aku pun duduk sambil mengamati ulah anak itu. Dengan cekatan dia memasak sambil menyiapkan minuman, kemudian menghidangkan masakan itu di atas piring dan mengantarkannya kepada pembeli. Segera sesudah itu ia kembali ke depan kompor. Tanpa membuang waktu dia mengiris sayur, menyiapkan sayur, daging dan bahan-bahan makanan lainnya dalam sebuah mangkuk. Benar-benar cekatan. Aku masih tak percaya dengan apa yang kulihat. Benarkah anak ini yang menyiapkan semuanya? Tak mungkin! Seorang anak tidak mungkin membuka warung sendiri. Namun melihat keahliannya, sepertinya dia sudah sangat terlatih.

Menyaksikan aksi koki kecil itu, kepalaku dipenuhi pertanyaan yang muncul bertubi-tubi. Apakah dia masih sekolah? Atau dia sudah tidak sekolah? Kapan dia mengerjakan PR kalau setiap malam bekerja di warung? Bukankah warung itu buka mulai jam lima sore hingga larut malam? Lalu bagaimana dia belajar? Aku sempat membandingkan dengan pengalamanku dulu. Sepulang sekolah aku juga nongkrong di toko, tapi itu cuma sampai sore. Malamnya aku masih bisa mengerjakan PR, menonton TV dan bersantai. Tapi bagaimana dengan anak ini?

Aku tak tahu apa isi pikiran anak itu, tapi aku mencoba melakukan rekonstruksi. Jika aku berada dalam posisinya, aku yakin dia pasti ingin segera menjadi dewasa sehingga dia bisa bekerja dan membantu orang tuanya. Sedangkan aku, lelah rasanya menjadi orang dewasa. Rasanya lebih menyenangkan menjadi anak kecil. Sebenarnya jika dipikir, saat ini banyak hal yang bisa kulakukan untuk menggoreskan secarik warna di dunia ini, jauh lebih banyak daripada dulu ketika aku masih kecil. Salah satunya duduk di depan laptop dan membiarkan jari-jariku menari-nari di atas keyboard =p. Kurasa aku harus berhenti menoleh ke belakang, dan terus menatap ke depan, melakukan hal-hal yang aku bisa alih-alih merewind kenangan yang telah berlalu.

Beberapa saat kemudian, datanglah seorang laki-laki dan segera mengambil alih tugas yang dikerjakan anak itu. Mungkin dia ayahnya atau saudaranya. Seketika itu terjawablah pertanyaanku. Anak itu tidak sendirian mengusahakan warungnya. Meskipun demikian, anak itu tetap saja menyibukkan diri dengan menyiapkan minuman dan bahan-bahan lainnya.

Kurang lebih lima belas menit lamanya aku menunggu makananku sambil menyaksikan saujana unik di hadapanku, hingga akhirnya aku meninggalkan warung itu dengan menenteng tas kresek di tangan. Dengan langkah ringan, dalam hati aku bersyukur atas semua yang telah berlalu, untuk hal-hal yang bisa kukerjakan di kemudian hari serta sebuah cerita pada hari ini.

IMG20150409181619

Keren…

“Keren, keren banget umi. Saya dalam situasi yang keren.”

Barangkali ada yang masih ingat ucapan anak BW saat menyaksikan sang ayah dijemput oleh pihak berwenang beberapa waktu lalu. Well, saya tidak hendak membahas soal BW, namun kali ini saya tertarik membahas celoteh anaknya itu.

Saya tergelitik untuk memikirkan ucapan anak tersebut saat menyaksikan BW dalam acara di kampus saya, ketika beliau menceritakan kisah penangkapannya dan celotehan sang anak yang tidak lazim. Bagaimana tidak? Jika seorang anak melihat ayahnya ditangkap, atau dijemput paksa maka hampir dipastikan dia akan terguncang mentalnya. Si anak pasti akan merasa ketakutan dan mengalami trauma.

Tapi tidak dengan anak yang satu ini. Alih-alih takut, dia malah mengatakan penangkapan ayahnya itu keren. Menurut anak itu, tidak semua ayah bisa mengalami kejadian yang sama seperti ayahnya. Well, memang benar sih. Ayahnya dijemput oleh polisi, dikawal dan dimasukkan ke mobil patrol. Memang sih tidak semua orang berkesempatan menikmati kehormatan tersebut. Dan anak BW menanggap hal itu adalah suatu hal yang langka, fantastis dan hanya satu-satunya. Karena itulah dia mengungkapkan kata ‘keren’ itu.

Lantas, selanjutnya saya berpikir, bagaimana dengan kita saat menghadapi hal-hal yang tak terduga? Bagaimana saat kita diperhadapkan dengan kejadian-kejadian yang menurut kita tidak menyenangkan sama sekali? Apa komentar kita? Apakah kita mengeluh, meratapi nasib, dan khawatir berkepanjangan alih-alih menganggap bahwa apa yang terjadi dalam hidup kita adalah sesuatu yang keren? Saya percaya ketika suatu ketidaknyamanan diijinkan terjadi dalam hidup ini, pasti sepaket dengan hikmah yang menyertainya. Tidak semua orang berkesempatan menghadapi situasi-situasi yang menyakitkan, apalagi berhasil melaluinya.

Saya jadi teringat percakapan dengan seorang teman beberapa waktu yang lalu, ketika dia bertanya kabar saya sekarang dan apa yang sedang saya kerjakan. Saya jawab apa adanya. Sedang S2 dan bantuin orang tua. Dan dia membalas dengan satu kata ‘awesome’. Awesome apanya, batin saya. Secara saya nggak ada keren-kerennya. Tapi dari situ saya belajar untuk melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda.

Belajar dari seorang anak kecil yang memandang dunia sebagai hal yang keren, sudahkan anda memandang hidup anda keren, kejadian-kejadian yang anda alami adalah hal-hal yang keren, dan anda sendiri adalah pribadi yang keren?

Cinta???

Cinta lahir dari kasih sayang dan cinta buta lahir dari arogan

Cinta mengatakab hahwa anaknya akan mendapatkan kebahagaiaan dunia dari Sang Mahakuasa, sedangkan cinta buta mengatakan bahwa orang tualah yang seharusnya memberikan semua kebahagiaan kepada anaknya

Cinta mengatakan bahwa dia akan bangga pada anaknya sedangkan cinta buta mengatakan bahwa anaknya akan bangga kepada orangtuanya

Cinta memberikan kebebasan sedangkan cinta buta mengikat seseorang

Cinta adalah kebenaran sedangkan cinta buta adalah ketidakbenaran…

Itu adalah kutipan pembicaraan antara Krisna dengan Guru Drona. Well aku bukan penggila Mahabarata sih, cuma pas kebetulan aja nonton, soalnya serial itu alurnya lama buanget, kecepatan cuma 10 bts kali ya. Nah pada episode yang kutonton itu pas episode di mana Guru Drona dimatiin. Hal yang menarik adalah pembicaraan tersebut. Di situ dipaparkan kesalahan Guru Drona yang mendidik putranya dalam cinta yang tidak benar sehingga putranya menempuh jalan yang salah.

Kenapa hal itu menarik buatku? Karena cukup banyak kasus di mana seorang anak melakukan tindakan yang tidak terpuji, bahkan salah di mata hukum tetapi orang tuanya, saking sayangnya senantiasa membela si anak, hingga anak itu menjadi orang yang tidak bisa membedakan tangan kanan dan tangan kirinya. Contohnya, kasus anak-anak remaja di bawah umur yang kemarin bawa mobil pake nyerempet orang di deket rumah. Tidak ada rasa takut atau penyesalan sama sekali pada anak-anak itu, ga habis pikir gua, gimana tuh orang tua ngurus anak-anaknya…

Yah memang sih aku belom jadi orang tua, dan aku jadi keinget omongan temen yang sudah punya anak, bilang jadi orang tua itu perlu belajar. Padahal nggak ada sekolah menjadi orang tua, nah lo susah kan jadi orang tua. Jadi dokter, insinyur, hakim ada tuh sekolahnya, tapi jadi orang tuan kaga ada he3…

Well, ga bisa ngomong lagi, belum jadi orang tua sih. Tapi toh setiap orang pasti jadi orang tua, entah orang tua beneran atau orang yang bener-bener tua =). Tidak ada orang tua yang sempurna, tapi setidaknya setiap orang bisa belajar untuk menjadi orang tua yang baik dan semakin baik. Orang tua yang baik bukanlah orang tua yang mengasihi anaknya dengan cinta buta, tetapi mendidik anaknya dalam kebenaran.

Jadi inget juga temenku cerita anaknya nanya sebenarnya dia sayang nggak sih sama anaknya, kok marah-marah terus? Kurasa orang tua yang baik tau menggunakan metode yang benar dalam mendidik anaknya, kapan harus melakukan pendekatan lembut dan kapan harus mendisiplinkan. Memanjakan anak bukanlah bentuk cinta dan kasih sayang, melainkan tindakan di mana orang tua sebenarnya sedang membimbing anaknya menuju ke jurang…

Siapa yang tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya. – Amsal 13:24

Surat cinta dari ibu

Dear my son,

Anakku, apa kabarmu? Sekarang usiamu 13 tahun bukan? Hari ini Ibu ingin membawa kue tar dan menyanyikan lagu ‘Selamat ulang tahun’. Ibu benar-benar merindukanmu. Bagaimana keadaanmu? Dalam ingatan Ibu, kau adalah bayi kecil mungil yang selalu menangis dalam dekapan Ibu. Ibu sangat penasaran bagaimana dirimu sekarang? Apakah wajahmu seperti wajah ayahmu, atau seperti wajah Ibu? Apakah kau memiliki mata seindah mata ayahmu? Apakah kau memiliki mulut lebar seperti Ibu? Ibu sangat ingin melihat wajahmu…

Anakku, apakah kau marah kepada Ibu? Tolong maafkan Ibu karena Ibu tidak bisa menemani hari-harimu. Kau tahu, Ibu ingin membimbingmu belajar berjalan saat kau, mendengar kau mengucapkan kata pertamamu, Ibu ingin kata pertama yang kau ucapkan adalah ‘ibu’, dan ibu sangat ingin mendengarnya, meskipun kini Ibu yakin kata pertamamu adalah ‘ayah’. Tak apa, meskipun Ibu tak akan pernah mendengarmu memanggilku ‘ibu’ tapi Ibu sudah cekup senang bisa membawamu ke dunia ini. Ibu ingin menemanimu pada hari pertamamu masuk sekolah, menghadiri pertemuan orang tua murid, datang ke sekolah saat perayaan Hari Ibu bersama ibu-ibu lainnya dan mendukung anaknya saat pentas seni.

Ibu ingin menemanimu tidur di malam hari. Maafkan Ibu karena tidak ada di sampingmu saat kau terbangun karena mimpi buruk. Maafkan Ibu karena Ibu tak datang menenangkanmu saat kau menangis ketakutan di malam hari yang gelap. Maafkan karena setiap malam Ibu tidak pernah menyelinap ke dalam kamarmu diam-diam ketika kau sedang terlelap dan Ibu tidak bisa mengecup keningmu, membetulkan letak selimutmu dan mematikan lampu kamarmu jika kau lupa mematikannya.

Maafkan Ibu karena tidak bisa membangunkanmu tiap pagi, memandikanmu, menyiapkanmu sarapan dan bekal untuk kau bawa ke sekolah. Maafkan Ibu karena tidak menunggumu saat kau pulang sekolah, menemanimu makan siang, dan membantumu mengerjakan pekerjaan rumah. Jujur Ibu sangat ingin melakukan itu semua. Ibu ingin mendengarmu bercerita tentang hari-harimu di sekolah, tentang teman-temanmu, tentang gurumu. Ibu ingin memarahimu saat kau mendapatkan nilai jelak di sekolah, dan ibu juga ingin memujimu saat kau mendapatkan nilai bagus. Ibu ingin membanggakanmu saat bercerita bersama teman-teman Ibu, bahwa anak laki-laki Ibu luar biasa.

Maafkan Ibu karena tak merawatmu saat kau sakit, mengingatkanmu agar selalu minum obat, menemanimu ke dokter dan menenangkanmu saat kau menangis karena takut terhadap jarum suntik. Apakah kau takut terhadap jarum suntuk? Semoga tidak. Ibu tidak ingin anak laki-laki ibu menjadi seorang penakut.

Anakku, Ibu ingin mendengarmu bercerita tentang gadis yang menarik perhatianmu. Percayalah Ibu sangat ingin kau mengenalkan gadis yang berhasil menaklukkan hatimu kepada Ibu saat kau dewasa nanti. Ibu ingin melihatmu berjalan bersama gadis itu menuju ke pelaminan. Ibu ingin melihatmu membawa anakmu, mengenalkannya sebagai cucu Ibu. Ibu ingin bisa menggendong anakmu seperti saat Ibu pernah membuaimu dalam gendongan Ibu. Ibu ingin bermain bersama cucu-cucu Ibu. Ah anakku seandainya semua itu bisa terwujud, tentunya Ibu akan merasa sangat bahagia. Tidak, sekarang pun Ibu sudah cukup merasa bahagia, memandangi wajah kecilmu yang terlelap.

Anakku, bagaimana hubunganmu dengan ayahmu? Semoga kalian tidak sering bertengkar. Ibu tahu ayahmu adalah orang yang keras, dan Ibu menebak pasti kalian sering bertengkar. Anakku, tolong dengarkan nasehat Ibu, turutilah kata-kata ayahmu. Meskipun ayahmu bersikap keras, tapi sangat mencintaimu. Ibu ingin berbagi sedikit rahasia tentang ayahmu. Kau tahu, ketika kau masih dalam kandungan Ibu, setiap malam ayahmu mengelus perut Ibu dan menyanyikan lagu untukmu. Ini rahasia kita, Ok.

Anakku, tolong Ibu untuk menjaga dan merawat ayahmu. Ayahmu adalah seorang pekerja keras, tolong bantu Ibu untuk selalu mengingatkannya makan. Ayahmu sering melupakan jam makannya.  Ibu khawatir bagaimana keadaan ayahmu tanpa ada Ibu di sisinya. Tapi Ibu bisa merasa tenang karena ada kau di sisinya.

Anakku, masih banyak hal yang Ibu ingin katakan kepadamu, tapi Ibu tak tahu lagi bagaimana menuliskannya. Satu hal yang perlu kau tahu, Ibu mencintaimu. Ibu menyayangimu dan ayahmu. Maafkan Ibu sekali lagi karena tak bisa menemani kalian. Percayalah jika Ibu memiliki banyak waktu, Ibu ingin menghabiskannya bersama kalian. Anakku terima kasih karena telah memberikan Ibu anugerah yang terindah bagi setiap wanita, yaitu menjadi seorang Ibu. Ibu menyayangimu. Jaga dirimu dan ayahmu. Dan ibu akan selalu menjagamu dari tempat Ibu berada…