Wanita itu #3

Kupelankan laju motorku saat mataku menangkap pemandangan yang tak biasa. Di tepi jalan sana kulihat seorang wanita paruh baya, mungkin usianya sekitar 30 hingga 40 tahun, berjalan dengan cara yang tak lazim. Alih-alih berjalan dengan kedua kakinya, wanita itu justru menggunakan seluruh tubuhnya untuk berjalan. Ya dia berjalan dalam posisi duduk. Sepintas kuamati cara berjalan wanita itu, tapi aku tak bisa berlama-lama mengamatinya. Ada banyak kendaraan lain di sekitarku dan akan sangat berbahaya bagiku dan bagi pengendara lainnya kalau aku kehilangan fokus pada jalanan di depanku.

Singkat cerita aku meninggalkan wanita itu dengan pergulatan nya dan tiba di tujuan. Ya, tujuanku hari itu adalah memotong rambut di salon. Entah berapa lama sudah aku menanti giliran, rasanya lama sekali. Untuk mengusir rasa bosan aku melayangkan pandangan keluar jendela. Wanita itu, aku kembali melihat wanita itu berjalan dalam duduknya. Kuamati wanita itu lebih seksama. Dia berjalan dengan mengangkat bagian bawah tubuhnya ke depan sedangkan kedua tangan bertumpu ke tanah untuk menopang tubuh ringkihnya. Setelah dia mendaratkan tubuh bagian bawahnya barulah dia mengangkat tangannya maju. Sungguh sebuah perjuangan untuk bisa bergerak dengan cara seperti itu. Aku tak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan bagi wanita itu untuk berpindah tempat dari satu tempat ke tempat lain.

Aku terus mengamati wanita itu. Kini dia berhenti sejenak. Dia melepaskan sandal japit yang digunakan di tangan untuk melindungi tangannya ketika menyentuh jalanan yang panas, kemudian dia menyeka peluh yang membasahi dahinya dengan tangan yang telanjang. Aku tahu pasti berat sekali berjalan seperti itu di bawah matahari yang bersinar terik seperti saat ini. Beberapa menit wanita itu berisitirahat. Kini dia memasang kembali sandal jepit ke tangannya, siap melanjutkan perjalanan. Aku terus mengamati wanita itu hingga dia hilang dari pandanganku.

Dalam jangka waktu yang selama itu dia hanya bergerak sejauh beberapa meter. Hatiku terenyuh memikirkannya. Ada rasa kasihan, sedih, bercampur syukur dan kekaguman. Melihat wanita itu aku bersyukur karena nasibku jauh lebih beruntung. Aku masih memiliki tubuh yang lengakp. Namun, aku juga merasa kasihan dan sedih melihat apa yang dialami oleh wanita itu. Dalam hati kecil aku ingin membantu mengantarkan wanita itu, tapi apa yang dapat kulakukan? Membantunya berdiri saja aku pasti tak sanggup. Lagipula untuk orang seperti itu, maksudku mereka yang memiliki keterbatasan tapi tak mau menyerah, sebuah bantuan dapat saja dipandang sebagai sebuah bentuk meremehkan mereka. Di situlah aku merasa kagum atas tekad dan perjuangan wanita itu.

Aku tak sanggup membayangkan jika aku menjadi wanita itu. Bagaimana aku dapat berjalan dengan cara yang berat seperti itu? Bagaimana jika hujan lebat turun sedangkan aku tak memiliki tangan yang bebas untuk memegang payung? Aku juga tak mampu membayangkan bagaimana jika ada orang yang berniat jahat kepadaku. Aku tak dapat bergerak dengan cepat. Aku tak dapat berlari atau melindungi diri jika ada orang yang berniat merampokku. Entahlah aku tak sanggup berpikir lebih jauh lagi. Namun aku tahu satu hal bahwa wanita itu memiliki tekad yang kuat dan tak mudah menyerah meski hidup yang dijalaninya sangat berat.

Wanita yang kulihat hari ini mengajarkanku untuk tak mudah menyerah. Setiap orang pasti memiliki kesulitan dalam hidupnya masing-masing. Apa pun bentuk kesulitan yang kita alami, aku percaya Tuhan pasti menyediakan kekuatan untuk menanggungnya. Jangan mudah menyerah dalam hidup ini. Di luar sana ada orang lain yang mungkin menanggung beban hidup yang jauh lebih berat tapi mereka tak menyerah.

Wanita itu 2

IMG20160103143630.jpg

Untuk kesekian kalinya wanita itu datang ke kantor. Setiap kali dia datang, dia hanya duduk diam memasang wajah datar tanpa ekspresi, menunggu bosku datang. Namun, hari ini ada yang tampak berbeda. Wanita itu tidak lagi duduk diam tetapi mulai bertanya-tanya kepada Mas Alex, seniorku. Mungkin bos yang menyuruh wanita itu bertanya. Setahuku wanita itu bernama Mbak Nuri, salah satu mahasiswi pasca sarjana bimbingan bosku, yang kebetulan juga mengajar sebagai dosen. Ditilik dari usianya, wanita itu tidak lagi muda, mungkin sudah di atas 30 tahun. Analisaku terhenti ketika Mas Alex melibatkanku dalam pembicaraan mereka. Lebih tepatnya mengalihkan lawan bicara wanita itu sehingga kini akulah yang menjadi lawan bicaranya.

Beberapa menit kami berbincang, ternyata wanita itu cukup ramah. Wajah datarnya seketika berubah ketika dia mulai berbicara. Awalnya dia menceritakan bagaimana dia tertarik untuk meminta bosku menjadi dosen pembimbingnya. Tak ada yang menarik dari ceritanya, hingga akhirnya dia mulai menceritakan bagaimana perjalanannya mengerjakan tesis.

“Dulu saya nggak bisa apa-apa, Mas. Nggak ngerti apa-apa. Dulu saya hampir tiap hari datang ke kantor, nunggu berjam-jam buat belajar. Kalau ada yang lagi nganggur saya tanyain,” katanya dengan ceria. “Jadi kadang datang tiga jam cuma buat belajar sepuluh menit, nunggu dulu kalau ada yang bisa diganggu. Soalnya kan anak-anak yang di sini juga pada sibuk…” Mendengar ceritanya mau tak mau aku sedikit terpancing, benarkah dia sesabar dan sekuat itu? Pantas saja ketika dia datang ke kantor, hal yang dilakukannya hanyalah duduk berjam-jam menunggu kedatangan bosku.

“Saya sempat cuti dulu, waktu bapak saya meninggal,” lanjutnya lagi. “Terus saya kembali lagi ke kampus, tapi saya kena begal. Laptop, HP hilang semua. Stress saya, sempat masuk rumah sakit juga. Terus keluar dari rumah sakit, saya kembali lagi. Saya bilang ke bapak kalau saya mau lanjutin tesis, tapi saya nggak punya apa-apa. Bapak bilang pakai komputer kantor saja nggak apa-apa, kalau ada yang kosong,” lanjutnya lagi menceritakan perjuangannya. “Terus saya pakai komputer ini,” katanya sambil menunjuk komputer yang sedang kupakai. Aku mengangguk-angguk. Tak pernah kusangka wanita yang awalnya kuanggap sombong itu menyimpan cerita yang begitu menyentuh.

Tak berapa lama kemudian, bosku pun tiba. Segera wanita itu menghilang di balik pintu ruangan bos. Ketika wanita itu berdiskusi dengan bosku, aku memikirkan pembicaraan singkat kami. Kesanku tentang wanita itu berubah 180 derajat. Ternyata dia bukanlah wanita sombong yang berwajah datar, melainkan wanita tegar yang berani melawan kerasnya kehidupan. Aku tak sanggup membayangkan bagaimana rasanya ketika kehilangan orang tua, lalu kehilangan barang-barang berharga. Di tengah berbagai masalah yang datang silih berganti dia masih bisa menceritakan semuanya itu dengan penuh canda tawa, seakan semua itu tidak berarti apa-apa baginya.

“Gimana Mbak?” tanyaku ketika wanita itu keluar dari ruangan bos.

“Masih harus dianalisa lagi…” katanya santai, masih dengan wajah ceria. “Aduh, saya harus segera selesaikan ini tesis, biar cepat lulus, sudah lama molornya…” Aku hanya mengangguk-angguk sambil sesekali tersenyum melihat ulah wanita itu.

“Tapi memang benar sih Mas, kata siapa itu… oh Ridwan Kamil. Mewujudkan cita-cita itu butuh waktu yang lama dan uang yang banyak. Siapa sangka saya kuliah selama ini. Dulu mikirnya S2 cuma 2 tahun, tapi sampai sekarang belum lulus juga. Ya sudah Mas, saya pulang dulu…” katanya sambil berlalu. Wanita itu benar-benar membuatku kagum. Keceriannya, kepolosannya, kesabarannya, ketegarannya menghapi segala permasalahan, dan semangatnya untuk terus belajar dan tidak mudah menyerah benar-benar patut diapresiasi.

Memandang kepergian wanita itu, dalam hati aku berjanji bahwa aku harus bisa lebih baik dari wanita itu. Jika dia saja mampu melakukan hal itu, menghadapi masalah yang begitu berat dengan keceriaan, maka aku juga harus mampu melebihi wanita itu. Permasalahan hidup seberat apa pun harus dijalani dengan penuh perjuangan, semangat dan tawa. Hari ini aku belajar sesuatu dari wanita itu…

 

Cerita dari warung makan

Aku melangkahkan kakiku menuju ke warung di pinggir jalan. Ini pertama kalinya aku memasuki warung itu. Tak ada salahnya mencoba tempat makan yang baru. Dalam kepalaku hanya ada satu niat yang terbersit, melampiaskan rasa lapar yang memenuhi perutku. Namun alangkah terkejutnya aku begitu mendapati seorang anak, kira-kira masih SMP sedang berdiri di dekat kompor dan memasak. Untuk beberapa detik lamanya aku terpaku. Kebimbangan menyelimutiku, tak percaya aku dengan apa yang kulihat. Seorang anak kecil membuka warung makan? Dia sendiri yang memasak? Sungguh tidak mungkin, batinku.

“Mau pesan apa?” tanya anak itu tatkala menyadari kehadiranku. Ragu-ragu aku menyebutkan salah satu makanan yang ada dalam daftar menu.

“Tunggu sebentar ya,” katanya lalu kembali lagi menyibukkan diri dengan masakan yang sempat ditinggalkannya demi menyambutku.

Aku pun duduk sambil mengamati ulah anak itu. Dengan cekatan dia memasak sambil menyiapkan minuman, kemudian menghidangkan masakan itu di atas piring dan mengantarkannya kepada pembeli. Segera sesudah itu ia kembali ke depan kompor. Tanpa membuang waktu dia mengiris sayur, menyiapkan sayur, daging dan bahan-bahan makanan lainnya dalam sebuah mangkuk. Benar-benar cekatan. Aku masih tak percaya dengan apa yang kulihat. Benarkah anak ini yang menyiapkan semuanya? Tak mungkin! Seorang anak tidak mungkin membuka warung sendiri. Namun melihat keahliannya, sepertinya dia sudah sangat terlatih.

Menyaksikan aksi koki kecil itu, kepalaku dipenuhi pertanyaan yang muncul bertubi-tubi. Apakah dia masih sekolah? Atau dia sudah tidak sekolah? Kapan dia mengerjakan PR kalau setiap malam bekerja di warung? Bukankah warung itu buka mulai jam lima sore hingga larut malam? Lalu bagaimana dia belajar? Aku sempat membandingkan dengan pengalamanku dulu. Sepulang sekolah aku juga nongkrong di toko, tapi itu cuma sampai sore. Malamnya aku masih bisa mengerjakan PR, menonton TV dan bersantai. Tapi bagaimana dengan anak ini?

Aku tak tahu apa isi pikiran anak itu, tapi aku mencoba melakukan rekonstruksi. Jika aku berada dalam posisinya, aku yakin dia pasti ingin segera menjadi dewasa sehingga dia bisa bekerja dan membantu orang tuanya. Sedangkan aku, lelah rasanya menjadi orang dewasa. Rasanya lebih menyenangkan menjadi anak kecil. Sebenarnya jika dipikir, saat ini banyak hal yang bisa kulakukan untuk menggoreskan secarik warna di dunia ini, jauh lebih banyak daripada dulu ketika aku masih kecil. Salah satunya duduk di depan laptop dan membiarkan jari-jariku menari-nari di atas keyboard =p. Kurasa aku harus berhenti menoleh ke belakang, dan terus menatap ke depan, melakukan hal-hal yang aku bisa alih-alih merewind kenangan yang telah berlalu.

Beberapa saat kemudian, datanglah seorang laki-laki dan segera mengambil alih tugas yang dikerjakan anak itu. Mungkin dia ayahnya atau saudaranya. Seketika itu terjawablah pertanyaanku. Anak itu tidak sendirian mengusahakan warungnya. Meskipun demikian, anak itu tetap saja menyibukkan diri dengan menyiapkan minuman dan bahan-bahan lainnya.

Kurang lebih lima belas menit lamanya aku menunggu makananku sambil menyaksikan saujana unik di hadapanku, hingga akhirnya aku meninggalkan warung itu dengan menenteng tas kresek di tangan. Dengan langkah ringan, dalam hati aku bersyukur atas semua yang telah berlalu, untuk hal-hal yang bisa kukerjakan di kemudian hari serta sebuah cerita pada hari ini.

IMG20150409181619

One day – suatu hari

Siska meremas kertas yang ada di depannya lalu melemparkan kertas tak bersalah itu yang kini telah menjadi sebuah bola tak beraturan ke keranjang sampah di samping mejanya, menambah satu lagi bola kertas yang menghuni keranjang itu. Gadis berkamata itu menyembunyikan wajahnya di atas meja. “Kenapa sulit sekali…” ujarnya lirih.

“Sedang apa kamu Sis?” seorang gadis lain berambut pendek muncul dari balik pintu kamar kos Siska yang memang dibiarkan terbuka.

“Stress…” jawab Siska asal tanpa mengangkat kepalanya. Dia malah sengaja menarik ikat rambutnya sehingga rambutnya yang panjang terurai berantakan di atas meja.

“Oh, lagi nulis?” tebak gadis yang baru saja muncul itu setelah melirik keranjang sampah yang dipenuhi bola-bola kertas. “Siska Siska, aku heran deh jaman sekarang orang kalau nulis sudah pakai laptop, sedangkan kamu masih nulis di atas kertas pakai bolpoin lagi…” sindir gadis berambut pendek itu beranjak duduk di atas kasur Siska.

“Kamu diam aja San!” ujar Siska tegas. “Kalau nggak ada yang mau diomongin keluar sana!”

Sandra, gadis berambut pendek itu seperti tidak menghiraukan kata-kata Siska. Dia malah asyik berbaring di atas kasur Siska sambil membuka beberapa bola-bola kertas yang diambilnya dari keranjang sampah Siska. Mereka berdua, Siska dan Sandra adalah sepasang sahabat karib. Persahabatan mereka telah terjalin sejak mereka masih duduk di bangku SMP.

“Kenapa? Cerpen kamu ditolak lagi?” tanya Sandra setelah matanya menelusuri isi kertas-kertas korban kekejaman Siska. Sandra terlalu mengenal Siska hingga dia merasa perlu untuk tak mendengarkan kata-kata yang baru saja terlontar dari mulut pedas Siska.

“Ini sudah yang ke 20 kalinya cerpenku ditolak!” teriak Siska frustasi saat membalikkan badannya. Mata bulat di balik kacamata berbingkai merah itu menampilkan tatapan penuh kebencian kepada Sandra seakan-akan dialah satu-satunya orang yang harus bertanggung jawab atas kegagalan yang dideritanya. “Kamu tahu gimana rasanya? Gagal dan gagal lagi!”

“Ceileh baru 20 kali, belum 2000 kali juga. Santai saja. Tinggal nulis lagi kan…” jawab Sandra santai. Dia kembali meremas kertas yang barusaja dibacanya lalu melemparkannya ke keranjang sampah. Sekali lempar, bola kertas itu segera mendarat cantik di dalam keranjang bersama bola-bola kertas lainnya. “Lagipula kan kamu sendiri yang mutusin kuliah sastra, nggak mau ikut aku masuk ekonomi…”

“Kamu itu temen aku bukan sih? Temennya lagi susah, nggak ngasih semangat…” nada suara Siska sedikit melunak.

“Hahaha… besok aku mau ke SMA, kamu mau ikut nggak?” bukannya menjawab pertanyaan Siska, Sandra malah balik bertanya.

“Ngapain?” tanya Siska.

“Biasa, Tania bikin masalah lagi di sekolah. Aku dipanggil Pak Budi…” ujar Sandra sambil beralih posisi dari telentang menjadi tengkurap, masih di atas kasur Siska.

“Wali kelasnya Tania Pak Budi?” tanya Siska. Mata bulatnya berputar saat menyebutkan nama mantan guru mereka. Pak Budi bukanlah guru yang menyenangkan, meskipun murid-murid juga tidak membenci guru matematika yang satu itu.

“Kalau mau ikut jam sembilan kita berangkat. Kamu nggak ada kuliah kan besok. Kalau telat aku tinggal,” ujar Sandra tegas lalu bangkit berdiri dan berjalan dengan cantik keluar dari kamar Siska, tanpa maju mundur tentunya.

“O… ke…” jawab Siska meskipun dia yakin Sandra sama sekali tidak mendengarkan satu-satunya kata yang keluar dari mulutnya itu. Harus diakui, dibandingkan dengan Siska, Sandra memang lebih kejam dalam memperlakukan segala sesuatu yang ada di sekitarnya.

Jam sembilan lebih tiga puluh menit Siska dan Sandra telah berdiri di depan gedung bercat putih yang pernah menjadi saksi perjuangan mereka selama tiga tahun menuntut ilmu dalam balutan seragam putih abu-abu.

“Aku ke ruangannya Pak Budi dulu ya, kamu terserah mau ngapain. Nanti kalau sudah selesai aku calling kamu.” Tanpa menunggu jawaban dari Siska, Sandra melangkahkan kakinya menuju ke kantor guru diiringi bunyi medu sepatu high heels warna hitamnya yang beradu dengan lantai. Siska hanya bisa menatap punggung Sandra yang mulai menjauh. Apakah dia mengajakku ke sini hanya untuk ditelantarkan, batin Siska.

Berjalan tanpa tujuan, Siska mulai menelusuri koridor menuju ke kantin. Namun, langkah kakinya terhenti saat matanya menemukan anak-anak SMA yang memenuhi meja-meja taman di depan kantin, sepertinya sedang berdiskusi dalam kelompok.  Hal yang menarik perhatian gadis berambut panjang itu adalah seorang anak perempuan berkacamata yang duduk sendirian di meja paling ujung.

“Halo, sedang pelajaran apa?” tanya Siska sambil duduk di seberang anak itu. Tentunya setelah memastikan tak ada guru yang mengawasi kelas tidak jelas ini.

“Oh…” anak itu nampak terkejut melihat kehadiran Siska. Dengan jari telunjuknya dia menaikkan bingkai kacamatanya yang merosot. “Bahasa Indonesia, Bu Marni…” dengan sopan dia menjawab pertanyaan yang dilontarkan Siska.

“Bu Marninya mana?” tanya Siska. Matanya mulai menyapu setiap sudut taman yang memang difungsikan sebagai ruang diskusi outdoor itu, tetapi wanita bertubuh kurus yang pernah diingatnya itu tidak menampakkan batang hidungnya.

“Nggak masuk. Sakit katanya. Kami dikasih tugas…” ujar anak perempuan itu melenyapkan keingintahuan Siska.

“Kamu suka baca buku ini?” tanya Siska tiba-tiba saat melihat sebuah buku tebal di atas meja. Matanya menangkap tulisan Harry Potter and The Sorcerer Stone yang tertera di cover buku itu.

“Iya Kak…” jawab anak itu sekilas sambil melirik buku tebal itu. “Buku lama sih, tapi bagus kok isinya. Aku suka baca buku itu, makanya aku pakai buku itu untuk tugas bikin sinopsis buku…” jelas anak itu.

“Ooo…” Siska membulatkan mulutnya. Buku Harry Potter seri pertama itu kini berada di tangannya. Dia mulai membuka lembar demi lembar. Siska ingat saat pertama kali dia membaca buku itu, belasan tahun silam. Buku Harry Potter yang begitu fenomenal, bahkan sampai diangkat ke layar kaca itu sukses merebut perhatiannya. Sejak pertama kali membaca buku itu, Siskalangsung jatuh cinta kepada sosok Harry Potter, dan dia tak pernah melewatkan seri-seri berikutnya. Siska lebih suka membaca buku daripada menonton film, karena dengan membaca buku dia dapat menciptakan dunia Harry Potter sesuai imajinasinya. Bisa dikatakan Harry Potter adalah salah satu alasan di balik sepak terjang Siska di dunia tulis menulis.

“Suatu hari nanti, aku akan menjadi seorang penulis terkenal…” jawab anak itu antusias. Siska bisa melihat matanya yang berbinar meskipun berada dibalik kacamata. “Seperti JK Rowling. Lalu aku akan menulis buku yang bagus juga…” lanjutnya lagi menyebut nama penulis buku Harry Potter itu.

Mendengar kata-kata anak itu, ingatan Siska kembali melayang jauh ke tahun-tahun yang telah lampau, ketika dia masih menggunakan seragam putih abu-abu.

“Suatu hari nanti, aku akan jadi seorang penulis terkenal…” kata Siska remaja kepada teman-temannya saat mereka duduk di taman, “Aku akan nulis banyak buku dan ratusan cerita yang bisa menginspirasi orang lain.” Sandra yang kala itu nampak lebih muda dan teman-temannya yang lain hanya mengangguk-anggukan kepala mereka sambil mengunyah jajanan yang mereka beli dari kantin. Pada jam istirahat Siska dan teman-temannya biasanya berkumpul di kantin meskipun mereka berasal dari kelas yang berbeda.

Siska memandangi teman-temannya satu per satu yang nampaknya tak menganggap serius tekadnya. “Beneran!” tegasnya lagi.

“Kamu yakin?” tanya Tata. Suaranya yang renyah sama sekali tidak menunjukkan nada meremehkan. Siska memandang gadis remaja bertubuh kurus dengan wajah lonjong itu dan menganggukkan kepala.

“Kalau aku pilih kerja kantoran aja. Lebih keren. Pakai baju rapi, kerja di kantor ber AC…” tukas Silvia cepat. “Tiap bulan dapet gaji gede. Kalau jadi penulis, terus bukunya nggak laku, dapet duitnya dari mana?”

Siska hanya mengangkat bahu mendengar celoteh gadis berwajah pucat itu. Silvia memang selalu berbicara apa adanya, ceplas ceplos. “Makanya, aku harus bisa nulis buku yang bagus supaya orang-orang suka. Kalau aku nulis cerita yang bagus, pasti buku ku laku.” Tekad Siska semakin bulat.

“Semoga suatu hari nanti impianmu terwujud,” kata Sandra lengkap dengan nada sinisnya sambil mengibaskan rambut panjangnya.

Siska tertawa menanggapi sahabat karibnya itu. “So pasti. Nanti aku traktir kalian semua kalau buku ku laku keras…” ujarnya sambil memeluk teman-temannya.

Kejadian itu seperti baru saja terjadi kemarin. Dalam hati Siska menertawakan dirinya sendiri. Seorang remaja yang belum mengenal kerasnya kehidupan tetapi berani bermimpi.

“Kakak…” panggilan anak perempuan itu menarik Siska dari lamunannya. Rupanya tanpa sadar buku Harry Potter itu telah berada dalam pelukan Siska.

“Oh,” kata Siska. Segera dia meletakkan buku itu di atas meja. “Kamu yakin mau jadi penulis? Jadi penulis itu nggak gampang lho. Ada saatnya tulisanmu ditolak.”

“Ya tinggal nulis lagi…” jawab anak perempuan itu sambil tersenyum. “JK Rowling juga. Sebelum Harry Potter sukses, dia sering mengalami banyak penolakan. Bahkan dia sempat hidup menggelandang. Aku nggak bisa bayangin gimana rasanya jadi JK Rowling saat itu. Tapi dia nggak nyerah, dan terus berusaha. Andai kala itu dia nyerah, buku ini nggak akan ada,” ujar anak itu panjang lebar sambil menunjuk buku Harry Potter itu. Kembali dia menaikkan kacamata yang agak merosot dengan jari telunjuknya. Siska hanya mengangguk-anggukan kepala menyetujui ucapan anak itu.

“Aku masuk kelas dulu ya Kak, sudah bel.”

“Oh. Ok. Semoga impianmu tercapai,” ujar Siska tulus.

“Terima kasih,” kata anak perempuan itu lalu mulai membereskan peralatannya. Siska terus memandangi anak itu saat dia berlalu dan bergabung dengan teman-teman sekelasnya. Apa yang dikatakan anak itu memang benar. JK Rowling pernah mengalami masa-masa yang sulit sebelum berhasil menelurkan buku Harry Potter. Tapi dia tidak menyerah. Banyak orang-orang sukses lain yang juga mengalami nasib serupa. Hal yang sama adalah mereka tidak menyerah, tetapi terus berjuang dan semakin giat berusaha.

Bukan waktunya untuk menyerah, perjuanganku belum selesai dan aku tak boleh menyerah sebelum aku berhasil. Siska menyemangati dirinya sendiri. Menjadi penulis sudah menjadi cita-citanya sejak dulu. Dia ingin bisa menjadi penulis yang menghasilkan tulisan-tulisan dan berbagai cerita yang berbobot dan menginspirasi orang lain. Saat ini, dia memang belum menjadi siapa-apa. Tak masalah orang lain meragukannya, Siska hanya perlu melakukan satu hal, membuktikan bahwa dia mampu dan akan berhasil. Memang untuk meraih hal itu tidaklah mudah. Namun, justru banyaknya kesulitan yang dialaminya akan membuktikan bahwa dia memang pantas meraih kesuksesan. Suatu hari aku akan menjadi seorang penulis, ujar Siska sekali lagi dalam hati. Ketika orang lain mengingatku sebagai Siska yang tak pernah menyerah meskipun mengalami berbagai kesulitan, saat itu aku tidak hanya berhasil meraih kesuksesan tetapi juga sanggup menginspirasi orang lain.

“Di sini kau rupanya,” tegur Sandra yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Siska. “Aku cari ke mana-mana,” omelnya.

“Maaf, maaf… kamu udah selesai?” tanya Siska.

“Udah, yuk pulang…” Sandra segera berbalik tanpa menunggu Siska.

“Suatu hari nanti, aku akan menjadi seorang penulis terkenal…” kata Siska saat mereka berjalan bersama.

“Semoga suatu hari nanti impianmu terwujud,” kata Sandra masih dengan nada sinisnya.

“Thanks ya San…” Siska tersenyum penuh arti. Dan terima kasih juga adik yang aku tak tahu namanya, katanya dalam hati.

IMG_20150129_163204

Reach the star…

IMG

Aku pulang sekolah dengan lemas. Hari ini nilai ulangan matematika dibagikan, dan seperti  yang sudah-sudah, nilaiku tidak pernah di atas enam. Sedih rasanya. Aku ingin menangis. Aku tidak tahu mengapa aku selalu mendapat nilai jelek pada pelajaran matematika, padahal aku termasuk siswa berprestasi. Nilai-nilaiku selalau bagus, kecuali untuk mata pelajaran yang satu itu. Entah kenapa otakku rasanya sulit diajak berkompromi jika menyangkut matematika, rasanya otakku sedang marahan dengan matematika dan tidak mau membukakan pintu untuk matematika masuk.

Malas rasanya menatap angka empat yang besar pada lembar kertas ulanganku. Apalagi mengingat kertas ini harus ditandatangi orang tua. Pasti aku akan mendapatkan ceramah dan omelan dari mama. Oh kenapa untuk mata pelajaran yang satu ini aku selalu bernasib buruk?

Sore itu aku akhirnya memberanikan diri menghampiri Mama dengan memasang wajah masam, sembari berdoa dalam hati agar hari ini Mama mengalami hari yang baik di kantornya. Sebenarnya aku bisa saja memalsukan tanda tangan Mama, seperti yang pernah kulakukan pada saat aku kelas lima SD, namun aku tahu itu salah dan akhirnya aku mencoba jujur, siap sedia menghadapi segala konsekuensinya. Lebih baik aku dimarahi Mama jika mendapat nilai jelek daripada merasa tidak tenang karena telah melakukan hal yang salah.

Aku menyerahkan lembar ulangan itu dengan hati-hati dan bersiap-siap mendapat omelan, namun yang kudapati hanya senyuman masam Mama. Aku tahu dalam hati Mama pasti kecewa, tapi Mama tidak mau menunjukkannya, barangkali karena melihatku yang sudah tidak bersemangat. Dalam hati aku bersyukur memiliki orang tua yang bisa mengerti anaknya, tidak seperti kebanyakan orang tua yang hanya tahu menuntut dari anaknya tanpa berusaha mengerti dan memahami perasaan serta usaha sang anak.

“Besok ulangan perbaikan?” tanya Mama sembari menyerahkan lembaran kerta yang telah ditandatanganinya. Aku hanya mengangguk mengiyakan lalu segera beranjak ke kamar.

Di dalam kamar aku hanya tidur-tiduran, aku tidak berniat belajar sama sekali. Untuk apa aku belajar, toh hasilnya pasti sama saja, nilai-nilaiku tidak pernah beranjak dari nada dasar do re mi fa sol. Akhirnya aku menarik kesimpulan tak ada gunanya aku belajar, seperti memasukkan air ke kantung kain. Aku memejamkan mata untuk mengusir kepenatan dan tanpa kusadari aku terlelap dalam tidurku.

“Ta, bangun Nak. Sudah waktunya makan malam…” kudengar suara Mama membangunkanku. Ternyata sudah jam tujuh, berarti aku ketiduran hampir dua jam. Masih dengan mata lima watt aku mengikuti Mama ke meja makan. Di sana Papa sudah duduk menungguku. Makan malam bersama merupakan hal yang selalu diusahakan oleh keluarga kami. Makan malam merupakan waktu untuk berkumpul bersama setelah seharian masing-masing anggota keluarga beraktifitas di luar rumah.

Malam itu seperti biasa Papa menceritakan kesibukannya di kantor, bagaimana Papa menghadapi klien penting dam berhasil meyakinkannya untuk bekerja sama, Papa memang manajer yang hebat dan selalu diandalkan oleh bosnya untuk bernegosiasi dengan klien. Mama pun tak kalah seru bercerita tentang usahanya memeriksa laporan keuangan perusahaan dan berhasil membuktikan bahwa tidak ada rekayasa dalam laporan itu seperti yang diisukan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab yang iri terhadap Mama karena Mama selalu bekerja dengan jujur dan karirnya meningkat pesat. Dalam hati aku kagum kepada orang tuaku, tapi juga merasa rendah diri karena aku tidak seperti Papa yang percaya diri dan mudah meyakinkan orang, begitu mendapat nilai jelek saja ku langsung down dan tidak percaya diri, aku juga tidak seperti Mama yang gigih berusaha keras membuktikan apa yang diyakininya, aku saja sudah menyerah menghadapi ulangan besok karena merasa otakku tidak dapat bekerja dengan normal jika harus melawan matematika. Sepanjang acara makan itu aku hanya diam saja tidak bersuara sedikit pun.

Setelah makan malam selesai, Papa mengajakku ke ruang keluarga dan Papa memberikanku sebuah kartu bergambar yang nampaknya sudah cukup tua, warna kartu itu sudah mulai pudar. Di kartu itu terpampang gambar seorang anak sedang berusaha melompat untuk menggapai bintang di langit sedangkan di bawah kakinya ada beberapa cacing tanah. Di bawah gambar itu ada sebuah tulisan dalam bahasa Inggris ‘You can try to reach the stars in the sky even it is harder than get the worms on the ground…’yang artinya ‘Kamu dapat mencoba meraih bintang di langit meskipun lebih sulit daripada meraih caing di tanah…’

Aku menatap Papa dengan tatapan heran. Aku tidak tahu apa maksud Papa menunjukkan kartu itu kepadaku.

“Kamu tahu, Ta. Waktu kecil Papa selalu mendapat nilai rata-rata, kamu tahu kan rata-rata itu seperti apa, tidak bagus tapi juga tidak jelek, padahal Papa sudah berusaha keras agar bisa lebih baik lagi seperti Om kamu. Akhirnya Papa merasa tidak ada gunanya belajar dan berusaha dan Papa memilih menerima nasib Papa sebagai si rata-rata. Sampai akhirnya Oma memberikan kartu ini kepada Papa. Oma bilang Papa harus mencontoh anak kecil di kartu itu, meskipun lebih mudah baginya untuk mengambil cacing di tanah, tentunya dia pasti bisa mengambilnya tanpa perlu bersusah payah, tapi dia berusaha untuk menggapai bintang di langit, lihatlah bahkan tangannya saja tidak sampai menggapai bintang itu. Rasanya mustahil bagi anak itu untuk bisa meraih bintang, tapi dia tidak menyerah, dia tidak mau mengambil cacing di tanah karena yang dia inginkan adalah bintang di langit, bukan cacing di tanah. Demikian juga Papa, memang mudah untuk menyerah paa keadaan dan nasib, tidak perlu belajar dan berusaha, tetapi Papa harus terus berusaha seperti anak itu, agar Papa bisa mendapat nilai di atas rata-rata. Yang penting adalah sikap kita untuk tidak mudah menyerah dalam mencapai sesuatu yang kita inginkan, meskipun itu tidak mudah.”

Wow, mendengar penjelasan Papa aku jadi merasa malu pada diriku sendiri. Papa dan Mama adalah orang yang tidak mudah menyerah dalam berusaha dan sebagai anak mereka tentunya aku juga harus demikian. Aku senang Papa mau memberikanku kartu itu, dan seperti Oma yang dulu memberikan kartu itu kepada Papa dan Papa selalu menyimpannya, kartu itu juga akan selalu kusimpan. Aku mau seperti Papa dan anak dalam kartu itu, tidak mudah menyerah, meskipun rasanya sulit untuk meraih bintang aku akan terus berusaha, aku tidak akan menyerah. Aku baru tahu ternyata dulu Papa juga bukan anak yang pintar, bahkan Papa menjuluki dirinya si rata-rata, berarti aku lebih hebat dari Papa, aku bisa mendapatkan nilai bagus dalam semua mata pelajaran kecuali matematika, aku mulai menyombongkan diri sendiri. Tapi aku kagum pada Papa karena berhasil mengalahkan dirinya sendiri, Papa tidak lagi menjadi si rata-rata tapi Papa sekarang menjadi seorang yang sukses.

Aku segera bangkit, mencium pipi Papa, berlari menuju kamarku dengan kartu pemberian Papa di tanganku. Aku bertekad untuk belajar dan mengalahkan matematika. Jika Papa saja sudah membuktikan diri bahwa Papa bisa berhasil, maka aku juga harus bisa, bukankah aku anak Papa. Dengan bersemangat aku membuka buku matematikaku, mengambil kertas kosong dan mulai mencoret-coret, berlatih mengerjakan soal demi soal, dan kartu bergambar anak yang melompat berusaha meraih bintang itu kutempelkan di dinding tepat di atas meja belajarku…

**

Sebuah cerita yang pernah kubaca ketika aku masih kecil dulu. Aku lupa sama sekali jalan ceritanya. Yang kuingat adalah kartu bergambar anak yang berusaha meraih bintang daripada mengambil cacing di tanah. Poin yang tertanam di otakku adalah aku tidak boleh mudah menyerah. Aku harus memiliki tujuan dan terus berjuang untuk mencapinya, tak peduli seberapa sulitnya dan banyaknya rintangan yang harus kuhadapi. Aku bisa saja menyerah dan mengambil cacing di tanah tapi aku takkan pernah mendapatkan bintang jika aku berhenti berusaha untuk meraihnya…