Tentang orang tua…

Hari ini aku mengikuti pertemuan untuk pengajar Kali Code. Sedikit sharing, kondisi anak-anak yang kami ajar di sana benar-benar jauh dari sempurna. Kali Code adalah daerah yang terkenal dengan tingkat kekumuhan dan kemiskinan yang tinggi. Dengan kondisi yang seperti itu, bisa ditebak bahwa anak-anak yang tinggal di daerah itu seperti apa. Hidup mereka jauh dari kelimpahan dan kecukupan menurut ukuran kita. Hal yang terlihat jelas dari setiap pertemuan dengan anak-anak itu adalah sikap mereka yang menurut kami susah diatur, tidak mau belajar, hanya mau bermain dan suka bikin onar, bahkan beberapa diantara mereka ada yang kemampuannya kurang. Selama ini hanya hal-hal itu yang menjadi identitas para anak-anak di Kali Code.

Namun hari ini aku belajar hal yang lain, melalui cerita seorang teman, aku memandang anak-anak itu dari sisi yang berbeda. Temanku itu bercerita bahwa dia melihat seorang anak didiknya mengemis, bahkan di jam sekolah. Ketika ditanya, orang tuanya yang menyuruh dia mengemis. Sungguh menyedihkan ketika mendengarnya. Orang tua yang seharusnya mengusahakan masa depan anak malah mengeksploitasi anak-anak mereka bahkan membuat masa depan mereka menjadi suram. Memang sih kondisi mereka kurang mampu, tetapi tidak seharusnya orang tuanya melakukan hal itu. Kasarannya, kalau menurutku sih kalau kamu orang tua tidak bisa memelihara anakmu dengan baik, JANGAN pernah jadi orang tua, JANGAN pernah melahirkan anak-anak jika tak mampu mengurus mereka!! Well, soal peran orang tua biarlah itu menjadi bahasan lain, aku hanya ingin membahas mengenai anak-anak mereka dan dampak perlakuan orang tua terhadap mereka.

Di balik sikap mereka yang liar, ternyata sebagian besar dari mereka tumbuh tanpa pengawasan dan didikan dari orang tuanya. Memang ada orang tua yang tidak mengeksploitasi anaknya dan menyuruh anak-anak mereka belajar, akan tetapi karena kesibukan orang tua mencari uang, si anak menjadi tidak mendapat waktu dan perhatian yang cukup. Sering saat kami datang ke sana, kami hanya menjumpai anak-anak saja, orang tuanya bekerja entah apa yang dilakukan dan baru pulang malam hari. Jika demikian, kapan orang tua mereka punya waktu untuk memperhatikan anaknya, padahal anak butuh figur orang tuanya. Sungguh memperihatinkan bukan. Selama ini aku tidak menyadari bahwa keadaan anak-anak itu ternyata sudah segawat itu. Karena latar belakang keluarga dan lingkungan mereka itulah yang membentuk mereka jadi seperti itu, liar dan tak terkendali.

Well, akhirnya sampailah di poin yang ingin aku bagikan. Aku merasa bersyukur memiliki orang tua yang memarahi, memaksa untuk belajar, menyekolahkan dan memaksa untuk ikut les. Belajar tentunya merampas kebahagiaan dan waktu untuk bermain, tetapi hal itu sangat penting bagi masa depan kita. aku sadar betul bahwa saat ini aku tidak akan menjadi aku yang sekarang jika sewaktu kecil dulu orang tuaku tidak mendidikku dengan cara yang demikian. Ketika disuruh belajar dan mengerjakan PR rasanya pasti sebal. Ketika dimarahi karena mendapat nilai jelek rasanya pasti tidak enak. Tapi itu semua dilakukan demi kebaikan kita, karena orang tua ingin supaya kita menjadi orang yang lebih baik daripada mereka dan masa depan kita lebih cemerlang daripada mereka.

Mungkin hari ini masih ada yang memendam kepahitan kepada orang tua nya karena waktu kecil pernah dimarahin munkin juga dipukul karena tidak mau belajar atau bermasalah dengan pendidikan. Orang tua kita, mereka juga tidak sempurna. Kadang mereka tidak tahu bagaimana memperlakukan anaknya. Tidak ada sekolah menjadi orang tua bukan. Tapi aku percaya bahwa orang tua, sebagian besar, pasti menginginkan, mengharapkan dan mendoakan anaknya menjadi orang yang sukses. Hanya saja, mungkin mereka tidak tahu bagaimana caranya membawa anak mereka ke arah sana, seperti orang tua di Kali Code. Aku tidak bisa menghakimi cara mereka mengeksploitasi anaknya, karena aku tidak berada di posisi mereka. Tapi ada hal yang masih aku syukuri dan pandang baik dari mereka. Setidaknya mereka masih menyuruh anak-anak mereka untuk datang mengikuti pelajaran tambahan yang kami adakan meski waktunya di malam hari.

Kiranya sekian dulu tulisanku malam ini. jangan lupa bersyukur atas orang tuamu dan marilah kita mengingat hal ini untuk menjadi orang tua yang lebih baik bagi anak-anak kita, saat ini atau di kemudian hari.

Sebuah pelajaran dari Jakarta

Hari ini seorang teman bercerita tentang pengalamannya selama dua hari di Jakarta. Singkat cerita, teman saya itu sangat takut sekali pergi ke Jakarta, apalagi seorang diri di kota megapolitan itu. Namun, selama dua hari di sana, dia merasakan bagaimana penyertaan Tuhan melalui orang-orang tak dikenal yang membantunya selama di sana, lalu bagaimana ibu kota yang katanya lebih kejam daripada ibu tiri itu menyambutnya, Tuhan masih menjaga teman saya.

Mendengar ceritanya, saya jadi ingat dua tahun lalu, saat saya berniat menginjakkan kaki di Jakarta. Saat itu saya juga kalut dan takut, bagaimana saya seorang diri di sana nantinya. Jakarta, yang terkenal dengan tingkat kriminalitas yang tinggi, kehidupan sosial yang individual, dan ritme hidup yang keras. Namun, sekarang semuanya itu telah berhasil saya lalui. Banyak pengalaman dan pelajaran yang saya dapatkan selama berada di bawah langit ibu kota. Bahkan sekarang pun saat saya tidak lagi berada di sana, Jakarta masih tetap mengingatkan saya untuk mensyukuri hidup saya, terlebih lagi selama saya hidup di sana, menghadapi Jakarta yang keras.

Hari ini saya belajar, banyak hal-hal sederhana yang menurut kita sudah biasa kita jalani setiap hari, akan tetapi bagi orang lain bisa saja hal itu sangat luar biasa dan merupakan sesuatu yang sangat sulit untuk dilakukan. Mungkin karena kita menganggap hidup ini dipenuhi oleh rutinitas, hal-hal yang biasa kita lakukan sehari-hari sehingga kita tidak memandang hidup ini sebagai sesuatu yang luar biasa. Padahal, banyak hal sederhana yang sebetulnya sangat luar biasa dan patut disyukuri, contohnya ketika pagi hari kita masih diberi kesempatan untuk membuka mata, sementara ada orang lain yang tidak mendapatkan kesempatan tersebut; atau saat kita masih memiliki rumah untuk pulang setelah seharian bekerja, sementara saudara-saudara kita yang berada di Sinabung harus hidup di pengungsian, dan saya yakin masih ada jutaan atau milyaran hal-hal kecil yang jika dirinci satu per satu akan sangat panjang dan banyak sekali, bahkan mungkin jauh lebih banyak daripada list masalah yang setiap saat kita keluhkan.

Anyway, jika hari ini anda belum sempat bersyukur, sekarang juga pikirkan satu hal yang patut disyukuri. Saya masih percaya bersyukur akan membuat hidup terasa lebih indah.

Cerita dari warung makan

Aku melangkahkan kakiku menuju ke warung di pinggir jalan. Ini pertama kalinya aku memasuki warung itu. Tak ada salahnya mencoba tempat makan yang baru. Dalam kepalaku hanya ada satu niat yang terbersit, melampiaskan rasa lapar yang memenuhi perutku. Namun alangkah terkejutnya aku begitu mendapati seorang anak, kira-kira masih SMP sedang berdiri di dekat kompor dan memasak. Untuk beberapa detik lamanya aku terpaku. Kebimbangan menyelimutiku, tak percaya aku dengan apa yang kulihat. Seorang anak kecil membuka warung makan? Dia sendiri yang memasak? Sungguh tidak mungkin, batinku.

“Mau pesan apa?” tanya anak itu tatkala menyadari kehadiranku. Ragu-ragu aku menyebutkan salah satu makanan yang ada dalam daftar menu.

“Tunggu sebentar ya,” katanya lalu kembali lagi menyibukkan diri dengan masakan yang sempat ditinggalkannya demi menyambutku.

Aku pun duduk sambil mengamati ulah anak itu. Dengan cekatan dia memasak sambil menyiapkan minuman, kemudian menghidangkan masakan itu di atas piring dan mengantarkannya kepada pembeli. Segera sesudah itu ia kembali ke depan kompor. Tanpa membuang waktu dia mengiris sayur, menyiapkan sayur, daging dan bahan-bahan makanan lainnya dalam sebuah mangkuk. Benar-benar cekatan. Aku masih tak percaya dengan apa yang kulihat. Benarkah anak ini yang menyiapkan semuanya? Tak mungkin! Seorang anak tidak mungkin membuka warung sendiri. Namun melihat keahliannya, sepertinya dia sudah sangat terlatih.

Menyaksikan aksi koki kecil itu, kepalaku dipenuhi pertanyaan yang muncul bertubi-tubi. Apakah dia masih sekolah? Atau dia sudah tidak sekolah? Kapan dia mengerjakan PR kalau setiap malam bekerja di warung? Bukankah warung itu buka mulai jam lima sore hingga larut malam? Lalu bagaimana dia belajar? Aku sempat membandingkan dengan pengalamanku dulu. Sepulang sekolah aku juga nongkrong di toko, tapi itu cuma sampai sore. Malamnya aku masih bisa mengerjakan PR, menonton TV dan bersantai. Tapi bagaimana dengan anak ini?

Aku tak tahu apa isi pikiran anak itu, tapi aku mencoba melakukan rekonstruksi. Jika aku berada dalam posisinya, aku yakin dia pasti ingin segera menjadi dewasa sehingga dia bisa bekerja dan membantu orang tuanya. Sedangkan aku, lelah rasanya menjadi orang dewasa. Rasanya lebih menyenangkan menjadi anak kecil. Sebenarnya jika dipikir, saat ini banyak hal yang bisa kulakukan untuk menggoreskan secarik warna di dunia ini, jauh lebih banyak daripada dulu ketika aku masih kecil. Salah satunya duduk di depan laptop dan membiarkan jari-jariku menari-nari di atas keyboard =p. Kurasa aku harus berhenti menoleh ke belakang, dan terus menatap ke depan, melakukan hal-hal yang aku bisa alih-alih merewind kenangan yang telah berlalu.

Beberapa saat kemudian, datanglah seorang laki-laki dan segera mengambil alih tugas yang dikerjakan anak itu. Mungkin dia ayahnya atau saudaranya. Seketika itu terjawablah pertanyaanku. Anak itu tidak sendirian mengusahakan warungnya. Meskipun demikian, anak itu tetap saja menyibukkan diri dengan menyiapkan minuman dan bahan-bahan lainnya.

Kurang lebih lima belas menit lamanya aku menunggu makananku sambil menyaksikan saujana unik di hadapanku, hingga akhirnya aku meninggalkan warung itu dengan menenteng tas kresek di tangan. Dengan langkah ringan, dalam hati aku bersyukur atas semua yang telah berlalu, untuk hal-hal yang bisa kukerjakan di kemudian hari serta sebuah cerita pada hari ini.

IMG20150409181619

Two hours – dua jam

Sandra membuka matanya. Sudah berapa lama dia tertidur? Kereta yang dinaikinya sama sekali tidak berjalan. Dia melirik jam tangannya. Jam sembilan lewat tiga puluh menit. Seharusnya dia sudah setengah perjalanan sekarang. Sandra menyilakan rambut pendeknya lalu melayangkan pandangannya ke luar jendela. Matanya mencoba menangkap sesuatu yang bisa dikenalinya. Nihil. Hanya kegelapan yang ada di luar sana.

“Keretanya trouble Mbak,” sahut seorang wanita muda yang duduk di sebelah Sandra.

Sandra memandang wanita itu sejenak. Sebelumnya dia tidak terlalu memperhatikan wanita muda yang duduk di sebelahnya itu. Sepertinya dia seorang wanita karir, nampak dari busana formal yang dikenakannya. Rambutnya yang panjang sebahu juga nampak rapi. Wajahnya nampak menyiratkan kelelahan, make up nya sedikit pudar, tetapi tidak memudarkan kecantikannya. Menilik usianya, sepertinya mereka hanya selisih beberapa tahun. “Kenapa ya Mbak?” tanya Sandra.

“Kurang tahu Mbak. Saya juga dengernya gitu dari beberapa penumpang lain. Sudah hampir setengah jam Mbak, mogoknya…”

“Oh…” hanya itu yang dapat terlontar dari mulut Sandra. Menit demi menit selanjutnya Sandra mulai sibuk dengan gadgetnya. Sementara wanita yang duduk di depannya asyik mengobrol dengan pasangan paruh baya yang duduk di depan mereka. Kereta Sriwedari yang dinaiki Sandra ini memang diatur sehingga tempat duduk penumpang saling berhadapan.

“Sial, habis baterai,” omel Sandra tiba-tiba saat layar gadget miliknya itu tak lagi menampilkan apa pun. Sandra menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Menunggu adalah hal yang paling dibencinya. Dia kembali melirik jam tangannya. Sembilan lewat empat puluh lima menit.

“Lama sekali ya Mbak,” katanya dengan nada tinggi. Kesabarannya mulai terkikis.

“Oh, mungkin sebentar lagi Mbak,” sahut wanita yang duduk di sebelah Sandra agak terkejut. “Ratna…” kata wanita itu memperkenalkan diri.

“Sandra…” jawab Sandra malas. Sandra memang terkenal atas ketidakramahannya. “Ini sudah sampai mana ya?” lanjutnya lagi dengan nada tak acuh.

“Sudah setengah perjalanan Mbak Sandra…” jawab wanita yang bernama Ratna itu ramah.

“Sandra aja, nggak usah pakai Mbak,” sahut Sandra jutek.

“Ok Sandra,” Ratna masih tetap bersikap ramah. Sepertinya wanita itu harus siap menghadapi pedasnya mulut Sandra selama beberapa waktu ke depan.

“Lama banget sih. Ini sopirnya ngapain aja sih? Tahu nggak sih orang bête nunggu. Gimana coba sama orang-orang yang dikejar waktu. Dari tadi nggak jalan-jalan. Mau nunggu sampai berapa lama lagi?” Sandra mulai mengungkapkan kekesalannya. Harap maklum, Sandra sedang mengalami hari yang buruk. Hari ini KHS (kartu hasil studi) semesterannya keluar dan nilainya memang seperti yang telah ditebak Sandra. IP nya berkilo-kilo meter jauhnya dari angka 4. Mendung yang menyelimuti hati Sandra berubah menjadi hujan badai saat dia bertengkar dengan Bimo, cowok yang menyandang status sebagai pacarnya selama dua tahun terakhir. Sebenanya sih hanya karena masalah sepele. Saat Sandra menceritakan nasib naas yang menimpanya itu, sebagai pacar yang baik Bimo berusaha menasehatinya untuk kuliah dengan sungguh-sungguh dan berusaha semaksimal mungkin. Namun mungkin karena Sandra sedang bad mood, akhirnya mereka bertengkar. Sandra merasa Bimo terlalu mencampuri kehidupan pribadinya.

“Ya mungkin lagi ada masalah teknis San. Kalau terus dijalanin bisa-bisa nanti keretanya kecelakaan. Pak masinis tahu yang terbaik kok. Percaya saja…” Ratna berusaha menenangkan Sandra sekaligus mengkoreksi istilah yang digunakan Sandra untuk menyebut pengemudi kereta api.

“Sebentar lagi juga jalan,” kali ini bapak tua yang duduk di depan Sandra ikut menanggapi. Mau tak mau Sandra memasang seulas senyum yang sangat jelas terlihat bahwa senyuman itu dipaksakan.

“Sampe mana tadi? O ya sampe Alif…” Bapak tua itu kembali melanjutkan obrolannya dengan Ratna. Sandra mengamati sejenak pasangan paruh baya yang duduk di hadapannya itu. Seorang bapak tua dan isterinya. Mungkin usia mereka sekitar 60 tahun. Kerutan di wajah mereka menandakan banyaknya usia yang telah dilalui bersama. Bapak itu menggunakan kacamata dan berpeci, sedangkan istrinya mengenakan pakaian tertutup dan berhijab. Karena tak ada hal lain yang bisa dikerjakannya, mau tak mau Sandra ikut mendengarkan. “Alif itu kerjanya di kontraktor bangunan. Jadi site manager, mungkin semacam mandor gitu mungkin ya. Bapak juga ndak ngerti kerjanya kaya apa. Alhamdulilah gajinya gede. Setiap bulan pasti ngirimi Bapak sama Ibu.”

“Iya kaya kemarin Bapaknya sakit, harus operasi kaki. Alif yang nanggung biaya operasi. Padahal Ibu tu sudah bilang, Lif kakak-kakak mu juga sudah urunan bayari operasi Bapak. Sudah, simpen aja uangnya buat kamu. Gaji kamu itu ditabung buat kamu besok. Ndak usah dikasih ke Bapak sama Ibu. Wong kamu juga harus mikir masa depan. Tapi ya anak saya itu si Alif, bilangnya ndak papa Bu. Wong Alif kerja juga buat Bapak sama Ibu. Alif ndak pengen Ibu dibilang miskin, orang ndak punya sama tetangga, sama saudara-saudara,” istri Bapak itu turut menimpali. Sandra mulai tergelitik untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang keluarga suami istri itu.

“Mungkin Alif ingat dulu waktu kecil kami susah. Saya aja buat sekolahnya anak-anak minjem uang dari saudara-saudara. Kakak-kakaknya Alif cuma lulus SMP. Mereka ndak mau sekolah SMA. Mau kerja aja, buat bantu Bapak sama Ibu. Si Alif, saya suruh sekolah SMA. Biarpun kami susah, tapi kami tetep pengen anak-anak itu sekolahnya tinggi, biar nasibnya bisa lebih baik dari orang tuanya,” timpal Ibu itu lagi.

“Tapi kan sekolah nggak menjamin orang itu akan sukses nanti…” kali ini Sandra membuka mulutnya.

“Iya nak. Kita memang ndak tahu jalannya orang gimana. Tapi pendidikan itu penting. Kalo orang pintar, dia bisa kerja di mana-mana. Kalau orang bodoh kaya kami, ndak bisa apa-apa. Ndak bisa usaha. Bisanya cuma buka warung,” Bapak itu menjelaskan tanpa bermaksud menentang pendapat Sandra.  Dalam hati Sandra mengakui ada kebenaran yang terkandung dalam kata-kata bapak itu. Tepat saat itu kereta mulai berjalan. Sandra melirik jam tangannya. Jam sepuluh lewat lima menit.

“Ibu bersyukur sama Allah. Meskipun kami orang ndak punya, tapi anak-anak kami mau ngerti sama orang tuanya. Mereka ndak minta macem-macem. Sekolah juga sungguh-sungguh. Alhamduliah sekarang anak-anak kami hidupnya lebih baik dari orang tuanya. Apalagi si Alif, sudah mapan kerjanya,” kata ibu yang duduk di depannya. Rona kebahagiaan memancar dari wajah yang penuh dengan kerutan itu. Sandra sempat berpikir, apakah orang tuanya juga akan mengatakan hal yang sama tentangnya? Apakah dia sudah mengerti keadaan orang tuanya? Rasanya tidak. Apa yang Sandra minta pasti diberikan oleh orang tuanya. Tapi sama sekali dia tidak pernah memikirkan bagaimana usaha orang tuanya bekerja. Sandra merasa tertampar oleh kisah keluarga pasangan paruh baya yang ada di hadapannya itu. Dia merasa bahwa hidupnya jauh lebih beruntung daripada pasangan itu tapi sangat jarang sekali dia bersyukur.

“Ibu cuma pengen si Alif nikah. Ibu sering bilang, mbok kamu cari istri yang baik le, yang bisa ngurus kamu, sayang sama kamu, nasehati kamu, ngingeti kamu sholat juga. Soalnya si Alif, anak saya itu sering lupa sholat, terutama sholat subuh…” lanjut ibu itu. Mendengar kata-kata ibu itu tiba-tiba Sandra teringat kepada Bimo. Bimo juga sangat perhatian. Dia sering mengirimkan BBM mengingatkan Sandra untuk makan, cowok itu memang hafal betul tabiat Sandra yang sering lupa waktu kalau sudah terlanjur asyik dengan dunianya. Ratna, yang duduk di sebelah Sandra juga sepertinya sengaja membuang muka, mengalihkan pandangannya ke arah penumpang yang duduk di seberangnya. Untuk beberapa menit mereka terdiam.

Pasangan paruh baya itu nampak sibuk berbicara satu sama lain untuk menghubungi anak mereka. Sepertinya mereka akan turun di stasiun selanjutnya. Si bapak nampak berbicara melalui HP dengan salah satu anaknya, meminta dijemput.

“Itu HP dari si Alif,” kata si ibu. “Biar Alif gampang kalau mau telpon Ibu sama Bapak, katanya waktu ngasih HP itu. Padahal sungguh, Ibu sama Bapak ndak perlu barang kaya gitu. Tapi si Alif maksa, sudah dibelikan buat Ibu sama Bapak, katanya.” Dengan nada gembira ibu itu menceritakan tentang HP yang digunakan suaminya.

Tak lama kemudian kereta tiba di Stasiun Klaten. Benar saja, ketika kereta berhenti bapak dan ibu itu minta diri. Kembali Sandra melirik jam tangannya. Jam sepuluh lewat dua puluh.

Sepeninggalan pasangan itu, kereta mendadak hening. Sandra sibuk berkutat dengan pikirannya, mencerna apa yang dibicarakan oleh pasangan tua itu. Apa yang telah diberikannya untuk orang tuanya? Alih-alih memberikan HP, nilai yang baik saja dia tidak mampu mempersembahkan. Bimo memang benar. Dia seharusnya berusaha lebih keras.

“Ngomong-ngomong Sandra ada urusan apa ke Solo?” tanya Ratna memecah keheningan, berusaha mencari topik pembicaraan.

“Mau pulang. Aku kuliahnya di Jogja. Rumah di Solo,” jawab Sandra singkat. Tak terdengar lagi kesan jutek dalam nada bicaranya.

“O… di sana ngekos?”

“Iya.”

“Ngomong-ngomong sebentar lagi sampe Solo nih rasanya. Kamu dijemput? Sudah kasih tahu?” selidik Ratna karena Sandra sama sekali tidak mengeluarkan HP nya dari dalam tasnya, padahal tadi dia sempat berkutat cukup lama dengan benda itu.

“Iya… belum… HP ku mati…” jawab Sandra singkat. Sudah hampir jam sebelas. Tadi Sandra sudah memberi tahu papanya kalau kereta yang ditumpanginya mogok dan baterai HP nya akan habis. Saat ini dia tak tahu apakah papanya masih menunggu kabar darinya. Semoga papa tidak cemas, batin Sandra.

“Mau pinjam HP ku? Sudah malam, nggak baik kalau perempuan pulang sendirian. Yang jemput pasti juga bingung kamu nggak ngabarin…” ujar Ratna sambil menyodorkan HP nya. “Hapal nomornya kan?”

Sandra mengangguk pelan saat menerima HP itu, “Terima kasih.” Kemudian dia memencet nomor rumahnya, berbicara dengan sang papa yang ternyata masih menunggu kepulangan anak sulungnya itu.

“Lama ya, Jogja Solo hampir dua jam,” kata Ratna saat Sandra mengembalikan HP nya. “Biasanya satu jam lebih sedikit.” Entah dia mengelurkan uneg-uneg yang tersimpan di dalam hatinya atau sengaja mengatakan hal itu mendahului Sandra sebelum dia mengomel lagi.

Sandra mengangguk mengiyakan ucapan Ratna. Kereta pun berhenti di Stasiun Purwosari. “Sandra turun mana?” tanya Ratna saat bersiap-siap hendak turun.

“Balapan,” jawab Sandra.

“Oh, kalau gitu aku turun dulu ya. Sampai jumpa…” Ratna tersenyum ramah lalu menghilang di bersama orang-orang yang juga turun. Iya, dua jam perjalanan dari Jogja ke Solo ini memang terasa lama, batin Sandra. Tetapi selama dua jam ini aku belajar cukup banyak. Aku belajar untuk bersyukur atas segala yang kumiliki, orang tua yang menyayangiku, kehidupan yang nyaman, juga pacar yang memperhatikanku. Aku juga belajar bahwa masih ada orang baik seperti Ratna yang ramah dan peduli terhadap orang lain.

Tiba-tiba pandangan mata Sandra tertuju pada selembar kertas yang tertinggal di kursi Ratna. Dia ingin berteriak memanggil nama mantan teman sebangkunya itu. Tetapi mulutnya seakan menjadi kaku saat dia membaca tulisan yang tertera di atas kertas itu…

IMG_20150319_170448

Just share…

‘Tuhan nggak pernah salah nentuin jalan’ ujar adik les gw. Heran deh beberapa hari ini isine ngopi terus, ngobrol perkara iman. Kemaren sama temen kuliah lalu sama mantan temen kuliah trus kemaren lusanya lagi jelas aja secara hari Minggu mana malemnya lagi gw nonton MTGW. Cuma yang paling unexpected itu ya pas dengerin curhat nya anak tadi. Anak SMP udah ngomong panjang lebar soal begituan ckckckck.

Singkat cerita berawal dari kegalauannya untuk masuk ke salah satu SMA favorit hingga akhirnya curhat ngalor ngidul mulai dari ngabsen SMA satu demi satu, terus melompat ke soal visi misi hidup x_x menurutnya orang itu harus memiliki tujuan, tidak hanya sekedar sukses tetapi lebih dari itu, bisa memberikan sumbangsih bagi orang lain, please deh anak SMP coy. Terus lanjut ke berbagai profesi mulai dari karyawan kantoran yang puas diri dengan gaji segitu, bos yang seharusnya bisa membantu sesama dan karyawannya, hingga PNS yang menggiurkan karena dianggap menawarkan duit yang berlimpah tapi toh tetap saja karyawan. Lalu mulai deh berjalan-jalan keluar negeri, membandingkan kondisi Indonesia dengan negara tetangga hingga membahas soal UKM yang seakan bukan lagi dianaktirikan oleh pemerintah melainkan sudah nggak dianggap anak sama sekali. Heran gw ini curhatnya sampe ngurusin negara segala x_x Sudah ngobrol ngalor ngidul, ujung-ujungnya kembali lagi ngopi. Memang sih dia belum tahu apakah akan berhasil diterima di SMA itu, tapi dia sih tetep berusaha untuk percaya.

Hal yang menarik dari anak ini adalah sikapnya yang positif dan idealis, padahal masih SMP. Gw sih nggak tahu ya tapi dari pengalaman banyak orang seiring dengan berjalannya waktu semua itu akan luntur dan memudar. Idealisme akan terkikis oleh pahitnya kenyataan dan masalah hidup yang menghimpit, sedangkan nilai-nilai positif yang diyakini tak lagi dapat dipertahankan kala diperhadapkan dengan masalah perut, ego, dan konflik kepentingan. Tak sedikit orang yang memilih kompromi menjadi satu-satunya jalan tengah. That’s how life goes on.

Menutup tulisan geje ini, gw copas acara ngopi sama temen malem-malem. Bersyukur itu membuat orang jadi nggak stress. Rela menerima apa yang ada mengusir pikiran yang aneh-aneh, rasa ketidakpuasan dan kepahitan. Karena dengan bersyukur kita akan memperoleh ketenangan dan kedamaian abadi, bukan omonganku lho cuma copas ha5 =p

Bersyukurlah – Be grateful

Hidup di Dunia Penuh Syukur

Living in Grateful World

 

Bersyukurlah atas orang yang mencela anda, karena mereka telah meningkatkan kebijaksanaan anda.

Be grateful of people who insulted you, for they contribute for your wise.

 

Bersyukurlah atas orang yang menyandung anda, karena mereka telah meningkatkan kemampuan anda.

Be grateful of people who tripped you, for they strengthen your ability.

 

Bersyukurlah atas orang yang menelantarkan anda, karena mereka telah mengajarkan kemandirian anda.

Be grateful of people who abandoned you, for they teach you to be independent.

 

Bersyukurlah atas orang yang melukai anda, karena mereka telah mengikis buah karman buruk anda.

Be grateful of people who hit you, for they eliminate your bad karma.

 

Bersyukurlah atas orang yang menipu anda, karena mereka telah memperluas wawasan anda.

Be grateful of people who deceived you, for they enhanced your knowledge.

 

Bersyukurlah atas orang yang menyakiti anda, karena mereka telah melatih ketabahan anda.

Be grateful of people who hurt you, for they hone your patience.

 

Bersyukurlah kepada semua orang yang telah menjadikan anda tetap teguh menuju jalan keberhasilan.

Be grateful to all people who make you stay strong on your way to success.

Hidup ini indah…

Ternyata hidup ini sangat indah…

Ketika kita selalu BERSYUKUR kepada TUHAN…

Bukan karena hari ini INDAH maka kita BAHAGIA…

Tapi kerena kita BAHAGIA maka hari ini menjadi INDAH…

Bukan karena tidak ada RINTANGAN kita menjadi OPTIMIS…

Tapi karena kita OPTIMIS maka RINTANGAN menjadi tidak terasa…

Bukan karena KEMUDAHAN kita YAKIN BISA…

Tapi karena kita YAKIN BISA semuanya menjadi MUDAH…

Bukan karena semua BAIK kita TERSENYUM…

Tapi karena kita TERSENYUM maka semua menjadi BAIK…

Tak ada hari yang MENYULITKAN kita, kecuali kita SENDIRI yang membuat SULIT…

Bila kita tidak dapat menjadi jalan besar…

Cukuplah menjadi jalan setapak yang dapat dilalui orang…

Bila kita tidak dapat menjadi matahari…

Cukuplah menjadi lilin yang dapat menerangi sekitar kita…

Adakalanya yang TERINDAH bukanlah yang TERBAIK…

Yang SEMPURNA tidak menjanjikan KEBAHAGIAAN…

Tetapi kita mampudan mau MENERIMA semua KEKURANGAN dan KELEBIHAN…

Itulah KEBAHAGIAAN