I think I should say I’m in love

“Boleh aku duduk di sini?” tanya Rama kepada seorang gadis yang sedang duduk sendiri di bangku belakang halaman sekolah. Gadis itu pun menangguk.

“Belum pulang? Gimana ulangan fisika tadi? Rama mencoba berbasa-basi, sekedar membuka percakapan.

“Aku masih nunggu jemputan,” jawab remaja itu. “Dan soal ulangannya, cukup sulit sih, semoga nilaiku bagus,” harapnya sambil tersenyum kepada Rama. “Kamu sendiri, kok belum pulang?”

“Emm, lagi belum pengin pulang aja,” jawab Rama sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Jelas dia berbohong. Sebenarnya Rama berniat pulang tapi dia mengurungkan niatnya saat dilihatnya sesosok makhluk rupawan sedang duduk sendiri di taman belakang sekolah.

“Ada yang mau kamu bicarakan?” tanya remaja putri itu sambil menatap tajam mata Rama. Deg, jantung Rama seakan berhenti berdetak. Pertanyaan to the point yang dilontarkan lawan bicaranya itu benar-benar tepat sasaran.

“Emm, sebenarnya ada yang mau bicarakan, San,” kata Rama lirih, matanya menatap ke arah kucing berbulu putih yang kebetulan lewat di depan mereka.

“Maka bicaralah.”

“Begini San, ee, aa, ee, aa..” Entah mengapa tiba-tiba lidah Rama kelu.

“Sebenarnya apa yang mau kau katakan Ram, jangan ee, aa, ee, aa. Apakah kucing yang baru saja lewat tadi mencuri lidahmu?” tanya remaja itu tak sabar. Kini matanya mengikuti kucing putih yang menghilang di balik semak-semak.

“Aku, aku suka sama kamu, Santi.” Akhirnya meluncur juga kata-kata yang sejak tadi membuat dada Rama dag dig dug tidak karuan. Rama menunduk, tak berani menatap Santi, saat ini dia yakin wajahnya pasti lebih merah daripada tomat di kebun belakang sekolah.

“Ohh…” Hanya kata itu yang meluncur dari mulut Santi, meskipun sebenarnya dari tadi dadanya bergema tak kalah kencang, jika saja Rama dapat mendengar deru dada Santi.

“Ha? Kok cuma ohh?” tanya Rama sambil mengangkat kepalanya, untuk beberapa detik mata mereka bertemu.

“Apa aku harus bilang Wow gitu terus guling-guling?” tanya Santi sambil tertawa renyah. Dalam hati dia heran mengapa dirinya bisa sesantai itu menghadapi seorang Rama, cowok yang entah sejak kapan mulai mencuri perhatiannya itu.

“Ya enggak sih,” jawab Rama singkat.

“Lalu?” tanya Santi lagi.

“Lalu apa?”

“Kok ditanya malah balik nanya.” Santi mulai gemas melihat sikap Rama. Kamu tuh cowok Rama, teriak Santi dalam hati.

Rama kembali menggaruk kepalanya yang masih juga tak gatal. “Aku cuma mau bilang itu saja ke kamu.”

“Kamu nggak lagi nembak aku kan? Kalau kamu lagi nembak aku, ini acara nembak paling geje yang pernah aku alami.” Santi merasa ada yang salah dalam ucapannya karena dia belum pernah sekali pun ditembak cowok, jadi sebenarnya ini pertama kalinya dia ditembak dan dia merasa cara Rama itu sama sekali tidak jelas. Sepertinya Santi harus mengarahkan alur pembicaraan mereka ke jalur yang benar. “Apa kamu mau minta aku jadi pacarmu?” tanya tanpa malu-malu, meskipun dalam hati dia berteriak memaki-maki dirinya yang tak tahu malu, seharusnya Rama yang mengatakannya, memintanya menjadi pacar cowok itu.

“Bukan itu maksudku.”

“Lalu?” Kali ini Santi merasa pembicaraan mereka benar-benar tidak jelas arahnya. Dia sudah berusaha mengarahkan ke jalur yang menurutnya tepat tapi Rama kembali lagi membanting stir keluar dari jalur. Apa sih maunya Rama ini, batin Santi.

“Aku nggak bermaksud membuatmu bingung. Maaf kalau aku tiba-tiba membuatmu bingung. Aku hanya ingin kamu tahu kalau aku suka kamu. Itu saja. Aku nggak berniat pacaran dulu, belum.”

“Oke, aku mengerti,” tukas Santi. Dalam hati dia lega karena Rama tidak memintanya menjadi pacar cowok itu. Santi juga bingung harus menjawab apa seandainya Rama benar-benar menembaknya. Percakapan dengan kakaknya telah memantapkan Santi untuk tidak menjalin hubungan dengan lawan jenis untuk saat ini.

“Sungguh, kamu orang yang istimewa, kamu yang terbaik, hanya saja aku belum berniat pacaran. Aku bingung, tapi kupikir aku harus mengatakannya. Aku hanya ingin mengatakan isi hatiku. Semoga kamu tidak tersinggung.”

“Sama sekali tidak. Kan sudah kubilang aku mengerti. Jujur aku juga suka kamu,” kata Santi dengan wajah merona. Kini dia benar-benar akan memaki-maki dirinya, bagaimana mungkin dia mengatakan hal itu. “Tapi aku sudah memutuskan untuk nggak pacaran dulu. Tadi pagi aku membahas hal ini dengan kakakku dan aku merasa kita, aku, belum siap,” lanjut Santi cepat.

“Kemarin aku juga ngobrol dengan papaku,” Rama menengadahkan kepalanya ke atas, melihat langit biru yang cerah.  “Aku juga merasa kita masih terlalu muda. Masih ada banyak hal yang ingin kukerjakan. Aku ingin menjadi dokter. Kupikir saat ini aku harus lebih memikirkan masalah itu.”

“Aku ingin jadi presiden,” kata Santi mengikuti jejak Rama, memandang langit biru.

“Ha?” Rama menoleh ke arah Santi.

“Kenapa? Bukankah Ibu Mega pernah menjadi presiden. Kurasa wanita juga bisa menjadi presiden.” Ujar Santi Sambil terus memperhatikan setitik awan putih di tengah langit yang biru.

“Hanya saja, aku tak bisa membayangkan bagaimana kalau kau menjadi presiden. Dan bagaimana aku menjadi suami seorang presiden?” Upps, Rama merasa kalimatnya konyol sekali. Dia cepat-cepat membuang pandangannya kembali ke langit biru.

“Hahaha… tak usah dipikirkan. Kakakku benar, kita masih belum cukup dewasa untuk menjalani hubungan yang serius. Membayangkannya saja aku juga tidak tahu. Kita jalani saja apa yang ada sekarang. Kita masih SMA, banyak hal yang ingin dicapai bukan? Aku senang bisa ngobrol denganmu.”

“Aku juga,” ujar Rama.

“Rama dan Santi, kurasa sedikit kurang cocok. Seharusnya Rama dan Sinta. Tapi kita bisa menjadi teman baik.”

“Iya, teman baik.” Rama tersenyum saat mengatakannya. “Sekarang kita menjadi teman baik.”

“Bukankah memang dari dulu kita berteman?”

“Iya sih. Dulu dan sekarang, tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Semoga kita terus menjadi teman baik, dan semakin baik.” Kata-kata Rama membuat wajah Santi merona.

Tiba-tiba HP Santi berdering. Ada panggilan dari kakaknya, sepertinya sudah waktunya Santi meninggalkan tempat itu dan mengakhiri pembicaraan mereka.

“Ram, aku pulang dulu ya. Jemputan sudah datang,” pamit Santi sambil bangkit berdiri. “Oh ya, kakakku berpesan hati-hati kalau naik motor, kalau sampai kau kenapa-kenapa besok kita tak lagi menjadi teman baik, dan tak akan pernah bisa semakin baik,” ujar Santi, meniru ucapan Rama. Rama menggaruk-garuk kepalanya yang masih juga tak gatal sambil tersenyum malu.

Santi mulai melangkahkan kakinya dan mendekatkan HP nya ke telinganya. Sebelum dia menempelkan barang itu di telinganya, dia masih sempat mendengar ucapan Rama, “Hati-hati San, sampai ketemu besok. Dan aku rasa Rama nggak harus sama Sinta. Kalau adanya Santi gimana? Rama dan Santi boleh juga kok…” 

Kavling rumah masa depan

“Sis, ayo nanti keretanya keburu penuh!” seru Anya sambil menarik tangan Siska yang masih asyik berdiri di peron Stasiun Tanah Abang. Sedangkan yang diajak bicara hanya memandangi kereta commuter berwarna oranye, biasanya orang-orang juga menyebutnya KRL, yang tengah berjalan perlahan memasuki stasiun tersebut.

“Sis, ayo dong, aku nggak mau sampai berdiri,” pinta Anya dengan tatapan memohon. Siska hanya tersenyum tipis sambil menggerakkan kedua kakinya mengikuti langkah Anya. Sebenarnya Siska malas berdesak-desakan dengan puluhan orang lain yang juga berniat memasuki kereta itu. Baginya masuk sekarang atau nanti sama saja. Toh biasanya dia juga tidak mendapatkan tempat duduk karena bangku-bangku yang disediakan sudah terisi oleh penumpang yang naik di stasiun-stasiun sebelumnya. Namun melihat Anya yang antusias, Siska hanya mampu tersenyum. Ini pertama kalinya Anya naik kereta. Biasanya dia selalu pergi diantar sopirnya, tentunya dengan mobil pribadi keluarganya. Siska tak tahu ada angin apa yang membuat Anya tiba-tiba berniat mencicipi kendaraan umum.

“Sekali-sekali nggak apa-apa kan Sis, kalau nggak ada Pak Aji gimana donk?” jawab Anya saat Siska menyatakan keheranannya terhadap sikap Anya yang menghendaki bepergian dengan menggunakan transportasi umum hari itu.

“Yah, kita nggak dapat tempat duduk. Penuh semua,” keluh Anya. Kini mereka tengah berdiri berhimpitan bersama beberapa orang lain yang senasib dengan mereka. Sama-sama berdiri di dalam kereta.

“Nyesel nih?” goda Siska.

“Nggak kok. Malah asyik.” Jawaban Anya dijawab kembali oleh gelengan kepala Siska. Sepanjang perjalanan menuju ke Stasiun Serpong Anya nampak menikmati pengalaman pertamanya naik KRL.

“Sis, Sis, lihat itu deh, bagus ya?” tunjuk Anya saat mereka melewati tanah kosong yang menghijau.

“Sis, Sis, lihat itu. Kasihan ya orang-orang itu,” tunjuk Anya saat mereka melewati rumah-rumah rapuh di sepanjang jalur kereta. Siska hanya tersenyum, mungkin bagi Anya ini adalah pengalaman pertamanya melihat kebun-kebun kosong di sisi kanan kiri jalur kereta maupun rumah-rumah reyot di sepanjang jalur kereta, tapi bagi Siska itu sudah biasa.

“Sis, Sis, lihat itu. Keren ya?” tunjuk Anya saat mereka melewati sebuah tempat yang sebenarnya menurut Siska sangat jauh dari kata keren.

“Lu baik-baik saja kan An?”

“Emang gua sakit? Lihat tuh keren kan,  kayak kavling saja.” Mata Siska kembali menelusuri pemandangan di sisi kanannya. Benar juga kata Anya, memang gundukan tanah beserta batu nisan itu ditata rapi, seperti kavling rumah saja.

“Rumah masa depan kita Sis.”

“Lu ngomong apa sih An?” tanya Siska sambil terus mengawasi kavling nisan yang mulai nampak menjauh, kabur tertutup oleh pohon-pohon. Kereta yang mereka naiki telah meninggalkan pemakan itu.

“Tapi bener kan kata gue, kayak kavling rumah tuh susunannya, berpetak-petak, terus berdempet-dempet lagi.”

“Ngaco lu,” timpal Siska asal. Kemudian Siska menghabiskan sisa perjalan mereka dalam diam. Tak dipedulikannya Anya yang terus mengomentari pemandangan di sisi kiri kanan mereka.

“Sis, sudah sampai. Nggak turun?” tanya Anya, membuat Siska kembali dari lamunannya. “Kamu mikir apa sih Sis? Omonganku yang tadi ya?” Siska hanya diam. Anya memang luar biasa, Siska sering bertanya apakah jangan-jangan Anya memiliki kemampuan membaca pikiran, seperti Edward Cullen dalam Twilight Saga.

“Omonganmu bener sih An. Rumah masa depan kita.”

“Hahaha Sis, Sis. Nggak usah dipikirin. Memang benar, semua orang pasti meninggal. Jika ada satu hal yang pasti dalam hidup ini maka itu adalah kematian. So what? Ngapain dipikirin. Yang penting bagaimana kita mengisi hari-hari kita supaya nanti kita siap menyambut hari H tersebut,” cerocos Anya. “Perlu diingat itu Sis bahwa hidup kita akan berakhir di kavling itu. Maka dari itu, lu harus jalani hidup lu sebaik mungkin, jangan sampai ada penyesalan nantinya karena lu udah habisin waktu lu buat hal-hal yang nggak penting.”

Siska hanya mampu mendengarkan Anya yang terus berbicara dengan panjang lebar. “Iya Bu Guru. Sudah belum ceramahnya.” Kemudian tawa mereka berderai. “Rasanya gue harus sering-sering lu bawa keliling Jakarta naik kendaraan umum deh, biar lu tambah bijak,” ujar Siska di sela-sela tawanya.

 Ya, Siska akan mengingat kavling rumah masa depannya. Jalani hidup hari ini untuk hari esok, dan Siska akan mempersiapkan dirinya untuk menyambuk hari itu. Hari yang tak dia ketahui kapan datangnya. Dalam hati dia memastikan bahwa jika hari itu tiba, tak ada penyesalan lagi. 

Telepon umum

Siang itu Nina berjalan dengan riang, terdengar gemerincing koin beradu dalam kantong celananya. Ya, dia telah menyiapkan banyak uang koin demi memuaskan kebiasaan barunya, berceloteh dia dalam box telepon umum. Kebiasaan baru itu lahir sejak telepon umum di dekat rumahnya dipasang seminggu yang lalu. Kini Nina rajin menyisihkan uang sakunya, seratus perak setiap hari, terkadang dua ratus. Nina rela tidak membeli es lilin seharga seratus perak agar dapat memasukkan uangnya itu ke dalam box telepon umum.

Nina masih ingat saat pertama kali memasukkan uang receh ke dalam box telepon itu. Kemudian dia menekan nomor Lala, teman sebangkunya yang sudah memiliki telepon di rumahnya. Saat itu Nina hnya mengatakan kalau di dekat rumahnya sudah ada telepon umum sehigga dia mencoba untuk menelpon Lala. Kurang kerjaan sekali si Nina. Tapi lama kelamaan ngobrol melalui telepon menjadi kebiasaan barunya. Pernah suatu malam dia menelpon Andi, hanya untuk mengatakan kalau dia menelpon menggunakan telepon umum. Tentu saja Andi mengomel tak berhenti karena Nina menganggu waktu santainya. Iseng sekali Nina, rupanya karena tidak ada hal yang dapat dilakukannya maka telepon umum itu menjadi sarana baginya untuk mengusili teman-temannya.

Tak butuh waktu lama bagi Nina untuk tiba di box telepon itu. Masih sepi, tak ada orang. Nina mulai mengeluarkan keping perak pertamanya dan memasukkannya ke dalam box telepon itu, kemudian dia menekan nomor telepon Lala. Tak berapa lama kemudian terdengarlah suara Lala di seberang sana. Nina dan Lala pun larut dalam pembicaraan yang tak jelas ujung-ujungnya, hanya menggosip, membicarakan teman-teman sekelas mereka.

Entah berapa lama Nina mengobrol dengan Lala, hingga kemudian dia merasa pintu box telepon itu diketuk. Nina menghentikan obrolannya sebentar, lalu menoleh sebentar. Dilihatnya di luar sana seorang wanita muda, sedang mengetuk-ngetuk pintu box telepon umum itu.

“Sebentar ya Mbak!” seru Nina saat membuka pintu box itu. Kemudian dia menutup kembali pintu box dan melanjutkan pembicaraannya lagi. Ternyata yang dimaksud sebentar oleh Nina adalah lima keping perak lagi masuk ke dalam bibir telepon umum itu. Menit demi menit pun berlalu. Nina melanjutkan pembicaraannya dengan menelpon Sisi, temannya yang lain.

Kembali Nina mendengar ketukan di pintu box. Masih wanita yang sama berdiri di depan, dengan wajah tak sabar. “Maaf, dek, saya ada perlu, penting sekali,” kata wanita itu saat Nina membuka pintu box.

“Saya juga lagi perlu Mbak, ini juga penting!” Nina menjawab ketus. Dia merasa tak senang karena keasyikannya ngobrol dengan temannya terganggu. Sungguh hal yang sebenarnya sama sekali tidak penting.

“Si, sudah dulu ya. Ada orang brengsek yang gangguin. Nanti aku telpon lagi.” Akhirnya Nina mengakhiri pembicaraannya dengan Sisi dan mempersilahkan wanita itu masuk, sedang dia menunggu di luar.

Tak berapa lama kemudian wanita itu keluar dengan wajah pucat, seperti hendak menangis. Melihat hal itu Nina jadi penasaran, “Mbak, ada apa?” tanya Nina.

“Saya barusan mendapatkan surat panggilan kerja,” jawab wanita muda itu membuat Nina semakin heran, seharusnya mendapatkan panggilan kerja membuat wanita itu senang, bukannya sedih. “Surat itu datang tiga hari yang lalu, saat itu saya masih berada di rumah nenek, di kota lain. Baru siang ini saya pulang. Ternyata saya diharuskan menghubungi kantor itu untuk menyatakan kesediaan saya dan mengatur jadwal wawancara, sebelum jam empat sore. Barusan saya menelpon kantor itu, tapi ternyata saya terlambat beberapa menit, bagian personalianya sudah pulang. Hilang sudah kesempatan saya bekerja di kantor itu. Seandainya saya datang ke sini lebih cepat…” kata wanita itu lemah, entah mengapa dia mencurahkan isi hatinya kepada Nina. Barangkali dia sedang butuh tempat untuk mengeluarkan perasaannya setelah kejadian yang menimpanya itu.

Mendengar kata-kata itu, kepala Nina bagai dihantam palu besar. Bukan kesalahan wanita itu, dia yang salah. Jika saja sewaktu wanita itu mengetuk pintu box, dia segera menghentikan obrolannya tentunya kini wanita itu bisa tertawa gembira karena berhasil menghubungi kantornya. Nina tak bisa berkata apa-apa, dia ingin agar wanita itu memukulnya, atau memarahinya, karena tindakan konyolnya, karena keisengannya telah merugikan orang lain. Tapi wanita itu hanya tersenyum lemah, senyuman yang dipaksakan, lalu berjalan pergi meninggalkan Nina.

Hilang sudah semangat Nina untuk melanjutkan obrolannya dengan Sisi melalui telepon umum. Kini dadanya dipenuhi penyesalan. Digenggamnya erat-erat beberapa keping koin seratus perak yang masih tersisa. Dalam hati dia berjanji untuk menggunakan wantu dan uangnya untuk hal-hal yang lebih bijaksana lagi. Dia tak mau membuat orang lain menderita akibat perbuatan konyolnya.

**

Satu lagi cerpen yang berasal dari masa kanak-kanakku. Settingnya di tahun 90an, dan pada waktu itu telepon rumah masih jarang, apalagi HP, hanya segelintir orang berduit yang memiliki barang mewah itu. Saat itu telepon umum masih menjadi sarana yang penting bagi komunikasi. Buat aku ceritanya bagus, menegur banget. Disadari atau tidak, sebenarnya tindakan kita menimbulkan dampak bagi orang lain, bisa dampak baik dan dampak buruk. Baik-baiklah dalam bertindak agar tidak merugikan orang lain.

Reach the star…

IMG

Aku pulang sekolah dengan lemas. Hari ini nilai ulangan matematika dibagikan, dan seperti  yang sudah-sudah, nilaiku tidak pernah di atas enam. Sedih rasanya. Aku ingin menangis. Aku tidak tahu mengapa aku selalu mendapat nilai jelek pada pelajaran matematika, padahal aku termasuk siswa berprestasi. Nilai-nilaiku selalau bagus, kecuali untuk mata pelajaran yang satu itu. Entah kenapa otakku rasanya sulit diajak berkompromi jika menyangkut matematika, rasanya otakku sedang marahan dengan matematika dan tidak mau membukakan pintu untuk matematika masuk.

Malas rasanya menatap angka empat yang besar pada lembar kertas ulanganku. Apalagi mengingat kertas ini harus ditandatangi orang tua. Pasti aku akan mendapatkan ceramah dan omelan dari mama. Oh kenapa untuk mata pelajaran yang satu ini aku selalu bernasib buruk?

Sore itu aku akhirnya memberanikan diri menghampiri Mama dengan memasang wajah masam, sembari berdoa dalam hati agar hari ini Mama mengalami hari yang baik di kantornya. Sebenarnya aku bisa saja memalsukan tanda tangan Mama, seperti yang pernah kulakukan pada saat aku kelas lima SD, namun aku tahu itu salah dan akhirnya aku mencoba jujur, siap sedia menghadapi segala konsekuensinya. Lebih baik aku dimarahi Mama jika mendapat nilai jelek daripada merasa tidak tenang karena telah melakukan hal yang salah.

Aku menyerahkan lembar ulangan itu dengan hati-hati dan bersiap-siap mendapat omelan, namun yang kudapati hanya senyuman masam Mama. Aku tahu dalam hati Mama pasti kecewa, tapi Mama tidak mau menunjukkannya, barangkali karena melihatku yang sudah tidak bersemangat. Dalam hati aku bersyukur memiliki orang tua yang bisa mengerti anaknya, tidak seperti kebanyakan orang tua yang hanya tahu menuntut dari anaknya tanpa berusaha mengerti dan memahami perasaan serta usaha sang anak.

“Besok ulangan perbaikan?” tanya Mama sembari menyerahkan lembaran kerta yang telah ditandatanganinya. Aku hanya mengangguk mengiyakan lalu segera beranjak ke kamar.

Di dalam kamar aku hanya tidur-tiduran, aku tidak berniat belajar sama sekali. Untuk apa aku belajar, toh hasilnya pasti sama saja, nilai-nilaiku tidak pernah beranjak dari nada dasar do re mi fa sol. Akhirnya aku menarik kesimpulan tak ada gunanya aku belajar, seperti memasukkan air ke kantung kain. Aku memejamkan mata untuk mengusir kepenatan dan tanpa kusadari aku terlelap dalam tidurku.

“Ta, bangun Nak. Sudah waktunya makan malam…” kudengar suara Mama membangunkanku. Ternyata sudah jam tujuh, berarti aku ketiduran hampir dua jam. Masih dengan mata lima watt aku mengikuti Mama ke meja makan. Di sana Papa sudah duduk menungguku. Makan malam bersama merupakan hal yang selalu diusahakan oleh keluarga kami. Makan malam merupakan waktu untuk berkumpul bersama setelah seharian masing-masing anggota keluarga beraktifitas di luar rumah.

Malam itu seperti biasa Papa menceritakan kesibukannya di kantor, bagaimana Papa menghadapi klien penting dam berhasil meyakinkannya untuk bekerja sama, Papa memang manajer yang hebat dan selalu diandalkan oleh bosnya untuk bernegosiasi dengan klien. Mama pun tak kalah seru bercerita tentang usahanya memeriksa laporan keuangan perusahaan dan berhasil membuktikan bahwa tidak ada rekayasa dalam laporan itu seperti yang diisukan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab yang iri terhadap Mama karena Mama selalu bekerja dengan jujur dan karirnya meningkat pesat. Dalam hati aku kagum kepada orang tuaku, tapi juga merasa rendah diri karena aku tidak seperti Papa yang percaya diri dan mudah meyakinkan orang, begitu mendapat nilai jelek saja ku langsung down dan tidak percaya diri, aku juga tidak seperti Mama yang gigih berusaha keras membuktikan apa yang diyakininya, aku saja sudah menyerah menghadapi ulangan besok karena merasa otakku tidak dapat bekerja dengan normal jika harus melawan matematika. Sepanjang acara makan itu aku hanya diam saja tidak bersuara sedikit pun.

Setelah makan malam selesai, Papa mengajakku ke ruang keluarga dan Papa memberikanku sebuah kartu bergambar yang nampaknya sudah cukup tua, warna kartu itu sudah mulai pudar. Di kartu itu terpampang gambar seorang anak sedang berusaha melompat untuk menggapai bintang di langit sedangkan di bawah kakinya ada beberapa cacing tanah. Di bawah gambar itu ada sebuah tulisan dalam bahasa Inggris ‘You can try to reach the stars in the sky even it is harder than get the worms on the ground…’yang artinya ‘Kamu dapat mencoba meraih bintang di langit meskipun lebih sulit daripada meraih caing di tanah…’

Aku menatap Papa dengan tatapan heran. Aku tidak tahu apa maksud Papa menunjukkan kartu itu kepadaku.

“Kamu tahu, Ta. Waktu kecil Papa selalu mendapat nilai rata-rata, kamu tahu kan rata-rata itu seperti apa, tidak bagus tapi juga tidak jelek, padahal Papa sudah berusaha keras agar bisa lebih baik lagi seperti Om kamu. Akhirnya Papa merasa tidak ada gunanya belajar dan berusaha dan Papa memilih menerima nasib Papa sebagai si rata-rata. Sampai akhirnya Oma memberikan kartu ini kepada Papa. Oma bilang Papa harus mencontoh anak kecil di kartu itu, meskipun lebih mudah baginya untuk mengambil cacing di tanah, tentunya dia pasti bisa mengambilnya tanpa perlu bersusah payah, tapi dia berusaha untuk menggapai bintang di langit, lihatlah bahkan tangannya saja tidak sampai menggapai bintang itu. Rasanya mustahil bagi anak itu untuk bisa meraih bintang, tapi dia tidak menyerah, dia tidak mau mengambil cacing di tanah karena yang dia inginkan adalah bintang di langit, bukan cacing di tanah. Demikian juga Papa, memang mudah untuk menyerah paa keadaan dan nasib, tidak perlu belajar dan berusaha, tetapi Papa harus terus berusaha seperti anak itu, agar Papa bisa mendapat nilai di atas rata-rata. Yang penting adalah sikap kita untuk tidak mudah menyerah dalam mencapai sesuatu yang kita inginkan, meskipun itu tidak mudah.”

Wow, mendengar penjelasan Papa aku jadi merasa malu pada diriku sendiri. Papa dan Mama adalah orang yang tidak mudah menyerah dalam berusaha dan sebagai anak mereka tentunya aku juga harus demikian. Aku senang Papa mau memberikanku kartu itu, dan seperti Oma yang dulu memberikan kartu itu kepada Papa dan Papa selalu menyimpannya, kartu itu juga akan selalu kusimpan. Aku mau seperti Papa dan anak dalam kartu itu, tidak mudah menyerah, meskipun rasanya sulit untuk meraih bintang aku akan terus berusaha, aku tidak akan menyerah. Aku baru tahu ternyata dulu Papa juga bukan anak yang pintar, bahkan Papa menjuluki dirinya si rata-rata, berarti aku lebih hebat dari Papa, aku bisa mendapatkan nilai bagus dalam semua mata pelajaran kecuali matematika, aku mulai menyombongkan diri sendiri. Tapi aku kagum pada Papa karena berhasil mengalahkan dirinya sendiri, Papa tidak lagi menjadi si rata-rata tapi Papa sekarang menjadi seorang yang sukses.

Aku segera bangkit, mencium pipi Papa, berlari menuju kamarku dengan kartu pemberian Papa di tanganku. Aku bertekad untuk belajar dan mengalahkan matematika. Jika Papa saja sudah membuktikan diri bahwa Papa bisa berhasil, maka aku juga harus bisa, bukankah aku anak Papa. Dengan bersemangat aku membuka buku matematikaku, mengambil kertas kosong dan mulai mencoret-coret, berlatih mengerjakan soal demi soal, dan kartu bergambar anak yang melompat berusaha meraih bintang itu kutempelkan di dinding tepat di atas meja belajarku…

**

Sebuah cerita yang pernah kubaca ketika aku masih kecil dulu. Aku lupa sama sekali jalan ceritanya. Yang kuingat adalah kartu bergambar anak yang berusaha meraih bintang daripada mengambil cacing di tanah. Poin yang tertanam di otakku adalah aku tidak boleh mudah menyerah. Aku harus memiliki tujuan dan terus berjuang untuk mencapinya, tak peduli seberapa sulitnya dan banyaknya rintangan yang harus kuhadapi. Aku bisa saja menyerah dan mengambil cacing di tanah tapi aku takkan pernah mendapatkan bintang jika aku berhenti berusaha untuk meraihnya…

Bagaikan kuda dan keledai…

Hari sudah gelap, tapi A Yong masih berdiri di depan kolam ikan dengan wajah murung. dipandanginya ikan-ikan koi yang berenang dalam ketenangan malam. Malam ini adalah malam terakhirnya sebagai koki istana. Dia telah mengantungi ijin untuk meninggalkan istana selama dua hari, meskipun dia berniat meninggalkan istana selamanya. Tekadnya sudah bulat untuk keluar dari istana, kembali ke desanya. A Yong sudah memutuskan untuk mengubur cita-citanya menjadi salah satu koki istana, yang menghidangkan makanan di meja Kaisar. Barangkali menjadi koki istana merupakan angan-angan yang tak bisa dicapainya.

A Yong masih mengingat kejadian sore tadi. Ini sudah kesekian kalinya Koki Kepala memarahinya. Sejak masuk menjadi salah seorang koki istana, tiada satu hari pun telinga A Yong absen mendengarkan kata-kata Koki Kepala yang membuat wajahnya merah. Koki Kepala selalu saja mencari-cari kesalahannya. Hari ini A Yong dicerca karena menghidangkan sup yang menurut Koki Kepala kurang mak nyus, padahal menurutnya rasanya sudah pas, barangkali indera perasa Koki Kepala sudah mulai menurun, seiring usianya yang tak lagi muda. Kemarin dia mengalami masalah dengan daging bebek, menurut Koki Kepala daging bebek yang diirisnya kurang tipis, terlalu tebal, padahal dia sudah memotongnya dengan ketebalan satu senti, sayang saat itu belum ditemukan penggaris sehingga dia tidak dapat membuktikan ukuran ketebalan daging yang itu. Lalu beberapa hari sebelumnya kaldu yang dibuatnya mendapatkan nilai minus. Hambar, rasanya kaldunya tidak terasa sama sekali, tegas Koki Kepala saat itu, untuk kaldu itu barangkali memang Koki Kepala ada benarnya juga karena dia kurang memperhatikan waktu saat merebus daging.

Selain mendapatkan teguran dan kata-kata yang membuat telinga panas, A Yong juga merasa meras diberi pekerjaan lebih berat Shin dan Lee, teman-teman seangkatannya, sesama koki pemula. Pernah Koki Kepala menyuruhnya mengiris daun bawang tipis-tipis, dan jumlahnya dua kali lipat yang dikerjakan oleh kedua temannya. Pernah juga Koki Kepala menyuruhnya membersihkan peralatan dapur sedangkan Shin dan Lee mendapatkan tugas lain yang lebih ringan. Ditambah lagi Shin dan Lee sering meremehkannya karena Koki Kepala selalu memarahinya. Padahal A Yong merasa keahlian memasaknya lebih baik daripada kedua temannya itu, tapi memang dia saja yang bernasib sial karena menjadi karung tinju Koki Kepala, sedangkan kedua temannya hanya tersenyum singkat melihatnya dimarahi. Lengkap sudah penderitannya, Koki Kepala memang pilih kasih.

“Ibu, aku pulang!” A Yong berkata dengan suara keras setengah berteriak saat berada di depan rumahnya. Pintu rumah tampak tertutup rapat, apakah ibunya sedang tidak di rumah.

“Lho Nak, kenapa kok tiba-tiba kamu pulang? Apa kamu dikeluarkan dari istana?” tanya sang ibu yang tergopoh-gopoh membukakan pintu begitu mendengar suara anak yang dikasihinya itu. Menilik celemek yang menutupi bagian depan bajunya, sepertinya Ibu A Yong tengah memasak.

“Aku mau berhenti Bu. Rasanya istana bukan tempatku. Barangkali aku tidak ditakdirkan menjadi koki istana,” kata A Yong saat mereka duduk di atas meja makan, menikmati makan siang mereka. Kemudain A Yong menceritakan perlakuan yang dialaminya, tentang Koki Kepala yang selalu mempersulitnya, memarahinya, memberikan beban pekerjaan yang lebih banyak dibandingkan teman-temannya. “Koki Kepala itu memang pilih kasih. Shin dan Lee hampir tidak pernah dimarahi, bahkan saat mereka berbuat salah, sedangkan aku, salah sedikit saja sudah disembur. Lebih baik aku tidak usah kembali ke tempat itu lagi.” A Yong mengakhiri ceritanya, bertepatan dengan kosongnya mangkuk di hadapannya.

“Nak, kata-katamu memang benar. Koki Kepala memang pilih kasih, tapi dia mengasihimu. Sekarang jawab ibu, jika kau memiliki kuda dan keledai, mana yang akan kau cambuk supaya larinya lebih kencang?” Ibu A Yong yang dari tadi hanya diam mendengarkan cerita puteranya kini membuka mulutnya.

“Tentu saja kuda. Untuk apa aku mencambuk keledai, keledai tidak bisa berlari secepat kuda.”

“Jika begitu, bukankah sama dengan apa yang kau alami, Koki Kepala memarahimu saat kau berbuat salah agar kau tahu apa kesalahanmu dan dapat membuatmu menjadi lebih baik. Tugas-tugas yang diberikannya kepadamu lebih banyak daripada teman-temanmu karena dia tahu kemampuanmu, dan dia tahu kamu dapat mengerjakannya lebih baik daripada mereka. Karena kau lebih baik daripada teman-temanmu maka Koki Kepala mencambukmu, agar kau dapat berlari lebih cepat dan semakin cepat. Seperti yang kau katakan, tak ada gunanya mencambuk keledai.”

Keesokan harinya A Yong menampakkan diri di istana. Kali ini dia siap menghadapi teguran dan kata-kata kasar Koki Kepala. Teman-temannya heran melihat perubahan A Yong. Kini dia selalu menghadapi teguran Koki Kepala dengan senyuman, tak nampak lagi wajah murung yang biasa ditunjukkannya

 “Ada apa denganmu? Biasanya kau selalu memasang wajah murung setelah mendengarkan omelanku, tapi akhir-akhir ini kau malah tersenyum?” tanya Koki Kepala suatu hari. A Yong pun menceritakan kata-kata ibunya kepada koki tua itu.

“Ibumu benar sekali. Aku melihat kau memiliki bakat melebihi teman-temanmu, karena itulah aku berniat mengajarimu menjadi koki yang handal. Aku tahu kau pasti melakukan lebih baik lagi dari apa yang kau lakukan saat ini.”

Kata-kata Koki Kepala menjadi kenyataan. A Yong berhasil menjadi koki yang handal, bahkan Kaisar menyukai masakannya, lebih daripada koki istana lainnya. Akhirnya A Yong berhasil mewujudkan mimpinya menjadi koki istana, bahkan menggantikan Koki Kepala yang telah pensiun, mejadi seorang Koki Kepala yang menghidangkan makanan untuk Kaisar.

**

Salah satu cerpen yang pernah kubaca saat aku kecil dulu. Lupa-lupa ingat jalan ceritanya, tapi perumpamaan yg digunakan masih terpatri jelas. Mengingatkanku untuk terus bertahan saat menghadapi kesulitan dan masalah, bahkan saat kupikir masalahku lebih besar daripada teman-temanku (actually it’s not true, jangan menganggap masalah, atau kesulitan yang kau hadapi lebih besar daripada orang lain, totally wrong, setiap orang memiliki masalahnya masing-masing).

Back to the story, aku belajar dalam setiap kesulitan dan tantangan, ada campur tangan Tuhan yang sedang menempaku, membentukku untuk menjadi lebih baik dan semakin baik. Karena Tuhan mengasihiku maka dia mencambukku agar aku dapat berlari lebih cepat, karena Dia tahu aku bisa melakukannya. Yes, He knows I can do it, even I don’t so He pushes me so I can do it…

I think I’m in love with him…

Pagi itu wajah Santi nampak tak secerah biasanya, barangkali wajahnya turut mengikuti cuaca pagi itu yang memang mendung. Dia memandang lurus ke depan, memasang wajah datar tanpa ekspresi, meskipun suasana hatinya tidak sedatar wajahnya. Ada sesuatu dalam hatinya yang bergejolak, dan hal itulah yang membuat wajahnya tampak mendung. Bukan karena ulangan fisika yang akan dihadapinya hari ini, semalam dia telah belajar dan berlatih mengerjakan soal demi soal, persiapannya lebih dari cukup untuk menghadapi ulangan itu, tapi karena soal lain, suatu soal yang tak dapat dikerjakannya, bahkan Santi tak tahu bagaimana harus menjawab soal itu. Soal itu adalah ‘apakah aku menyukai Rama?’

Santi tak dapat menemukan jawaban soal itu, meskipun dia telah membolak-balik lembar demi lembar buku pelajarannya. Tak ada yang dapat memberinya contekan untuk menjawab soal itu, karena tak ada yang tahu jawabannya, dan jika ada satu-satunya orang yang tahu, maka Santilah orang itu. Tapi kini Santi belum berhasil mengetahui jawabannya, meskipun dia telah mencarinya ke mana-mana, bahkan sampai bertanya kepada Mbah Google. Tetap saja jawabannya nihil. Dan nihil bukanlah jawaban yang benar untuk menjawab soal itu.

“Kenapa San, dari tadi Mbak perhatikan kamu murung terus?” tanya Mbak Laras, kakak perempuan Santi yang tengah menyetir mobil. Seperti pagi-pagi sebelumnya, Mbak Laras selalu mengantar Santi ke sekolah sebelum dia menuju ke kampusnya, meskipun tujuan mereka tidak searah, tapi toh jam masuk kuliah lebih siang daripada jam masuk sekolah. Dan gadis cantik berkacamata itu tak keberatan mengantar adiknya setiap hari.

“Ah enggak Mbak, nggak ada apa-apa kok,” tukas Santi cepat sambil menoleh ke arah kakaknya.

“Sudah, ngomong saja. Mbak tahu pasti ada apa-apa, Mbak ini sudah enam belas tahun jadi kakakmu, sudah tahu kamu itu seperti apa. Atau biar Mbak tebak deh… pasti masalah cowok!” Tebakan Mbak Laras sepertinya benar, terbukti dari mata Santi yang membulat saat memandang kakaknya itu, sayang yang dipandang tengah sibuk berkonsentrasi terhadap jalanan di depannya sehingga dia tak sempat melihat wajah adiknya itu. “Mbak benar kan?” tanya gadis berkacamata itu lagi, masih sibuk dengan jalan di depannya, kali ini dia tengah berusaha mendahului mobil di depannya dan dalam beberapa menit kemudian dia sukses meninggalkan mobil itu. Meskipun perempuan, tapi kehalian mengemudi Mbak Laras dapat disetarakan dengan laki-laki.

“Dari mana Mbak tahu?” tanya Santi dengan polosnya. Apakah kakaknya itu dapat membaca pikirannya?

“Santi, Santi, ya tentu saja Mbak tahu, Mbak kan pernah jadi ABG juga…” jawab gadis itu sambil terkekeh.

“Santi bingung Mbak. Santi nggak tahu gimana ngomongnya… Ada cowok yang akhir-akhir ini mendekati Santi. Hampir setiap hari dia selalu SMS, nanyain ada PR apa, besok ulangan apa, ya gitu-gitu deh Mbak. Terus kalau di kelas dia sering curi-curi pandang ke Santi.” Akhirnya Santi tak tahan untuk mengeluarkan isi hatinya.

“Hmmm, Mbak pikir wajar sih kalau nanyain PR, besok ulangan apa. Terus kok kamu tahu kalau dia sering curi-curi pandang ke kamu, jangan-jangan kamu juga sering curi-curi pandang ke dia ya…” tebak Mbak Laras lagi, sepertinya dia benar-benar senang menggoda adiknya itu. Jika saja dia tak sedang tak mengendarai mobil, pasti dia senang sekali melihat wajah Santi yang merona kemerah-merahan.

“Ah, Mbak bisa saja…” tukas Santi cepat.

“Terus kamunya gimana? Kamu juga suka sama cowok itu?”

“Aku nggak tahu Mbak. Aku nggak yakin. Aku bingung…”

“San, Mbak pernah cerita kan waktu Mbak pacaran sama Mas Dion waktu kelas satu SMA, terus waktu Mbak pacaran sama Mas Indra waktu kelas tiga SMA, lalu sama Mas Bagas waktu semester satu kemarin…” Mbak Laras nampak mengabsen nama-nama mantan pacarnya. Santi mengakui kecantikan kakaknya itu membuat banyak pemuda yang jatuh hati, dan kakaknya pun nampaknya memiliki catatan percintaan yang panjang. Sebenarnya Santi tahu beberapa nama lain yang tak berstatus pacar kakaknya namun memiliki kedekatan khusus dengan gadis itu. Tapi saat ini kakaknya sedang jomblo, sudah lima bulan dia putus dengan Mas Hendra, pacar terakhirnya yang dipacari selama setengah tahun. Yang membuat Santi heran, Mbak Laras belum mendapatkan pengganti Mas Hendra. Biasanya tak butuh waktu lama bagi kakaknya itu untuk mendapatkan pacar baru. “Sebenarnya Mbak sedikit menyesal berhubungan dengan mereka. Jika waktu dapat diputar kembali, Mbak nggak akan memilih untuk pacaran dulu. Itulah sebabnya setelah Mbak putus dari Mas Indra Mbak memilih menjomblo.”

“Kok gitu Mbak?” tanya Santi heran, padahal sebenarnya dia kagum pada kakaknya yang populer di mata cowok-cowok.

“Waktu itu Mbak pacaran hanya untuk senang-senang saja, ya biar ada yang nemenin jalan, ada yang ngajak nonton, ada yang nraktir makan. Dari Mas Indra lah Mbak belajar tentang pacaran yang serius dan Mbak sadar bahwa Mbak belum siap untuk menjalani hubungan yang serius. Itulah kenapa Mbak putus dengan Mas Indra dan memilih tetap jomblo sampai sekarang,” jelas Mbak Laras tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan, kini dia sedang berusaha mengenyahkan seorang pengendara motor yang menyetir seenaknya sendiri. Dilihat dari celana abu-abu yang dikenakannya sepertinya dia masih pelajar SMA.

“Barangkali ini terdengar klise, tapi Mbak mau bilang kalau boleh Mbak kasih saran sebaiknya kamu temenan saja dulu sama anak itu. Kalian masih muda, terlalu muda bahkan untuk terlibat dalam cinta-cintaan. Masih labil dan belum dapat mengendalikan diri, seperti anak di depan, bawanya motor ugal-ugalan, belum bisa tenang dan dewasa dalam menyikapi keadaan. Sama-sama ngotot, nggak ada yang mau ngalah. Nanti kalau kamu pacaran, yang terjadi seperti itu, bawaannya ribut terus, ujung-ujungnya menganggu konsentrasi belajar.” Entah Mbak Laras sedang menasehati Santi atau sedang mengatai pengendara motor di depannya yang memang sedang berusaha untuk mendahului mobil di depannya, tapi sepertinya mobil itu tak mau memberikan celah.

Mendengar kata-kata kakaknya Santi turut melengokkan kepalanya, memperhatikan motor di depan mereka, sepertinya Santi kenal motor itu, dan dia juga kenal pemiliknya. Tapi saat ini Santi tak mau berkomentar apa pun tentang motor itu. Dia sedang menimang-nimang perkataan kakaknya. Diakuinya kata-kata kakaknya benar juga. Pernah dia melihat kakaknya menangis semalam karena bertengkar dengan Mas Dion, saat itu menjelang ujian kenaikan  kelas. Hampir saja Mbak Laras nggak naik kelas karena nilainya jeblok, padahal kakaknya itu berotak encer. Santi tak mau mengalami kejadian yang sama dengan kakaknya. Ditambah lagi melihat tingkah pengendara sepeda motor di depannya itu. Memang diakuinya dia masih belum cukup dewasa itu mengenal apa itu cinta.

“Lagipula kami juga bisa mengisi waktumu dengan hal-hal yang lebih berguna, seperti belajar keterampilan-keterampilan lain yang dapat membekali dirimu di masa mendatang. Salah satu penyesalan Mbak adalah Mbak terlalu sibuk ngurusin pacar-pacar Mbak sehingga Mbak nggak punya waktu untuk melakukan hal-hal lain. Mbak iri dengan Siska, temen Mbak yang kuliah dengan biaya sendiri. Sejak masih SMA dia belajar membuat kue dan sekarang sedikit banyak dia bisa menggunakan keterampilannya itu untuk membiayai kuliahnya, sedangkan Mbak hanya minta uang dari Bunda. Bukannya Mbak melarang kamu untuk pacaran, tapi Mbak hanya ngasih saran aja dan berbagi pengalaman. Mbak nggak mau kamu salah pilih dan akhirnya nyesel, seperti Mbak yang sedikit nyesel hahaha…” Mbak Laras tertawa untuk membuat suasana yang nampak tegang sedikit ceria.

“Lalu Mbak, kapan aku boleh, maksudku bisa pacaran? Lalu gimana kalau cowok ini adalah jodohku?”

“Mbak percaya akan tiba waktunya kamu mengalami hal itu, saat kamu sudah siap. Dan saat itu kamu takkan ragu lagi untuk menjawab ‘ya’. Jika memang kamu berjodoh dengan cowok ini, di kemudian hari kalian pasti akan jadian kok. Santai saja. Waktumu masih panjang. Nikmati saja dulu masa-masa SMA mu. ” Kali ini Mbak Laras berkata sambil memandang Santi. Mereka telah tiba di sekolah Santi. Sebenarnya Santi masih mau bercakap-cakap dengan kakak satu-satunya itu, tapi waktu jualah yang membatasi kesempatan mereka. “Sudah sampai.”

Saatnya Santi turun. “Mbak, terima kasih ya…” kata Santi sambil tersenyum. “Hati-hati di jalan!” kata Santi saat hendak menutup pintu mobil.

“Sama-sama. Eh, kalau ketemu sama anak yang tadi bawa motor, bilangin yang sabar di jalan, jangan ngebut. Tadi Mbak lihat dia msuk ke sekolahmu, sepertinya dia anak sini,” pesan Mbak Laras. Santi hanya tersenyum sambil mengacungkan ibu jarinya. Wajahnya tak lagi mendung, karena langit di atas sana mulai cerah, sang fajar telah menampakkan dirinya dari balik awan. Kini dia sudah tahu jawaban soal yang menganggunya itu, dan dia telah siap menjawabnya.

I think I’m in love with him, but not now…

I think I’m in love with her…

Sore itu Rama nampak gelisah. Dia sedang berusaha belajar, memindahkan rumus-rumus fisika dari buku catatan ke dalam otaknya. Tapi setiap kali dia mencoba untuk menghafal rumus-rumus itu, sebuah rumus lain menari-nari di otaknya. Bukan rumus s=vo.t yang menunjukkan jarak tempuh sama dengan kecepatan dikalikan waktu tempuh, maupun vt2=vo2+2as yang menunjukkan kecepatan akhir sama dengan akar kecepatan awal dikuadratkan lalu ditambahkan dua kali percepatan dan jarak tempuh yang mengendap di otaknya melainkan Rama+Santi=love, sebuah rumus yang tak ada dalam buku catatan maupun buku pelajaran fisika manapun.

Rama mengacak-ngacak rambutnya, mencoba mengenyahkan rumus yang diciptakannya sendiri itu. diletakannya buku catatannya di atas kasur, tepat di samping pantatnya. Dia bergeser sejenak, memperbaiki cara duduknya, mencoba mencari posisi duduk yang lebih nyaman di atas kasur. Dia harus belajar untuk menghadapi ulangan fisika besok, tapi sudah hampir satu jam dia membolak-balik lembar demi lembar buku catatannya tak ada satu rumus pun yang tertanam di otaknya, justru rumus asing itu yang terus menerus mengetuk-ngetuk otaknya, mencoba untuk masuk.

“Kenapa Ram? Ada yang nggak kamu mengerti? Barangkali Papa bisa bantu?” Suara Papanya membuat perhatian Rama teralih dari rumus aneh yang berdiri di depan pintu otaknya. Untuk sementara dia membiarkan rumus itu berdiam diri, menunggu dengan setia di depan pintu otaknya. Kini dia menoleh ke arah pintu kamarnya yang terbuka lebar, sepertinya tadi dia telah menutup pintu kamarnya. Tanpa menunggu jawaban putera sulungnya, lelaki paruh baya itu melangkah memasuki kamar berukuran tiga kali tiga meter itu. Tak dipedulikannya sticker bertuliskan “Masuk=Mati” yang menempel di pintu kamar itu. Satu lagi rumus yang tak ada dalam mata pelajaran mana pun.

“Emmm, nggak kok Pa, Rama lagi belajar aja. Tapi dari tadi nggak ada yang bisa masuk,” ujar Rama cemberut. Papa Rama tersenyum melihat tingkah puteranya itu. Meskipun sudah kelas X SMA, tapi kadang sikapnya msih seperti anak kecil. Ah, tak peduli berapa pun usia Rama sekarang, di mata laki-laki itu, Rama tetaplah putera kecilnya. “Kalau belajar nggak masuk-masuk berarti ada yang harus dikeluarkan dulu. Barangkali otakmu sudah penuh.” Lelaki itu mengusap rambut puteranya lembut.

“Emmm, gitu ya Pa?” Rama memandang wajah Papanya. Meskipun sudah berusia empat puluh tahun, wajah Papanya masih sama seperti wajah lelaki di dalam foto yang menggendongnya saat masih bayi. Tidak, wajah itu tak lagi sama, semakin Rama memperhatikannya, dia menemukan beberapa kerutan samar di dahi laki-laki itu. Kerutan yang menunjukkan kerja keras dan kebijaksanaannya sebagai seorang ayah.

“Lalu, apakah kamu akan membiarkan Papa menunggu?” Rama menunduk sebentar, seperti berpikir keras, apakah dia harus menceritakan rumus aneh yang kini menunggu di depan pintu otaknya. Barangkali Papanya memiliki penyelesaian bagaimana cara menggunakan rumus itu, karena tak ada soal manapun dalam pelajaran fisika yang dapat dijawab menggunakan rumus itu. “Ram, ada kalanya dua orang laki-laki melakukan pembicaraan antara dua orang laki-laki.” Papa Rama sepertinya tahu ada masalah yang menganggu puteranya, sepertinya puteranya itu masih enggan untuk menceritakan masalah apa itu, “Atau antara ayah dan anak…”

“Emmm, oke lah kalau begitu. Tapi janji ya Pa, antara dua orang laki-laki, atau antara ayah dan anak, sama sajalah…” Ucapan Rama membuat Papanya terkekeh pelan.

“Pa, sepertinya aku naksir cewek…” Pelan sekali kata-kata itu meluncur dari mulutnya, hampir saja Papanya tak bisa mendengar suara puteranya itu.

“Lalu…”

“Lalu aku nggak yakin sama perasaanku, tapi setiap kali aku melihatnya, aku merasa berdebar…”

“Terus…”

“Terus aku merasa nyaman dekat dia, aku ingin terus ada di dekatnya. Aku bingung, nggak tahu harus gimana…”

“Ooo…”

Mendengar Papanya yang hanya berkomentar ‘lalu’, ‘terus’ dan menutup nya dengan ‘o’ panjang Rama semakin cemberut. Dia menekuk wajahnya kesal. Papa Rama kembali tersenyum melihat tingkah puteranya.

“Rama, Papa sudah menduga akan tiba saatnya kamu menghadapi hal itu. Papa senang dapat menjalankan tugas sebagai seorang ayah, mendampingi puteranya saat menghadapi masa-masa, meminjam istilah anak muda jaman sekarang, galau,” Papa Rama menghela nafas sejenak sambil duduk di sebelah puteranya. Rama menggeser pantatnya, memberika ruang bagi Papanya, toh kasur itu masih luas untuk diduduki dua orang.

“Dulu Papa juga pernah mengalami apa yang kamu alami saat ini. Jika boleh Papa memberi saran, sebaiknya untuk saat ini kamu fokus dengan sekolahmu dulu. Jalanmu masih panjang. Usiamu masih terlalu belia untuk mengenal apa itu cinta. Percayalah kepada Papa, di kemudian hari akan tiba waktunya cinta itu datang, ketika kamu sudah lebih dewasa dan lebih mengenal dunia. Untuk saat ini, bertemanlah dengan siapa saja, baik dengan laki-laki maupun perempuan.” Papa Rama memandang dalam-dalam mata puteranya yang nampak mendengarkan kata-katanya dengan seksama.

“Dengan menutuskan menjalin hubungan dengan seorang gadis, akan membuatmu membatasi pergaulan dengan gadis-gadis lainnya. Padahal masa SMA adalah masa remaja yang menyenangkan, di mana kamu bisa berteman dengan siapa saja, menikmati masa remajamu, bukannya merasa galau. Jika kamu mengisi masa SMA mu dengan kegalauan, kamu akan kehilangan masa-masa yang menyenangkan itu. Dan masa-masa itu tak akan dapat diulang kembali,” Papa Rama mengalihkan pandangannya ke foto-foto Rama bersama teman-temannya yang berderet rapi di atas meja belajar.

“Lalu bagaimana dengan cewek yang aku taksir?”

“Jika memang kalian berjodoh, di kemudian hari kalian akan bertemu kembali, jika kalian sudah benar-benar siap untuk menjalin sebuah hubungan.” Papa Rama menjawab bijak. Rama mengangguk-anggukan kepalanya, berusaha mencerna nasehat Papanya. “Boleh aku tanya sama Papa?” kali ini Rama mengajukan sebuah pertanyaan.

“Apakah Papa juga harus minta ijin untuk menjawab pertanyaanmu? Silakan saja kamu tanya apa saja, Papa akan menjawabnya meskipun tanpa ijin darimu.”

“Apa sebelum bertemu Mama, Papa pernah mencintai perempuan lain?”

“Tentu saja. Mamamu bukanlah perempuan pertama dalam hidup Papa.” Mendengar jawaban Papanya Rama semakin tertarik. “Sebelum Mamamu ada seorang perempuan yang sangat Papa sayangi, dia adalah Mamaku, nenekmu.” Papa Rama tersenyum saat mengatakan itu, apalagi saat dia memandang puteranya yang nampak tak puas mendengar kata-katanya.

“Saat itu sangat berbeda dengan jaman sekarang. Jaman dulu orangtua suka menjodohkan anak-anak mereka. Papa adalah salah satu korbannya. Papa dijodohkan dengan Mamamu. Tapi Papa tak menyesal menerima perjodohan itu, karena Mamamu adalah wanita yang hebat. Semakin Papa mengenalnya semakin Papa menyadari bahwa Papa mencintainya.” Rama mendengarkan kata-kata Papanya dengan takjub. “Cinta seperti itulah yang mampu bertahan. Bukan cinta monyet yang menimbulkan kegalauan sesaat.” Papa Rama mengakhiri kata-katanya.

“Lalu Rama harus gimana?” Rama masih belum bisa mengerti maksud perkataan Papanya.

“Jalani saja dulu hari-harimu. Jangan membuat keputusan hanya karena terbawa perasaan. Berteman dulu dengannya. Barangkali seiring dengan berjalannya waktu kamu akan bertemu gadis lain yang lebih menarik perhatianmu.”

“Oke Pa, Rama akan menuruti kata-kata Papa.” Rama tersenyum sambil mengacungkan ibu jarinya.

“Sekaran boleh Papa tanya?”

“Apakah Rama juga harus minta ijin untuk menjawab pertanyaan Papa? Silakan saja Papa tanya apa saja, Rama akan menjawabnya meskipun tanpa ijin dari Papa.” Rama meniru ucapak Papanya, membuat laki-laki itu menatap puteranya gemas.

“Siapa nama gadis itu?”

“Itu rahasia. Yang jelas bukan Mama…” Rama menjawab sambil mencibir, nampak rona merah pada wajahnya.

“Tadi katanya kamu mau jawab semua pertanyaan Papa.” Papa Rama menggoda puteranya itu.

“Kan sudah aku jawab. Jawabannya rahasia. Sekarang Papa keluar dulu, Rama mau belajar.” Rama mendorong Papanya agar berdiri dan meninggalkan kamarnya. Laki-laki itu menuruti kemauan puteranya. Dia berjalan keluar kamar. “Jangan lupa tutup pintunya.” Rama berkata sambil meringis.

“Baik Tuan Muda.” Papa Rama menjawab lalu menutup pintu pelan, tak ingin menggangu puteranya yang melanjutkan acara belajarnya. Sekilas matanya menangkap stiker yang bertuliskan “Masuk=Mati”.

Di dalam kamar, Rama sudah memegang kembali buku catatannya. Rumus aneh yang tadi menunggu di depan pintu otaknya pergi entah ke mana, barangkali dia tidak sabar karena menunggu terlalu lama. Sudahlah, yang penting kini rumus demi rumus fisika berjalan memasuki otak Rama satu per satu.

I think I’m in love with her… maybe yes maybe no… gumam Rama.