4 years – 4 tahun

Suara detuk sepatu high heels Ratna beradu dengan lantai terdengar saat wanita cantik itu melangkah memasuki kafe. Denggan anggun dia melepas kacamata hitamnya dan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kafe, mencari sosok yang dikenalnya. Seulas senyum tipis menghiasi wajah wanita berambut pendek itu saat matanya menangkap seorang wanita berambut ikal dengan make up tebal menghiasi wajahnya melambaikan tangan. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Ratna bergegas menghampiri meja di mana wanita itu sedang duduk bersama seorang laki-laki.

“Maaf ya, aku telat…” kata Ratna begitu dia meletakkan pantatnya di samping wanita bermake up tebal yang melambaikan tangannya tadi. “Sudah lama kalian di sini?”

“Aku juga barusan kok Na,” sahut wanita yang duduk di sebelah Ratna. “Roy yang nongol duluan.” Wanita itu mengarahkan pandangannya ke arah laki-laki berambut cepak yang duduk di seberang mereka.

“Ya ya ya… sudah biasa aku nunggu kalian…” jawab Roy dengan nada sebal.

“Apa kabar Roy? Wah kamu nggak berubah ya, tetep sama seperti dulu…” Ratna menyapa laki-laki itu. Belum sempat Roy membuka mulutnya, wanita bermake up tebal itu sudah terlebih dulu menyabotase Ratna, “Ya ampun Na, kamu nggak berubah ya, masih cantik seperti dulu…” ujar wanita bermake up tebal itu kepada Ratna, “Gimana kabarmu? Kapan kamu kembali ke Indo? Kamu sudah resign? Terus sekarang kamu kerja apa?” tanpa henti dia mencerca Ratna dengan berbagai pertanyaan, seakan tidak mengacuhkan Roy yang duduk di depan mereka.

“Sabar kenapa sih Des…” sahut Roy menyela rentetan kalimat yang keluar dari mulut Desi, wanita berambut ikal dengan make up wajah tebal itu. “Biar Ratna pesan dulu.”

Ratna tersenyum melihat tingkah kedua sahabatnya itu. “Kalian bener-bener nggak berubah ya, masih sama seperti dulu. Kamu masih tetap cerewet Des, dan kamu Roy, masih tetap sering berantem sama Desi …”

“Sudah kamu pesen minum dulu sana, sekalian lunch aja? Kami sudah pesen kok, tinggal kamu yang belum…” sahut Roy sambil melambaikan tangannya, memanggil pramusaji.

“Dan masih suka ngatur orang lain…” timpal Desi yang disambut gelak tawa Ratna. Senang sekali rasanya dia berkumpul dengan sahabat lamanya. Mereka bertiga sudah bersahabat sejak SMP. Namun ketika SMA Ratna melanjutkan sekolahnya di luar kota dan berpisah dengan kedua sahabatnya itu. Demikian juga dengan saat kuliah, Ratna mengambil kuliah di Singapura, sedangkan kedua sahabatnya itu memilih kuliah di Indonesia. Bisa dibilang ini adalah pertemuan pertama mereka secara langsung.

“Apa kabarnya kamu sekarang? Ayo dong cerita ke mana saja kamu selama ini. Pasti asyik ya kuliah di Singapur, tinggal di sana. Kamu di Indo sampai kapan? Mau balik Singapur lagi? Eh lalu suamimu gimana kabarnya? Kamu kok berani sih Na merit muda. Aku saja masih pikir-pikir kalau diajak pacaran serius, yah masih sibuk menikmati masa muda…” serbu Desi dengan suara cemprengnya begitu pramusaji meninggalkan meja mereka setelah mencatat pesanan Ratna.

“Pelan-pelan tanya nya, satu-satu napa?” tegur Roy memotong ucapan Desi.

“Hahaha…” Ratna tergelak menyaksikan ulah kedua sahabatnya itu. “Minggu depan aku balik ke Singapur. Ya gimana ya… dijalani saja sih Des. Nggak tahu juga. Semuanya terjadi begitu saja. Kalian sendiri gimana? Kamu bikin kue ya Des sekarang? Lalu Roy kerja apa?”

“Iya bikin kue, aku titip ke kenalan-kenalan. Lumayan sih. Banyak pesanan juga,” jawab Desi. “Kalau Roy tuh sekarang sibuk pacaran sama temen kantornya. Sudah naik pangkat makin sibuk dia kerja nyambi pacaran…”

“Wow Roy, kamu sudah punya pacar?” tanya Ratna kagum. Dia tahu betul untuk urusan memilih pacar, Roy sangat selektif. Waktu sekolah dulu cukup banyak gadis yang mendekatinya, tapi Roy sama sekali tidak melayani mereka. Mau fokus belajar, alasannya waktu itu.

“Cuma temen aja,” jawab Roy santai. “Si Desi yang lebai…”

“Temen tapi sering dianter jemput….” sindir Desi. Celoteh mereka terhenti saat pramusaji kafe menghidangkan pesanan mereka.

“Makan dulu,” ajak Roy tidak mengacuhkan Desi. Laki-laki itu mulai menyantap nasi goreng pesanannya. Ratna dan Desi pun mulai menyibukkan diri dengan makanan mereka masing-masing.

“Kamu gimana Na, nggak bareng sama suami?” tanya Desi begitu Ratna meletakkan sendok dan garpunya.

“Ohhh… nggak kok. Sendiri saja,” jawab Ratna setelah meminum jus jeruk yang dipesannya. Dia menarik nafas panjang sebelum membuka mulutnya, “Aku sudah pisah kok…”

“Ha??? Kok bisa Na? Gimana ceritanya?” tanya Desi spontan. Wanita berambut ikal itu menghentikan urusannya dengan piring dan sendok-garpunya lalu menatap tajam Ratna, sementara Roy masih tetap tenang meneguk teh manisnya. Roy memang sudah pernah mendengar hal itu dari Ratna saat mereka berbincang via BBM beberapa saat lalu.

“Yah memang mungkin lebih baik begini. Kami sudah nggak cocok. Sekarang hubungan kami sebagai teman jauh lebih baik daripada saat kami menikah,” jawab Ratna diplomatis.

“Kalian sudah menikah empat tahun kan?” kali ini Roy yang membuka mulutnya. “Apa nggak bisa dipertahanin?”

“Iya. Aku aja sampe kaget denger kamu merit Na,” sahut Desi. “Lulus kuliah kamu langsung merit. Muda banget. Aku aja sampai sekarang belum rencana merit.”

“Ya mungkin dulu aku terlalu cepat mengambil keputusan. Suamiku sering berbuat kasar,” jawab Ratna. “Dia suka memukulku saat kami bertengkar. Dia posesif dan suka mengekangku. Bayangin aja, kalau keluar sama teman, misalnya nih seperti sekarang saat aku jalan sama kalian, dia sering menelpon menanyakan aku sedang apa, dengan siapa, di mana, bahkan dia selalu minta bukti. Kadang aku sampai minta tolong temenku ngomong sama dia, untuk membuktikan kalau aku bener-bener jalan sama mereka. Dan nggak cuma berhenti sampai di situ saja, dia juga selalu ingin tahu apa yang aku omongin. Dia sampai minta aku cerita apa yang aku obrolin. Parah banget kan? Aku sampai malu sama temenku,” curhat Ratna panjang lebar.

“Ya ampun Na, kok bisa sih suamimu seperti itu?” tanya Desi singkat. Kali ini dia tidak mampu melontarkan kalimat yang panjang.

“Memangnya waktu kalian pacaran kamu nggak tahu kalau dia seperti itu?” selidik Roy.

“Ya aku tahu sih dia temperamental. Tapi selama kami pacaran, dua tahun kami pacaran, dia sama sekali nggak pernah mukul aku. Setelah menikah baru aku tahu kalau dia seperti itu. Dia itu selain suka mukul juga males banget. Pernah aku sakit dia sama sekali nggak mau nganter aku ke dokter. Akhirnya aku sampai berangkat sendiri. Katanya dia capek pulang kerja…” Ratna bercerita sambil mengingat masa lalunya.

“Ya ampun Na, sedih banget ceritamu. Kenapa kamu nggak langsung pisah aja sih kalau tahu dia nya seperti itu?” Desi menatap Ratna sedih.

“Ya, awalnya aku berharap dia akan berubah. Dua tahun setelah menikah, aku cerita ke orangtuaku, dan mereka pernah marahin dia. Setelah itu dia nggak pernah mukul aku lagi, tapi setiap kali dia marah dia masih saja ngancam aku. Bukannya aku nggak ingin pisah, tapi dia nggak mau. Aku selalu bilang kalau hubungan kita seperti ini lebih baik kita pisah saja, tapi dia berjanji mau memperbaiki diri. Tapi ya sama sekali nggak ada perubahan. Sampai akhirnya tahun keempat dia sendiri yang minta pisah. Itu pun aku yang ngurus semuanya. Bahkan aku yang keluar uang. Dia sama sekali nggak mau keluar uang. Katanya uangku lebih banyak. Gajiku lebih besar daripada dia…”

“Hebat ya Rat, kamu bisa bertahan sampai empat tahun…” hanya itu yang bisa keluar dari mulut Roy.

“Ya mau gimana lagi? Aku harus kuat ngejalanin semuanya itu…” jawab Ratna sambil tersenyum.

“Ya ampun Na, kalau aku jadi kamu, aku sudah minta pisah langsung!” kata Desi tegas.

“Tapi kamu nggak ada pikiran gimana gitu, pisah dari suami, jadi janda?” tanya Roy lagi.

“Ya ada sih. Aku juga mikir gimana nanti kalau aku pisah. Jadi janda pasti aku akan dicap negatif. Tapi ya ini hidupku. Aku yang ngejalanin, bukan orang lain. Selama empat tahun hidup sama suamiku aku belajar banyak, hingga aku berani mutusin untuk pisah. Terserah orang mau ngomong apa, mereka nggak tahu apa yang aku jalanin. Mereka nggak tahu rasanya jadi aku.” Ratna meneguk jus jeruknya. “Yang penting aku bahagia dengan hidupku sekarang dan aku nggak ngerugiin orang lain.”

“Aku salut sama kamu Na,” sahut Desi.

“Terus langkah kamu ke depan gimana?” tanya Roy. “Kamu masih mau balik ke Singapur?”

“Nggak. Aku mau ke Eropa. Aku mau sekolah lagi dan kerja di sana. Aku mau berusaha mengejar mimpiku. Aku punya mimpi untuk bisa sukses. Aku pernah berlibur ke sana, waktu aku stress dengan pernikahanku, dan aku punya beberapa teman yang baik. Di sana orang dihargai sesuai dengan kemampuannya, dan aku ingin membuktikan diriku, kalau aku bisa sukses.”

“Wow, kamu hebat Rat. Semoga kamu bisa sukses ya. Aku cabut dulu ya, mau balik kantor,” pamit Roy setelah melihat jam tangannya.

“Oh ya sudah. Aku juga masih ada urusan kok,” jawab Ratna. “Semoga kita bisa ketemu lagi dan ngobrol-ngobrol di lain waktu.” Dengan langkah tegap Ratna berjalan meninggalkan kafe, berpisah dengan sahabat-sahabatnya. Ya, ini hidupnya dan dia merasa senang dengan apa yang dijalaninya hari ini, termasuk bercengkrama dengan kedua sahabatnya. Jalan di depannya masih panjang dan dia harus terus melanjutkan hidupnya, menebus waktu empat tahun yang telah dihabiskannya bersama suaminya dan yang telah memberikannya pelajaran untuk menjadi wanita yang kuat, dirinya sendiri. Karena masa depannya ada di tangannya, dan dia sendiri yang memilih jalan mana yang akan ditempuhnya.

Inspired from true story of my friend…

dont-judge-me-for-my-choices-when-you-dont-understand-my-reasons

Karna – sebuah pilihan hidup…

Kemarin aku nonton Mahabarata lagi, secara TV Indo isie cuma itu-itu doang, apalagi coba yang bisa diliat. Nah aku nonton pas episode Karna dibunuh oleh Arjuna. Hal yang menarik tentunya pembicaraan Karna dan Krisna. Meskipun aku nggak terlalu ngerti apa isi pembicaraan itu, secara nggak ngikutin dari awal tapi menurutku ada beberapa poin yang cukup menarik.

Pertama, menurutku Karna berada di pihak Kurawa bukanlah sepenuhnya kesalahannya sendiri. Dia memilih mendukung Kurawa karena merasa diperlakukan tidak adil oleh orang-orang, termasuk Pandawa sendiri. Sistem kasta yang berlaku membuat dia mengalami ketidakadilan, menurut dia sih. Pada situasi seperti itulah Duryudana mengulurkan tangan sehingga Karna merasa mendapat kebaikan dari Duryudana dan bersedia membalas kebaikannya tersebut. Dalam hal ini sikap dan tindakan seseorang memberi dampak kepada orang lain, bagaimana kita memperlakukan orang lain secara tidak langsung mendorongnya untuk mengambil sikap tertentu sebagai respon terhadap situasi/ keadaan yang tercipta akibat tindakan kita. Singkat kata, bagaimana kita memperlakukan orang lain bisa mendorongnya untuk menjadi seorang penjahat (jika dia merasa dimusuhi, ditolak) atau seorang pahlawan (jika dia diterima, diberi dorongan, motivasi untuk melakukan hal yang benar).

Yang kedua, Karna sebenarnya memiliki pilihan dalam memandang hidupnya. Alih-alih dia yang pernah merasakan ketidakadilan memandang bahwa masih banyak ketidakadilan dalam masyarakat yang harus dibenahi, dia memilih memandang hidupnya dengan menyalahkan orang lain dan merasa dirinya adalah korban ketidakadilan yang sedang berlangsung. Aku ingat sebuah sesi camp dulu waktu kuliah, S1 maksudnya, bahwa seseorang bisa menjadi orang yang reaktif atau proaktif. Orang yang reaktif adalah orang yang bertindak sebagai respon terhadap keadaan sekitarnya. Tindakannya dilakukan atas dasar apa yang orang di sekitarnya lakukan. Bisa dikatakan orang jenis ini adalah orang yang hidupnya dikendalikan oleh orang lain atau situasi yang sedang berlangsung. Sebaliknya orang yang proaktif adalah orang yang tidak memandang dirinya sebagai objek/ yang dikenai, melainkan sebagai pelaku aktif. Dalam bertindak dia tidak akan membiarkan keadaan di sekitarnya mempengaruhinya bahkan mengendalikan tindakannya.

Yang terakhir, Karna salah memilih teman. Dalam situasi yang tidak menguntungkan, ketika ada orang yang mau membantu, bukan berarti dia berhati baik. Bisa saja orang itu memiliki niat tersembunyi dan kepentingan tertentu. Salah satu cara mengukur kebaikan orang itu adalah dari buahnya. Tindakan-tindakan yang dihasilkannya apakah berguna dan membawa kebaikan bagi sesame, ataukah hanya menguntungkan dirinya dan kelompoknya. Terutama saat ini di mana berbagai kepentingan yang berkembang membuat orang dengan mudahnya memanfaatkan orang lain, kita harus berhati-hati dalam bertindak dan memilih kawan. Pergaulan yang buruk menghancurkan kebiasaan yang baik, sedangkan pergaulan yang baik dapat mengikis kebiasaan buruk.

Be wise dalam mengambil keputusan dan juga be honest, jangan ada kepentingan tertentu bahkan sampai memanfaatkan orang lain…

A silent path…

I want to quote what Mr Eko Prawoto, he is a famous architect in Indonesia, said, it seems to ‘An architect is a lonely man because he will be keep searching how to create a better environment, unfortunately many people will misunderstand him’. He said that an architect had a certain duty that came with his profession, and ironically when he designed a good and right ones, it couldn’t be accepted by the others. Indeed, once again he said that it was the choice that an architect had to choose.

I think loneliness is not only taken by an architect. Many other people who take the ‘silent path’, I quote his words again, when they have to do the uncommon things, or unpopular things (something’s good, I mean) that other people will not and do not do. He used a mango seed as an example. A mango seed would grow up became a mango tree. It wouldn’t be an orange tree. But while it was growing, it could grow unwell, even it wouldn’t be have fruits. As the point, there is a choice. As a human that created for a certain mission, we can choose to accomplish it or dismiss it. Even you dismiss it, you can’t change that the mission is still addressed only to you.

As a human being, it is us that determined how we will take our paths. There is a man that chooses to take the silent path, bringing his idealism and his value, while the others walk in the crowd because they don’t want to walk lonely, even honestly they hate their paths.

The point that I got, Mr Eko wanted to tell us as a human being there was a time when we had to choose the difficult choices, and chose the different choice with the others. Our uncommon choice could bring the others fought us. In spite of feeling worse, we had to keep our paths. I think it’s ok as long as we know exactly that we walk in the right path. Trading our idealism only because we don’t want take the silent path is not needed, just be yourself…  As for me, personally I believe when we walk on the right path, we can be alone but not lonely coz He is walking with us…

IMG_20141109_061944

Life choice is like picking lottery inside the sealed envelope…

Life choice is like picking lottery inside the sealed envelope…

When I read it, I remembered my class in colledge some years ago. We discussed about the life’s point of view. And I think the sentence is not wrong…

Life is a battle, we need guts to overcome our fear and worry when we pick an envelope among the hundred ones. Well, it’s not easy to choose the right one, moreover we don’t know what is inside. That’s why many people don’t dare to choose and fight for what they did belive as their life and as the qonsecuence, they let their condition and other people around them controlled their life.

Life is a game, each of our step and our choice has its own risk. No one knew certainty what was inside the sealed envelope. If we win, we will get what we want, but in the contrary we’ll lose everything when we lose. Unfortunately, everytime we have to choose, starting from the simple choices until the complex ones. Start in the morning when we open our eyes, we have to choose whether we will close our eyes again and come back to our dreams or get up from bed to pursuit our dreams. When we had a difficult choice, many of us didn’t want to choose, well actually they had already chose, they chose not to choose and once more they let their condition and others chose for them.

Life is a joy, isn’t it? Many of us are looking for it. Of course people hope that they chosed the right envelope and it will bring them fortune so they will get an abundant money. Why do people work days and night, even they do the wrong job, like stealing? Isn’t it for money, for get the comfort life and enjoy it? But it’s so sad for real many people pursue it until they forget what is actually they pursue. They have been lost for they couldnt’t enjoy their life.

Moreover, what is inside the envelope is the most important one, not the envelope itself. It’s the lotery that we’re looking after, isn’t it? And when we open the envelope there is something inside. There are no two people that have the same life. Each of us have the diffrent kind of life, it’s depend on the envelope that we’ve chosed. No one knew certainty what was inside when we picked an envelope, but please believe that the Creator of Life is never wrong when He put the right lotery for us. Life is a gift, always give thanks for our life, because The Creator itself that granted us this life.

When God answer the pray 7

God You know so many people don’t believe in You. Can’t You show Yourself so they will believe that You are exsist and You are the living God, can You?

My Son, I have already show My glory through the sun that shines your world everyday, the song of birds that nice in your ear, the air that you breathe. It’s not that I don’t want to, but it’s up to each of you wheter you choose to believe in Me or not.

But God, I think it’s usual. We had it everyday. Can You make it more fascinating, or maybe You can show Yourself so they can see You and believe…

I’ve told yoy. The problem is not Me, it’s them. Even I show Myself or I create a magnificiant miracle, if they are unwilling to open their heart , it will be useless. Trust Me, I had did it 2000 years ago.

So God, is there no way the unbeliever believe in You?

It is your part to tell them about Me. But take it aside, why suddenly you want Me to prove Myself as God?

I just want they believe in You…

Rather than forcing other believe, check yourself first, do you truly believe in Me? Is there any single moment you doubt Me?

Honestly, I did it. There were many times I failed to believe.

Now you know it’s the matter of heart. When you closed your heart for Me, you kicked Me out from the God’s throne in your life. You want others believe in Me but you, yourself don’t truly believe in Me. I have power to make everyone believe in Me but I prefer let they come to Me with all their heart.

You see so many people who fail believing, it’s not I who fail, but it’s their failure, because they prefer to close their eyes, their ears, their heart and follow the wisdom of this world. It’s your part to say about the truth so they can know the truth, and it will open their eyes, their ears and their heart.

But once again I told you, even I can’t force you to do it, it’s your choice to take a part or to keep silent…

When God answer the pray 4

God, I don’t want to grow up. As I get older, I know more about many things, both the good and bad ones. God, can’t I keep be a kids forever?

My son, it’s the consequence of live. You will know more and learn more. You can’t be a kid forever. Maturity means you can differ the good things and not.

But as long as I grow up, I feel the hardness of this life. My eyes open and I see many things, the things different from what I knew.

That’s how life goes on. Yo grow older that’s mean you eat not porridge anymore, but you taste rice and many kind of food. Some of them is delicius to be eaten but other give a bitter taste on your tongue. You know, as long as you grow older, you will see many things and learn more.

Oh God, can’t I stay as an infant and keep know nothing?

I created you not to be an infant, but to be an adult, a mature man. And it means you will grow up, facing hardness and learn from it. If you don’t face it you will learn nothing.

But God, why I only feel despair? I realize that this life only bring me hardness, sadness, why God you let me feel it and not protect me from the cruel world?

My son, You always ask Me and I gladly answer your qoestions, listen your quarrels, even receive your protests. But it’s you who do it, you do keep an eyes on your current life. Now, let Me ask you, why you did those things? You know what I mean, right.

I… just looking for something. I’m curious.

What are you looking for?

I… I don’t know… That’s why God I feel empty, I’m looking for something but in the end I get nothing.

Why do you do it?

I… I want to know… I want to satisfy my desire.

That’s My point… You know you yourself who choose what you did and you did not. I’ve ordered You to do what you should do and what you shouldn’t do.

But God, You can protect me, can’t you? You can keep me away from these pain, can’t you? But why You still let me feel it?

I’ve told you son, it’s you who choose. I won’t put you in my golden cage. I don’t want you to be robot, only doing what I want without having any desire. Tha’ts why I give you freewill.

But You can stay away the things that can hurt me. You can put them away from me, or You can throw them…

My son, you know I will not give you stone to be eatten instead of bread. But even I provide you bread, you choose to look for stone and want to taste it. I’ve warned you that it can destroy your teeth but you didn’t listen to Me. So I let you to taste it beacuse I want you to learn the consequences of your choose. But what’s happened? Even you know eating stone can destroy your teeth, you still do it and do it again. What should I do? I’m sad when I see you cry because your teeth broken, and I even sadder because you continue do it.

God, how can I release it and can feel happines?

You know the answer. Come to Me and follow Me. Your life isn’t totally painful, but when you choose to life apart from Me, the pain begins…

God I want to do Your command but even I try, I…

That’s why you have to learn. Walk with Me is an everlasting procces, and you have to be processed for your life. It’s your choice to choose Me or left Me…