Cinta

musim_semi

Katakan kepadaku mengapa kau mencintaiku?

Apakah karena aku rupawan, atau aku jenaka, atau aku cerdas?

Apakah karena aku kaya, atau aku berdarah bangsawan, atau aku artis?

Apakah karena aku anakmu, aku saudaramu atau aku pasanganmu?

Kalau semuanya itu tidak ada padaku, apakah kau masih mencintaiku?

Akankah kau juga akan mencintaiku jika aku adalah orang asing?

Jika kau tak mengenalku bukankah tak ada alasan bagimu untuk menyukaiku?

Alasan, apakah diperlukan alasan untuk mencintai?

Jika tak ada alasan apakah cinta juga tak kan ada?

Beritahu aku jawabanmu…

 

Berbeda

Kali ini aku mencoba menuliskan ending kisah ini dengan sudut pandang yang berbeda. Tak ada yang lebih baik, hanya saja kadang memang semua itu harus terjadi =p

Dona duduk terdiam sambil memandangi jari-jarinya yang terus bergerak-gerak di atas lututnya. Sepanjang perjalanan ke rumah Doni dia sudah mempersiapkan kata-kata yang akan dilontarkannya kepada cowok itu. Tapi kini mulutnya terasa kelu. Lima belas menit sudah Dona duduk diam di bangku taman. Sepeda motor gede berwarna hitam dengan dua helm tergantung pada kedua sisi stangnya terparkir rapi beberapa meter dari bangku itu.

Doni yang duduk mematung di samping Dona sepertinya juga tidak menunjukkan tanda-tanda akan membuka mulutnya. Dipandanginya beberapa pasang muda-mudi lain yang tengah menghabiskan waktu di taman itu. Sepasang muda-mudi tersenyum saat lewat di depannya. Mau tak mau Doni membalas senyum mereka, lalu kembali sibuk terdiam dengan pikirannya.

“Don…” ucap Dona dan Doni bersamaan. Persis seperti sketsa FTV ketika sepasang muda-mudi ingin mengungkapkan perasaan mereka.

“Emm kamu aja dulu…” kata Dona mempersilakan. Dalam hati dia mulai ragu, jangan-jangan Doni ingin mengakhiri hubungan mereka, meskipun sebenarnya mereka juga tidak pernah mengatakan secara resmi berhubungan. Lantas jika Doni ingin menginginkan hal itu untuk apa dia memakai kemeja berwarna biru yang dulu dibelikannya, pikir Dona. Seingat Dona, Doni sama sekali belum pernah memakai kemeja itu setiap kali mereka jalan bersama. Mungkin hanya kebetulan saja dia mengenakannya.

“Nggak apa-apa, ladies first,” sahut Doni santai, meskipun dadanya berdebar juga menebak apa yang kira-kira akan dikatakan Dona. Dona menarik nafas panjang. Doni memang seperti itu, dia selalu berusaha mengalah dan memprioritaskan Dona. Biasanya Dona senang diperlakukan seperti itu. Tapi kali ini lain ceritanya. Dona tidak mau mengungkapkan perasaannya kalau ujung-ujungnya Doni menghendaki hal yang berbeda.

“Aku… mau minta maaf atas sikapku kemarin…” ujar Dona lirih.

“Aku juga…” balas Doni cepat. Kembali mereka terdiam beberapa saat lamanya. “Kurasa kita memang berbeda. Terlalu banyak hal pada akhirnya akan membuat kita berselisih…” dengan hati-hati Doni mengucapkan kata-kata itu. Semilir angin di sore hari yang cerah tidak dapat menghilangkan rasa sesak yang melingkupi dada lelaki itu.

“Aku… sudah memikirkannya. Memang kita adalah sahabat yang baik. Aku tidak tahu bagaimana semua ini bisa terjadi. Aku hanya terkejut saja, tiba-tiba saja kita sudah seperti ini…” ujar Dona sambil memandangi buku-buku jari tangannya.

“Hahaha…” Doni tertawa renyah. Tawa itulah yang sering membuat Dona merasa nyaman berada di dekatnya. “Kau tahu Don, kau cantik, cerdas, berani dan peduli pada orang lain. Kau itu wanita yang sangat menyenangkan. Sungguh, jika saja kau tidak bersikap keras kepala…” ujar Doni dengan nada nakal.

“Demikian juga kau. Kau tampan. Lihatlah dirimu. Sebenarnya kau itu cowok keren, jika saja kau lebih memperhatikan penampilanmu, tidak bersikap semaumu sendiri dan lebih peka terhadap orang lain…” balas Dona tak mau kalah.

“Kau sering mengomel panjang lebar dan memarahi orang lain seolah-olah dirimu yang paling benar…”

“Kau tidak pernah mau mendengar kritik orang lain dan menganggap dirimu itu sempurana…”

“Fiuhhh…” Doni menarik nafas panjang. “Thanks ya sudah memperhatikanku…” Doni menatap  mata Dona dengan penuh ketulusan.

“Kau juga, terima kasih selalu ada untukku…” balas Dona.

“Kau lihat itu?” tanya Doni sambil menunjuk sepasang ayah dan anak yang berada tak jauh di depan mereka. Si anak nampak membawa sebuah kandang dengan seekor burung dara di dalamnya. Tiba-tiba saja mereka berhenti, kemudian sang ayah membuka kandang burung itu dan mengeluarkan burung itu. Diserahkannya burung itu kepada anaknya. Dengan hati-hati anak itu memegang burung dara dengan sebelah tangannya sedangkan tangan yang satunya lagi mengelus kepala burung itu.

“Kelihatannya anak itu sangat menyayangi burungnya…” sahut Dona sambil terus memandangi ayah dan anak itu. Doni mengangguk singkat mengiyakan ucapan Dona.

Beberapa menit ayah dan anak itu berdiri di sana, hingga sang ayah mengelus kepala anaknya lembut. Si anak pun mulai mengangkat tangannya dan kemudian dia membuka genggaman tangannya itu, membiarkan burung dara yang ada dalam tangannya terbang bebas menuju langit sore yang cerah.

“Meskipun begitu, dia tetap harus melepaskannya. Bagaimana pun juga membiarkan burung itu tinggal di kandang bukanlah hal yang baik. Kalau kita menyayanginya kita harus membiarkan dia terbang bebas, menjadi layaknya seekor burung, bukan burung dalam sangkar.” Doni juga ikut memandangi kedua orang itu. Mereka mulai membereskan sangkar dan beranjak meninggalkan taman itu.

“Aku paham maksudmu…” sahut Dona. Rasa sesak yang melingkupi dadanya perlahan mulai memudar.

“Maafkan aku Don. Mungkin lebih baik kita berpisah. Aku akan aku tidak akan memaksamu menerimaku. Dan aku juga tidak ingin menjadi bukan diriku saat bersamamu,” ujar Doni sambil memandang burung dara yang mulai menghilang di kejauhan.

“Memangnya kita pernah jadian?” tanya Dona.”Lantas mengapa sekarang kau meminta kita berpisah? Di antara kita memang tidak pernah ada apa-apa.”

“Hahaha… benar juga ya,” Doni menggaruk kepalanya yang tak gatal.

“Aku mengerti. Mungkin memang lebih baik seperti itu. Membuatmu mengikuti seperti apa yang aku mau memang bukan hal yang baik. Pada akhirnya kita hanya akan saling menyakiti satu sama lain. Jadi…” kata Dona sambil beranjak berdiri dari bangku taman, “aku pulang dulu ya…”

“Aku antar,” sahut Doni tiba-tiba. Dia juga ikut berdiri.

“Nggak usah, aku telpon Romi saja, minta dijemput,” tolak Dona halus.

“Oh, baiklah. Tunggu sebentar ya,” Doni berlari kecil ke arah motornya, mengambil helm berwarna biru langit  yang tergantung di sana dan menyerahkan helm itu kepada Dona. “Aku ingin kau memilikinya…”

Dona menerima helm itu. Helm itu terasa berat sekali di tangannya. “Kau tahu kau sangat tampang memakai baju itu…” ujar Dona riang.

“Thanks ya. Bajunya bagus hahaha…” balas Doni datar.

“Ok, aku akan menunggu Romi di sana,” kata Dona menunjuk ke sisi lain taman itu.

“Baik, aku pulang dulu kalau begitu…” sahut Doni sembari berbalik menuju motornya.

Dalam diam kedua pemuda pemudi itu beranjak meninggalkan bangku taman, berjalan menuju ke jalan yang mereka pilih sendiri.

“Kau tahu Don, aku sayang kamu…” batin Dona.

“Ya, aku tahu. Aku juga sayang kamu, kamu tahu kan Don…” kata Doni dalam hati.

“Aku tahu. Mencintaimu tidak berarti harus memilikimu…” Dona berhenti sesaat.

“Benar, aku mencintaimu sehingga aku rela melepaskanmu, membiarkan kau terus menjadi dirimu…” Doni menghentikan langkahnya. Ada dorongan dari dalam dirinya untuk menoleh ke belakang. Tetapi hal itu tidak dilakukannya. “Aku harap kau bahagia Don…”

“Aku juga Don…” Dona kembali meneruskan langkahnya.

“Thanks ya Don sudah mencintaiku…” Doni tiba di motornya, dan mulai mengenakan helm nya.

“Terima kasih Don sudah membiarkanku menjadi diriku…” Dona berbelok di tikungan jalan.

“…”

“…”

Sore hari yang cerah itu menjadi saksi bisu atas kisah mereka berdua. Ketika dua hati yang berbeda kepingan tak dapat dipaksa untuk menjadi satu.

Mencintaimu itu…

Akhirnya sempat juga menuliskan lanjutan cerita yang sempat kutulis hampir dua tahun yang lalu. Yah hanya sekadar coretan waktu luang di tengah himpitan kesibukan…

**

Dona duduk terdiam sambil memandangi jari-jarinya yang terus bergerak-gerak di atas lututnya. Sepanjang perjalanan ke rumah Doni dia sudah mempersiapkan kata-kata yang akan dilontarkannya kepada cowok itu. Tapi kini mulutnya terasa kelu. Lima belas menit sudah Dona duduk diam di bangku taman. Sepeda motor gede berwarna hitam dengan dua helm tergantung pada kedua sisi stangnya terparkir rapi beberapa meter dari bangku itu.

Doni yang duduk mematung di samping Dona sepertinya juga tidak menunjukkan tanda-tanda akan membuka mulutnya. Dipandanginya beberapa pasang muda-mudi lain yang tengah menghabiskan waktu di taman itu. Sepasang muda-mudi tersenyum saat lewat di depannya. Mau tak mau Doni membalas senyum mereka, lalu kembali sibuk terdiam dengan pikirannya.

“Don…” ucap Dona dan Doni bersamaan. Persis seperti sketsa FTV ketika sepasang muda-mudi ingin mengungkapkan perasaan mereka.

“Emm kamu aja dulu…” kata Dona mempersilakan. Dalam hati dia mulai ragu, jangan-jangan Doni ingin mengakhiri hubungan mereka, meskipun sebenarnya mereka juga tidak pernah mengatakan secara resmi berhubungan. Lantas jika Doni ingin menginginkan hal itu untuk apa dia memakai kemeja berwarna biru yang dulu dibelikannya, pikir Dona. Seingat Dona, Doni sama sekali belum pernah memakai kemeja itu setiap kali mereka jalan bersama. Mungkin hanya kebetulan saja dia mengenakannya.

“Nggak apa-apa, ladies first,” sahut Doni santai, meskipun dadanya berdebar juga menebak apa yang kira-kira akan dikatakan Dona. Dona menarik nafas panjang. Doni memang seperti itu, dia selalu berusaha mengalah dan memprioritaskan Dona. Biasanya Dona senang diperlakukan seperti itu. Tapi kali ini lain ceritanya. Dona tidak mau mengungkapkan perasaannya kalau ujung-ujungnya Doni menghendaki hal yang berbeda.

“Emmm… gini Don…” Belum sempat Dona menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara petir menggelegar. Langit sore itu yang tadinya cerah mendadak hitam pekat. Tak berapa kemudian hujan deras pun tiba-tiba datang tanpa diundang. Segera Doni melepas jaketnya dan meletakkannya ke atas kepala Dona. “Kamu lari dulu ke warung di depan sana, nanti aku susul. Aku urus motor dulu!” ujar Doni setengah berteriak di tengah derasnya hujan sambil menunjuk warung kaki lima yang berada tak jauh di depan mereka. Tanpa beradu mulut lagi, Dona segera mengikuti perintah lelaki itu.

“Sepertinya hujan ini akan lama. Deras sekali,” ujar Doni begitu dia selesai memarkirkan motornya di seberang warung. Tubuhnya basah kuyup, juga kemejanya basah di bagian bahu. Dengan tangannya lelaki itu berusaha menyeka air yang membasahi lengannya.

“Terima kasih, maaf jadi basah,” ujar Dona sambil menyerahkan tissue dan jaket Doni yang basah. Doni menerima tissue itu dan kembali menyeka lengannya, “Bisa tolong bawain dulu jaketnya?” Dona menangguk sambil kembali memegang jaket itu.

“Makan dulu yuk…” sahut Doni cepat. Dia segera menempati kursi di sudut warung. “Bang, nasi gorengnya dua, yang satu nggak pedes. Minumnya teh hangat sama jeruk hangat…” ujar Doni memesan makanan. Dia sudah hafal betul kalau Dona tidak suka makanan pedas.

“Sini aja Don…” ajak Doni menuju ke meja yang masih kosong. Dona pun mengekor lalu duduk di depan Doni. Kembali mereka terdiam beberapa saat lamanya, sementara gemuruh derasnya hujan di luar sana menjadi saksi kebisuan yang melanda pemuda pemudi itu.

“Romantis ya Don,” kata Dona mengomentari sepasang muda-mudi yang duduk di meja sebelah mereka, mencoba membuka pembicaraan. Penghuni meja sebelah itu tengah menyantap mie goring dalam sebuah piring bersama-sama. “Makan sepiring berdua…”

“Romantis apanya? Itu namanya kantung tipis…” sahut Doni datar seperti biasanya sambil sibuk mengeringkan bajunya. Kini tubuhnya sudah agak kering. Beberapa lembar tissue yang basah tergelak rapi di atas meja. Dona pun menarik nafas panjang sambil tersenyum simpul. Memang itulah Doni yang dia kenal. “Oh ya tadi gimana, mau ngomong apa?” pancing Doni membuat dada Dona yang telah rileks mulai kembali berdebar.

“Emmm… kamu… pantes kan pakai baju itu…” kata Dona sambil mengutuki kebodohannya dalam hati. Seharusnya bukan kalimat itu yang hendak diucapkannya.

“Oh… iya, bagus sih. Makasih ya sudah beliin… Sayang jadi basah begini,” ujar Doni sambil meletakkan tissue yang barusan digunakannya di atas meja bersama tissue-tissue lainnya.

“Kenapa kamu kasih jaketmu ke aku? Kan kamu yang jadi basah. Mana kamu masih bawa motor lagi…” omel Dona tiba-tiba. Sayangnya omelan itu terputus oleh datangnya pesanan mereka.

Doni menyodorkan jeruk hangat ke depan Dona sedangkan dia sendiri mengambil gelas teh hangat. “Ya masa aku biarin kamu kehujanan,” jawab Doni singkat dan lirih, selirih kehangatan yang tiba-tiba menyeruak di dalam dada Dona.

“Sudah, makan dulu Don…” kata Doni lalu memasukkan sesendok nasi ke mulutnya. Dona pun mengekor tingkah Doni. “Don, maafin aku ya…” kata Dona lirih pada suapan kesekian kalinya.

“Uhukkk!!!” Doni tersedak mendengar ucapan Dona, meletakkan sendok dan garpunya, lalu segera meraih gelas tehnya dan meneguk habis isinya.

“Nggak apa-apa Don?” tanya Dona khawatir.

“Hahaha… Don, Don…” Doni terbahak setelah mulutnya kosong. Dona pun memandang cowok di depannya itu dengan tatapan kesal. Rasanya tak ada yang lucu dengan kata-katanya.

“Sorry, sorry…” kata Doni yang mulai menangkap gelagat kesal Dona. “Aku nggak nyangka aja kamu akan ngomong seperti itu. Kupikir kamu mau ngomong hal lain. Ya aku jadi seneng aja…” jawab Doni spontan. Kegembiraan jelas terpancar di wajahnya. Mendengar hal itu dada Dona terasa lega. “Jadi aku dimaafin?” tanya Dona lagi.

“Aku juga yang salah sih…” tukas Doni. “Maafin aku ya Don…” kata Doni tulus. “Harusnya aku lebih memperhatikan kamu. Aku juga harusnya bisa lebih ngertiin kamu…”

“Nggak Don, aku juga harusnya nggak marah kayak gitu ke kamu. Padahal kamu sudah berusaha menjadi cowok yang baik buat aku. Aku tahu kamu memang seperti itu. Seharusnya aku lebih sabar menghadapi kamu. Kita memang berbeda. Aku juga nggak seharusnya memaksa kamu jadi seperti aku. Biar bagaimana pun aku tahu kalau kamu tetap care sama aku. Bahkan tadi kamu rela hujan-hujanan…” sahut Dona sambil menatap Doni. Sinar matanya memancarkan ketulusan.

“Yah, kita memang berbeda. Aku janji mulai sekarang nggak akan mentingin egoku sendiri. Aku juga akan berusaha berubah menjadi lebih baik lagi dan… Ah sudahlah, buat apa ngobral janji, kamu lihat saja nanti deh gimana aku ke depannya,” ujar Doni kembali seperti biasa. Memang itulah dirinya, dia tidak suka berbicara hal-hal yang muluk-muluk dan memang itu bukan keahliannya.

Mendengar ucapan Doni, wajah Dona memerah seketika. Memang ucapan Doni itu tidak romantis sama sekali, tetapi Dona bisa menangkap kesungguhan Doni. “Aku juga akan berusaha menerima dirimu apa adanya dan nggak akan menuntut yang macam-macam, Don…”

“Jadi…?” tanya Doni sambil memainkan sendoknya.

“Apa?” Dona menatap lelaki yang duduk di depannya itu.

“Kita jadian kan…” ujar Doni dengan nada datar seperti biasanya, meskipun sebenarnya dada lelaki itu berdegup sangat kencang. Dona hanya memandang Doni lalu menangguk pelan.

“Thanks ya Don…” ucap Doni, kali ini terselip sedikit nada kegirangan.

“Makan dulu, habisin dulu… Sebentar aku antar pulang…”

“Don, ini masih hujan, ngapain cepat-cepat…”

“Oh masih hujan… ya sudah tunggu sampai reda dulu ya…”

“Makannya santai aja…”

Sambil menyantap makanan mereka, celoteh riang sepasang pemuda pemudi itu terdengar sayup-sayup di antara sela-sela derasnya gemuruh hujan.

Screenshot_2015-05-22-16-09-01

Cinta???

Cinta lahir dari kasih sayang dan cinta buta lahir dari arogan

Cinta mengatakab hahwa anaknya akan mendapatkan kebahagaiaan dunia dari Sang Mahakuasa, sedangkan cinta buta mengatakan bahwa orang tualah yang seharusnya memberikan semua kebahagiaan kepada anaknya

Cinta mengatakan bahwa dia akan bangga pada anaknya sedangkan cinta buta mengatakan bahwa anaknya akan bangga kepada orangtuanya

Cinta memberikan kebebasan sedangkan cinta buta mengikat seseorang

Cinta adalah kebenaran sedangkan cinta buta adalah ketidakbenaran…

Itu adalah kutipan pembicaraan antara Krisna dengan Guru Drona. Well aku bukan penggila Mahabarata sih, cuma pas kebetulan aja nonton, soalnya serial itu alurnya lama buanget, kecepatan cuma 10 bts kali ya. Nah pada episode yang kutonton itu pas episode di mana Guru Drona dimatiin. Hal yang menarik adalah pembicaraan tersebut. Di situ dipaparkan kesalahan Guru Drona yang mendidik putranya dalam cinta yang tidak benar sehingga putranya menempuh jalan yang salah.

Kenapa hal itu menarik buatku? Karena cukup banyak kasus di mana seorang anak melakukan tindakan yang tidak terpuji, bahkan salah di mata hukum tetapi orang tuanya, saking sayangnya senantiasa membela si anak, hingga anak itu menjadi orang yang tidak bisa membedakan tangan kanan dan tangan kirinya. Contohnya, kasus anak-anak remaja di bawah umur yang kemarin bawa mobil pake nyerempet orang di deket rumah. Tidak ada rasa takut atau penyesalan sama sekali pada anak-anak itu, ga habis pikir gua, gimana tuh orang tua ngurus anak-anaknya…

Yah memang sih aku belom jadi orang tua, dan aku jadi keinget omongan temen yang sudah punya anak, bilang jadi orang tua itu perlu belajar. Padahal nggak ada sekolah menjadi orang tua, nah lo susah kan jadi orang tua. Jadi dokter, insinyur, hakim ada tuh sekolahnya, tapi jadi orang tuan kaga ada he3…

Well, ga bisa ngomong lagi, belum jadi orang tua sih. Tapi toh setiap orang pasti jadi orang tua, entah orang tua beneran atau orang yang bener-bener tua =). Tidak ada orang tua yang sempurna, tapi setidaknya setiap orang bisa belajar untuk menjadi orang tua yang baik dan semakin baik. Orang tua yang baik bukanlah orang tua yang mengasihi anaknya dengan cinta buta, tetapi mendidik anaknya dalam kebenaran.

Jadi inget juga temenku cerita anaknya nanya sebenarnya dia sayang nggak sih sama anaknya, kok marah-marah terus? Kurasa orang tua yang baik tau menggunakan metode yang benar dalam mendidik anaknya, kapan harus melakukan pendekatan lembut dan kapan harus mendisiplinkan. Memanjakan anak bukanlah bentuk cinta dan kasih sayang, melainkan tindakan di mana orang tua sebenarnya sedang membimbing anaknya menuju ke jurang…

Siapa yang tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya. – Amsal 13:24

Surat cinta dari ibu

Dear my son,

Anakku, apa kabarmu? Sekarang usiamu 13 tahun bukan? Hari ini Ibu ingin membawa kue tar dan menyanyikan lagu ‘Selamat ulang tahun’. Ibu benar-benar merindukanmu. Bagaimana keadaanmu? Dalam ingatan Ibu, kau adalah bayi kecil mungil yang selalu menangis dalam dekapan Ibu. Ibu sangat penasaran bagaimana dirimu sekarang? Apakah wajahmu seperti wajah ayahmu, atau seperti wajah Ibu? Apakah kau memiliki mata seindah mata ayahmu? Apakah kau memiliki mulut lebar seperti Ibu? Ibu sangat ingin melihat wajahmu…

Anakku, apakah kau marah kepada Ibu? Tolong maafkan Ibu karena Ibu tidak bisa menemani hari-harimu. Kau tahu, Ibu ingin membimbingmu belajar berjalan saat kau, mendengar kau mengucapkan kata pertamamu, Ibu ingin kata pertama yang kau ucapkan adalah ‘ibu’, dan ibu sangat ingin mendengarnya, meskipun kini Ibu yakin kata pertamamu adalah ‘ayah’. Tak apa, meskipun Ibu tak akan pernah mendengarmu memanggilku ‘ibu’ tapi Ibu sudah cekup senang bisa membawamu ke dunia ini. Ibu ingin menemanimu pada hari pertamamu masuk sekolah, menghadiri pertemuan orang tua murid, datang ke sekolah saat perayaan Hari Ibu bersama ibu-ibu lainnya dan mendukung anaknya saat pentas seni.

Ibu ingin menemanimu tidur di malam hari. Maafkan Ibu karena tidak ada di sampingmu saat kau terbangun karena mimpi buruk. Maafkan Ibu karena Ibu tak datang menenangkanmu saat kau menangis ketakutan di malam hari yang gelap. Maafkan karena setiap malam Ibu tidak pernah menyelinap ke dalam kamarmu diam-diam ketika kau sedang terlelap dan Ibu tidak bisa mengecup keningmu, membetulkan letak selimutmu dan mematikan lampu kamarmu jika kau lupa mematikannya.

Maafkan Ibu karena tidak bisa membangunkanmu tiap pagi, memandikanmu, menyiapkanmu sarapan dan bekal untuk kau bawa ke sekolah. Maafkan Ibu karena tidak menunggumu saat kau pulang sekolah, menemanimu makan siang, dan membantumu mengerjakan pekerjaan rumah. Jujur Ibu sangat ingin melakukan itu semua. Ibu ingin mendengarmu bercerita tentang hari-harimu di sekolah, tentang teman-temanmu, tentang gurumu. Ibu ingin memarahimu saat kau mendapatkan nilai jelak di sekolah, dan ibu juga ingin memujimu saat kau mendapatkan nilai bagus. Ibu ingin membanggakanmu saat bercerita bersama teman-teman Ibu, bahwa anak laki-laki Ibu luar biasa.

Maafkan Ibu karena tak merawatmu saat kau sakit, mengingatkanmu agar selalu minum obat, menemanimu ke dokter dan menenangkanmu saat kau menangis karena takut terhadap jarum suntik. Apakah kau takut terhadap jarum suntuk? Semoga tidak. Ibu tidak ingin anak laki-laki ibu menjadi seorang penakut.

Anakku, Ibu ingin mendengarmu bercerita tentang gadis yang menarik perhatianmu. Percayalah Ibu sangat ingin kau mengenalkan gadis yang berhasil menaklukkan hatimu kepada Ibu saat kau dewasa nanti. Ibu ingin melihatmu berjalan bersama gadis itu menuju ke pelaminan. Ibu ingin melihatmu membawa anakmu, mengenalkannya sebagai cucu Ibu. Ibu ingin bisa menggendong anakmu seperti saat Ibu pernah membuaimu dalam gendongan Ibu. Ibu ingin bermain bersama cucu-cucu Ibu. Ah anakku seandainya semua itu bisa terwujud, tentunya Ibu akan merasa sangat bahagia. Tidak, sekarang pun Ibu sudah cukup merasa bahagia, memandangi wajah kecilmu yang terlelap.

Anakku, bagaimana hubunganmu dengan ayahmu? Semoga kalian tidak sering bertengkar. Ibu tahu ayahmu adalah orang yang keras, dan Ibu menebak pasti kalian sering bertengkar. Anakku, tolong dengarkan nasehat Ibu, turutilah kata-kata ayahmu. Meskipun ayahmu bersikap keras, tapi sangat mencintaimu. Ibu ingin berbagi sedikit rahasia tentang ayahmu. Kau tahu, ketika kau masih dalam kandungan Ibu, setiap malam ayahmu mengelus perut Ibu dan menyanyikan lagu untukmu. Ini rahasia kita, Ok.

Anakku, tolong Ibu untuk menjaga dan merawat ayahmu. Ayahmu adalah seorang pekerja keras, tolong bantu Ibu untuk selalu mengingatkannya makan. Ayahmu sering melupakan jam makannya.  Ibu khawatir bagaimana keadaan ayahmu tanpa ada Ibu di sisinya. Tapi Ibu bisa merasa tenang karena ada kau di sisinya.

Anakku, masih banyak hal yang Ibu ingin katakan kepadamu, tapi Ibu tak tahu lagi bagaimana menuliskannya. Satu hal yang perlu kau tahu, Ibu mencintaimu. Ibu menyayangimu dan ayahmu. Maafkan Ibu sekali lagi karena tak bisa menemani kalian. Percayalah jika Ibu memiliki banyak waktu, Ibu ingin menghabiskannya bersama kalian. Anakku terima kasih karena telah memberikan Ibu anugerah yang terindah bagi setiap wanita, yaitu menjadi seorang Ibu. Ibu menyayangimu. Jaga dirimu dan ayahmu. Dan ibu akan selalu menjagamu dari tempat Ibu berada…

Firasat

Pagi ini aku tengah menyiapkan makanan di meja makan saat radio kesayanganku mulai menyanyikan lagu kesukaanku. Kuhentikan kegiataanku sesaat untuk menghampiri radio yang terletak di atas lemari, kutinggikan volumenya sehingga suara lembut Raisa terdengar membanjiri telingaku.

 

Kemarin ku lihat awan membentuk wajahmu

Desau angin meniupkan namamu

Tubuhku terpaku

 

Kulanjutkan pekerjaanku pagi itu.Tak perlu waktu lama hingga meja makanku penuh dengan makanan. Kulirik jam dinding bebentuk bulat yang tergantung rapi bersama jajaran foto-foto keluargaku. Masih jam lima? Kuperhatikan legi dengan seksama, ternyata jarum jamnya sama sekali tidak bergerak. Rasanya baru beberapa hari yang lalu suamiku mengganti baterainya. Nanti setelah suamiku pulang aku akan memintanya mengganti baterai jam itu.

Kuhampiri HP ku yang tergeletak di atas lemari, di sebelah radio yang masih melantunkan suara Raisa. Ternyata sudah hampir jam tujuh. Kucoba menelpon nomor suamiku, beberapa detik kutunggu tapi tak ada jawaban. Apakah dia masih sibuk dengan pekerjaannya, sampai mengangkat teleponku saja tak sempat, atau setidaknya dia bisa saja mengirimkan SMS. Fiuhh, kuhembuskan napasku. Memang begitulah sifat suamiku, jika dia sudah asyik dengan sesuatu maka tak ada hal yang dapat mengganggunya. Kukirimkan SMS menanyakan bagaimana pekerjaannya semalam.

 

Semalam bulan sabit melengkungkan senyummu

Tabur bintang serupa kilau auramu

Aku pun sadari, ku segera berlari

 

Aku melirik jam tanganku. Jam delapan kurang lima belas menit, dan aku masih terjebak di lampu merah bersama puluhan pengguna jalan lainnya. Aku tidak mau terlambat pada hari pertamaku bekerja. Kulihat kendaraan yang melintas dari arah seberang mulai menipis dan tanpa membuang-buang waktu lebih lama lagi aku segera memutar lenganku dan motorku pun meluncur membelah lalu lintas tanpa diikuti kendaraan lain. Belum sempat aku mengambil nafas, tiba-tiba kulihat di depanku seseorang berpakaian coklat menghadang jalanku. Aku merasa tubuhku lemas dan tulang-tulangku berguguran.

“Maaf, Mbak. Mbak tahu apa salah Mbak?” tanya polisi berkacamata hitam itu.

“Iya Pak. Saya melanggar lampu merah. Tapi Pak, saya sudah hampir terlambat ini Pak. Saya tidak boleh terlambat pada hari pertama saya bekerja.” Aku mulai memohon.

“Saya mengerti Mbak, tapi peraturan harus dipatuhi. Tolong keluarkan SIM dan STNK nya.”

“Pak, saya minta tolong…” Kini kupasang wajahku sememelas mungkin.

“Semakin Mbak kooperatif, semakin cepat selesai Mbak.” Polisi itu berkata tegas. Aku bisa merasakan tatapan matanya di balik kacamata hitamnya. Aku tak punya pilihan lain. Kuambil dompetku dari tas dan kukeluarkan SIM dan STNK ku. Segera polisi itu merebut SIM dan STNK ku. Aku hendak mengeluarkan selembar uang berwarna biru, namun… “Tidak perlu Mbak, nanti saja uangnya dikasih di pengadilan.” Dia tersenyum sambil menghadiahiku sebuah surat tilang. “SIM nya saya tahan dulu, pastikan Mbak menghadiri persidangannya.”

“Hati-hati Mbak, jangan sampai melanggar peraturan lagi. Semoga hari pertama Mbak bekerja berjalan lancar, dan terima kasih sudah membuat hari pertama saya bekerja berjalan lancar.” Dia tersenyum, melambaikan tangannya sambil membuka kacamata hitamnya, menunjukkan mata hitamnya yang indah.

 

Cepat pulang, cepat kembali, jangan pergi lagi

Firasatku ingin kau tuk cepat pulang

Cepat kembali, jangan pergi lagi

 

Siang itu aku tengah menuju ke restoran yang terletak di depan kantorku. Sialnya nasibku karena OB yang biasanya bertugas tidak masuk, maka aku sebagai karyawan junior harus menjadi OB sementara, membelikan makanan bagi senior-seniorku. Memang sih mereka tidak seperti senior kejam di sinetron yang suka membully juniornya, tapi tetap saja aku merasa sebal. Tiba-tiba seorang pria menabrakku dan tanpa kusadari tasku sudah berpindah tangan. Segera aku berteriak sambil menunjuk-nujuk pria itu yang nampaknya juga terkejut mendengar teriakanku, lalu segera dia berlari. Tapi malang benar nasibnya, seorang pria berpakaian rapi tiba-tiba menghadang langkahnya dan dalam hitungan detik kedua tangan pria yang mencopet tasku itu sudah dihiasi oleh sebuah borgol.

“Saya polisi. Tolong jangan main hakim sendiri. Kami akan proses sesuai prosedur yang berlaku.” Pria yang menangkap pencopet itu berusaha menenangkan orang-orang yang hendak memukuli pencopet itu.

“Ini Mbak, tasnya. Lain kali hati-hati ya…” katanya sambil tersenyum saat menyerahkan tasku. Itu dia, polisi yang dulu menilangku. Meskipun tanpa seragam coklatnya aku masih bisa mengenali mata indahnya dan senyumnya yang menawan. Kuterima tasku kembali lalu kusebutkan namaku dan dia pun balas menyebutkan namanya.

 

Alirnya bagai sungai yang mendamba samudera

Ku tahu pasti kemana kan ku bermuara

Semoga ada waktu (sayangku) sayangku

 

“Apakah kau tak ingin berhenti dari pekerjaanmu itu?” Aku bertanya sambil mengaduk jus alpukatku, sengaja aku menghindari menatap matanya yang indah. Sengaja kupilih kafe kesukaannya ini untuk menanyakan pertanyaan yang cukup menggangguku itu.

“Mengapa?”

“Bukankah pekerjaan itu berbahaya?” Aku masih terus menghindari tatapan matanya.

“Hahaha…” tawanya yang renyah membuatku mengangkat wajahku dan memandang wajah tampan yang telah berhasil menawan hatiku.”Hanya karena polisi berhadapan dengan penjahat tidak berarti pekerjaan ini berbahaya. Semua pekerjaan memiliki resikonya masing-masing. Tidak berarti seorang polisi itu selalu berhadapan dengan bahaya. Dan tidak berarti orang yang bukan polisi bebas dari bahaya. Seorang pekerja konstruksi bangunan juga menghadapi bahaya, jatuh dari ketinggian,atau terkena barang-barang yang jatuh dari ketinggian. Seorang pengendara kendaraan juga menghadapi baya setiap harinya di jalan. Lihat saja banyaknya kecelakaan yang terjadi akhir-akhir ini, karena orang-orang tidak mematuhi rambu-rambu lalu lintas.” Aku yakin bahwa kalimatnya yang terakhir sengaja ditujukan untuk menyindirku, mengingat pertemuan pertama kami terjadi di jalan raya.

 

Ku percaya alam pun berbahasa

Ada makna di balik semua pertanda

Firasat ini rasa rindukah ataukah tanda bahaya

Aku tak peduli, ku terus berlari

 

“Kurasa aku tak sanggup meneruskan hubungan ini.” Kataku lirih sambil menundukkan wajahku.

“Apakah karena aku seorang polisi?” tanyanya ringan, tak ada nada emosi dalam suaranya. Kurasakan genggaman tangannya semakin erat menggenggam tanganku. Dia terus membawaku berjalan seperti tidak terjadi apa-apa. Aku kagum pada ketenangannya.

“Aku tidak tahu…” Aku berbohong. Memang benar salah satu alasan aku tak mau meneruskan hubungan ini karena dia seorang polisi. Dan aku takut. Aku takut akan kehilangan dirinya suatu hari nanti.

“Oh… kupikir karena aku seorang polisi dan kau tak mau berhubungan dengan polisi.” Kudengar nada suranya yang ringan agak mulai terasa berat. “Apa yang membuat kau menyukaiku?” tiba-tiba dia melontarkan sebuah pertanyaan yang tak pernah kupikirkan sebelumnya. Aku terdiam sementara kami terus saja berjalan menyusuri jalanan kota sore itu. Matahari mulai terbenam dan langkahnya terhenti. Dia menatap langit yang mulai memerah. Kuikuti jejaknya, menikmati senja yang indah.

“Tunggu sebentar!” Dia melepaskan genggaman tanganku lalu menghampiri seorang nenek yang berdiri di pinggir jalan, tampaknya nenek itu kesulitan menyeberang. Kubiarkan pandangan mataku menyelimuti pria pujaan hatiku yang akan segera menjadi matanku saat dia membimbing nenek itu, membantunya menyeberang, kemudian tersenyum sambil melambaikan tangan kepadanya ketika dia kembali menyeberang dan menghampiriku. Ingatangku kembali melayang pada pertemuan pertama dan kedua kami. Saat itulah aku sadar mengapa aku menyukainya.

“Aku menyukaimu karena kau ringan tangan dan rela menolong orang lain, dan mungkin juga karena kau… seorang polisi…”

 

Cepat pulang (cepat pulang)

Cepat kembali, jangan pergi lagi

Firasatku ingin kau tuk cepat pulang (cepat pulang)

 

“Mama, mama… aku lapar…” Kurasakan ujung dasterku ditarik. Aku menoleh dan kulihat anakku yang berusia tiga tahun berdiri di sampingku. Aku pasti terlalu menikmati alunan lagu Raisa sehingga melupakan puteraku. Kududukkan dia di kursi lalu kusambil sebuah piring, kuisi nasi dan lauk lalu aku mulai menyuapi puteraku sambil mengajarkannya untuk makan sendiri.

Beberapa manit aku membujuknya hingga akhirnya dia mau makan sendiri. Kuperhatikan cara malaikat kecilku itu makan. Mulutnya belepotan, nasai betebaran di meja makan. Aku tertawa. Setidaknya melihat tingkah laku anakku bisa membuatku melupakan suamiku barang sejenak. Dia belum juga pulang, meskipun dia mendapat shift malam, dia selalu ada bersama kami untuk sarapan. Aku kembali menghembuskan nafasku, dia masih juga belum menelponku atau membalas SMSku.

 

Cepat kembali, jangan pergi lagi

Dan lihatlah sayang (lihatlah)

Hujan terus membasahi seolah luber air mata

(cepat pulang, cepat kembali, jangan pergi lagi)

 

Aku membelai kepala anakku yang tengah tertidur pulas. Baru beberapa menit aku menyanyikan lagu untuknya, dia sudah terlelap. Aku keluar dari kamar, menghampiri suamiku yang sudah rapi. “Apakah kau akan pergi malam ini?”

“Aku mendapat tugas malam ini.” Dia membelai lembut jemariku.

“Tidak bisakah kau tinggal malam ini?” tanyaku pelan. Berita tentang penyerangan polisi oleh oknum tak bertanggung jawab yang kutonton sore tadi membuatku ngeri.

“Kau pernah bertanya mengapa aku memilih menjadi polisi. Aku akan menjawabnya. Karena aku tak ingin ada keluarga yang kehilangan anggota keluarganya karena perbuatan orang jahat. Kau ingin aku pulang dengan selamat bukan. Tentunya demikian juga dengan istri-istri lain, yang menunggu suaminya pulang, atau ibu-ibu yang menunggu kepulangan anaknya.”

“Tapi mengapa harus kau dan bukan orang lain saja?”

“Karena aku tak ingin istriku dan anakku kehilanganku. Oleh karena itu aku akan menjaga orang-orang yang berada di luar sana sehingga mereka bisa kembali kepada keluarganya. Karena aku ingin ada orang yang menjagaku saat aku berada di luar sana, sehingga aku juga menjaga mereka. Tidakkah egois bila kita ingin orang lain melakukan sesuatu yang kita sendiri tidak ingin lakukan?” Ucapannya membuatku terdiam.

“Aku pulang besok…” katanya sambil mengecup keningku.

Firasatku ingin kau tuk cepat pulang (cepat kembali, jangan pergi lagi)

Ku hanya ingin kau kembali (firasatku ingin kau tuk cepat pulang) pulang

(cepat kembali, jangan pergi lagi)

 

“Mama sudah habis…” kata anakku sambil menunjukkan piringnya yang bersih. Aku hanya tersenyum sambil melihat nasi yang berceceran di sekelilingnya. Tiba-tiba HP ku berbunyi, dan entah kenapa, perasaanku menjadi tidak nyaman. Aku meraih HP itu dan melihat nama rekan kerja suamiku tertera di layar HP itu, perasaaanku semakin tidak nyaman. “Halo…”

“Halo Bu, kami ingin memberitahu bahwa suami ibu…” Kudengar sebuah suara berat di ujung seberang sana. Aku tak dapat lagi mendengar apa yang dia katakan. Pandanganku terasa gelap dan kepalaku terasa berat. Sayup-sayup kudengar suara anakku memanggilku, “Mama…Mama!!!”

 

Aku pun sadari

Kau takkan kembali lagi

Aku masih mencintainya (his version)

Doni membuka pintu kulkas, mengambil botol air dingin lalu menuangkannya ke gelas. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 9.00. Diteguknya gelas itu, terasa segar saat air dingin membasahi kerongkongan Doni. Hari ini Doni malas melakukan apa-apa, ingin rasanya dia kembali naik ke atas kasur. Tapi bermalas-malasan bukanlah gaya Doni, meskipun saat ini dia sedang menjalani liburan semester.

Hari ini Doni kembali sendirian di rumah. Orang tuanya sudah pergi bekerja. Bik Ijah, pembantu Doni sedang pulang kampung. Diliriknya HP nya yang tergeletak di sofa. Ada beberapa SMS. Doni membuka satu persatu SMS itu, ada tiga SMS dari Yuda. Namun tak ada SMS dari Dona, pacar Doni. Atau mungkin lebih tepat jika disebut mantan pacar. Hmmm, apakah aku dan Dona bisa dibilang pacaran, pikir Doni. Seingatnya dia maupun Dona tak pernah mengikrarkan janji untuk berpacaran, tapi toh hubungan mereka memang dekat. Rasanya mereka sama-sama sudah tahu perasaan masing-masing, maka rasanya tak perlu ada acara penembakan ala ABG, pikir Doni sambil merebahkan tubuhnya ke sofa, di samping Si Manis, kucing anggora berbulu putih peliharaan Mamanya.

“Meow…” Si Manis mengeong saat Doni mengelus-elus bagian bawah leher kucing itu. Dengan sebelah tangannya, Doni  membuka satu persatu SMS dari Yuda. Sohibnya itu menanyakan keadaannya. Memang kemarin Doni merasa kurang sehat sehingga membatalkan janjinya dengan Yuda. Doni segera membalas SMS Yuda, mengatakan kalau pagi ini dia sudah merasa sehat. Tak ada balasan. Diletakkannya benda hitam itu di meja, saat dia berlalu ke kamar mandi. Tentu saja, pasti Yuda tengah sibuk bekerja, saat liburan Yuda membantu orang tuanya menjaga counter HP mereka.

Doni meraih kunci kontak motornya. Dia memutuskan untuk mengunjungi Indah, kakaknya yang telah tinggal dengan suaminya. Doni telah siap berdiri di hadapan motornya, saat dia hendak mengambil helm berwarna hitam yang tergantung di stang motor, dilihatnya helm berwarna biru langit masih tergantung di sisi lain stang motor itu, helm Dona. Doni memandang helm itu sejenak lalu mengambilnya dan meletakkannya ke rak helm. Kini helm itu tak lagi bertuan, kata Doni dalam hatinya.

“Hei Don, apa kabar kamu? Kok nggak bilang kalau mau datang,” sambut Indah saat Doni mengetuk pintu rumah kakaknya.

“Baik Kak. Iya nih nggak ada kerjaan, jadi main aja ke sini.” Doni tersenyum nakal sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Hai Tito, apa kabar jagoan kecil Om?” Doni segera menyambar keponakannya yang baru berumur lima tahun itu saat Tito menjulurkan wajahnya dari belakang tubuh ibunya. Tidak seperti biasanya, Tito tidak tersenyum lebar menyambut kedatangan Doni, melainkan segera berlalu kembali duduk di sofa.

“Tito kenapa Kak?”

“Oh, Tito habis Kakak marahin,” kata Kak Indah sambil mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih. “Nih minum dulu, pasti kamu haus kan.”

“Thanks Kak.” Doni meraih gelas tersebut lalu meneguk isinya dalam sekali tegukan. “Memangnya Tito nakal Kak, kok dimarahin?” Doni melirik Tito yang duduk di sofa sambil memasang tampang cemberut, membuat Doni merasa geli dan ingin mencubit pipi keponakannya itu.

“Biasa, berkelahi dengan anak tetangga…” jawab Indah sambil berlalu ke dapur.

“Namanya juga anak-anak Kak…” Ujar Doni sambil meletakkan gelas yang dipegangnya ke atas meja. Dirogohnya saku celananya, mencari HP nya. Tak ada. Doni merogoh saku celananya yang sebelah lagi. Masih tetap tak ada. Di mana aku taruh HP itu ya, tanya Doni dalam hati. Dia nampak berpikir sejenak. Terakhir kali dia memegang benda hitam itu adalah saat membalas SMS Yuda. Setelah itu Doni meletakkan HP nya di meja dan dia bergegas mandi. Doni menepuk jidatnya, dia benar-benar pelupa, bahkan sampai HP nya saja tertinggal di rumah. Biarlah, batin Doni. Lagipula saat ini libur semesteran, siapa orang kurang kerjaan yang hendak mencarinya?

“Tito kenapa, Tito nakal lagi ya?” tanya Doni yang mengambil tempat duduk di sebelah Tito.

“Nggak Tito nggak nakal. Rio yang nakal.” jawab Tito sambil tetap memasang wajah masam. Doni tersenyum geli melihat tingkah keponakannya itu.

“Kok Tito bilang gitu? Memangnya Rio kenapa?”

“Rio rusakin mobil-mobilan Tito.”

“Tapi nggak berarti kamu boleh pukul Rio…” sela Indah yang datang dari arah dapur sambil membawa piring berisi kue yang telah dipotong-potong. “Makan Don!”

“Iya Kak,” kata Doni sambil mengambil sepotong kue.

“Mama belain Rio, nggak belain Tito!” seru Tito dengan nada jengkel, mulutnya masih saja cemberut.

“Tito, Mama nggak pernah ajarin Tito buat mukul orang…” kata Indah tegas Indah sambil mengambil sepotong kue lalu menyodorkannya kepada anaknya. Tito membuka mulutnya lalu menrima suapan dari ibunya. “Sudah nggak ngambek lagi?” goda Indah. Sedikit banyak Doni mulai mengerti permasalahan yang menimpa keponakan kecilnya itu.

“Tito pengen main sama Rio kan? Sekarang Tito ke rumah Rio terus minta maaf sama Rio,” suruh Indah sambil membelai kepala puteranya itu.

“Nggak!” teriak Tito tegas.

“Tito, minta maaf itu nggak berarti Tito salah dan Rio benar…” belum selesai Indah mengucapkan kalimatnya, terdengar suara bel berbunyi. “Mama buka pintu dulu ya,” pamit Kak Indah.

“Gimana kalo Tito main sama Om Doni saja?” goda Doni kepada keponakannya yang masih cemberut itu.

“Tito, ada tamu untuk kamu!” teriak Indah. Rupanya Rio yang datang. “Tito, maapin aku ya.”

Tito membuang muka, tapi Indah segera menyuruh puteranya itu berbaikan dengan Rio. Doni hanya tertawa geli melihat tingkah keponakannya saat kakaknya menyuruh kedua anak itu berjabat tangan. Diambilnya sepotong kue lagi, lalu dimasukkannya ke mulutnya. Doni beranjak ke dapur, mengambil segelas air. Tak berapa lama kemudian terdengar celoteh canda mereka dari ters depan. Kini kedua anak itu kembali bermain bersama. Doni hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah kedua anak itu. Andai aku dan Dona bisa seperti itu, gumam Doni. Tidak, Doni segera menggeleng-gelengkan kepalanya, membuang jauh-jauh bayangan Dona.

 “Makan dulu Don, sudah siang. Kamu belum makan siang kan?” Indah mengajak Doni ke meja makan.

“Anak-anak, tadi bertengker sekarang sudah akur lagi,” kata Kak Indah yang memperhatikan kedua anak itu bermain. “Kamu gimana kabarnya? Sebenarnya Kakak agak heran sih kamu tiba-tiba saja datang kemari. Biasanya kamu selalu jalan sama siapa teman cewek kamu, Dona ya?” tanya Indah sambil mengambil piring, dan menyodorkannya ke Doni. “Ambil sendiri ya, udah gede!”

Doni menarik nafas panjang sembari mengambil nasi dan ayam, kakaknya memasak ayam goreng kesukannya, entah itu disengaja atau tidak. Kembali bayangan Dona menari-nari dalam kepalanya. “Dona lagi marah sama Doni Kak. Sepertinya kali ini kami benar-benar selesai. Doni juga capek sama Dona. Apa yang Doni lakuin selalu salah di mata Dona. Tiap kali kami marahan, selalu Doni yang minta maaf duluan. Padahal nggak seutuhnya itu salah Doni. Kalau memang Dona nggak mau pertahanin hubungan kami ya sudah. Buat apa Doni capek-capek usaha.”

“Memangnya kali ini kenapa?” tanya Kak Indah sambil memasukkan sesuap nasi ke mulutnya.

“Kemarin Doni telat jemput Dona ke ultahnya Maya. Doni lupa sih. Tapi Dona nya juga nggak ingetin Doni, biasanya Dona selalu ingetin Doni satu hari sebelumnya jika kami ada acara,” Doni berusaha membela diri. Dia mengambil segelas air, lalu meneguknya. “Maya nya nggak apa-apa. Tapi Dona nya yang marah. Terus katanya Doni nggak ngejaga muka dia, masa dateng ke pesta pakai kaos sama celana jeans. Bukan salah Doni dong. Doni kan habis dari tempatnya Yuda, nggak sempat pulang, ganti baju. Itu saja Doni sudah ngebut. Dona itu yang nggak ngertiin Doni.”

“Sebenarnya nggak kali itu saja Dona bersikap seperti itu. Dona sering komplain karena Doni telatan, sering lupa janjian sama dia. Terus dia juga sering komplain soal sikap Doni yang menurut dia cuek. Yah ini Doni apa adanya, Doni sih berusaha sabar saja, tapi kesabaran orang tu ada batasnya kan Kak. Kalau dia nggak suka sama Doni ya sudah. Lagian kalau dipikir-pikir kami belum resmi jadian. Doni belum pernah nembak Dona. Jadi nggak masalah kalau memang Dona maunya seperti itu Silakan saja dia cari cowok lain. Doni juga bukan siapa-siapanya Dona.” Doni terengah-engah, mulutnya hampir saja berbusa karena mengeluarkan uneg-unegnya selama ini. Kedua tangannya telah memegang sendok dan garpu, namun makanan di atas piringnya sama sekali belum terjamah.

Indah tertawa melihat tingkah adiknya yang berbicara panjang lebar tanpa henti itu. “Don… Don… gaya bicara kamu itu menunjukkan kalau kamu itu sebenarnya care banget sama Dona. Kalau menurut Kakak, kamu juga salah. Kamu itu sering memandang enteng segala sesuatunya, nyepelein lah istilahnya. Seharusnya kalau memang kamu ada janji dengan Dona, ya kamu yang inget-inget sendiri dong, jangan jadikan Dona kambing hitamnya. Terus kamu itu juga nggak peduli sama orang-orang di sekitar kamu, Kakak setuju sama Dona, menurut Kakak kamu terlalu cuek, bahkan sama diri kamu sendiri. Contohnya lihat tuh baju yang kamu pakai. Pakai baju yang bagus dikit kenapa? Jangan gayanya kayak berandalan gitu.”

“Kakak ini nggak belain Doni malah belain Dona.”

“Dengerin dulu kenapa!” sergah Indah sambil meletakkan sendok dan garpunya, gaya lembutnya yang tadi seakan-akan menguap begitu saja. Dia kembali lagi menjadi Indah yang dulu, Indah kakak Doni yang tomboi dan tegas.

“Kakak nggak belain Dona, hanya Kakak berusaha membuka mata kamu tentang diri kamu sendiri. Don, ada kalanya kita harus berubah semakin dewasa.” Indah menurunkan nada bicaranya sambil menatap mata Doni tajam.

Doni balas memandang balik kakaknya. Kak Indah nampak sangat berubah. Dulu dia tomboi, keras kepala, sering berkelahi dengan Doni. Dan seingat Doni, setiap kali mereka berkelahi Indah yang selalu menang, mungkin karena dia lebih besar, meskipun dia juga perempuan. Tapi setelah menikah dan punya anak, Doni tak menyangka kakaknya akan mengeluarkan kata-kata teguran seperti itu.

“Kamu sayang kan sama dia?”

“Iya Kak, tapi kalau Dona nya nggak bisa menerima Doni ya sudah. Doni males minta maaf seperti yang sudah-sudah. Biarin saja.”

“Ya ampun Don, nggak kamu nggak Tito sama saja. Nggak ada salahnya kan minta maaf duluan. Meskipun bukan kita yang salah. Orang minta maaf itu nggak berarti dia salah, dan orang lain yang benar, hanya saja dia memandang hubungan itu lebih penting dari ego pribadi.” Indah kembali mengulangi kalimat yang tadi hendak disampaikannya kepada Tito, tapi kali ini dia berhasil menyelesaikannya, tanpa ada interupsi.

Doni terdiam, tak mampu membalas kata-kata kakaknya, diakuinya kakaknya memang benar. “Dimakan Don, jangan dilihatin saja!” kembali Indah bersuara, membuyarkan lamunan Doni.

Jam dinding menunjukkan pukul 5.30 saat Doni tiba di rumahnya. Tidak ada orang, sepertinya orang tua Doni kembali pulang malam hari ini. Hal itu tidak aneh bagi Doni, kehidupan di kota besar memang menuntut para pekerja bekerja hingga larut malam. Doni telah selesai mandi saat didengarnya telepon rumahnya berdering. Hampir saja Doni mengangkat telepon itu, tapi sudah dimatikan. Biarlah, batin Doni sambil menyeka rambutnya yang masih basah. Kalau memang penting nanti pasti dia telepon lagi.

Tiba-tiba Doni teringat HP nya yang tertinggal di meja ruang tengah. Dilihatnya benda hitam itu berkelap-kelip. Ada yang mencoba menghubungiku, siapa ya, tanya Doni dalam hati. Diraihnya HP itu, ada berpulu-puluh missed call dari Dona. Doni berniat menelpon balik Dona saat Si Manis mengagetkannya. Kucing itu menggosok-gosokkan tubuhnya ke kaki Doni. Alhasil Doni melepaskan genggaman tangannya hingga HP itu terjatuh dan benda hitam itu memuntahkan isinya, casing HP itu dan baterainya terlepas. Giliran Si Manis yang terkejut, kucing itu segera berlari ke balik sofa.

Doni melemparkan pandangan tajam ke arah Si Manis yang menghilang di balik sofa, kemudian dia berjongkok membetulkan HP nya, tapi kali ini benda hitam itu tak mau menyala. Doni menarik nafas. HP mu itu sudah jadul, sudah sudah waktunya dikandangkan, terngiang suara Dona saat Doni mengetik SMS ketika mereka jalan minggu lalu. Kala itu Doni hanya tersenyum. Sekarang Doni kembali tersenyum, kamu benar Don, memang sudah waktunya HP ini dikandangkan. Doni mengakui sebenarnya Dona sangat memperhatikannya, terlepas dari komplain-komplain cewek itu. Kini Doni tak tahu bagaimana caranya menghubungi Dona. Dia tidak ingat nomor HP maupun nomor telepon rumah Dona. Semuanya ada di kontak HP nya. Doni mengutuki dirinya, seharusnya dia mendengarkan dan menuruti saran Dona untuk menuliskan kontak-kontak penting di buku tersendiri, untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu pada HP nya, tapi Doni terlalu malas untuk melakukannya. Kini Doni benar-benar kehilangan kontak Dona dan tak tahu bagaimana caranya menghubungi gadis itu.

Kira-kira untuk apa Dona menghubungiku, bahkan sampai berpuluh-puluh kali, tanya Doni pada dirinya sendiri. Jika saja tadi dia sempat membuka SMS, sepertinya tadi ada juga beberapa SMS. Doni kembali mencoba menyalakan HP nya tapi sepertinya benda hitam itu tidak mau diganggu dari tidur lelap abadinya. Apakah Dona ingin mengatakan bahwa antara mereka tidak ada apa-apa lagi? Tapi apakah harus dengan menelpon berpuluh-puluh kali? Doni mengacak-acak rambutnya. Tiba-tiba sebuah ide terbit dalam otaknya. Tanpa menunggu lebih lama lagi Doni segera berlari ke kamarnya, hampir saja dia menginjak Si Manis, untung saja kucing berbulu putih itu sempat menghindar, barangkali benar kata orang bahwa kucing memiliki sembilan nyawa.

Di kamarnya Doni membuka lemari pakaian, dia nampak mengambil sebuah kaos yang terletak pada tumpukan paling atas, tapi kata-kata kakaknya kembali terngiang, kamu itu terlalu cuek… Doni melemparkan kaos itu ke atas kasur, dia nampak mengacak-acak lemari pakaiannya hingga pandangan matanya terpaku pada sebuah kemeja berwarna biru, kemeja pemberian Dona. Doni masih ingat kala Dona membelikan kemeja itu saat mereka jalan beberapa bulan lalu.

“Bagus sih, tapi mahal sekali Don…” kata Doni saat keluar dari kamar pas sambil memakai kemeja berwarna biru yang dipilihkan Dona saat mereka melihat-lihat kemeja.

“Bagus kok Don, cocok kamu pakai. Kamu tambah keren…” puji Dona.

“Mahal tapi…”

“Aku yang traktir. Sekali-kali. Biasanya kamu yang traktir kalau kita makan bareng.”

“Tapi Don…”

“Nggak ada tapi-tapian. Sudah ambil bajunya!”

Kini Doni mematut dirinya di depan cermin sambil memakai kemeja biru itu. Benar kata Dona, dia nampak keren. Ini pertama kalinya dia mengenakan baju itu. Selama ini dia merasa sayang mengenakan baju itu, selain harganya mahal Doni merasa tidak ada momen yang tepat untuk mengenakannya. Tapi kali ini berbeda. Kali ini Doni akan mengenakan baju itu di hadapan orang yang memberikannya. Doni meraih celana jeans berwarna biru gelap yang juga masih baru, celana ini dia sendiri yang membelinya lalu menyambar jaketnya yang tergantung di bahu kursi.

Doni mengeluarkan motor gedenya, saat dia ingat ada sesuatu yang kurang. Diparkirnya motor itu di samping teras, lalu Doni kembali masuk. Tak berapa lama kemudian dia keluar bersama helm berwana biru langit di tangannya. Bagaimana mungkin dia tidak membawa helm untuk Dona padahal dia tengah berencana mengajak gadis itu pergi, mungkin sebuah kencan. Doni tak tahu apakah Dona akan menerima kedatangannya atau malah justru membanting pintu rumahnya seperti terkahir kalinya mereka berpisah. Doni menggeleng-gelengkan kepalanya, dia tak mau memikirkan hal itu. Siap atau tidak, Doni harus berani menghadapi kenyataan, jika Dona berniat memutuskan hubungan persahabatan mereka. Doni menarik nafas panjang, aku sudah siap untuk menghadapinya. Namun tiba-tiba saja semua pikirannya tentang Dona berlari meninggalkan otaknya kala matanya melihat sesosok orang berdiri di balik pintu pagar rumahnya. Tanpa sadar, Doni bergumam, “Aku masih sangat mencintainya…”

mell!