Berbeda

Kali ini aku mencoba menuliskan ending kisah ini dengan sudut pandang yang berbeda. Tak ada yang lebih baik, hanya saja kadang memang semua itu harus terjadi =p

Dona duduk terdiam sambil memandangi jari-jarinya yang terus bergerak-gerak di atas lututnya. Sepanjang perjalanan ke rumah Doni dia sudah mempersiapkan kata-kata yang akan dilontarkannya kepada cowok itu. Tapi kini mulutnya terasa kelu. Lima belas menit sudah Dona duduk diam di bangku taman. Sepeda motor gede berwarna hitam dengan dua helm tergantung pada kedua sisi stangnya terparkir rapi beberapa meter dari bangku itu.

Doni yang duduk mematung di samping Dona sepertinya juga tidak menunjukkan tanda-tanda akan membuka mulutnya. Dipandanginya beberapa pasang muda-mudi lain yang tengah menghabiskan waktu di taman itu. Sepasang muda-mudi tersenyum saat lewat di depannya. Mau tak mau Doni membalas senyum mereka, lalu kembali sibuk terdiam dengan pikirannya.

“Don…” ucap Dona dan Doni bersamaan. Persis seperti sketsa FTV ketika sepasang muda-mudi ingin mengungkapkan perasaan mereka.

“Emm kamu aja dulu…” kata Dona mempersilakan. Dalam hati dia mulai ragu, jangan-jangan Doni ingin mengakhiri hubungan mereka, meskipun sebenarnya mereka juga tidak pernah mengatakan secara resmi berhubungan. Lantas jika Doni ingin menginginkan hal itu untuk apa dia memakai kemeja berwarna biru yang dulu dibelikannya, pikir Dona. Seingat Dona, Doni sama sekali belum pernah memakai kemeja itu setiap kali mereka jalan bersama. Mungkin hanya kebetulan saja dia mengenakannya.

“Nggak apa-apa, ladies first,” sahut Doni santai, meskipun dadanya berdebar juga menebak apa yang kira-kira akan dikatakan Dona. Dona menarik nafas panjang. Doni memang seperti itu, dia selalu berusaha mengalah dan memprioritaskan Dona. Biasanya Dona senang diperlakukan seperti itu. Tapi kali ini lain ceritanya. Dona tidak mau mengungkapkan perasaannya kalau ujung-ujungnya Doni menghendaki hal yang berbeda.

“Aku… mau minta maaf atas sikapku kemarin…” ujar Dona lirih.

“Aku juga…” balas Doni cepat. Kembali mereka terdiam beberapa saat lamanya. “Kurasa kita memang berbeda. Terlalu banyak hal pada akhirnya akan membuat kita berselisih…” dengan hati-hati Doni mengucapkan kata-kata itu. Semilir angin di sore hari yang cerah tidak dapat menghilangkan rasa sesak yang melingkupi dada lelaki itu.

“Aku… sudah memikirkannya. Memang kita adalah sahabat yang baik. Aku tidak tahu bagaimana semua ini bisa terjadi. Aku hanya terkejut saja, tiba-tiba saja kita sudah seperti ini…” ujar Dona sambil memandangi buku-buku jari tangannya.

“Hahaha…” Doni tertawa renyah. Tawa itulah yang sering membuat Dona merasa nyaman berada di dekatnya. “Kau tahu Don, kau cantik, cerdas, berani dan peduli pada orang lain. Kau itu wanita yang sangat menyenangkan. Sungguh, jika saja kau tidak bersikap keras kepala…” ujar Doni dengan nada nakal.

“Demikian juga kau. Kau tampan. Lihatlah dirimu. Sebenarnya kau itu cowok keren, jika saja kau lebih memperhatikan penampilanmu, tidak bersikap semaumu sendiri dan lebih peka terhadap orang lain…” balas Dona tak mau kalah.

“Kau sering mengomel panjang lebar dan memarahi orang lain seolah-olah dirimu yang paling benar…”

“Kau tidak pernah mau mendengar kritik orang lain dan menganggap dirimu itu sempurana…”

“Fiuhhh…” Doni menarik nafas panjang. “Thanks ya sudah memperhatikanku…” Doni menatap  mata Dona dengan penuh ketulusan.

“Kau juga, terima kasih selalu ada untukku…” balas Dona.

“Kau lihat itu?” tanya Doni sambil menunjuk sepasang ayah dan anak yang berada tak jauh di depan mereka. Si anak nampak membawa sebuah kandang dengan seekor burung dara di dalamnya. Tiba-tiba saja mereka berhenti, kemudian sang ayah membuka kandang burung itu dan mengeluarkan burung itu. Diserahkannya burung itu kepada anaknya. Dengan hati-hati anak itu memegang burung dara dengan sebelah tangannya sedangkan tangan yang satunya lagi mengelus kepala burung itu.

“Kelihatannya anak itu sangat menyayangi burungnya…” sahut Dona sambil terus memandangi ayah dan anak itu. Doni mengangguk singkat mengiyakan ucapan Dona.

Beberapa menit ayah dan anak itu berdiri di sana, hingga sang ayah mengelus kepala anaknya lembut. Si anak pun mulai mengangkat tangannya dan kemudian dia membuka genggaman tangannya itu, membiarkan burung dara yang ada dalam tangannya terbang bebas menuju langit sore yang cerah.

“Meskipun begitu, dia tetap harus melepaskannya. Bagaimana pun juga membiarkan burung itu tinggal di kandang bukanlah hal yang baik. Kalau kita menyayanginya kita harus membiarkan dia terbang bebas, menjadi layaknya seekor burung, bukan burung dalam sangkar.” Doni juga ikut memandangi kedua orang itu. Mereka mulai membereskan sangkar dan beranjak meninggalkan taman itu.

“Aku paham maksudmu…” sahut Dona. Rasa sesak yang melingkupi dadanya perlahan mulai memudar.

“Maafkan aku Don. Mungkin lebih baik kita berpisah. Aku akan aku tidak akan memaksamu menerimaku. Dan aku juga tidak ingin menjadi bukan diriku saat bersamamu,” ujar Doni sambil memandang burung dara yang mulai menghilang di kejauhan.

“Memangnya kita pernah jadian?” tanya Dona.”Lantas mengapa sekarang kau meminta kita berpisah? Di antara kita memang tidak pernah ada apa-apa.”

“Hahaha… benar juga ya,” Doni menggaruk kepalanya yang tak gatal.

“Aku mengerti. Mungkin memang lebih baik seperti itu. Membuatmu mengikuti seperti apa yang aku mau memang bukan hal yang baik. Pada akhirnya kita hanya akan saling menyakiti satu sama lain. Jadi…” kata Dona sambil beranjak berdiri dari bangku taman, “aku pulang dulu ya…”

“Aku antar,” sahut Doni tiba-tiba. Dia juga ikut berdiri.

“Nggak usah, aku telpon Romi saja, minta dijemput,” tolak Dona halus.

“Oh, baiklah. Tunggu sebentar ya,” Doni berlari kecil ke arah motornya, mengambil helm berwarna biru langit  yang tergantung di sana dan menyerahkan helm itu kepada Dona. “Aku ingin kau memilikinya…”

Dona menerima helm itu. Helm itu terasa berat sekali di tangannya. “Kau tahu kau sangat tampang memakai baju itu…” ujar Dona riang.

“Thanks ya. Bajunya bagus hahaha…” balas Doni datar.

“Ok, aku akan menunggu Romi di sana,” kata Dona menunjuk ke sisi lain taman itu.

“Baik, aku pulang dulu kalau begitu…” sahut Doni sembari berbalik menuju motornya.

Dalam diam kedua pemuda pemudi itu beranjak meninggalkan bangku taman, berjalan menuju ke jalan yang mereka pilih sendiri.

“Kau tahu Don, aku sayang kamu…” batin Dona.

“Ya, aku tahu. Aku juga sayang kamu, kamu tahu kan Don…” kata Doni dalam hati.

“Aku tahu. Mencintaimu tidak berarti harus memilikimu…” Dona berhenti sesaat.

“Benar, aku mencintaimu sehingga aku rela melepaskanmu, membiarkan kau terus menjadi dirimu…” Doni menghentikan langkahnya. Ada dorongan dari dalam dirinya untuk menoleh ke belakang. Tetapi hal itu tidak dilakukannya. “Aku harap kau bahagia Don…”

“Aku juga Don…” Dona kembali meneruskan langkahnya.

“Thanks ya Don sudah mencintaiku…” Doni tiba di motornya, dan mulai mengenakan helm nya.

“Terima kasih Don sudah membiarkanku menjadi diriku…” Dona berbelok di tikungan jalan.

“…”

“…”

Sore hari yang cerah itu menjadi saksi bisu atas kisah mereka berdua. Ketika dua hati yang berbeda kepingan tak dapat dipaksa untuk menjadi satu.

Mencintaimu itu…

Akhirnya sempat juga menuliskan lanjutan cerita yang sempat kutulis hampir dua tahun yang lalu. Yah hanya sekadar coretan waktu luang di tengah himpitan kesibukan…

**

Dona duduk terdiam sambil memandangi jari-jarinya yang terus bergerak-gerak di atas lututnya. Sepanjang perjalanan ke rumah Doni dia sudah mempersiapkan kata-kata yang akan dilontarkannya kepada cowok itu. Tapi kini mulutnya terasa kelu. Lima belas menit sudah Dona duduk diam di bangku taman. Sepeda motor gede berwarna hitam dengan dua helm tergantung pada kedua sisi stangnya terparkir rapi beberapa meter dari bangku itu.

Doni yang duduk mematung di samping Dona sepertinya juga tidak menunjukkan tanda-tanda akan membuka mulutnya. Dipandanginya beberapa pasang muda-mudi lain yang tengah menghabiskan waktu di taman itu. Sepasang muda-mudi tersenyum saat lewat di depannya. Mau tak mau Doni membalas senyum mereka, lalu kembali sibuk terdiam dengan pikirannya.

“Don…” ucap Dona dan Doni bersamaan. Persis seperti sketsa FTV ketika sepasang muda-mudi ingin mengungkapkan perasaan mereka.

“Emm kamu aja dulu…” kata Dona mempersilakan. Dalam hati dia mulai ragu, jangan-jangan Doni ingin mengakhiri hubungan mereka, meskipun sebenarnya mereka juga tidak pernah mengatakan secara resmi berhubungan. Lantas jika Doni ingin menginginkan hal itu untuk apa dia memakai kemeja berwarna biru yang dulu dibelikannya, pikir Dona. Seingat Dona, Doni sama sekali belum pernah memakai kemeja itu setiap kali mereka jalan bersama. Mungkin hanya kebetulan saja dia mengenakannya.

“Nggak apa-apa, ladies first,” sahut Doni santai, meskipun dadanya berdebar juga menebak apa yang kira-kira akan dikatakan Dona. Dona menarik nafas panjang. Doni memang seperti itu, dia selalu berusaha mengalah dan memprioritaskan Dona. Biasanya Dona senang diperlakukan seperti itu. Tapi kali ini lain ceritanya. Dona tidak mau mengungkapkan perasaannya kalau ujung-ujungnya Doni menghendaki hal yang berbeda.

“Emmm… gini Don…” Belum sempat Dona menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara petir menggelegar. Langit sore itu yang tadinya cerah mendadak hitam pekat. Tak berapa kemudian hujan deras pun tiba-tiba datang tanpa diundang. Segera Doni melepas jaketnya dan meletakkannya ke atas kepala Dona. “Kamu lari dulu ke warung di depan sana, nanti aku susul. Aku urus motor dulu!” ujar Doni setengah berteriak di tengah derasnya hujan sambil menunjuk warung kaki lima yang berada tak jauh di depan mereka. Tanpa beradu mulut lagi, Dona segera mengikuti perintah lelaki itu.

“Sepertinya hujan ini akan lama. Deras sekali,” ujar Doni begitu dia selesai memarkirkan motornya di seberang warung. Tubuhnya basah kuyup, juga kemejanya basah di bagian bahu. Dengan tangannya lelaki itu berusaha menyeka air yang membasahi lengannya.

“Terima kasih, maaf jadi basah,” ujar Dona sambil menyerahkan tissue dan jaket Doni yang basah. Doni menerima tissue itu dan kembali menyeka lengannya, “Bisa tolong bawain dulu jaketnya?” Dona menangguk sambil kembali memegang jaket itu.

“Makan dulu yuk…” sahut Doni cepat. Dia segera menempati kursi di sudut warung. “Bang, nasi gorengnya dua, yang satu nggak pedes. Minumnya teh hangat sama jeruk hangat…” ujar Doni memesan makanan. Dia sudah hafal betul kalau Dona tidak suka makanan pedas.

“Sini aja Don…” ajak Doni menuju ke meja yang masih kosong. Dona pun mengekor lalu duduk di depan Doni. Kembali mereka terdiam beberapa saat lamanya, sementara gemuruh derasnya hujan di luar sana menjadi saksi kebisuan yang melanda pemuda pemudi itu.

“Romantis ya Don,” kata Dona mengomentari sepasang muda-mudi yang duduk di meja sebelah mereka, mencoba membuka pembicaraan. Penghuni meja sebelah itu tengah menyantap mie goring dalam sebuah piring bersama-sama. “Makan sepiring berdua…”

“Romantis apanya? Itu namanya kantung tipis…” sahut Doni datar seperti biasanya sambil sibuk mengeringkan bajunya. Kini tubuhnya sudah agak kering. Beberapa lembar tissue yang basah tergelak rapi di atas meja. Dona pun menarik nafas panjang sambil tersenyum simpul. Memang itulah Doni yang dia kenal. “Oh ya tadi gimana, mau ngomong apa?” pancing Doni membuat dada Dona yang telah rileks mulai kembali berdebar.

“Emmm… kamu… pantes kan pakai baju itu…” kata Dona sambil mengutuki kebodohannya dalam hati. Seharusnya bukan kalimat itu yang hendak diucapkannya.

“Oh… iya, bagus sih. Makasih ya sudah beliin… Sayang jadi basah begini,” ujar Doni sambil meletakkan tissue yang barusan digunakannya di atas meja bersama tissue-tissue lainnya.

“Kenapa kamu kasih jaketmu ke aku? Kan kamu yang jadi basah. Mana kamu masih bawa motor lagi…” omel Dona tiba-tiba. Sayangnya omelan itu terputus oleh datangnya pesanan mereka.

Doni menyodorkan jeruk hangat ke depan Dona sedangkan dia sendiri mengambil gelas teh hangat. “Ya masa aku biarin kamu kehujanan,” jawab Doni singkat dan lirih, selirih kehangatan yang tiba-tiba menyeruak di dalam dada Dona.

“Sudah, makan dulu Don…” kata Doni lalu memasukkan sesendok nasi ke mulutnya. Dona pun mengekor tingkah Doni. “Don, maafin aku ya…” kata Dona lirih pada suapan kesekian kalinya.

“Uhukkk!!!” Doni tersedak mendengar ucapan Dona, meletakkan sendok dan garpunya, lalu segera meraih gelas tehnya dan meneguk habis isinya.

“Nggak apa-apa Don?” tanya Dona khawatir.

“Hahaha… Don, Don…” Doni terbahak setelah mulutnya kosong. Dona pun memandang cowok di depannya itu dengan tatapan kesal. Rasanya tak ada yang lucu dengan kata-katanya.

“Sorry, sorry…” kata Doni yang mulai menangkap gelagat kesal Dona. “Aku nggak nyangka aja kamu akan ngomong seperti itu. Kupikir kamu mau ngomong hal lain. Ya aku jadi seneng aja…” jawab Doni spontan. Kegembiraan jelas terpancar di wajahnya. Mendengar hal itu dada Dona terasa lega. “Jadi aku dimaafin?” tanya Dona lagi.

“Aku juga yang salah sih…” tukas Doni. “Maafin aku ya Don…” kata Doni tulus. “Harusnya aku lebih memperhatikan kamu. Aku juga harusnya bisa lebih ngertiin kamu…”

“Nggak Don, aku juga harusnya nggak marah kayak gitu ke kamu. Padahal kamu sudah berusaha menjadi cowok yang baik buat aku. Aku tahu kamu memang seperti itu. Seharusnya aku lebih sabar menghadapi kamu. Kita memang berbeda. Aku juga nggak seharusnya memaksa kamu jadi seperti aku. Biar bagaimana pun aku tahu kalau kamu tetap care sama aku. Bahkan tadi kamu rela hujan-hujanan…” sahut Dona sambil menatap Doni. Sinar matanya memancarkan ketulusan.

“Yah, kita memang berbeda. Aku janji mulai sekarang nggak akan mentingin egoku sendiri. Aku juga akan berusaha berubah menjadi lebih baik lagi dan… Ah sudahlah, buat apa ngobral janji, kamu lihat saja nanti deh gimana aku ke depannya,” ujar Doni kembali seperti biasa. Memang itulah dirinya, dia tidak suka berbicara hal-hal yang muluk-muluk dan memang itu bukan keahliannya.

Mendengar ucapan Doni, wajah Dona memerah seketika. Memang ucapan Doni itu tidak romantis sama sekali, tetapi Dona bisa menangkap kesungguhan Doni. “Aku juga akan berusaha menerima dirimu apa adanya dan nggak akan menuntut yang macam-macam, Don…”

“Jadi…?” tanya Doni sambil memainkan sendoknya.

“Apa?” Dona menatap lelaki yang duduk di depannya itu.

“Kita jadian kan…” ujar Doni dengan nada datar seperti biasanya, meskipun sebenarnya dada lelaki itu berdegup sangat kencang. Dona hanya memandang Doni lalu menangguk pelan.

“Thanks ya Don…” ucap Doni, kali ini terselip sedikit nada kegirangan.

“Makan dulu, habisin dulu… Sebentar aku antar pulang…”

“Don, ini masih hujan, ngapain cepat-cepat…”

“Oh masih hujan… ya sudah tunggu sampai reda dulu ya…”

“Makannya santai aja…”

Sambil menyantap makanan mereka, celoteh riang sepasang pemuda pemudi itu terdengar sayup-sayup di antara sela-sela derasnya gemuruh hujan.

Screenshot_2015-05-22-16-09-01

Shampo

“Aduh Nin, kok kamu basah kuyup begitu?” tanya Mama ketika melihat Nina masuk ke rumah.

“Iya Ma, Nina lupa bawa payung.” Jawab Nina sambil menggigil kedinginan. Hujan di luar sana masih turun dengan derasnya.

“Ya sudah sana cepat mandi, nanti kamu sakit lagi!” Tanpa disuruh dua kali pun Nina segera menuju ke kamar mandi. Tak lama kemudian terdengar teriakan Nina dari kamar mandi, “Bik kok shamponya habis?”

 Tergopoh-gopoh Bik Ijem, pembantu Nina berlari menuju ke kamar mandi. Terdengar perbincangan mereka diiringi nada-nada tinggi yang meluncur dari mulut Nina. “Ya sudah, cepet beliin Shampo. Nina mau mandi!” Dan pembicaraan itu pun diakiri dengan Bik Ijem yang kembali tergopoh-gopoh keluar rumah, membeli shampo di warung sebelah.

“Kenapa sih Nin?” tegur Mama yang mendengar Nina memarahi Bik Ijem.

“Itu Ma, Bik Ijem. Nina mau mandi, eh shamponya habis.” Nina menjawab kesal. Dia masih menggigil kedinginan.

“Lalu Bik Ijem yang salah kalau shampo kamu habis?”

“Iya lah. Kan tugas Bik Ijem untuk mengurus semua keperluan Nina. Termasuk shampo Nina. Kalau shampo Nina habis harusnya Bik Ijem segera beliin dong.”

“Sekarang Mama mau tanya. Yang pakai shampo kamu atau Bik Ijem?”

“Nina…”

“Kalau begitu yang tahu kalau shampo kamu habis seharusnya kamu atau Bik Ijem?”

“Nina, tapi kan…” Nina tak mampu lagi berkata-kata.

“Kalau kamu sendiri yang pakai shampo kamu nggak tahu kalau shampo kamu habis, bagaimana mungkin Bik Ijem bisa tahu kalau shampo kamu habis?” Kata-kata Mama mebuat Nina kembali terdiam.

“Non, ini shamponya…” sela Bik Ijem yang baru saja kembali dari warung.

“Makasih ya Bik. Maafin Nina, tadi marah-marah sama Bibik…”

“Bibik juga salah Non, nggak tahu kalau shampo Non habis…”

“Nggak Bik, Nina yang salah seharusnya Nina yang lebih tahu barang-barang Nina. Nina mandi dulu ya Bik!” ujar Nina sambil menuju ke kamar mandi diiringi senyum Mama.

**

Sebuah cerita yang kubaca waktu aku masih kecil. Seringkali kita menyalahkan orang lain atas hal-hal yang sehrusnya menjadi tanggung jawab kita. Kita menutup mata terhadap ketidaksempurnaan diri sendiri dan menggunakan berbagai alasan untuk membenarkan diri sendiri dan melemparkan kesalahan kepada orang lain. Hal yang kupelajari, jangan asal mengkambinghitamkan orang lain, dan butuh kebesaran hati untuk mengakui kesalahan.    

Sepanjang jalan

Jam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit, dan aku masih berjuang berlari menuju ke kampus. Sial benar hari ini. Tadi pagi aku baru menyadari kalau ban motorku bocor dan sudah kempes total. Karena bingung dan tak tahu harus bagaimana akhirnya aku memutuskan naik kendaraan umum menuju ke kampus dan kutinggalkan motorku untuk beristirahat hari ini. Untuk menuju ke kampus aku harus berganti angkot sekali. Angkot yang lewat di depan kos ku berhenti di ujung gang sehingga aku harus berganti menaiki angkot yang membawaku dari ujung gang menuju ke gedung kampusku. Sudah lima belas menit aku menunggu, tapi angkot yang kutunggu tak juga datang. Kulirik beberapa tukang ojek yang mangkal di bawah pohon. Aku mulai berpikir untuk menggunakan jasa mereka, tapi di lain pihak aku malu kalau naik ojek ke kampus. Apa kata teman-temanku nanti? Kalau naik angkot aku masih bisa berhenti di warung yang berjarak beberapa meter dari kampus, kemudian berjalan kaki sampai ke kampus.  

Akhirnya kuputuskan untuk tak menunggu angkot lagi. Aku mulai berjalan, toh jaraknya tidak terlalu jauh, sekitar satu kilo. Semakin lama aku berjalan semakin cepat. Hingga kulirik jam tanganku dan kulihat jarum panjangnya yang mulai beranjak dari angka 10. Akhirnya kuputuskan untuk menyerah. Percuma sudah, dengan kecepatanku berjalan kaki aku takkan sampai di kelas tepat waktu. Kini aku hanya bisa berdoa semoga dosenku masih memperbolehkan aku masuk kelas. Memang dosen yang satu ini terkenal tidak mentolerir keterlambatan.

Aku mulai memperlambat langkah kakiku dan mengatur nafasku yang agak tersenggal-senggal. Seandainya saja aku tidak mengutamakan gengsiku dan memutuskan naik ojek tadi pasti sekarang aku sudah duduk manis di kelas yang berAC. Kuseka dahiku yang berpeluh. Bajuku juga mulai basah oleh keringat. Kini aku merasa konyol dan bodoh. Hanya untuk menjaga gengsi aku merugikan diriku sendiri. Padahal belum tentu juga teman-temanku peduli aku naik motor atau aku naik ojek atau aku jalan kaki. Betapa bodohnya aku.

**

Seringkali dalam hidup ini Tuhan telah menyediakan sarana transportasi yang memang telah disiapkanNya untuk mengantar kita sampai ke tujuan. Tapi yang namanya manusia sepertinya tidak pernah puas kalau tidak berusaha sendiri dan memilih mengerjakan jalannya sendiri, tidak mau memberdayagunakan sarana yang telah Tuhan siapkan. Manusia memilih jalannya sendiri dengan berbagai alasan yang melatar belakangi pilihannya itu, tidak berpasrah diri dan mengikuti apa yang Tuhan mau.

Akibatnya? Pilihan-pilihan manusia yang tidak tepat seringkali berdampak merugikan dirinya sendiri. Ada jalan yang lebih cepat dan nyaman, tapi nama ego manusia memilih jalan yang sulit dan sukar. Menurutku itu bukanlah pilihan yang bijak dan tidak membuktikan bahwa manusia itu kuat dan mampu berjuang sendiri, justru manusia itu bodoh karena memilih untuk merepotkan dirinya sendiri. Well, memang poin utama yang harus dikalahkan adalah ego dan ke-aku-an, barulah kita bisa menaklukan diri di bawah kaki Tuhan. 

Aku masih mencintainya… (her version)

Dona memasuki area parkir motor dengan tak sabar. Dia menoleh ke kanan-kiri, mencari tempat yang kosong di antara puluhan motor yang memenuhi tempat itu. Dilihatnya di sudut sebelah kiri terdapat tempat yang cukup untuk dua buah motor. Tak menunggu lebih lama lagi, Dona segera mengarahkan motornya ke tempat itu, mengikuti pengendara motor di depannya yang sepertinya memiliki pikiran yang sama dengannya. Tak apalah, pikir Dona. Masih cukup untuk dua buah motor. Dona menunggu saat pengendara motor di depannya memarkirkan motornya. Wanita yang duduk di boncengan, karena Dona melihat rambutnya yang panjang dan rok yang dikenakannya, turun terlebih dulu, memberikan kesempatan kepada orang yang mengendarai motor, dilihat dari pakain yang dikenakannya pastilah dia seorang laki-laki, untuk memarkirkan motornya.

Dona menunggu tak sabar. Diperhatikannya saat wanita itu membuka helmnya, ternyata seorang wanita paruh baya. Wanita itu tersenyum kepada Dona, dan mau tak mau Dona membalas senyumnya, setidaknya Dona masih tahu adat istiadat sebagi orang timur. Dona mengalihkan pandangannya kembali kepada laki-laki yang mengendari motor tadi. Kini dia telah memarkirkan motornya dengan tepat, dan masih ada cukup tempat untuk motor Dona masuk ke samping motor pasangan itu, Dona menebak mereka adalah sepasang suami-istri paruh baya. Dona tersenyum singkat saat sang laki-laki memberikan senyumnya.

Tak perlu waktu lama bagi Dona untuk memarkirkan motornya. Setelah memastikan dia mengambil kunci kontak motornya, Dona berjalan menuju pintu masuk toko buku itu. Pasangan paruh baya itu tepat berjalan di depannya. Dona memperhatikan tingkah pasangan itu. Sang laki-laki nampak membimbing sang wanita, yang merangkulkan tangannya pada lengan sang laki-laki. Mereka berjalan perlahan, sangat pelan. Sebenarnya Dona bisa saja berjalan mendahului mereka, tapi melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya, entah dari mana timbul kesabaran yang sangat kuat dalam diri Dona. Dia terus berjalan di belakang pasangan itu sambil memperhatikan mereka. Saat menaiki tangga, sang laki-laki kembali membimbing sang wanita, dan mereka tak henti-hentinya saling tersenyum. Sungguh romantis, pikir Dona. Sayangnya Dona harus berpisah dengan pasangan itu saat mereka tiba di pintu masuk toko buku. Pasangan itu berjalan arah yang berlawanan dengan arah yang dikehendaki Dona.

Dona berjalan menuju ke meja display yang menyediakan tumpukan buku-buku best seller. Hari ini Dona berencana membeli beberapa novel untuk mengisi waktu liburannya. Diperhatikannya judul buku yang terhampar di sana. Dona mengambil beberapa buku, membaca resumenya, lalu meletakkannya kembali. Dia tidak tahu buku apa yang ingin dibelinya. Sepertinya minatnya membeli buku menguap begitu saja. Pikirannya kembali kepada pasangan paruh baya yang tadi dijumpainya. Mereka sungguh romantis, bahkan di usia senja mereka masih saling memperhatikan. Dona mengambil sebuah novel. Dibacanya judul novel itu, “Waterfall.” Pada cover novel itu terdapat gambar sesosok laki-laki dan perempuan yang berdiri membelakanginya, memandang air terjun yang mengalir dengan indahnya. Tiba-tiba saja wajah orang itu melintas dalam benak Dona. Dona memandang cover novel itu lekat-lekat seakan berusaha menelusurinya, mencoba menemukan wajah yang baru saja melintas dalam benaknya.

Dona mengeluarkan HP nya dari kantong celanya, melihat barangkali ada SMS atau panggilan tak terjawab. Tidak ada. Layar HP nya masih bersih dari notifikasi apa pun. Kenapa tak ada SMS darinya, tanya Dona kepada dirinya sendiri. Dia membuka kontaknya, menelusuri satu demi satu hingga berhenti pada nama Doni. Ya, dialah pemilik wajah yang baru saja melitas di benak Dona. Apakah aku harus mulai dahulu?

Dona meletakkan novel itu ke tampat asalnya. Kini dia berjalan menuju kafe yang berada di seberang counter, di sisi lain toko buku itu. Dona memesan juice jeruk dan sepotong kue black forest. Sepi rasanya. Tak biasanya Dona bepergian sendiri. Biasanya dia selalu meminta Doni menemaninya. Dona memandang keluar melewati curtain wall kaca, memandang langit biru. Dia memang sengaja memilih duduk di dekat curtain wall itu sehingga bisa menikmati pemandangan di luar.

Dona memutar ingatannya mundur beberapa hari yang lalu, saat dia bertengakr dengan Doni. Saat itu Doni terlambat menjemputnya ke pesta ulang tahun Maya. Sudah hampir satu jam Dona menunggu, hingga akhirnya Doni muncul di teras dengan motor gedenya. Dona bertambah kesal saat melihat kostum yang dikenakan Doni, kaus oblong dipadu dengan celana jeans dekil dan jaket kulit lengkap dengan sepatu kets. Kontras sekali dengan Dona yang mengenakan gaun dan higheels. Karena tak memiliki waktu lagi untuk berdebat maka Dona segera menyambar helm yang diserahkan Doni. Alhasil hari itu mereka datang terlambat, bahkan pesta sudah hampir selesai saat mereka tiba di sana. Betapa malunya Dona. Bukan hanya datang terlambat, bahkan pasangannya muncul dengan pakaian seadanya.  Apalagi Maya adalah sahabat dekat mereka. Maya sebenarnya tidak mempermasalahkan sikap Doni, karena dia sudah mengenal watak sahabatnya itu. Lagipula kondisi jalanan kota Jakarta yang rawan dengan kemacetan memang tak dapat diprediksi. Namun tidak demikian halnya dengan Dona yang tak bisa memaklumi ulah Doni. Malam itu Dona marah besar, bahkan dia tak berbicara sepatah kata pun saat Doni mengantarkannya pulang.

“Maaf Don, aku lupa. Tadi aku jalan dengan Yuda, waktu kamu telpon. Begitu kamu telpon aku segera meluncur kemari,” jelas Doni. Tapi pintu maaf Dona sudah terkunci rapat. Semua permintaan maaf Doni tak mampu mengetuk pintu hati Dona. Bahkan Dona membanting pintu rumahnya begitu dia tiba di rumah, tak memberikan kesempatan kepada Doni untuk masuk ataupun mengucapkan selamat malam.

Kurasa sikapku keterlaluan, pikir Dona sambil menghisap juice jeruknya. Sepertinya Doni benar-benar marah. Tapi memang sudah sewajarnya aku marah. Bukan sekali dua kali Doni melupakan janjinya dengan Dona. Doni memang pelupa dan sangat tidak tepat waktu. Sering Dona harus menunggu Doni saat mereka jalan bersama. Selain itu sikapnya yang cuek dan terkesan seadanya sering membuat Dona malu saat mereka jalan bersama. Doni kurang memperhatikan style pakaiannya. Buat apa beli baju baru kalau yang lama masih bisa dipakai, alasan Doni saat Dona mendesaknya untuk membeli beberapa potong baju sewaktu mereka jalan di mall. Baju itu yang penting nyaman dipakai, soal merk itu nomor dua, bantah Doni kala itu. Dona tak mampu mengubah pendirian Doni. Meskipun terkesan santai, tapi Doni memiliki watak yang keras, apalagi menyangkut prinsip hidup.

Dona menyendok kue black forest yang terhampar di hadapannya, kemudian memasukkan potongan kue itu ke mulutnya. Kini setelah tiga hari tak bertemu Doni, atau pun mendengar kabar darinya, Dona marasa ada sesuatu yang kurang. Tadi pagi dia sempat meminta Ana, Riko, Evan, Sinta, bahkan Dika untuk menemaninya keluar hari itu, tapi mereka telah siap dengan alibinya masing-masing untuk menolak permintaan Dona. Sempat terpikir oleh Dona untuk mengajak Maya, tapi Dona tak mau menjadi sasaran interogasi Maya. Maya itu seperti memiliki kemampuan membaca pikiran orang, dan jika dia tahu peta ulang tahunnya menjadi biang kerok persengketaan Dona dan Doni pasti Maya merasa tak enak.

Selama tiga hari ini Dona sama sekali tak berkomunikasi dengan Doni. Karena sedang liburan semester, mereka pun juga tidak bertemu di kampus. Apakah ini berarti kami putus, kembali Dona bertanya. Tidak, bahkan mereka tidak pernah mengikrarkan diri untuk menjadi sepasang kekasih. Dona tak ingat bagaimana awalnya mereka mulai dekat. Memang kedekatan mereka layaknya sepasang kekasih, tapi tak pernah sekalipun Doni meminta Dona untuk menjadi kekasihnya. Dona kembali menyendok potongan kue black forestnya. Kembali dia memutar ingatannya mundur jauh ke belakang. Selama ini memang mereka tidak pernah mengucapkan kata ‘jadian’. Kedekatan mereka berjalan dengan sendirinya. Awalnya Dona sering berkumpul dan jalan dengan teman-teman kampusnya, termasuk Doni. Hingga satu per satu teman-temannya mulai menarik diri karena lebih memilih menghabiskan waktu dengan pacar mereka, menyisakan Dona dan Doni, sepasang jomblowan dan jomblowati.

Dona memasukkan potongan kue yang berada di sendok itu ke dalam mulutnya. Doni tak pernah menolak saat aku memintanya menemaninya membeli barang, mengantarnya ke tempat-tempat yang ingin didatanginya, seperti pesta ulang tahun Maya misalnya, atau sekedar keluar makan bersama, pikir Dona. Memang beberapa kali Doni sempat lupa, tapi dia selalu meminta maaf. Dan memang sudah menjadi kebiasaan Dona untuk selalu mengingatkan Doni, jika hari itu mereka memiliki acara. Hanya saja hari itu Dona lupa mengingatkan Doni untuk menghadiri ulang tahun Maya.

Acara melamun Dona terhenti saat sepasang muda-mudi menempati meja di seberangnya. Dona memperhatikan mereka. Sang pemuda berdandan ala boy band korea. Dona sungguh tak menyukai laki-laki yang bergaya lebai seperti itu. Untung saja Doni tidak seperti itu, dia cenderung berpenampilan wajar, terlalu wajar malah, hingga tak nampak keren. Dona memperhatikan makanan yang dipesan pasangan itu. Mereka memesan beberapa macam kue, nasi goreng, juice dan kopi. Jika aku memesan makanan seperti itu di tempat seperti ini, pasti Doni tak akan berhenti mengomel. Pemborosan, untuk apa membeli makanan seperti itu di kafe semahal ini, Dona bisa membayangkan ucapan Doni. Doni suka mengajaknya makan di warung-warung di pinggir jalan. Tak perlu mahal, yang penting bersih, kata Doni. Meskipun mereka makan di warung pinggir jalan, tapi Doni termasuk selektif memilih tempat makan yang bersih. Seperti itulah Doni. Dia tidak memandang orang dari status sosialnya. Sikap Doni yang cenderung santai, sederhana dan seadanya itulah yang membuat Dona betah menghabiskan waktunya bersama pemuda itu.

Tapi sudah tiga hari ini sama sekali tak ada kabar dari Doni. Biasanya jika mereka bertengkar Doni akan segera meminta maaf, mengiriminya berpuluh-puluh SMS, mencoba menelponnya berkali-kali. Perhatian Doni itulah yang membuat Dona merasa spesial. Meskipun tidak seluruhnya Doni bersalah dalam setiap pertengkaran mereka, tapi Doni lah yang berinisiatif meminta maaf dan memperbaiki hubungan mereka.

Apakah Doni benar-benar tak ingin berteman dekat lagi denganku, pikir Dona. Memang sewajarnya status mereka adalah teman dekat karena Doni sama sekali tak pernah mengajak Dona jadian. Dona mulai meraih HP nya yang tergeletak di meja, mencoba menghubungi HP Doni. Tapi Doni tidak menjawab panggilannya, nomor itu sedang tidak bisa dihubungi. Apakah Doni benar-benar marah? Dona pun mengetik SMS permintaan maaf untuk Doni sembari menanyakan kabar pemuda itu. Tak ada balasan. Biasanya Doni cepat membalas SMS Dona. Memang kadang jika sedang sibuk Doni agak lama membalas SMSnya. Tapi hari ini mereka masih libur, maka sewajarnya Doni tidak memiliki kegiatan yang menyita waktunya. Sudah hampir setengah jam Doni tak membalas SMS Dona. Dona memandang HP yang tergeletak di samping piring kue yang telah kosong itu. Kembali Dona mencoba menghubungi Doni, namun hasilnya sama saja. Doni tidak menjawab panggilannya. Sepertinya Doni benar-benar marah.

Dona berjalan mondar-mandir di ruang tengah. Hari sudah beranjak senja. Berkali-kali Dona mengirim SMS permintaan maaf, dan mencoba menghubungi Doni, tapi tak ada tanggapan. Dona juga sudah mencoba menelpon rumah Doni, tapi hasilnya sama saja. Tak ada yang mengangkat telepon.  Sepertinya Doni benar-benar tak menghiraukannya. Dona merasa kesal tapi dia juga khawatir. Seperti inikah perasaan Doni tiap kali dia menunggu Dona memaafkannya saat mereka tengah bertengkar? Rasanya sungguh tak nyaman. Dona merasa bersalah karena sering membuat Doni merasakan perasaan seperti ini. Dalam hati Dona mengakui kesabaran Doni menghadapi tingkahnya yang keras dan childish.

Apakah hubungan mereka benar-benar telah berakhir? Dona duduk lemas di sofa. Dia tidak ingin hubungannya dan Doni berakhir tragis seperti ini. Dona kembali mengingat pasangan paruh baya yang dijumpainya siang tadi. Menilik usia mereka, tentunya dalam perjalanan hidup mereka pasti banyak permasalahan yang dihadapi, tapi sepertinya semuanya itu tidak membuat mereka menyerah. Terbukti dalam usia senja mereka masih nampak seperti pasangan yang dimabuk asmara.

Tidak, Dona tak boleh menyerah, dia tak ingin kehilangan Doni. Dia tak rela jika harus kehilangan pemuda sebaik Doni. Kini Dona mulai bisa melihat sisi lain Doni, sisi positif Doni, Doni yang sabar menghadapi tingkah manjanya, Doni yang bersedia menjadi ojek pribadi Dona, sebab setahunya Doni tak pernah mengantar jemput gadis lain, meskipun Doni juga sering berkumpul dan jalan dengan teman-teman laki-lakinya, Doni yang selalu berusaha mempertahankan hubungan mereka, meskipun Dona tak yakin apakah Doni benar-benar menghendaki mereka menjadi sepasang kekasih karena Doni tidak pernah memintanya secara jelas untuk menjadi kekasih pemuda itu, tapi dari bahasa tubuh Doni, Dona yakin bahwa pemuda itu mencintainya. Dan jika melihat sikap Doni yang cuek, Dona yakin bahwa Doni merasa tidak perlu mengatakan hal itu kepada Dona. Apakah aku harus mengatakannya, pasti itulah yang akan dikatakan Doni jika Dona menanyakan bagaimana perasaan Doni kepadanya.

Namun kini Doni sepertinya benar-benar akan hilang dari hidupnya. Dona sungguh bodoh jika sampai dia melepaskan seorang Doni. Dona mulai menyadari bahwa Doni memiliki peranan yang sangat penting baginya, dan dia tidak siap jika harus kehilangan Doni. Dia tidak ingin kehilangan Doni. Kembali Dona mencoba menghubungi Doni, baik nomor HP nya maupun nomor rumahnya. Sama saja, tak ada yang mengangkat. Dona mulai berpikiran negatif, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Doni.

“Kamu kenapa Kak, kusut banget mukanya?” tegur Romi, adik Dona yang tiba-tiba saja sudah ada di sebelahnya.

“Mau tahu aja urusan orang,” jawab Dona ketus. Dia memandang adik semata wayangnya itu. Rapi sekali penampilan Romi. “Mau ke mana kamu?”

“Mau ke rumah Lala, mau ajak dia jalan. Cinta itu harus diperjuangkan. Motornya aku pakai ya Kak,” kata Romi penuh percaya diri. Romi memang tengah melakukan pendekatan kepada Lala. Dona mengakui kalau Lala adalah gadis yang cantik luar dalam. Dia mendukung jika adiknya berhubungan dengan gadis itu. Tiba-tiba Dona seakan tersadar. Benar kata Romi. Dona juga harus memperjuangkan cintanya kepada Doni.

“Rom, kakak minta tolong ya. Please. Anterin kakak ke rumah Doni  sekarang. Nanti kakak kasih tahu jalannya,”

“Yeee, kenapa nggak pergi sendiri?”

“Kan motornya kamu bawa. Kakak harus ke sana sekarang Rom!” pinta Dona dengan wajah memelas. Melihat tingkah kakaknya Romi hanya mengangkat bahu, “Cepetan ganti baju sana!”

“Thanks ya Rom, kamu memang adikku yang baik!” teriak Dona sambil berlari menuju ke kamarnya. Romi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah kakaknya itu. Dia tahu pasti kakaknya sedang bermasalah dengan Doni. Tapi baru kali ini dia melihat kakaknya begitu bersemangat, bahkan sampai berniat ke rumah Doni segala. Biasanya kakaknya hanya uring-uringan saja, dan kembali cerah saat Doni menelpon meminta maaf, atau saat Doni muncul di depan pintu rumah mereka. Sepertinya Kakak mulai sadar, gumam Romi sambil tersenyum.

Sepanjang perjalanan Dona bingung memikirkan kata-kata yang akan dikeluarkannya nanti saat menghadapi Doni. Tapi apakah kebingungannya itu tepat dan benar. Tidakkah dia harus lebih bingung memikirkan jika Doni tidak menerima kedatangannya. Bagaimana jika Doni membanting pintu rumahnya, seperti perlakuan Dona hari itu? Kembali Dona mengecek HP nya. Tak ada tanda-tanda Doni membalas SMSnya, padahal sebelum berangkat Dona telah mengirimkan SMS pemberitahuan kepada Doni bahwa dia tengah melaju ke rumah pemuda itu dan meminta Doni menunggu kedatangannya. Tapi sama seperti SMS-SMS sebelumnya tak ada jawaban dari Doni. Apakah itu berarti Doni menyetujui kedatangannya? Ataukah terjadi sesuatu dengan Doni, seperti pikiran negatifnya. Tidak, Dona tidak ingin terjadi sesuatu dengan Doni. Dalam hati dia berdoa agar Doni baik-baik saja dan Doni bersedia menerima kedatangannya.

Kini mereka semakin mendekati rumah Doni. Dona bisa melihat rumah putih bergaya modern itu. Lampu di teras rumah itu menyala.

“Thanks Rom,” kata Dona saat Romi menurunkannya di depan pintu pagar rumah Doni. Romi mengangguk lalu memutar motornya, menuju ke mana seharusnya dia pergi. Sebenarnya Dona ingin meminta Romi menemaninya sebentar lagi. Bagaimana jika Doni benar-benar tidak ingin bertemu dengannya? Tapi Dona tak boleh egois. Romi memiliki acaranya sendiri.

Dona menarik nafas panjang. Dia masih bingung apa yang harus dikatakannya kepada Doni. Dona mulai berusaha menyusun kata-kata permintaan maaf. Dia tak peduli jika Doni tidak memaafkannya Dona akan terus berusaha supaya Doni bersedia memaafkannya. Dilihatnya motor gede Doni berdiri di samping teras. Kembali Dona menarik nafas. Tepat saat dia ingin memencet bel, dilihatnya pintu depan rumah itu terbuka. Seketika itu kata-kata yang tadi disiapkannya menguap begitu saja saat melihat sosok yang sangat dirindukannya itu. Hanya satu kalimat yang muncul di benak Dona, “Aku masih sangat mencintainya…”

mbah migren

Pekerja kebun anggur

Ketika malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu. Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi merekapun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik  matahari. Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku memberikannya kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? (Mat 20:8-15)

Pada awalnya aku setuju dengan para pekerja itu, tidak adil jika mereka mendapatkan upah yang sama padahal jam kerja mereka lebih banyak. Akan tetapi aku mendapatkan pemahaman lain, chek my cerpen : Pekerja di kandang ayam.

Poin-poin yang mengubah perspektifku adalah:

  1. Sudah ditekankan di awal bahwa upah pekerjaan itu adalah satu dinar sehari, bukan satu dinar satu jam atau seperduapuluh empat dinar selama satu jam. Jika memang sejak awal tidak terjadi kesepakatan maka para pekerja itu tidak perlu mengerjakannya. Dan waktu berlangsungnya pekerjaan itu adalah satu hari, meskipun ada hitungan jam nya juga, tetapi faktor pembagi yang digunakan adalah hari dan bukan jam.
  2. Seperti yang kutulis dalam cerpenku, bisa saja tuan itu merekrut pekerja lain karena pekerjaan itu terlalu banyak sehingga para pekerja yang mulai bekerja sejak pagi tidak akan sanggup menyelesaikannya. Bukankah pada akhirnya sama saja jika pekerjaan itu tidak selesai dalam sehari maka harus dilanjutkan keesokan harinya dan tuan itu tetap saja membayar satu dinar lagi untuk keesokan harinya. Tidak dijelaskan pukul berapa pekerjaan itu selesai, tetapi menurut asumsiku pekerjaan itu selesai tepat pada waktu berakhirnya hari itu, karena pada siang hari pekerjaan itu belum selesai dan demikian juga pada sore harinya. Lagipula jika suatu pekerjaan dikerjakan bersama-sama hasilnya akan jauh berkali-kali lipat dibandingkan apa yang dihasilkan jika orang dalam jumlah yang sama bekerja sendiri-sendiri (bukan opiniku, sudah ada buktinya). Karena itulah muncul kata-kata ‘karena aku murah hati’, murah hati di sini bukan murah hati hanya kepada mereka yang bekerja dengan jam kerja lebih sedikit tetapi juga kepada mereka yang bekerja dalam jam kerja yang banyak. Tak ada pilih kasih. Kemurahan itu ditujukan kepada semua orang.
  3. Perasaan tidak adil itu muncul karena manusia merasa iri terhadap sesamanya, dapat dilihat di sini poinnya adalah memandang kepada ‘keakuan’, berpusat pada diri sendiri, sehingga mulai membanding-bandingkan. Jika sudah menyangkut ego dan ‘keakuan’ maka efeknya pasti tidak baik. Iri hati timbul karena ‘aku’ merasa dirugikan oleh orang lain, padahal sebenarnya tidak. ‘Aku’ tidak rugi apa pun karena menerima jumlah yang sesuai dengan kesepakatan. Hak ku tidak diambil oleh orang lain. Hanya saja ‘aku’ tidak senang karena orang lain menerima jumlah yang sama pula. Justru ‘aku’ lah yang ingin mengambil hak orang lain. Itulah egoisme manusia.

Barangkali sekian dulu penjabaranku, semoga bisa dimengerti, maaf jika aku tak pandai merangkai kata yang mudah dipahami dan dicerna. Masih harus banyak belajar untuk menguraikan kerumitan pikiran dalam kata-kata yang sederhana.