War room movie comment

3cvuu-lj

Few months ago, I know it was very long time but I found no time to write so I’m writing now, I watched a very good movie, I thought. Its title was War Room. It was about a wife that had difficult time with her husband. With the old woman’s help, she started to pray for her family. And you know, her family started to change. Her daughter started to pray for her parents, and finally her husband changed to, after he got fired from his company. As, the story passed, her husband had a struggle with his sin. He had stolen his company goods and at that time, he didn’t know what should he do. Gave back the stolen goods would brought him to be prosecuted. Finally he gave back the goods that he stole and amazingly, instead of prosecuting him, his boss asked why did he do it.

That’s the synopsis of the movie. When I watched it, I thought that everything happened in the rest of the movie started by a simple act. It was a prayer from the wife, of course after the old woman, her client urged her, almost forced her, to start praying for herself and her family. Instead of blaming her husband, she should correct herself first, came to God and asked forgiveness. Then she should put everything, her problems, her husband, her daughter in God’s hand. The first point that I got was each of us had to start from ourselves. If we wanted a transformation, we should transform first. It was impossible if we wanted our surrounding changed but we did nothing. The second one, it was not easy to overpower ourselves, our ego, our pride and let God took control. But it was a must. If we confessed Him as God, it meant we had to let Him worked as God. Trusted Him and He would brought everything for our sake. You knew, He could do everything, but it was ourselves that didn’t let Him be our God. We pushed Him from our life and didn’t give Him any chance to make our life beautiful.

The third one, I was really amazed with the husband act. He was repent and ready took a risk for paying his sin. It needed courage to confess our fault and got willingness to take responsibility, no matter how much its cost. In the movie, the husband was ready to be jailed for his deeds. It was not easy, man. Then it was told than he got grace since his boss decided not to prosecute him, but his boss came and asked why did he do it. I myself truly believed that God would not keep silent. When we started to do something right, He would help us too. But, it was us that first had to take an action.

Another part that I liked was when their daughter got a competition. Her team didn’t get the first winner. I really appreciated it. In this life, we would not always get what we want. But, how would we react when it happened, I meant when something we hoped was not happened. Ok, maybe, not maybe but it must be hard for us. We did have choices. We could sank in our sadness or we could chose to give thanks no matter what happened and be happy.

And, the last one, the movie was started by the old woman, the wife client commitment to help others. If the old woman kept silent and did not asked about the wife spiritual life and her family relationship, maybe their marriage would still in trouble, or they could be divorce. You knew, take attention to other was important. The simple act was praying them. But if we had capability to help them why we didn’t do it? I want to close this writing with statement: Every small act, even it’s just a pray can bring a great impact, so don’t stop praying. If you never pray, you are not yet late to start it.

 

Lelaki tua di counter HP…

Aku melirik jam tangan yang melingkar di pegelangan tangan kiriku, jam 11 lewat 15 menit. Andi terlambat lagi, padahal katanya dia berniat membicarakan proyek yang penting. Gelas minuman yang ada di depanku sudah hampir habis. Aku mulai mempertimbangkan untuk memesan segelas minuman lagi saat mataku menangkap pemandangan yang cukup menarik.

Seorang laki-laki tua mengendarai sepeda kuno berwarna hitam berhenti beberapa meter dari kafe tempat aku menunggu Andi. Sepeda hitam itulah yang menarik perhatianku. Pit kebo, istilah untuk menyebut sepeda model itu. Ayahku pernah memiliki sepeda seperti itu, tapi sekarang sudah tidak lagi. Ayah menjual sepeda itu dan menggantinya dengan sepeda motor lima tahun lalu, padahal bagiku sepeda itu keren. Dulu Ayah sering mengantarku ke sekolah dengan sepeda itu.

Ah, untuk apa aku mengenang masa kecilku di desa. Kembali aku mencari sosok lelaki tua itu. Rupanya lelaki itu mengunjungi sebuah counter HP. Dari tempatku berada, aku bisa melihat ekspresi wajah lelaki itu dengan sangat jelas. Wajahnya yang berkerut menampakkan ekspresi cemas ketika berbicara dengan penjaga counter HP itu.  Beberapa menit mereka bercakap-cakap, dan ekspresi cemas yang menyelimuti wajah lelaki tua itu kina telah hilang, berganti dengan wajah sedih.

Dengan senyum yang dipaksakan dia melambaikan tangan rentanya kepada penjaga counter itu lalu melangkah keluar, menghampiri sepeda kunonya. Aku masih bisa menyaksikan kesedihan di wajahnya saat dia mengayuhkan sepedanya lewat di depan kafe tempatku duduk. Dalam hati aku bertanya, ada apa gerangan dengan lelaki tua itu? Apakah dia memiliki masalah dengan HP nya, ataukah dia berniat membeli HP baru tapi tidak memiliki cukup uang?

Tiba-tiba HP ku berbunyi. Sebuah pesan singkat kuterima dari Andi. Sial, dia membatalkan pertemuan ini. Istrinya sakit, dia harus mengantarkannya ke rumah sakit, dan baru ingat kalau dia sudah membuat janji denganku. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, segera aku menghampiri kasir dan membayar minumanku, untung saja aku belum memesan segelas lagi.

Melangkah keluar dari kafe, rasa penasaran masih menghantuiku. Wajah sedih lelaki tua itu masih terngiang di ingatanku. Tak apa sedikit kepo, batinku. Beberapa menit kemudian aku sudah berdiri di counter HP yang didatangi lelaki tua tadi.

“Mas Jon, bapak tua yang barusan datang kemari, ada masalah apa ya dengan HP nya?” tanyaku sok akrab. Aku memang sering membeli pulsa di tempat ini, dan sudah cukup mengenal pemiliknya.

“Oh bapak yang tadi,” sahut Mas Joni, “kasihan Mas bapak itu…” katanya semakin membuatku penasaran.

“Lho memangnya kenapa?”

“Tadi bapak itu minta tolong saya ngecek HP nya, apa HP nya ada yang rusak. Apa bisa dibuat telpon? Terus Mas, saya lihat HP nya baik-baik saja. Ya saya bilang HP nya nggak ada masalah. Terus bapak itu malah jadi sedih gimana gitu…”

“Loh kok aneh, HP nya nggak rusak kok malah sedih?” selaku tak sabar.

“Sebentar to Mas, saya kan belum selesai cerita. Kata bapak itu kalau HP nya nggak rusak, kok anak-anaknya nggak pernah telpon dia. Kasihan kan?”

Mendengar penuturan Mas Joni, seketika aku teringat pada Ayah, bukan pada pit kebonya, tapi kepada ayahku. Sudah hampir seminggu ini aku tidak menelponnya, padahal tadi aku menghabiskan waktu hampir setengah jam menunggu Andi tanpa melakukan apa pun. Segera kuraih HP ku dan kucari nomor telepon Ayah…

IMG_20150505_193347

Spesial person

Suamiku adalah orang yang paling menakjubkan. Ada beberapa hal yang membuatku kagum dan tak henti-hentinya terpesona. Pertama, dia selalumengerti aku dan bisa membuatku merasa nyaman dalam keadaan apa pun. Pernah suatu ketika aku mengalami hari yang buruk. Presentasi proyek baruku mendapatkan lebih banyak respon negatif daripada respon positif. Bosku pun memintaku untuk mempertimbangkan ulang poin-poin yang menjadi bahan kritikan.

“Oh, kau sudah pulang!” sambut suamiku. Aku hanya tersenyum masam. Aku tidak ingin membicarakan pekerjaanku hari ini. Suasana hatiku sedang buruk.

“Kau tahu, tadi editorku menelpon. Katanya naskahku masih mentah, perlu banyak revisi. Well, kami sempat bersilat lidah berjam-jam di telepon. Hampir saja aku datang ke kantornya dan menghadiahkan tumpukan kertas ini di wajahnya,” katanya sambil mengangkat setumpuk naskah yang tergeletak di atas meja kerjanya. “Tapi kemudian aku berubah pikiran. Dia editorku, kami telah bekerja sama dalam beberapa tahun terakhir, dan tentunya dia mengingkan yang terbaik bagiku.” Dia tersenyum simpul saat kembali meletakkan tumpukan naskah itu di tempatnya semula, lalu beranjak ke dapur dan muncul beberapa saat kemudian dengan dua gelas air di tangannya, “Mau minum?” tanyanya ringan.

Alih-alih menanyakan bagaimana presentasiku, dia malah menceritakan pekerjaannya. Aku tak tahu apakah dia mengatakan hal yang sebenarnya atau hanya untuk menghiburku, tapi kuakui kata-katanya itu menyejukkan hatiku. Semalam aku memberitahunya bahwa hari ini aku akan mempresentasikan sebuah proyek baru. Tentu saja aku ingin tampil sebaik mungkin. Bahkan kemarin dia sempat memeriksa slide presentasiku dan membenarkan beberapa kata yang kurang enak dibaca, itulah salah satu keuntunganku memiliki seorang suami yang bekerja sebagai penulis dan tentunya dia memiliki hubungan yang baik dengan huruf dan kata.

Aku mengambil gelas itu dari tangannya. “Kurasa editormu memang kejam, padahal kau sudah bersusah payah. Tapi seperti katamu, dia menginginkan yang terbaik. Dan itu berarti kau harus berusaha lebih keras lagi.” Kata-kata itu lebih kutujukan pada diriku sendiri. Aku tersenyum lalu meneguk air dalam gelas itu. Kurasa dia sengaja menghiburku dengan caranya. Tak perlu ada kata-kata yang tersurat. Aku sudah mengerti maksudnya.

Hal yang kedua, suamiku selalu berusaha membuatku tampak sempurna. Pernah suatu ketika Ria, anak kami bertanya, “Mama, kenapa Mama tidak pernah memasak?” Memang aku tidak pernah memasak. Aku memiliki kesibukan sendiri sebagai wanita karier, dan untuk urusan memasak, suamiku yang mengerjakannya. Pekerjaannya sebagai penulis freelance memberikannya celah untuk mengatur jam kerjanya secara fleksibel. Dan dia tidak pernah komplain dengan hal itu. Tapi tidak berarti aku tidak melakukan pekerjaan rumah tangga sama sekali. Absolutely not. Aku mengerti tugas dan tanggung jawabku sebagai seorang wanita dan ibu.

“Mama hanya boleh memasak untuk Papa,” sahut suamiku yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapanku. “Dan Papa akan memasak untuk Mama dan Ria. Sekarang  Ria bantu Papa masak yuk!” Suamiku menggandeng anak kami ke dapur sambil bercanda. Aku teringat pertama kali aku memasak untuknya. Saat itu kami sedang berlibur di villa seorang teman kuliah. Para pria sedang menyiapkan peralatan untuk acara api unggun malam nanti dan para wanita, termasuk aku, bertugas menyiapkan makanan. Saat acara api unggun kami makan bersama. Kulihat beberapa teman yang memakan ayam goreng masakanku mengernyitkan dahi. Beberapa di antara mereka bahkan tidak lagi menyentuh masakanku itu. Kurasa aku tahu apa penyebabnya. Aku memang tidak pandai memasak.

“Hmmm, aku suka sekali ayam goreng. Boleh kuhabiskan semua?” tanya pacarku, saat itu dia belum menjadi suamiku. Teman-teman memandanginya dengan tatapan lega bercampur iba. Tapi pacarku itu tetap saja memakan ayam goreng masakanku dengan lahap dan dia benar-benar menghabiskannya. Itulah yang membuatku semakin menyukai pacarku itu, dan bersedia menaikkan levelnya menjadi suamiku.

Yang ketiga, suamiku selalu bisa membuatku merasa spesial. Suatu hari Ria menemukan sebuah kotak saat kami sedang membersihkan gudang. “Mama, siapa anak laki-laki dalam foto ini?” tanyanya sambil menunjukkan sebuah foto yang sudah nampak memudar.

“Di mana kau menemukannya?” tanyaku.

“Di dalam kotak ini. Di dalamnya juga ada beberapa barang dan kurasa itu semua milik Mama.” Dia menunjukkan sebuah kotak tua yang memang pernah menjadi tempatku menyimpan barang-barang berharga.

“Oh, anak itu dalah cinta pertama Mama. Saat bermain di taman, Mama menemukan foto itu.” Tanpa berpikir panjang aku mengatakan apa adanya.

“Wah, ternyata kau yang menemukannya.” Sahut suamiku yang sudah berdiri di samping Ria sambil melirik foto di tangannya. “Aku kehilangan foto itu saat usiaku sembilan tahun.” Dia tersenyum renyah lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.

Itulah beberapa hal yang kukagumi dari suamiku. Dia selalu membuatku merasa spesial, karena dia adalah orang yang spesial. 

Gambar

Surat cinta dari ibu

Dear my son,

Anakku, apa kabarmu? Sekarang usiamu 13 tahun bukan? Hari ini Ibu ingin membawa kue tar dan menyanyikan lagu ‘Selamat ulang tahun’. Ibu benar-benar merindukanmu. Bagaimana keadaanmu? Dalam ingatan Ibu, kau adalah bayi kecil mungil yang selalu menangis dalam dekapan Ibu. Ibu sangat penasaran bagaimana dirimu sekarang? Apakah wajahmu seperti wajah ayahmu, atau seperti wajah Ibu? Apakah kau memiliki mata seindah mata ayahmu? Apakah kau memiliki mulut lebar seperti Ibu? Ibu sangat ingin melihat wajahmu…

Anakku, apakah kau marah kepada Ibu? Tolong maafkan Ibu karena Ibu tidak bisa menemani hari-harimu. Kau tahu, Ibu ingin membimbingmu belajar berjalan saat kau, mendengar kau mengucapkan kata pertamamu, Ibu ingin kata pertama yang kau ucapkan adalah ‘ibu’, dan ibu sangat ingin mendengarnya, meskipun kini Ibu yakin kata pertamamu adalah ‘ayah’. Tak apa, meskipun Ibu tak akan pernah mendengarmu memanggilku ‘ibu’ tapi Ibu sudah cekup senang bisa membawamu ke dunia ini. Ibu ingin menemanimu pada hari pertamamu masuk sekolah, menghadiri pertemuan orang tua murid, datang ke sekolah saat perayaan Hari Ibu bersama ibu-ibu lainnya dan mendukung anaknya saat pentas seni.

Ibu ingin menemanimu tidur di malam hari. Maafkan Ibu karena tidak ada di sampingmu saat kau terbangun karena mimpi buruk. Maafkan Ibu karena Ibu tak datang menenangkanmu saat kau menangis ketakutan di malam hari yang gelap. Maafkan karena setiap malam Ibu tidak pernah menyelinap ke dalam kamarmu diam-diam ketika kau sedang terlelap dan Ibu tidak bisa mengecup keningmu, membetulkan letak selimutmu dan mematikan lampu kamarmu jika kau lupa mematikannya.

Maafkan Ibu karena tidak bisa membangunkanmu tiap pagi, memandikanmu, menyiapkanmu sarapan dan bekal untuk kau bawa ke sekolah. Maafkan Ibu karena tidak menunggumu saat kau pulang sekolah, menemanimu makan siang, dan membantumu mengerjakan pekerjaan rumah. Jujur Ibu sangat ingin melakukan itu semua. Ibu ingin mendengarmu bercerita tentang hari-harimu di sekolah, tentang teman-temanmu, tentang gurumu. Ibu ingin memarahimu saat kau mendapatkan nilai jelak di sekolah, dan ibu juga ingin memujimu saat kau mendapatkan nilai bagus. Ibu ingin membanggakanmu saat bercerita bersama teman-teman Ibu, bahwa anak laki-laki Ibu luar biasa.

Maafkan Ibu karena tak merawatmu saat kau sakit, mengingatkanmu agar selalu minum obat, menemanimu ke dokter dan menenangkanmu saat kau menangis karena takut terhadap jarum suntik. Apakah kau takut terhadap jarum suntuk? Semoga tidak. Ibu tidak ingin anak laki-laki ibu menjadi seorang penakut.

Anakku, Ibu ingin mendengarmu bercerita tentang gadis yang menarik perhatianmu. Percayalah Ibu sangat ingin kau mengenalkan gadis yang berhasil menaklukkan hatimu kepada Ibu saat kau dewasa nanti. Ibu ingin melihatmu berjalan bersama gadis itu menuju ke pelaminan. Ibu ingin melihatmu membawa anakmu, mengenalkannya sebagai cucu Ibu. Ibu ingin bisa menggendong anakmu seperti saat Ibu pernah membuaimu dalam gendongan Ibu. Ibu ingin bermain bersama cucu-cucu Ibu. Ah anakku seandainya semua itu bisa terwujud, tentunya Ibu akan merasa sangat bahagia. Tidak, sekarang pun Ibu sudah cukup merasa bahagia, memandangi wajah kecilmu yang terlelap.

Anakku, bagaimana hubunganmu dengan ayahmu? Semoga kalian tidak sering bertengkar. Ibu tahu ayahmu adalah orang yang keras, dan Ibu menebak pasti kalian sering bertengkar. Anakku, tolong dengarkan nasehat Ibu, turutilah kata-kata ayahmu. Meskipun ayahmu bersikap keras, tapi sangat mencintaimu. Ibu ingin berbagi sedikit rahasia tentang ayahmu. Kau tahu, ketika kau masih dalam kandungan Ibu, setiap malam ayahmu mengelus perut Ibu dan menyanyikan lagu untukmu. Ini rahasia kita, Ok.

Anakku, tolong Ibu untuk menjaga dan merawat ayahmu. Ayahmu adalah seorang pekerja keras, tolong bantu Ibu untuk selalu mengingatkannya makan. Ayahmu sering melupakan jam makannya.  Ibu khawatir bagaimana keadaan ayahmu tanpa ada Ibu di sisinya. Tapi Ibu bisa merasa tenang karena ada kau di sisinya.

Anakku, masih banyak hal yang Ibu ingin katakan kepadamu, tapi Ibu tak tahu lagi bagaimana menuliskannya. Satu hal yang perlu kau tahu, Ibu mencintaimu. Ibu menyayangimu dan ayahmu. Maafkan Ibu sekali lagi karena tak bisa menemani kalian. Percayalah jika Ibu memiliki banyak waktu, Ibu ingin menghabiskannya bersama kalian. Anakku terima kasih karena telah memberikan Ibu anugerah yang terindah bagi setiap wanita, yaitu menjadi seorang Ibu. Ibu menyayangimu. Jaga dirimu dan ayahmu. Dan ibu akan selalu menjagamu dari tempat Ibu berada…

Segelas susu…

Aku berjalan memasuki ruang tengah rumahku dengan langkah gontai, tubuhku terasa kurang sehat, entah ada apa denganku, mendadak kepalaku pusing dan tubuhku terasa lemas. Kurasa aku sakit, apakah karena kemarin aku nekat menerobos hujan dengan sepeda motorku? Entahlah yang pasti saat ini aku merasa sangat tidak nyaman. Kulemparkan tas kerjaku entah ke mana bertepatan dengan kuhempaskan tubuhku ke atas sofa. Aku ingin berbaring sejenak, menutup mata barang semenit dua menit.

“Mama sudah pulang!” Kudengar suara riang puteri kecilku yang berusia empat tahun menyambut kedatanganku seperti biasanya, tapi kali ini dia tak mendapat peluk cium dariku, aku sedang sakit dan kuharap dia menyadarinya. Aku hanya memandangnya dengan tatapan lemah sambil memberikan senyum manis sebagai pengganti peluk cium untuknya.

“Mama sakit?” Tanyanya begitu melihatku tetap tergolek tak berdaya di sofa. Aku hanya mengangguk lemah, lidahku terasa kelu, tak sanggup aku berkata-kata. Perlahan dia mendekatiku, lalu naik ke sofa tepat di sebelahku, lalu berdiri di atas sofa untuk bisa mencapai dahiku. Kurasakan tangan mungilnya menyentuh dahiku sedang sebelah tangannya yang lain diletakkan di atas dahinya, rupanya dia sedang mengukur suhu tubuhku, meniru caraku mengukur suhu tubuhnya ketika dia sedang demam.

“Wah, Mama panas sekali!” Serunya sambil melepaskan tangannya dari dahiku. Dia nampak tertegun sebentar, seperti sedang memikirkan sesuatu. Melihat tingkahnya aku hanya tertawa dalam hati. Aku ingin meraihnya dengan tangan kiriku tapi dia bergerak lebih cepat, dan sebelum aku sempat menggerakkan tanganku dia sudah meloncat turun dari sofa, aku menahan nafas sejenak, hampir saja dia terjatuh, tapi dia mampu menjaga keseimbangannya dan berlari meninggalkanku entah ke mana. Kubiarkan saja dia pergi, barangkali dia kembali bermain. Lagipula aku terlalu lemah untuk bangkit dan meninggalkan sofa yang nyaman ini.

Aku hampir menutup mataku saat kudengar suara cadelnya memanggilku, “Mama bangun, ayo minum ini dulu!” Kulihat dia membawa segelas susu dalam gelas plastik, disodorkannya susu itu kepadaku. Ternyata dia meniruku yang selalu membuatkan segelas susu hangat saat dia sakit. Aku menatap sesaat susu yang diberikannya, masih ada bubuk susu yang menggumpal, tidak sepenuhnya larut. Rupanya dia membuatkanku susu dengan air dingin, karena dia tahu dia tidak boleh menyentuh air panas. Aku memang melarangnya bermain-main dengan air panas, itu bisa melukainya.

Tanpa berpikir panjang segera kuambil gelas palstik itu dari tangannya lalu kehabiskan susu itu dalam sekali teguk. Jangan tanya seperti apa rasanya, kurasa semua orang tahu bagaimana rasanya susu dingin yang tidak larut seluruhnya.

“Mama, bagaimana rasanya? Enak ya, enak ya? Fany buat sendiri khusus untuk Mama. Mama cepat sembuh ya…” Suara riang puteri kecilku terdengar di telingaku. Dan ketika aku meletakkan gelas itu di atas meja kulihat mata bulatnya menatapku menunggu jawaban yang keluar dari mulutku.

***

Sebuah sharing dari Ibu Mercy Matakupan saat beliau berkotbah di gerejaku. Sejujurnya aku lupa kotbahnya berbicara tentang apa, namun sharing beliau membuatku berpikir. Ibu Mercy menutup sharingnya dengan melontarkan sebuah pertanyaan, bagaimana dia harus menjawab pertanyaan puterinya itu, apakah menjawab dengan jujur meskipun hal itu akan melukai hati puterinya ataukah berbohong untuk menghargai tindakan yang dilakukan puterinya. Dan aku sendiri tak tahu harus memilih jawaban yang mana…