Jangan lupa bahagia…

Kalimat itu sering kudengar dari teman-temanku. Memang sih, kalimat itu sering kali ditujukan untukku. Itu merupakan ungkapan agar aku lebih meluangkan waktu untuk menikmati hal-hal yang menyenangkan, nggak cuma kerja, kerja, kerja, belajar, belajar, belajar… hahaha…

Mungkin banyak kita jumpai orang-orang yang seperti itu. Banyak orang yang bekerja keras dengan tujuan untuk memperoleh masa depan yang dianggap lebih baik, sehingga sering lupa untuk menikmati nikmat yang disediakan hari ini. Padahal, di masa depan nanti pun orang itu juga tidak akan menikmati apa pun. Dia akan semakin keras lagi berusaha, meskipun sebenarnya dia sudah memiliki apa yang diinginkannya. Bukankah demikian natur manusia, selalu merasa tidak puas. Pada akhirnya orang itu toh tidak menikmati apa pun.

Saya punya sebuah ilustrasi yang cukup menggelitik. Seorang pemuda bekerja keras untuk membeli sebuah mobil. Karena tidak memiliki mobil, maka dia menggunakan angkutan umum untuk bepergian, yaitu bus atau angkot, sembari berhemat dan terus menabung. Sekian tahun kemudian, akhirnya pemuda itu berhasil membeli sebuah mobil baru yang bermerk dengan uang hasil kerja keras dan hidup hemat nya. Meskipun demian, jaman telah berubah. Sekarang hampir semua orang memiliki mobil. Jalanan pun semakin padat dan kemacetan terjadi di mana-mana. Ditambah lagi menjamurnya angkutan umum online, membuat semua orang memilih menggunakan angkutan umum online, termasuk pemuda itu. Akhirnya mobil baru pemuda itu tidak pernah digunakan dan hanya tersimpan rapi di dalam gudang. Cukup ironis bukan? Orang bersusah-susah mengejar hal yang diinginkannya, tetapi setelah hal itu tercapai, situasi telah berubah, dan hal itu tidak lagi menjadi keinginannya.

Itu adalah contoh orang yang berorientasi ke masa depan, berusaha suapa masa depannya nanti bahagia, tetapi dia lupa bahwa dia hidup di masa sekarang. Masa depan, tak ada orang tahu. Namun, saya percaya bahwa hari esok pasti ada berkat nya sendiri. Berkat hari ini cukup untuk hari ini, dan berkat esok hari cukup untuk esok hari. Tak perlu bingung, takut dan khawatir menghadapi hari esok. Selama kita bijak dalam mengelola hidup ini, segala nya akan baik-baik saja.

So, menutup tulisan ini, saya ingin kembali mengingatkan agar jangan lupa bahagia…

Advertisements

Petingkah ?

Jika hal itu penting dan berharga bagimu, maka tak mungkin kau tidak akan memperjuangkannya, kecuali kau menganggap hal itu tidak penting…

Banyak hal yang menurut kita penting, tetapi pada kenyatannya tidak. Kita tidak mau berjuang dan berusaha untuk mendapatkannya. Jika kau menyukai seseorang, maka kau tentu akan berusaha keras untuk mendapatkannya dan membuatnya bahagia bukan? Ketika orang yang kau sukai sedang mengalami kesulitan, bukankah kau akan dengan senang hati membantunya, meskipun mungkin dirimu juga sedang manghadapi suatu masalah? Kau bahkan rela membelah gunung dan menyeberangi samudera demi menemuinya – well, ini pengalaman temanku sih, dia bersedia menyeberangi kota karena kekasihnya tinggal di sisi lain dari kota ini. Bukankah dengan demikian kau memprioritaskannya di atas segalanya?

Lalu bagaimana dengan hal-hal lain? Misalnya, skripsi untuk seorang mahasiswa. Jika memang skripsi itu sangat penting, maka tentu mahasiswa itu akan berjuang keras untuk dapat segera menyelesaikan skripsinya dan tidak mengulur-ngulur waktu kelulusannya. Contoh lain adalah keluarga, orang tua/ anak misalnya. Seorang orang tua yang mengasihi anaknya tentu tidak akan tinggal diam ketika anaknya sakit. Ketika anaknya sakit, maka mereka akan berusaha untuk membuatnya sembuh, menjaga nya sepanjang malam, bahkan mungkin tidak akan dapat makan dan tidur dengan nyenyak – ini juga pengalaman temanku saat anaknya sakit. Ketika anak kesulitan mengerjakan tugas sekolah, orang tua nya tentu takkan tinggal diam. Mereka akan berusaha membantu si anak, mengajari untuk menyelesaikan tugas sekolahnya, meskipun mungkin pelajaran jaman now sangat berbeda dengan pelajaran jaman old hehe. Tak peduli selelah apa pun orang tua selepas bekerja seharian, mereka pasti akan meluangkan waktu untuk meladeni anaknya.

Kurasa masih banyak contoh-contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari yang menunjukkan prioritas kita dalam hidup ini. My point is apakah hal yang menurut kita penting itu benar-benar penting? Apakah kita bersedia mencurahkan segenap perhatian kita kepada hal yang ‘penting’ itu, atau justru sebenarnya perilaku kita menunjukkan bahwa ada hal lain yang lebih ‘penting’ daripada hal-hal yang telah masuk dalam kategori ‘penting’ kita? Selamat berefleksi…

Bukan pemeran utama..

Dalam setiap film pasti ada pemeran utama dan ada pemeran pembantu. Pemeran utama tentu mendapat porsi, perhatian dan scene yang lebih besar dari pemeran pembantu. Tak jarang hal ini membuat pemeran pembantu bahkan kadang dianggap kurang penting dari pemeran utama. Apakah benar demikian? Tentu saja tidak. Tanpa adanya pemeran pembantu, film itu tidak akan berhasil. Bayangkan saja jika dalam sebuah film hanya dibintangi oleh satu atau dua orang pemeran utama, tak ada pemeran lainnya. Sebut saja film Indonesia yang semua orang pasti tahu, AADC yang kemudian dibuat sekuelnya tahun ini, AADC 2. Meskipun fokus cerita film itu terpusat pada kisah Cinta dan Rangga, tetapi kehadiran orang-orang di sekitar mereka membuat film itu lebih menarik. Apa jadinya jika tidak ada pemeran pembantu di film itu, misalnya tidak ada geng Cinta yang heboh dan turut memegang alur cerita ketika mereka mengatur pertemuan Cinta dan Rangga? Atau bagaimana jika tidak ada karyawan perempuan di kafe milik Rangga yang di akhir film sempat membuat Cinta salah paham? Betapa membosankannya film itu bukan?

Melalui uraian di atas saya mencoba menekankan bahwa setiap orang memiliki peranan masing-masing dalam sebuah kisah. Mungkin saja peran si A lebih kecil dari si B, tapi kehadiran si A tetap saja mempengaruhi seluruh jalan cerita, bahkan juga mempengaruhi perilaku si B, si C dan orang-orang lainnya.

Anda mungkin bertanya apa hubungannya dengan kita? Pernahkan anda berpikir bahwa dalam sebuah kisah, kita tidak ditakdirkan menjadi pemeran utama, tetapi hanya sebagai pemeran pembantu?

Banyak orang selalu berpikir tentang dirinya, menjadikan dirinya sebagai yang utama, pusat dari segala sesuatu, atau dengan kata lain ingin menjadi yang utama, ingin diperhatikan dan mendapat porsi yang lebih besar daripada orang lain. Apakah hal itu salah? Tentu saja tidak. Yang salah adalah jika kita tidak tahu di mana posisi kita, lantas kita menuntut lebih dari apa yang menjadi peranan kita, atau kita mengabaikan tugas yang seharusnya kita kerjakan karena merasa hal itu tidak penting dan malah mengurusi tugas orang lain, yang notabene bukan bagian kita. Kadang, harus disadari bahwa tidak semua dari kita merupakan pemeran utama dalam sebuah scene. Misalnya, dalam pekerjaan di kantor, mungkin kita hanya karyawan biasa, kita bukan bos yang memiliki kedudukan dan peranan besar di kantor itu. Apakah dalam menjalankan tugas dan peranan kita sebagai karyawan, kita bekerja dengan sungguh-sungguh, atau justru hanya asal-asalan karena merasa peranan kita tidak penting? Kejadian lain misalnya, ketika rekan kerja kita diminta untuk menangani proyek baru yang dirasa sangat penting, sehingga semua perhatian di kantor itu tercurah kepada rekan kerja dan proyek yang dipegangnya itu, dan cenderung mengabaikan kita, apakah hal itu membuat kita iri, atau kita tetap bekerja dengan penuh semangat dan bersedia memberikan bantuan apabila teman kita itu meminta bantuan kita?

Mengakhiri tulisan ini, saya ingin menutup dengan sebuah statement.

Dunia ini adalah panggung sandiwara, lantas bagaimana jika kita bukan pemeran utama dalam sandiwara itu?

Travelling dan hidup…

stranded_main

Seminggu ini aku berada di Jakarta karena urusan pekerjaan, lebih tepat nya terjebak di Jakarta karena berangkat ke Jakarta mendadak dan tidak mendapat tiket pulang ke Solo dengan harga yang wajar. Jadi ya OK lah sementara ini stay dulu di Jakarta. Selama beberapa hari berada di sini tentunya aku pergi mengunjungi tempat-tempat wisata yang memang hitz di Jakarta. Nggak Cuma mall aja lho ya yang bisa dikunjungi haha…

Anyway, ketika berada dalam busway menuju ke salah satu tempat wisata itu, sebuah pikiran melintas di kepalaku. Dia berkata nikmati perjalannya. Travelling is not only about the destination, but also about the journey too. Memang sih berada di Jakarta yang macet abizzz, bahkan ketika libur lebaran yang katanya Jakarta sepi menurut aku sih masih tetep macet, hoax itu yang bilang kalau lebaran Jakarta sepi hahaha…. Ok kembali ke topik kemacetan di Jakarta, semua orang mah pasti nggak ada yang menikmati kemacetan. Berbeda tentunya kalau perjalannya menyenangkan, pasti semua orang akan menyukainya. Tetapi kalau jalannya macet, lama, jauh pasti bête abis. Mending di rumah saja, nggak usah pergi, perginya berjam-jam di sana nya cuma beberapa jam, terus nanti pulangnya masih harus berjuang melawan kemacetan lagi, begitu sih pemikiranku.

Nah pemikiran seperti itu yang membuat aku lupa menikmati travelling nya. Karena fokus ku hanya kepada tujuan, yaitu tempat wisata nya, tetapi menganggap perjalanan ke sana sebagai hal yang terpisah dan bukan bagian dari travelling maka aku menganggap perjalan sebagai sesuatu yang menjemukan. Padahal it’s totally wrong. Menikmati perjalanan termasuk bagian dari menikmati suatu petualangan. Tentunya dalam petualangan itu ada hal yang berat da nada yang ringan, ada yang menyenangkan dan ada yang tidak menyenangkan. Tetapi itu adalah satu paket yang harus diterima. Aku nggak akan merasa senang pada akhirnya kalau aku nggak menerima perjalanan itu sebagai bagian dari travelling ku. Ketika aku bersungut-sungut, yang ada adalah aku kehilangan kegembiraan yang seharusnya kudapatkan dari travelling keliling Jakarta itu.

Well, hal yang sama juga dapat diterapkan ketika menghadapi hidup ini. Tentu dalam hidup ini ada banyak tujuan-tujuan yang telah ditetapkan, baik itu tujuan jangka pendek maupun tujuan jangka panjang. Sebagai anak sekolah misalnya, tentu semua orang pernah mengalami menjadi anak sekolah bukan, tujuan mereka adalah mencapai nilai yang bagus, naik kelas/ lulus dengan prestasi yang baik. Jika kegembiraan diukur dengan pencapaian tersebut maka yang ada adalah hidup mereka sangat mengenaskan. Coba saja dihitung sebelum ujian belajarnya berapa lama, ujiannya hanya beberapa jam dan pembagian rapor hanya sekali tiap semester. Kalau mereka gembira hanya pada saat akhir semester karena nilainya bagus, toh hanya bertahan beberapa jam atau beberapa hari saja. Bandingkan dengan kesusahan yang dialami sepanjang semester harus belajar dll. Namun, bukankah tidak demikan? Kegembiraan itu termasuk satu paket dengan belajar nya. Ketika kita bisa menguasai sesuatu dan melihat belajar sebagai sesuatu yang menyenangkan maka perjalanan satu semester itu tidak merupakan sebuah beban tetapi menjadi menyenangkan.

Well, that’s my point. Nikmatilah hidup seperti sebuah perjalanan. Dalam proses nya apsti ada hal yang nggak enak tapi toh ada hal yang menyenangkan juga. Mungkin kegagalan dan masalah memang bukan tujuan kita, tetapi itu adalah bagian dari perjalanan dan proses yang mau nggak mau harus dinikmati untuk mencapai tujuan kesuksesan. Selamat menikmati hidup dengan paket yang sempurna, including the failure dishes…

Ikan Cod dan Catfish

Bertahun-tahun yang lalu, menjala ikan Cod di daerah timur laut menjadi sebuah bisnis komersial yang sangat besar. Industri perikanan mengakui bahwa ada sebuah pasar besar bagi ikan Cod di seluruh Amerika, tetapi mereka mempunyai masalah besar didalam pendistribusiannya. Awalnya mereka hanya membekukan ikan itu, seperti yang mereka lakukan pada semua produk mereka yang lain, dan mengapalkannya ke seluruh negeri.

Tetapi untuk alasan-alasan tertentu, setelah ikan Cod itu dibekukan, ikan tersebut kehilangan rasa khasnya. Jadi para pemilik memutuskan untuk mengapalkan ikan-ikan dalam tangki-tangki besar yang diisi dengan air laut segar. Mereka mengira bahwa pastilah itu akan menyelesaikan masalah tersebut dan menjaga kesegaran ikan.Tetapi mereka kecewa, karena proses ini hanya membuat masalah menjadi semakin buruk. Karena ikan itu tidak aktif dalam tangki, sehingga menjadi lunak dan seperti bubur, dan sekali lagi ikan-ikan itu kehilangan rasa khasnya.

Suatu hari, seseorang memutuskan untuk menaruh beberapa Catfish (ikan kucing) dalam tangki dengan ikan Cod. Catfish adalah musuh alami ikan Cod, jadi sementara tangki itu berjalan ke seluruh negeri, ikan Cod tersebut harus tetap waspada dan aktif serta berjaga-jaga terhadap Catfish tersebut. Luarbiasanya, saat tangki tersebut tiba ditujuan, ikan Cod itu masih sesegar dan selezat saat mereka masih berada di daerah timur laut.

Seperti Catfish tersebut, mungkin kesukaran Anda ditaruh ke atas jalan kehidupan Anda untuk suatu maksud. Mungkin kesukaran itu ditaruh disana untuk menantang Anda, menajamkan Anda, membuat Anda tetap segar, menjaga Anda tetap hidup, aktif, serta bertumbuh.

Memang, kadang-kadang rasanya seolah-olah Anda disertai seekor ikan hiu putih besar dalam tangki tersebut, bukannya seekor Catfish, tetapi kesukaran yang sedang Anda hadapi bisa saja merupakan sesuatu yang Tuhan sedang pakai untuk mendorong dan menantang Anda supaya menjadi yang terbaik. Pencobaan itu adalah ujian bagi iman, karakter, dan kesabaran Anda.

Jangan menyerah. Jangan berhenti. Jangan merengek dan mengeluh. Sebaliknya berdirilah teguh dan lakukanlah perjuangan iman yang baik. Tuhan Yesus memberkati.

Copied from a friend… Not originally my writing… ^^

No mengeluh

stop-komplan-300x300

Alasan mengapa kamu tidak boleh mengeluh dalam hidup:

– Hidup itu anugerah dari Tuhan, ketika kita masih bisa bernafas sekarang, maka itu perlu disyukuri =)

– Mungkin masalahmu berat, tapi loe nggak tahu kan masalah hidup orang lain juga berat apalagi masalah orang yang notabene lebih tua dari loe, sudah pasti lebih berat

– Dengan kamu mengeluh jangan harap masalahmu selesai, justru yang ada masalahmu semakin bertambah banyak

– Mengeluh menjadikanmu malas, pesimis, rendah diri, dan mengeluh adalah cara caper yang nggak elegan… =)

– Sering berkeluh kesah akan menjadikanmu stagnan, nggak ada pergerakan nggak ada perubahan, padahal hidup itu perubahan

– Satu lagi… mengeluh akan membuatmu jauh dari jodoh =D (nah loe pada takut kan wkwk…)

NB: bukan tulisan gue… copas dari temen…