Pokemon Go dan lifestyle

Akhir-akhir ini Pokemon Go menjadi game yang fenomenal. Berbagai berita tentang game itu menghiasi Koran hingga berita di TV, mulai dari berita positif sampai juga berita negatif. Pernah juga dalam perjalanan pulang dari kantor aku melirik pengemudi mobil yang berada di sebelahku saat kami berhenti di lampu merah. Ternyata tangannya tak hanya sibuk berada di atas roda kemudi mobilnya, tetapi juga bergerak lincah di layar HP, memainkan Pokemon Go. Sungguh mengerikan sih menurutku kalau sudah nyetir sambil bermain.

Sebuah obrolan singkat dengan teman-teman saat kami kongkow bersama kemarin sedikit banyak membicarakan tentang fenomena Pokemon Go. Apa sih yang dicari dari permainan itu hingga banyak orang yang memainkannya sampai lupa diri? Mencari pokemon sampai ke tempat-tempat yang tidak seharusnya didatangi? Kami berpendapat bahwa prestise lah yang menjadi faktor utama orang memainkan itu. Kekinian, isitilah gaulnya anak muda jaman sekarang. Kalau nggak main itu, rasanya kalah keren. Padahal apa yang didapat dari bermain itu? Nggak ada kan? Mainan itu juga nggak biki tambah kaya. Kecuali kalau ada orang yang mau jualan pokemon, trus ada lagi yang beli nanti. Tapi ya sekali lagi buat apa ngeluarin uang jutaan hanya demi game yang not long last. Toh tanpa game begituan orang juga masih hidup.

Yah, mau nggak mau hal itu sudah menjadi lifestyle masyarakat urban saat ini. Bukan porsiku untuk ngejudge orang yang main, tapi kalau aku pribadi sih, males aja ngikutin hal-hal begituan. Hidupku aku sendiri yang nentuin. Terserah orang mau bilang nggak kekinian dll. Selama aku enjoy dan nggak merugikan orang lain so what? Banyak hal yang lebih penting daripada sekedar main Pokemon Go, misalnya kerja, cari uang, bersosialisasi, nambah teman dll lah.

Singkat kata mainin game itu atau nggak pun itu pilihan. Namun, pilihlah pilihan yang tepat bagi masa depan kita. jangan sampai menyesal aja di kemudian hari…

Advertisements

17 Agustus 2015

Hingar bingar 17 Agustus telah berlalu, tetapi 17 Agustus kali ini menyisakan kisah yang sedikit berbeda. Tersebutlah pembawa bendera yang menjadi buah bibir karena tidak umum dan tidak pernah seseorang seperti dia menjadi seorang pembawa bendera sebelumnya. Orang yang berasal dari kaum minoritas menjadi pembawa bendera. Well, mengenai kata minoritas, saya jadi teringat statemen dosen saya, minoritas dan mayoritas seharusnya hanya menjadi sebuah kata yang dipakai untuk menyebutkan data, tidak lebih dan tidak kurang.

Kembali kepada topik 17 Agustus, beberapa hari lalu saya mendengarkan siaran radio yang intinya membicarakan bagaimana seseorang itu bergaul dalam lingkungannya. Sang penyiar berkata bahwa tidak baik jika orang itu hidup dalam lingkungan yang homogen. Lingkungan tersebut tidak akan membuat dia belajar apa-apa. Sebaliknya jika orang itu bergaul dalam lingkungan yang heterogen, dia akan tumbuh dan berkembang menjadi orang yang berpikiran terbuka, dan menghargai perbedaan sebagai sesuatu yang unik.

For me, sempat agak terkena culture shock juga ketika bergaul dengan teman-teman yang berbeda latar belakang selepas sekolah, kuliah dan bekerja. Memiliki teman yang berasal dari daerah yang berbeda dengan kultur dan kepercayaan yang berbeda sedikit banyak membuat saya berpikir bahwa berbeda itu tidak selalu buruk. Orang yang berbeda tidak berarti dia jahat, hanya saja kita tidak sama. That’s all.

Justru dengan bergaul dengan mereka yang berbeda membuat saya semakin mengagumi kemaha-kreativan Sang Pencipta. Bagaimana satu orang mampu menciptakan ribuan bahkan jutaan keanekaragaman dan semua itu sama baiknya. Sebagai seorang arsitek, untuk saya tidak mundah membuat alternatif desain, apalagi desain yang berbeda sama sekali dan sama baiknya. Bahkan untuk membuat 3 atau 5 alternatif, it’s not easy.

Well, dari momen tersebut saya belajar untuk menghargai keanekaragaman yang masih ada di bangsa ini, Indonesia yang kaya dan beraneka ragam dari Sabang sampai Merauke, bangsa yang besar dan sangat potensial untuk bertumbuh jika semua rakyatnya bersedia bekerja bersama membangun bangsa ini dengan memberdayakan segala potensi, sumber daya yang telah dikaruniakan.

Indonesia

Indonesia kah kita ketika setiap hari duduk di gerai fast food menikmati lezatnya junk food

Tak pernah mengenal apa itu tiwul, klepon, oncom, dan para sahabatnya

Indonesia kah kita ketika lebih fasih melontarkan kalimat dalam bahasa Inggris

Namun merasa kesulitan ketika mendengar orang tua berbicara bahasa daerah

Indonesia kah kita saat lihai memainkan piano, organ, drum, biola, saxophone

Tetapi belum pernah sekalipun menyentuh gamelan, kenong, gong, kulintang

Indonesia kah kita saat dengan bangga menenteng tas impor saat melenggang di mall

Sementara banyak barang made in Indonesia melancong ke benua lain

Siapakah kita, siapakah orang Indonesia

Apakah karena kita lahir di Indonesia menjadikan kita orang Indonesia

Masihkah kita menjadi orang Indonesia ketika menutup telinga terhadap keluhan saudara di Papua

Layakkah kita disebut orang Indonesia saat mengurangi angka nol di lembaran pajak

Pantaskah kita mengaku orang Indonesia saat mempergunakan kekuasaan untuk menindas tetangga

Jika dengan lantang kita menyebut diri orang Indonesia

Apakah yang telah kita lakukan bagi Indonesia

Jangan-jangan kita bukannya berkarya mengisi kemerdekaan

Tetapi malah menginjak-injak semangat kemerdekaan, persatuan, nasionalisme

Yang diperjuangkan dengan darah dan keringat 70 tahun lalu

Hanya untuk satu harapan, kemerdekaan bagi semua rakyat Indonesia

Bukan kelompok 17, suku 8, atau geng 45

Dirgahayu Indonesia

Indonesia dalam penjajahan BBM

211032_antrian-bbm-di-spbu-menjelang-kenaikan-harga_663_382

Mungkin kalimat saya tersebut terdengar lebai, alay, atau terlalu puitis malah, tapi sesungguhnya saya hanya mengutip pernyataan Bapak Dahlan Iskan dalam kuliah beliau di kampus saya. Mencermati kondisi kelangkaan BBM akhir-akhir ini, dan sesungguhnya tidak hanya akhir-akhir ini tapi menurut saya kelangkaan BBM telah menjadi masalah klasik yang terus menerus terulang, mau tak mau saya menyetujui pernyataan tersebut. Kelangkaan BBM yang terus terjadi, saya tidak tahu bagaimana persisnya hal itu bisa terjadi. Ada yang mengatakan konsumsi BBM bersubsidi terlalu tinggi, ada juga yang mengatakan harga minyak internasional melambung tinggi sehingga membuat subsidi membengkak, sampai ada pula yang mengatakan sebagai ulah mafia migas.

Konsumsi BBM bersubsidi terlalu tinggi, ya saya menyetujuinya. Dalam jangka waktu selama sepuluh tahun ini, perkembangan pengguna kendaraan bermotor naik luar biasa banyaknya. Jumlah motor dan mobil berkembang pesat. Saya masih ingat ketika saya sekolah dulu, setiap hari bus kota dipenuhi oleh para penumpang, sehingga tak jarang saya harus menunggu dua tiga bus lagi untuk dapat naik bus. Tapi kini, orang-orang yang dulunya ada di dalam bus itu telah berpindah turun ke jalan dengan menaiki bebek roda dua maupun kendaraan roda empat. Hal ini tentunya tidak dapat lepas dari perkembangan industri otomotif, apalagi teman-teman saya yang bekerja sebagai marketing baik motor maupun mobil mengaku dikejar target penjualan. Masalahnya seiring dengan perkembangan kendaraan bermotor, apakah jumlah BBM dan luas jalan ikut meningkat, tentu jawabannya tidak bukan. Saya rasa pelaku industri otomotif tidak memperhitungkan hal tersebut, yang penting target penjualan mereka tercukupi dan kebutuhan perut mereka terpenuhi. Apakah salah? Saya tidak bisa mengatakan hal itu sebagai suatu kesalahan karena mereka juga berjuang untuk hidupnya, meskipun menimbulkan masalah sosial baru. Lalu, bagaimana cara mengatasinya? Apakah lantas menutup industri otomotif? Mungkin bisa saja hal itu dilakukan sebagai salah satu opsi untuk menghemat konsumsi BBM, tapi hal itu tidak menyelesaikan masalah jumlah BBM yang memang semakin lama semakin menyusut. Lagipula, apakah kita semua siap dengan kehidupan tanpa transportasi?

Terkait dengankonsumsi BBM pula, ketika saya tinggal di Jakarta, kondisi jalan yang macet tentunya ikut andil dalam membakar bensin kita. Kemacetan mengakibatkan mobil-mobil berhenti namun mesin tetap menyala sehingga pembakaran terus terjadi. Meskipun belum ada survey yang jelas, saya yakin bahwa peringkat konsumsi BBM paling tinggi ditempati oleh Jakarta. Sama halnya ketika saya tinggal di Bali, kemacetan yang terjadi juga berperan dalam memakan bensin kita. Hal yang uni di Bali adalah masyarakat local menyediakan persewaan motor dan mobil, dan tentu saja para penyewanya mayoritas adalah turis-turis asing. Oleh karena itu saya menyimpulkan bahwa BBM di Indonesia turut menjadi konsumsi orang asing.

Kenaikan harga minyak internasional tentunya berpengaruh pada besarnya subsidi BBM. Ketika biaya yang dikeluarkan untuk subsidi BBM tetap maka kuota BBM akan menjadi lebih sedikit daripada sebelumnya. Saya pernah menengar pembicaraan tukang ojek dan orang-orang yang dapat dikategorikan sebagai masyarakat lapisan bawah. Mereka berpendapat bahwa lebih baik harga BBM dinaikkan saja daripada mereka harus antri seperti itu. Mendengarkan pendapat mereka, saya rasa semua orang sudah tahu bahwa memang kenyataannya kenaikan harga BBM tidak dapat terhindarkan, tapi mereka memilih untuk tidak mau tahu, mereka hanya ingin agar kebutuhan hidup mereka terpenuhi. Kembali lagi apakah hal ini salah? Tidak juga, karena saya yakin anda dan saya juga demikian. Menolak kenyataan. Parahnya lagi, kondisi tersebut ditumpangi oleh kepentingan politis yang mengatas namakan kesejahteraan rakyat tapi sesungguhnya hanya mengutamakan kepentingan segelintir elit politik tertentu.

Berkaca dari pengalaman selama ini, pada kenyataannya memang kita harus mengurangi konsumsi BBM, tapi masalahnya apakah kita bersedia. Telah banyak wacana untuk mengubah konsumsi BBM ke BBG, tapi banyak juga kendala untuk mewujudkan hal itu. Sebenarnya masalahnya bukan kepada kebersediaan kita atau tidak, tapi mau tidak mau toh suatu ketika BBM akan habis karena BBM bukanlah sumber daya alam terbarukan. Masalahnya mau sampai kapan kita menutup mata terhadap kenyataan tersebut. Kelangkaan BBM, konsumsi bahan bakar, masalah kendaraan bermotor hanyalah percikan-percikan yang timbul atas suatu masalah pokok, yaitu keterbatasan BBM sebagai SDA tidak terbarukan. Satu-satunya jawaban dari masalah ini memang mau tak mau harus dicari bahan bakar lain untuk menggantikan BBM.

Pertanyaan selanjutnya, apakah kita semua bersedia memerdekakan diri dari jeratan konsumsi BBM???

Repost

Merepost status seorang teman di halaman fb nya… Well, I absolutely agree with him and I think it’s good to share his opinion..

 

yang dinilai dari seorang manusia itu adalah amal dan perbuatannya bukan agamanya apa.

yang berhak untuk masuk surga adalah keimanan dan keyakin kepada sang pencipta, bukan orang2 yang fanatik tapi sebenarnya tak pernah mengerti iman dan keyakinannya sendiri

Agama itu adalah sebuah jalan, sebuah kunci, sebuah pedoman hidup menuju yang MAHA ESA, bukan sebuah jalan buat provokasi, bukan sebuah kunci adu domba dan bukan sebuah pedoman untuk saling melecehkan.

silahkan kalau mau beradu otak, strategi, progam untuk memuluskan jalan politik anda tapi ingatlah JANGAN PERNAH GUNAKAN AGAMA SEBAGI SARANA BUAT KEPENTINGAN POLITIK ANDA.

Tidak ada satupun AGAMA yang mengajarkan untuk MENCELA dan MENJELEKAN AGAMA YANG LAIN

 

copied from https://www.facebook.com/moneycastro?fref=ts

 

Sekadar menambahkan, saya prihatin dan kasihan dengan para guru PPKn / PMP yang repot-repot mengajar dari jaman dahulu jika output yang dihasilkan seperti sekarang ini. Sungguh menyedihkan…