Hai sahabat…

Hai sahabat, apa kabar?

Senang bisa melihatmu lagi setelah sekian lama kita tak bersua

Terakhir kali kita berjumpa di sosial media tahun lalu dan kau berjanji untuk hang out bersama teman-teman

Kau tahu, kau tak menepati janjimu, aku sangat marah kepadamu, kau tahu?

Kini kita memang berkumpul bersama teman-teman, untuk mengantar mu ke rumah masa depanmu

 

Hai sahabat, aku tak benar-benar marah padamu, kau tahu itu kan?

Bagaimana aku bisa marah ketika menatap wajahmu yang penuh kedamaian

Aku hanya berharap kau akan mengejekku, mengolok-olok ku seperti waktu kita SMA dulu

Aku merindukan bully an mu, pertarungan lidah kita yang tak pernah berakhir – itu karena kau tak mau mengakui kalau kau tak sanggup menandingi ku

 

Hai sahabat, aku hanya merasa sedih

Kau belum mengenalkanku pada belahan jiwamu, dan aku pun juga belum mengenalkan belahan jiwaku kepadamu sih

Di acara pernikahanku nanti, aku tak akan melihat kehadiranmu, hei aku juga tak akan pernah melihatmu menikah T.T

Kau juga belum mentraktirku atas kenaikan pangkatmu, padahal kau bilang setelah dipindahtugaskan ke kota kelahiran kita, kau akan mengadakan perayaan kecil-kecilan

Banyak hal yang kau katakan tapi kini semuanya itu menjadi tak penting lagi bagiku

 

Hai sahabat, apakah aku terlalu banyak bicara?

Mungkin kau akan menyuruhku diam karena kau bosan mendengar celotehku, hei kau bisa mendengarkanku bukan?

Aku hanya ingin mengatakan..

 

Selamat jalan, sahabat

Semoga kau bahagia di sana

Sabarlah menungguku di sana, ok?

Dan jangan mengharapkanku segera menyusulmu ^.^v

 

Teruntuk sahabatku yang telah mendahului kami… selamat beristirahat kawan…

 

 

 

 

 

Advertisements

4 years – 4 tahun

Suara detuk sepatu high heels Ratna beradu dengan lantai terdengar saat wanita cantik itu melangkah memasuki kafe. Denggan anggun dia melepas kacamata hitamnya dan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kafe, mencari sosok yang dikenalnya. Seulas senyum tipis menghiasi wajah wanita berambut pendek itu saat matanya menangkap seorang wanita berambut ikal dengan make up tebal menghiasi wajahnya melambaikan tangan. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Ratna bergegas menghampiri meja di mana wanita itu sedang duduk bersama seorang laki-laki.

“Maaf ya, aku telat…” kata Ratna begitu dia meletakkan pantatnya di samping wanita bermake up tebal yang melambaikan tangannya tadi. “Sudah lama kalian di sini?”

“Aku juga barusan kok Na,” sahut wanita yang duduk di sebelah Ratna. “Roy yang nongol duluan.” Wanita itu mengarahkan pandangannya ke arah laki-laki berambut cepak yang duduk di seberang mereka.

“Ya ya ya… sudah biasa aku nunggu kalian…” jawab Roy dengan nada sebal.

“Apa kabar Roy? Wah kamu nggak berubah ya, tetep sama seperti dulu…” Ratna menyapa laki-laki itu. Belum sempat Roy membuka mulutnya, wanita bermake up tebal itu sudah terlebih dulu menyabotase Ratna, “Ya ampun Na, kamu nggak berubah ya, masih cantik seperti dulu…” ujar wanita bermake up tebal itu kepada Ratna, “Gimana kabarmu? Kapan kamu kembali ke Indo? Kamu sudah resign? Terus sekarang kamu kerja apa?” tanpa henti dia mencerca Ratna dengan berbagai pertanyaan, seakan tidak mengacuhkan Roy yang duduk di depan mereka.

“Sabar kenapa sih Des…” sahut Roy menyela rentetan kalimat yang keluar dari mulut Desi, wanita berambut ikal dengan make up wajah tebal itu. “Biar Ratna pesan dulu.”

Ratna tersenyum melihat tingkah kedua sahabatnya itu. “Kalian bener-bener nggak berubah ya, masih sama seperti dulu. Kamu masih tetap cerewet Des, dan kamu Roy, masih tetap sering berantem sama Desi …”

“Sudah kamu pesen minum dulu sana, sekalian lunch aja? Kami sudah pesen kok, tinggal kamu yang belum…” sahut Roy sambil melambaikan tangannya, memanggil pramusaji.

“Dan masih suka ngatur orang lain…” timpal Desi yang disambut gelak tawa Ratna. Senang sekali rasanya dia berkumpul dengan sahabat lamanya. Mereka bertiga sudah bersahabat sejak SMP. Namun ketika SMA Ratna melanjutkan sekolahnya di luar kota dan berpisah dengan kedua sahabatnya itu. Demikian juga dengan saat kuliah, Ratna mengambil kuliah di Singapura, sedangkan kedua sahabatnya itu memilih kuliah di Indonesia. Bisa dibilang ini adalah pertemuan pertama mereka secara langsung.

“Apa kabarnya kamu sekarang? Ayo dong cerita ke mana saja kamu selama ini. Pasti asyik ya kuliah di Singapur, tinggal di sana. Kamu di Indo sampai kapan? Mau balik Singapur lagi? Eh lalu suamimu gimana kabarnya? Kamu kok berani sih Na merit muda. Aku saja masih pikir-pikir kalau diajak pacaran serius, yah masih sibuk menikmati masa muda…” serbu Desi dengan suara cemprengnya begitu pramusaji meninggalkan meja mereka setelah mencatat pesanan Ratna.

“Pelan-pelan tanya nya, satu-satu napa?” tegur Roy memotong ucapan Desi.

“Hahaha…” Ratna tergelak menyaksikan ulah kedua sahabatnya itu. “Minggu depan aku balik ke Singapur. Ya gimana ya… dijalani saja sih Des. Nggak tahu juga. Semuanya terjadi begitu saja. Kalian sendiri gimana? Kamu bikin kue ya Des sekarang? Lalu Roy kerja apa?”

“Iya bikin kue, aku titip ke kenalan-kenalan. Lumayan sih. Banyak pesanan juga,” jawab Desi. “Kalau Roy tuh sekarang sibuk pacaran sama temen kantornya. Sudah naik pangkat makin sibuk dia kerja nyambi pacaran…”

“Wow Roy, kamu sudah punya pacar?” tanya Ratna kagum. Dia tahu betul untuk urusan memilih pacar, Roy sangat selektif. Waktu sekolah dulu cukup banyak gadis yang mendekatinya, tapi Roy sama sekali tidak melayani mereka. Mau fokus belajar, alasannya waktu itu.

“Cuma temen aja,” jawab Roy santai. “Si Desi yang lebai…”

“Temen tapi sering dianter jemput….” sindir Desi. Celoteh mereka terhenti saat pramusaji kafe menghidangkan pesanan mereka.

“Makan dulu,” ajak Roy tidak mengacuhkan Desi. Laki-laki itu mulai menyantap nasi goreng pesanannya. Ratna dan Desi pun mulai menyibukkan diri dengan makanan mereka masing-masing.

“Kamu gimana Na, nggak bareng sama suami?” tanya Desi begitu Ratna meletakkan sendok dan garpunya.

“Ohhh… nggak kok. Sendiri saja,” jawab Ratna setelah meminum jus jeruk yang dipesannya. Dia menarik nafas panjang sebelum membuka mulutnya, “Aku sudah pisah kok…”

“Ha??? Kok bisa Na? Gimana ceritanya?” tanya Desi spontan. Wanita berambut ikal itu menghentikan urusannya dengan piring dan sendok-garpunya lalu menatap tajam Ratna, sementara Roy masih tetap tenang meneguk teh manisnya. Roy memang sudah pernah mendengar hal itu dari Ratna saat mereka berbincang via BBM beberapa saat lalu.

“Yah memang mungkin lebih baik begini. Kami sudah nggak cocok. Sekarang hubungan kami sebagai teman jauh lebih baik daripada saat kami menikah,” jawab Ratna diplomatis.

“Kalian sudah menikah empat tahun kan?” kali ini Roy yang membuka mulutnya. “Apa nggak bisa dipertahanin?”

“Iya. Aku aja sampe kaget denger kamu merit Na,” sahut Desi. “Lulus kuliah kamu langsung merit. Muda banget. Aku aja sampai sekarang belum rencana merit.”

“Ya mungkin dulu aku terlalu cepat mengambil keputusan. Suamiku sering berbuat kasar,” jawab Ratna. “Dia suka memukulku saat kami bertengkar. Dia posesif dan suka mengekangku. Bayangin aja, kalau keluar sama teman, misalnya nih seperti sekarang saat aku jalan sama kalian, dia sering menelpon menanyakan aku sedang apa, dengan siapa, di mana, bahkan dia selalu minta bukti. Kadang aku sampai minta tolong temenku ngomong sama dia, untuk membuktikan kalau aku bener-bener jalan sama mereka. Dan nggak cuma berhenti sampai di situ saja, dia juga selalu ingin tahu apa yang aku omongin. Dia sampai minta aku cerita apa yang aku obrolin. Parah banget kan? Aku sampai malu sama temenku,” curhat Ratna panjang lebar.

“Ya ampun Na, kok bisa sih suamimu seperti itu?” tanya Desi singkat. Kali ini dia tidak mampu melontarkan kalimat yang panjang.

“Memangnya waktu kalian pacaran kamu nggak tahu kalau dia seperti itu?” selidik Roy.

“Ya aku tahu sih dia temperamental. Tapi selama kami pacaran, dua tahun kami pacaran, dia sama sekali nggak pernah mukul aku. Setelah menikah baru aku tahu kalau dia seperti itu. Dia itu selain suka mukul juga males banget. Pernah aku sakit dia sama sekali nggak mau nganter aku ke dokter. Akhirnya aku sampai berangkat sendiri. Katanya dia capek pulang kerja…” Ratna bercerita sambil mengingat masa lalunya.

“Ya ampun Na, sedih banget ceritamu. Kenapa kamu nggak langsung pisah aja sih kalau tahu dia nya seperti itu?” Desi menatap Ratna sedih.

“Ya, awalnya aku berharap dia akan berubah. Dua tahun setelah menikah, aku cerita ke orangtuaku, dan mereka pernah marahin dia. Setelah itu dia nggak pernah mukul aku lagi, tapi setiap kali dia marah dia masih saja ngancam aku. Bukannya aku nggak ingin pisah, tapi dia nggak mau. Aku selalu bilang kalau hubungan kita seperti ini lebih baik kita pisah saja, tapi dia berjanji mau memperbaiki diri. Tapi ya sama sekali nggak ada perubahan. Sampai akhirnya tahun keempat dia sendiri yang minta pisah. Itu pun aku yang ngurus semuanya. Bahkan aku yang keluar uang. Dia sama sekali nggak mau keluar uang. Katanya uangku lebih banyak. Gajiku lebih besar daripada dia…”

“Hebat ya Rat, kamu bisa bertahan sampai empat tahun…” hanya itu yang bisa keluar dari mulut Roy.

“Ya mau gimana lagi? Aku harus kuat ngejalanin semuanya itu…” jawab Ratna sambil tersenyum.

“Ya ampun Na, kalau aku jadi kamu, aku sudah minta pisah langsung!” kata Desi tegas.

“Tapi kamu nggak ada pikiran gimana gitu, pisah dari suami, jadi janda?” tanya Roy lagi.

“Ya ada sih. Aku juga mikir gimana nanti kalau aku pisah. Jadi janda pasti aku akan dicap negatif. Tapi ya ini hidupku. Aku yang ngejalanin, bukan orang lain. Selama empat tahun hidup sama suamiku aku belajar banyak, hingga aku berani mutusin untuk pisah. Terserah orang mau ngomong apa, mereka nggak tahu apa yang aku jalanin. Mereka nggak tahu rasanya jadi aku.” Ratna meneguk jus jeruknya. “Yang penting aku bahagia dengan hidupku sekarang dan aku nggak ngerugiin orang lain.”

“Aku salut sama kamu Na,” sahut Desi.

“Terus langkah kamu ke depan gimana?” tanya Roy. “Kamu masih mau balik ke Singapur?”

“Nggak. Aku mau ke Eropa. Aku mau sekolah lagi dan kerja di sana. Aku mau berusaha mengejar mimpiku. Aku punya mimpi untuk bisa sukses. Aku pernah berlibur ke sana, waktu aku stress dengan pernikahanku, dan aku punya beberapa teman yang baik. Di sana orang dihargai sesuai dengan kemampuannya, dan aku ingin membuktikan diriku, kalau aku bisa sukses.”

“Wow, kamu hebat Rat. Semoga kamu bisa sukses ya. Aku cabut dulu ya, mau balik kantor,” pamit Roy setelah melihat jam tangannya.

“Oh ya sudah. Aku juga masih ada urusan kok,” jawab Ratna. “Semoga kita bisa ketemu lagi dan ngobrol-ngobrol di lain waktu.” Dengan langkah tegap Ratna berjalan meninggalkan kafe, berpisah dengan sahabat-sahabatnya. Ya, ini hidupnya dan dia merasa senang dengan apa yang dijalaninya hari ini, termasuk bercengkrama dengan kedua sahabatnya. Jalan di depannya masih panjang dan dia harus terus melanjutkan hidupnya, menebus waktu empat tahun yang telah dihabiskannya bersama suaminya dan yang telah memberikannya pelajaran untuk menjadi wanita yang kuat, dirinya sendiri. Karena masa depannya ada di tangannya, dan dia sendiri yang memilih jalan mana yang akan ditempuhnya.

Inspired from true story of my friend…

dont-judge-me-for-my-choices-when-you-dont-understand-my-reasons

Tukang Becak Tutup Lubang Jalan Raya di Malam Hari

Abdul Sukur tidak memiliki aktivitas berbeda dengan para pengayuh becak lainnya di Kota Pahlawan. Setiap hari, bersama rekan-rekan seprofesinya, ia biasa menunggu penumpang di depan pintu masuk ITC Gembong, Surabaya.

Tetapi, ada aktivitas lain yang kerap dilakukan pria yang kerap disapa Pak Dul ini. Aktivitas yang sangat jarang dilakukan hampir semua orang, menutup lubang menganga di jalanan Surabaya.

Momen ketika Sukur menutup lubang diabadikan oleh Himan Utomo dalam tulisan yang diunggah di akun facebook One Day One Juz. Himan sempat bertemu di suatu malam dengan Sukur, dan mengajak pria tersebut berbincang.

Waktu itu, tepatnya pukul 23.05 WIB, Himan melihat Sukur berhenti di depan ITC. Sukur kemudian turun dan menurunkan bongkahan batu dari becaknya. Batu-batu itu ditaruh di jalan yang berlubang.

Setelah meletakkan batu, Sukur memecah batu tersebut menggunakan palu besar. Ini agar batu dapat pecah sehingga bisa diratakan dan membuat permukaan jalan halus.

Sukur lalu duduk sebentar, setelah selesai melakukan aktivitasnya. Lalu ia mengambil topi dari kepalanya, dan mengipaskannya. “Alhamdulillah,” ujar Sukur.

Sukur hanyalah tukang becak biasa. Ia melakukan aktivitas menutup lubang tanpa mendapat bayaran dari siapapun. Semua dia lakukan dengan penuh keikhlasan.

“Ini sudah jadi hobi saya tiap malam. Setelah cari rejeki dengan menjadi tukang becak, malamnya saya selalu mencari bongkahan batu aspal, buat nutup jalan yang berlubang. Ya, hitung-hitung abdi saya sebagai warga kota Surabaya,” kata dia.

Jawaban itu bagi sebagian besar orang mungkin dianggap keanehan. Sukur pun memahami pandangan tersebut. Dia pun pernah ditertawakan rekan-rekannya.”

Saya sering diolok-olok sama teman-teman seprofesi tukang becak, ‘Wes Pak Dhe, gak onok sing mbayari kok yo dilakoni ae. Gak kiro direken lha karo wong-wong nduwuran pemerintah kota. Opo maneh Bu Risma. Istirahat ae, sampeyan wes tuek (Sudah Pak De, tidak ada yang membayar kok masih dikerjakan saja. Nggak bakal ada yang merespon lah sama orang-orang atasan Pemerintah Kota. Apa lagi sama Bu Risma. Istirahat saja, kamu sudah tua),” ungkapnya.

Tetapi, hal itu tidak membuat pria yang tinggal di Jalan Tambak Segaran Barat Gang 1 Nomor 27, Kota Surabaya ini berputus asa. Ia terus menutup lubang di jalan raya dengan harapan tidak ada orang yang mendapat musibah kecelakaan.

1432566709878[1]

Copied from sangpencerah.com

Personally saya kagum dengan Pak Dul tersebut dan saya berharap tindakan beliau akan dihargai, setidaknya oleh Ibu Risma. Semoga Ibu Risma berkesempatan mengetahui kisah ini.

#risma

Sepanjang jalan

Jam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit, dan aku masih berjuang berlari menuju ke kampus. Sial benar hari ini. Tadi pagi aku baru menyadari kalau ban motorku bocor dan sudah kempes total. Karena bingung dan tak tahu harus bagaimana akhirnya aku memutuskan naik kendaraan umum menuju ke kampus dan kutinggalkan motorku untuk beristirahat hari ini. Untuk menuju ke kampus aku harus berganti angkot sekali. Angkot yang lewat di depan kos ku berhenti di ujung gang sehingga aku harus berganti menaiki angkot yang membawaku dari ujung gang menuju ke gedung kampusku. Sudah lima belas menit aku menunggu, tapi angkot yang kutunggu tak juga datang. Kulirik beberapa tukang ojek yang mangkal di bawah pohon. Aku mulai berpikir untuk menggunakan jasa mereka, tapi di lain pihak aku malu kalau naik ojek ke kampus. Apa kata teman-temanku nanti? Kalau naik angkot aku masih bisa berhenti di warung yang berjarak beberapa meter dari kampus, kemudian berjalan kaki sampai ke kampus.  

Akhirnya kuputuskan untuk tak menunggu angkot lagi. Aku mulai berjalan, toh jaraknya tidak terlalu jauh, sekitar satu kilo. Semakin lama aku berjalan semakin cepat. Hingga kulirik jam tanganku dan kulihat jarum panjangnya yang mulai beranjak dari angka 10. Akhirnya kuputuskan untuk menyerah. Percuma sudah, dengan kecepatanku berjalan kaki aku takkan sampai di kelas tepat waktu. Kini aku hanya bisa berdoa semoga dosenku masih memperbolehkan aku masuk kelas. Memang dosen yang satu ini terkenal tidak mentolerir keterlambatan.

Aku mulai memperlambat langkah kakiku dan mengatur nafasku yang agak tersenggal-senggal. Seandainya saja aku tidak mengutamakan gengsiku dan memutuskan naik ojek tadi pasti sekarang aku sudah duduk manis di kelas yang berAC. Kuseka dahiku yang berpeluh. Bajuku juga mulai basah oleh keringat. Kini aku merasa konyol dan bodoh. Hanya untuk menjaga gengsi aku merugikan diriku sendiri. Padahal belum tentu juga teman-temanku peduli aku naik motor atau aku naik ojek atau aku jalan kaki. Betapa bodohnya aku.

**

Seringkali dalam hidup ini Tuhan telah menyediakan sarana transportasi yang memang telah disiapkanNya untuk mengantar kita sampai ke tujuan. Tapi yang namanya manusia sepertinya tidak pernah puas kalau tidak berusaha sendiri dan memilih mengerjakan jalannya sendiri, tidak mau memberdayagunakan sarana yang telah Tuhan siapkan. Manusia memilih jalannya sendiri dengan berbagai alasan yang melatar belakangi pilihannya itu, tidak berpasrah diri dan mengikuti apa yang Tuhan mau.

Akibatnya? Pilihan-pilihan manusia yang tidak tepat seringkali berdampak merugikan dirinya sendiri. Ada jalan yang lebih cepat dan nyaman, tapi nama ego manusia memilih jalan yang sulit dan sukar. Menurutku itu bukanlah pilihan yang bijak dan tidak membuktikan bahwa manusia itu kuat dan mampu berjuang sendiri, justru manusia itu bodoh karena memilih untuk merepotkan dirinya sendiri. Well, memang poin utama yang harus dikalahkan adalah ego dan ke-aku-an, barulah kita bisa menaklukan diri di bawah kaki Tuhan. 

On the way 3

Sore ini sewaktu aku pulang meeting di daerah Sunter, aku melihat seorang kakek tua dalam segam kuningnya sedang sibuk menyapu jalan, ya kakek itu adalah seorang petugas kebersihan. Satu hal yang menarik adalah kakek itu nampak bersemangat dalam menyapu, mengumpulkan daun-daun dan memasukkannya ke dalam keranjang yang dibawanya. Menilik dari wajahnya sepertinya usianya sudah 60-70an.

Hal yang aku kagumi adalah kakek itu tidak meminta-minta seperti kebanyakan orang lainnya, bahkan orang yang masih muda pun tidak malu meminta-minta tapi kakek ini tidak demikian, dia bersemangat bekerja di bawah teriknya panas matahari.

Hal kedua adalah aku kagum dengan wajahnya yang nampak gembira, tidak menunjukkan kejengkelan atau menggerutu. Dia bekerja dengan penuh semangat. Aku merasa malu pada diriku karena selalu saja menggerutu dan tidak puas dengan hidup yang kujalani saat ini.

Itulah sedikit cerita tentang kakek petugas kebersihan di jalan yang kulihat hari ini. Just wanna share.

On the way 2

Dalam perjalanan menuju ke tempat meeting, seperti biasa aku dan rekan kantorku dapat dipastikan selalu melewati jalan tol, ya iyalah di Jakarta jalan tol saja macet apalagi lewat jalan arteri. Kejadian kali ini mengenai rekanku yang berceletuk saat melewati gardu tol.

“Coba saja kalau pemerintah berinisiatif mempekerjakan orang difable. Kan orang-orany yang bertugas di gardu tol tidak perlu bergerak, berpindah tempat, hanya perlu duduk, menerima uang lalu menyodorkan tiket beserta uang kembalian,” ujar rekanku begitu kami melewati gardu tol.

Sebenarnya istilah difable (different ability people) dan disable (disability people)untuk menyebut penyandang cacat masih menjadi perdebatan, btw aku tidak berniat membahas mengenai kedua istilah itu, it’s up to you mau menggunakan istilah yang mana tapi aku lebih senang menggunakan istilah difable, menurutku lebih memanusiakan difable.

“McD sudah mempekerjakan orang bisu sebagai cleaning service,” lanjutnya, “Kan cleaning service tidak perlu berkata-kata, cukup tersenyum dan membersihkan ruangan. Mungkin tidak perlu seluruhnya orang difable, tapi bisa setengahnya. Kan bisa memberdayakan mereka juga.”

Sempat aku memikirkan perkataannya. Ada benarnya juga. Mengapa tidak terpikirkan kemungkinan itu. Selama ini yang terpikir adalah pekerjaan itu harus dikerjakan oleh orang yang dempurna secara fisik, tetapi bagaimana dengan orang difable, apakah mereka tidak layak mendapatkan pekerjaan karena perbedaan yang mereka miliki. Bukankah ada jenis-jenis pekerjaan yang seharusnya juga dapat dikerjakan oleh mereka, dengan keterbatasan dan kelebihan mereka. Bukankah semua manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, demikian juga dengan para difable.

Sedikit perenungan dan pemikiranku. Semoga apa yang aku bagikan ini dapat membuka mata pembaca juga mengenai keberadaan para difable dan semoga dapat membantu membuat sedikit perubahan bagi dunia kita, aku, kalian dan mereka.